Fungsi Tata Kelola Risiko Tiga Lini dalam PER-2/MBU/03/2023

Fungsi Tata Kelola Risiko Tiga Lini <span>dalam PER-2/MBU/03/2023</span>

Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-2/MBU/03/2023 mengenai Pedoman Tata Kelola dan Kegiatan Korporasi Signifikan Badan Usaha Milik Negara Pasal 51 mewajibkan BUMN konglomerasi dan BUMN individu untuk menerapkan model tata kelola risiko tiga lini (three lines model) dalam melaksanakan manajemen risiko.

Konsep dasar Tata Kelola Risiko Tiga Lini menunjukkan bahwa manajemen risiko menjadi tanggung jawab bersama yang harus dibagi antara tiga lini dalam BUMN sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing.

Kehadiran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam penerapan model Tata Kelola Risiko Tiga Lini menunjukkan pentingnya pengawasan dan kebijakan yang efektif. Melalui peraturan menteri badan usaha, khususnya MBU 03/2023, langkah-langkah strategis telah ditetapkan untuk meningkatkan tata kelola risiko di BUMN.

Keterlibatan aktif dari menteri badan usaha milik negara dalam menetapkan dan memonitor implementasi kebijakan ini menjadi kunci dalam memastikan kepatuhan dan efektivitas tata kelola risiko di lingkungan BUMN. Keputusan strategis yang diambil oleh kementerian badan usaha ini diharapkan dapat memberikan arahan yang jelas bagi BUMN dalam mengelola risiko operasional dan strategisnya.

Fungsi Tata Kelola Tiga Risiko dalam PER-2/MBU/03/2023

Fungsi dan peran masing-masing lini dalam model tata kelola risiko tiga lini (three lines model) adalah sebagai berikut:

Lini Pertama

Sebagai unit pemilik risiko merupakan unit yang langsung mengidentifikasi dan mengelola risiko dalam proses bisnis. Lini pertama, biasanya terdiri dari unit bisnis dan departemen operasional, adalah garis pertahanan pertama dalam pengelolaan risiko.

Mereka yang berada di lini pertama ini paling mengerti tentang risiko operasional dan strategis yang dihadapi oleh perusahaan. Mereka bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko dalam kegiatan sehari-hari.

Lini Kedua

sebagai fungsi manajemen risiko dan kepatuhan independen merupakan unit yang mengukur, memantau dan memperlakukan risiko secara agregat, mengembangkan metodologi dan kebijakan manajemen risiko perusahaan.

Lini kedua berfungsi sebagai pemeriksa dan penyeimbang terhadap lini pertama. Unit ini spesialis dalam analisis risiko, pengembangan kerangka kerja, dan kebijakan untuk mengendalikan risiko. Mereka juga memantau keefektifan langkah-langkah pengendalian yang diambil oleh lini pertama.

Praktik terbaik di sini adalah memiliki alat dan prosedur untuk melacak dan menganalisis data risiko, serta kebijakan yang memadai untuk menangani risiko yang telah diidentifikasi.

Lini Ketiga

sebagai audit intern merupakan unit yang memastikan tata kelola dan pengendalian risiko diterapkan secara efektif oleh perusahaan.

Lini ketiga adalah mekanisme pemeriksaan terakhir dan bertugas melakukan audit independen terhadap efektivitas tata kelola dan pengendalian risiko perusahaan.

Mereka memastikan bahwa kebijakan dan prosedur yang diterapkan oleh dua lini pertama telah dilaksanakan dengan benar dan efektif.

Audit intern biasanya dilakukan oleh pihak yang tidak terlibat dalam proses operasional atau pengambilan keputusan sehari-hari, untuk menjaga objektivitas. Auditor harus memiliki akses langsung ke direksi dan dewan komisaris/dewan pengawas, serta harus melaporkan temuan secara terbuka dan transparan.

Institute of Internal Auditors (2020) dalam artikelnya The IIA’S Three Lines Model: An update of the Three Lines of Defense mengingatkan bahwa model tiga lini paling efektif jika disesuaikan selaras dengan tujuan dan keadaan perusahaan. Bagaimana struktur suatu perusahaan disusun dan bagaimana peran-perannya didistribusikan dengan baik.

1. Ketidakjelasan peran dan tanggung jawab masing-masing lini

Ini menjadi masalah dalam penerapan three lines model menjadi tantangan utama. Hal ini berpotensi menimbulkan tumpang tindih dalam pengelolaan risiko.
Solusinya terletak pada penyusunan kebijakan dan prosedur yang terperinci untuk mengklarifikasi tugas dan tanggung jawab setiap lini. Penting juga untuk memberikan pelatihan intensif kepada seluruh anggota tim agar memahami konsep model ini dengan baik.

2. Koordinasi dan Komunikasi yang Efektif

Tantangan berikutnya adalah koordinasi dan komunikasi yang efektif antara lini-lini tersebut. Terutama dalam perusahaan yang besar dan kompleks, hal ini seringkali menjadi masalah.

Solusinya mencakup pembentukan tim lintas fungsional yang bertugas memfasilitasi koordinasi, serta jadwal pertemuan rutin antara perwakilan dari tiap lini untuk berbagi informasi tentang risiko. Teknologi informasi juga dapat digunakan untuk memudahkan komunikasi.

3. Kurangnya pemahaman tentang three lines model menjadi hambatan lainnya.

Ini dapat diatasi dengan memberikan pelatihan yang lebih dalam kepada semua pemangku kepentingan untuk memahami model ini dengan baik. Diskusi dengan para ahli dalam pengelolaan risiko dapat memberikan wawasan yang berharga.

Pemantauan dan evaluasi berkala diperlukan untuk memastikan efektivitas penerapan model ini. Dengan tindakan-tindakan ini, organisasi/perusahaan dapat memaksimalkan manfaat dari three lines model dalam manajemen risiko mereka.

Dalam konteks ini, MBU (Model Bisnis Umum) 03/2023 menggarisbawahi pentingnya struktur tata kelola yang jelas dan efisien di BUMN. Ini termasuk penentuan tanggung jawab dan koordinasi antar lini yang berbeda dalam organisasi BUMN.

Sebagai penutup, artikel ini menekankan bahwa dengan peraturan PER-2/MBU/03/2023, kementerian badan usaha dan menteri badan usaha milik negara telah meletakkan fondasi kuat bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam menerapkan model Tata Kelola Risiko Tiga Lini.

Melalui kerjasama yang sinergis dan kebijakan yang terstruktur, BUMN di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dalam mengelola risiko, memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan sejalan dengan visi pembangunan nasional.

Top