Risk Appetite Statement yang Memuat Risiko ESG

Risk Appetite Statement yang Memuat Risiko ESG
RB 25 November 2025
Rate this post

RWI Consulting – Di masa lalu, Risk Appetite Statement (RAS) atau Pernyataan Selera Risiko mungkin hanya berkutat pada volatilitas pasar, risiko kredit, atau kegagalan operasional IT. Isu-isu seperti perubahan iklim, hak asasi manusia, atau keberagaman dewan seringkali dianggap sebagai “non-financial risks” yang dikelola secara terpisah oleh tim CSR atau Komunikasi.

Paradigma tersebut telah runtuh. Laporan Global Risks Report 2024 dari World Economic Forum menempatkan risiko lingkungan sebagai ancaman terbesar jangka panjang. Di Indonesia, regulasi seperti POJK 51/2017 dan Peraturan Menteri BUMN PER-2/2023 menuntut integrasi pengelolaan risiko keberlanjutan.

Artinya, ESG (Environmental, Social, and Governance) kini adalah risiko material. Jika RAS Anda belum mencerminkan risiko ESG, maka organisasi Anda sedang menavigasi masa depan dengan peta yang usang.

Risk Appetite Statement yang Memuat Risiko ESG

Konsultan-ESG-Assesment
Konsultan-ESG-Assesment

Bagaimana cara menerjemahkan konsep ESG yang seringkali kualitatif menjadi pernyataan selera risiko yang kuantitatif dan dapat ditindaklanjuti? Berikut panduannya.

1. Memahami Pergeseran Paradigma: Dari “Nice to Have” Menjadi “Core Risk”

Sebelum menyusun kalimat, manajemen puncak harus menyepakati satu hal: Risiko ESG berdampak pada pencapaian tujuan strategis.

  • Environment: Risiko fisik (banjir, kekeringan) dapat menghentikan operasi. Risiko transisi (pajak karbon) dapat menggerus margin laba.
  • Social: Pelanggaran HAM di rantai pasok dapat mematikan akses pasar ekspor.
  • Governance: Kegagalan etika (suap/korupsi) dapat menghancurkan reputasi dalam semalam.

Oleh karena itu, RAS ESG bukanlah dokumen terpisah, melainkan harus dilebur (embedded) ke dalam RAS Korporat Utama (Enterprise RAS).

2. Tentukan Kategori Selera Risiko (Taxonomy)

Tidak semua risiko ESG diperlakukan sama. Anda perlu memilah mana yang harus dihindari total dan mana yang bisa diambil demi inovasi. Gunakan taksonomi berikut:

  • Averse (Menghindar/Nol Toleransi): Untuk risiko yang mengancam nyawa, hukum, atau integritas fundamental.
  • Minimalist (Sangat Berhati-hati): Menerima risiko sangat kecil, hanya jika mitigasi sangat kuat.
  • Cautious (Berhati-hati): Menerima risiko sedang jika potensi keuntungan sepadan.
  • Open/Hungry (Terbuka): Bersedia mengambil risiko tinggi demi inovasi atau keuntungan strategis besar.

3. Menyusun Pernyataan: Contoh Konkret per Pilar

Berikut adalah contoh bagaimana menerjemahkan pilar ESG ke dalam Risk Appetite Statement:

Pilar E (Environment) – Fokus: Perubahan Iklim & Karbon

  • Pernyataan Kualitatif: “Perusahaan memiliki selera risiko yang rendah (cautious) terhadap aktivitas yang meningkatkan intensitas emisi karbon di luar target Net Zero kami. Namun, kami memiliki selera risiko yang terbuka (open) terhadap investasi teknologi baru yang belum teruji jika teknologi tersebut berpotensi mendekarbonisasi operasi secara signifikan.”
  • Metrik Kunci (KRI): Intensitas Emisi (Ton CO2e/Revenue), % Energi Terbarukan.

Pada Pilar S (Social) – Fokus: K3 & HAM

  • Pernyataan Kualitatif: “Perusahaan menerapkan nol toleransi (averse) terhadap insiden keselamatan kerja yang mengakibatkan kematian (fatality) dan segala bentuk kerja paksa dalam rantai pasok. Kami menerima risiko sedang terkait turnover talenta di area non-kritis.”
  • Metrik Kunci (KRI): Lost Time Injury Rate (LTIR), Jumlah temuan audit sosial pemasok.

Pilar G (Governance) – Fokus: Etika & Kepatuhan

  • Pernyataan Kualitatif: “Kami memiliki nol toleransi terhadap penyuapan, korupsi, dan gratifikasi. Kami tidak akan berbisnis di yurisdiksi atau dengan mitra yang tidak memenuhi standar uji tuntas integritas kami, terlepas dari potensi keuntungannya.”
  • Metrik Kunci (KRI): Jumlah pelanggaran Code of Conduct, % karyawan yang lulus sertifikasi anti-korupsi.

Baca Juga: Pelajari perbedaan teknis antara Metrik, Indikator, dan KPI dalam ESG untuk memastikan RAS Anda terukur.

4. Menetapkan Batas Toleransi (Risk Tolerance & Limits)

RAS hanyalah slogan tanpa batasan yang jelas. Anda harus menetapkan:

  1. Target: Kondisi ideal yang diinginkan.
  2. Limit (Ambang Batas): Titik di mana manajemen harus melakukan intervensi segera.

Contoh Tabel Risk Appetite & Tolerance:

Kategori RisikoRisk AppetiteIndikator (KRI)TargetToleransi (Limit)
LingkunganCautiousIntensitas EmisiTurun 5% YoYTurun min. 2% YoY
Sosial (K3)AverseFatality Rate0 (Zero)0 (Stop operasi jika terjadi)
Tata KelolaAverseKasus Suap Terbukti0 Kasus0 Kasus

5. Integrasi dengan Budaya dan Pengambilan Keputusan

Dokumen RAS yang sudah jadi tidak boleh hanya disimpan di laci Dewan Komisaris. Ia harus menjadi filter pengambilan keputusan.

  • Investasi Capex: Apakah proyek baru ini melanggar limit emisi karbon dalam RAS? Jika ya, tolak atau revisi, meskipun ROI-nya tinggi.
  • Pemilihan Vendor: Apakah vendor ini memiliki risiko HAM yang melebihi selera risiko kita?
  • Kompensasi Eksekutif: Hubungkan pencapaian kepatuhan RAS ESG dengan bonus tahunan Direksi.

Tantangan: Ketersediaan Data

Tantangan terbesar dalam menyusun RAS ESG adalah data. Berbeda dengan data keuangan yang real-time, data ESG (seperti emisi Scope 3 atau kepuasan komunitas) seringkali lagging (terlambat) atau tidak akurat.

Solusinya adalah memulai dengan apa yang Anda miliki (“proxy data”) dan secara bertahap meningkatkan kualitas data melalui sistem manajemen informasi yang lebih baik. Jangan biarkan ketidaksempurnaan data menghalangi penetapan selera risiko.

Kesimpulan: Kompas Keberlanjutan Anda

Risk Appetite Statement yang memasukkan ESG adalah kompas yang menjaga perusahaan Anda agar tidak tersesat di antara ambisi profit dan tanggung jawab keberlanjutan. Ia memberikan batasan yang jelas bagi manajemen untuk berinovasi dengan aman dan bertanggung jawab.

Di RWI Consulting, kami percaya bahwa risiko ESG yang dikelola dengan baik bukan hanya melindungi nilai (value protection), tetapi juga menciptakan nilai baru (value creation).

Kesulitan Menerjemahkan Isu ESG ke dalam Angka Risiko?

RWI Consulting berpengalaman membantu korporasi menyusun Risk Appetite Statement yang terintegrasi, mulai dari workshop Direksi hingga penentuan KRI yang presisi Konsultan ESG.

Referensi

  1. COSO & WBCSD – Enterprise Risk Management: Applying enterprise risk management to environmental, social and governance-related risks.
  2. World Economic Forum – The Global Risks Report 2024.
  3. ISO 31000:2018 – Risk Management Guidelines.
About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top