Business IT Maturity Model: Kerangka Ukur Kematangan Tata Kelola TI (BIMM, COBIT 2019)

Business IT Maturity Model: Kerangka Ukur Kematangan Tata Kelola TI (BIMM, COBIT 2019)
RB 30 Januari 2026
5/5 - (2 votes)

RWI Consulting – Business IT maturity model adalah kerangka untuk mengukur seberapa matang penyelenggaraan TI dalam menciptakan dan melindungi nilai bisnis: seberapa kuat tata kelola, seberapa konsisten proses layanan dan pengembangan, seberapa tertib keamanan informasi, dan seberapa nyata TI mendukung strategi korporat.

Kerangka Ukur Kematangan Tata Kelola TI (BIMM, COBIT 2019)

Model ini menutup celah paling umum di organisasi: TI bergerak cepat, bisnis bergerak cepat, tetapi keduanya sering tidak bergerak ke arah yang sama.

Di Indonesia, kebutuhan maturity model tidak hanya muncul dari dorongan efisiensi. Kerangka regulasi mendorong organisasi, termasuk BUMN, untuk mengukur dan melaporkan maturitas TI sebagai prasyarat tata kelola digital.

Regulasi BUMN mendorong penyusunan arsitektur TI, pembentukan Komite Pengarah TI, serta pelaporan audit/penilaian TI minimal tahunan. Kerangka BIMM 2024 juga menetapkan baseline assessment independen dengan tenggat tertentu dan penilaian lanjutan periodik.

Praktik keamanan informasi untuk instansi publik dan BUMN juga menautkan kesiapan keamanan lewat indeks seperti Indeks KAMI yang terintegrasi dengan pengukuran maturitas digital. Konsekuensinya jelas: organisasi perlu asesmen maturitas, temukan gap, lalu susun roadmap digital 2–3 tahun yang terukur agar taat regulator, selaras strategi, dan menurunkan risiko siber.

Business IT Maturity Model

Flyer Complimentary Session Penilaian Penyelenggaran TI
Flyer Complimentary Session Penilaian Penyelenggaran TI

Tujuan maturity model: fokus pada nilai bisnis, bukan sekadar skor

Business IT maturity model mengejar tiga tujuan operasional:

  1. Membentuk baseline kapabilitas TI
    Organisasi perlu peta “as-is” yang jujur: apa yang sudah jalan, apa yang tidak konsisten, dan area mana yang rawan gagal saat beban naik.
  2. Menemukan gap dan prioritas perbaikan
    Assessment yang baik memberi heatmap dan skor per domain, lalu memetakan gap pada kontrol inti yang regulator atau manajemen anggap wajib.
  3. Menyusun roadmap transformasi 2–3 tahun
    Roadmap yang kuat tidak berisi daftar mimpi. Roadmap memetakan quick wins (≤6 bulan), mid-term, dan program strategis, lengkap KPI bisnis dan ketergantungan program, sehingga Komite TI bisa mengambil keputusan investasi berbasis impact × effort.

Model rujukan yang umum dipakai untuk Business IT maturity

Agar penilaian tidak subjektif, maturity model biasanya memakai gabungan standar dan framework yang saling melengkapi:

  • BIMM 2024 (0–5) untuk maturitas TI khusus BUMN.
  • COBIT 2019 Process Capability untuk tata kelola dan manajemen TI melalui domain EDM, APO, BAI, DSS, MEA.
  • CMMI v2.0 untuk kapabilitas pengembangan dan layanan.

Logikanya sederhana:

  • COBIT memberi “rubrik proses” dan tujuan tata kelola/manajemen TI.
  • BIMM/ODMI memberi konteks lokal dan tuntutan regulator.
  • CMMI memperkuat sisi pengembangan dan service capability bila organisasi banyak membangun aplikasi/layanan.

Skala maturity: cara membaca level 0–5 secara praktis

Banyak scorecard memakai skala 0–5, sebagian menuliskan 0–4 sebagai lima fase (karena fase dimulai dari 0). Gunakan definisi fase yang mudah dibuktikan lewat artefak:

  • Level 0 – Initial/Ad-hoc: TI reaktif, tidak terdokumentasi, hasil tidak konsisten, pencatatan risiko/insiden lemah.
  • Level 1 – Repeatable: SOP dasar mulai muncul, peran/komite baru terbentuk, pencatatan insiden sederhana.
  • Level 2 – Defined: kebijakan dan SOP lengkap, SLA/OLA jelas, register risiko terkelola, pelatihan rutin.
  • Level 3 – Managed/Measurable: KPI berjalan, dashboard dan review berkala, audit internal/eksternal mendorong perbaikan, DR test rutin dan dianalisis.
  • Level 4/5 – Optimising: organisasi mengintegrasikan otomasi, analitik, dan budaya continuous improvement; organisasi menjaga sertifikasi standar dan membangun benchmark industri.

Buat satu aturan keras agar skor tidak jadi kosmetik:

  • Level 2 mensyaratkan standar lintas unit, bukan satu tim yang rapi.
  • Level 3 mensyaratkan KPI dan evidence review.
  • Level tertinggi mensyaratkan perbaikan berulang yang terukur, bukan klaim inovasi.

Domain penilaian: “Business IT” harus mencakup alignment dan eksekusi

Business IT maturity model yang berguna selalu mengukur dua hal sekaligus: alignment bisnis–TI dan kemampuan eksekusi TI. Pecah domain penilaian menjadi delapan komponen yang saling mengunci:

A. Kerangka tata kelola TI (Governance)

Nilai yang dicari: dewan/komite TI mengarahkan prioritas, memantau risiko, dan meminta transparansi kinerja. Dalam COBIT, domain EDM memegang fungsi evaluate-direct-monitor.

Evidence yang biasanya diminta:

  • struktur Komite Pengarah TI dan mandatnya
  • mekanisme pelaporan kinerja TI ke manajemen
  • risk appetite TI dan keputusan mitigasi

B. Strategi TI dan penyelarasan tujuan bisnis–TI

Nilai yang dicari: TI mengeksekusi strategi bisnis, bukan sekadar mengelola tiket.

Evidence:

  • peta sasaran bisnis → sasaran TI
  • portofolio inisiatif digital yang menaut ke KPI bisnis
  • keputusan prioritas yang konsisten (bukan berubah tiap rapat)

C. Enterprise Architecture dan target kapabilitas digital

Nilai yang dicari: organisasi mendefinisikan target kapabilitas (bisnis, data, aplikasi, teknologi), lalu mengarahkan investasi ke target tersebut.

Evidence:

  • architecture vision dan target state
  • prinsip arsitektur dan governance board
  • standar integrasi data dan aplikasi

D. Portofolio dan manajemen program/proyek

Nilai yang dicari: organisasi mengelola demand, ketergantungan, serta manfaat investasi TI.

Evidence:

  • portofolio program/proyek dengan prioritas impact × effort
  • business case dan benefit tracking
  • kontrol perubahan scope

E. Operasi layanan TI (Service & Operations)

Nilai yang dicari: TI menjaga layanan stabil, terukur, dan mampu pulih.

Evidence:

  • SLA/OLA, incident/problem management record
  • capacity/availability management
  • trend MTTR/availability

F. Keamanan informasi dan risiko siber

Nilai yang dicari: kontrol keamanan berjalan, bukan hanya kebijakan.

Evidence:

  • kontrol akses, logging, vulnerability management
  • indikator keamanan (KRI) dan tindak lanjut
  • kesiapan indeks/standar keamanan yang relevan

G. Continuity & Disaster Recovery

Nilai yang dicari: organisasi mampu pulih sesuai target layanan minimum, dengan DR test yang terbukti dan dianalisis.

Evidence:

  • DR plan dan hasil uji
  • RTO/RPO untuk sistem kritikal
  • rencana pemulihan operasional saat layanan TI down

H. SDM TI, kompetensi, dan operating model

Nilai yang dicari: organisasi punya struktur peran, kompetensi, dan mekanisme kerja yang sesuai strategi digital.

Evidence:

  • peran CIO/CDO/Architecture Board dan job family
  • rencana kompetensi dan pelatihan
  • mekanisme vendor management bila banyak outsourcing

Metodologi asesmen yang rapi: dari bukti ke skor, dari skor ke roadmap

Lihat services kami lainnya:

Agar maturity model menghasilkan keputusan, gunakan metodologi kerja yang berurutan:

  1. Kaji dokumen
    Ambil kebijakan, SOP, artefak layanan, bukti audit, laporan keamanan, portofolio, dan hasil DR test.
  2. Survei self-assessment online
    Gunakan survei untuk memetakan persepsi dan “claim” awal. Anggap survei sebagai hipotesis, bukan bukti.
  3. Wawancara dan FGD
    Validasi klaim survei dan gali praktik harian. Tanyakan bukti, bukan opini.
  4. Technical meeting validasi skor
    Kunci skor akhir bersama pemilik domain. Hindari debat semantik; fokus pada evidence.
  5. Benchmark dan analisis gap
    Bandingkan baseline dengan target regulator/target internal dan praktik baik (COBIT/CMMI/BIMM).
  6. Workshop roadmap (impact × effort)
    Susun program quick wins, mid-term, dan strategis. Tetapkan KPI bisnis dan KPI TI.

Output yang seharusnya keluar:

  • laporan hasil penilaian maturitas digital (heatmap & skor per domain)
  • laporan gap dan rekomendasi perbaikan (termasuk quick wins ≤6 bulan)
  • roadmap transformasi 2–3 tahun berbasis impact × effort, lengkap KPI
  • materi sosialisasi eksekutif dan transfer knowledge assessor internal

Scorecard: cara membuat “maturity” terbaca oleh Direksi

Buat scorecard dua lapis:

Lapis 1: Heatmap domain (0–5)

Baca juga:

Contoh struktur:

  • Governance (EDM): 2.5
  • Strategy & Architecture (APO02/APO03): 2.0
  • Portfolio (APO05): 1.8
  • Service & Operations (DSS): 3.0
  • Delivery/Change (BAI): 2.2
  • Monitoring/Assurance (MEA): 1.7
  • Security: 2.1
  • Continuity/DR: 2.4

Lapis 2: Scorecard per practice (bukti)

Untuk setiap objective/practice, simpan:

  • ID practice
  • deskripsi aktivitas
  • bukti yang ditemukan
  • level aktual vs target
  • gap dan tindakan

Model ini membuat manajemen cepat membaca “apa yang dinilai” dan “bukti apa yang hilang”, lalu memotong diskusi yang tidak produktif.

Roadmap contoh 4–5 tahun: pola kenaikan level yang realistis

Contoh roadmap yang sering dipakai untuk menaikkan maturitas secara bertahap:

  • Tahun 1: selesaikan baseline assessment, tutup quick wins kritikal, capai minimal Level 2 pada kontrol inti.
  • Tahun 2: standarkan kebijakan dan SOP lintas unit, dorong Level 3 untuk governance, risiko, keamanan; siapkan audit standar keamanan tahap awal.
  • Tahun 3: bangun SOC/monitoring 24×7 sesuai kebutuhan, otomatisasi dashboard KPI layanan, stabilkan Level 3+ lintas dimensi.
  • Tahun 4: integrasikan platform data, analytics, dan kontrol biaya cloud (FinOps) bila relevan; dorong Level 4 untuk proses yang paling berdampak.
  • Tahun 5: pertahankan Level 4+ pada area strategis, jalankan continuous improvement berbasis automasi operasi dan kontrol keamanan modern, jadikan organisasi benchmark nasional pada domain tertentu.

Roadmap seperti ini bekerja karena ia memaksa organisasi menyelesaikan fondasi dulu (Level 2–3) sebelum mengejar otomasi besar (Level 4–5).

Kesalahan desain yang membuat maturity assessment jadi sia-sia

  1. Menilai tanpa target bisnis
    Maturity menjadi angka kosong jika organisasi tidak menautkan domain TI ke tujuan bisnis dan KPI.
  2. Mengabaikan evidence
    Self-assessment sering terlalu optimistis. Evidence harus mengunci skor.
  3. Roadmap tanpa portofolio dan ketergantungan
    Roadmap harus memetakan dependensi (data, aplikasi, proses, people), bukan daftar proyek acak.
  4. Governance lemah
    Tanpa Komite TI yang aktif, organisasi kesulitan memutuskan prioritas dan mengunci pendanaan perbaikan.
  5. Keamanan dan DR dianggap “urusan teknis”
    Keamanan dan pemulihan layanan punya dampak bisnis langsung. Maturity model harus menilai keduanya secara eksplisit.

Bangun kapabilitas TI yang terukur, patuh regulasi, dan relevan dengan kebutuhan bisnis melalui proses assessment IT Maturity, penutupan gap secara cepat, hingga penyusunan roadmap 2–3 tahun yang jelas dan terarah. Klik di sini!

Konsultan Contingency Plan BUMN di Indonesia diperlukan perusahaan/organisasi yang memiliki kebutuhan untuk mempertahankan keberlangsungan fungsi kritikal ketika terjadi bencana, agar perusahaan dapat tetap memenuhi tingkat minimum kewajiban legal-nya kepada para stakeholders.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top