Cara Evaluasi Pelaksanaan RJPP Lima Tahunan: Metode, Matriks, dan Output

RWI Consulting – Evaluasi pelaksanaan RJPP lima tahunan berjalan dengan cara membandingkan RJPP/RJP, RKAP, dan realisasi setiap tahun, lalu menjelaskan pencapaian tujuan dan penyimpangan, pelaksanaan strategi dan kebijakan, serta kendala dan upaya pemecahan masalah.
Jika perusahaan menjalankan evaluasi ini dengan disiplin, perusahaan memperoleh dua keluaran yang paling berguna: Laporan Evaluasi Analisis Kinerja dan Laporan Identifikasi Gap serta Roadmap RJPP. Dua dokumen itu memberi bahan yang kuat untuk menyusun RJPP periode berikutnya dan menurunkannya menjadi RKAP.
Artikel ini memberi metode evaluasi yang bisa dipakai tim perencanaan, sekretariat korporasi, fungsi manajemen risiko, dan pemilik program. Fokusnya eksekusi: struktur matriks, alur kerja, indikator, dan output.
Evaluasi Pelaksanaan RJPP Lima Tahunan

Tetapkan scope evaluasi dan “objek yang dievaluasi”. Mulai dari cara paling mekanis agar evaluasi tidak melebar.
A. Tetapkan periode dan unit analisis
- Periode: 5 tahun yang ditutup RJPP sebelumnya (mis. 2020–2024).
- Unit analisis: korporat, unit bisnis, fungsi pendukung, dan program strategis.
B. Tetapkan objek evaluasi (wajib lengkap)
Gunakan struktur RJPP yang lazim: RJPP memuat bagian “Evaluasi Pelaksanaan Rencana Jangka Panjang Sebelumnya” yang mencakup pencapaian sasaran, kendala, dan upaya pemecahan masalah. Jadi, evaluasi minimal menilai:
- risiko & kontrol (menahan penyimpangan atau tidak).
- sasaran & KPI tahunan (target vs realisasi),
- strategi & kebijakan (jalan atau tidak),
- program kerja & investasi (deliver atau tidak),
Susun “Matriks Evaluasi RJPP–RKAP–Realisasi” sebagai tulang punggung
Regulator menuntut evaluasi yang membandingkan RJP, RKAP, dan realisasi, serta memuat penjelasan rinci tentang capaian, strategi/kebijakan, kendala, dan upaya pemecahan. Bentuk paling berguna: satu matriks per tahun, lalu satu matriks kumulatif 5 tahun.
Template matriks inti (kolom wajib)
- Sasaran strategis (RJPP)
- Target tahunan (RJPP → RKAP)
- Realisasi tahunan (laporan kinerja)
- Deviasi (nilai & %)
- Penyebab deviasi (akar masalah, bukan gejala)
- Strategi/kebijakan terkait (yang seharusnya mendorong target)
- Status eksekusi strategi/kebijakan (berjalan, tertunda, berubah)
- Program kerja & milestone (deliverables, jadwal)
- Kendala utama
- Upaya pemecahan yang sudah dilakukan
- Dampak ke tahun berikutnya (carry-over effect)
- Pelajaran utama (lesson learned) dan keputusan korektif
Matriks ini memaksa konsistensi analisis, sekaligus memudahkan Direksi membaca “apa yang meleset, kenapa meleset, dan apa yang harus diubah.”
Kumpulkan bukti minimal yang membuat evaluasi sah
Baca:
- Contoh Matriks COBIT: Goals Cascade, RACI
- Analisis Situasi untuk RJPP Berbasis Risiko
- Evaluasi Efektivitas Contingency Plan
- Pendekatan Penilaian Risiko Proyek dan Proses Pelaporan
- RJPP dan Keberlanjutan Bisnis BUMN
- RJPP adalah: Panduan Lengkap Rencana Jangka Panjang Perusahaan 5 Tahunan
Evaluasi yang kuat memakai bukti yang konsisten lintas tahun. Pegang tiga bundel dokumen per tahun:
- RJPP/RJP: target, strategi, kebijakan, program, asumsi.
- RKAP: target tahunan yang diturunkan dari RJPP.
- Realisasi: laporan kinerja, laporan keuangan, laporan operasional, laporan investasi.
Beberapa RJPP menampilkan cara evaluasi berbasis tabel “RKAP vs realisasi” untuk indikator seperti pendapatan dan EBITDA, lalu menyertakan narasi penyebab dinamika dan faktor eksternal
Gunakan format serupa agar evaluasi tidak berhenti di opini.
Ukur kinerja: fokus pada tren, volatilitas, dan konsistensi eksekusi

Jangan berhenti di “tahun ini tercapai/tidak”. Pakai tiga sudut ukur:
A. Tren 5 tahun (apakah arah membaik)
Ambil indikator utama (mis. pendapatan, EBITDA, cashflow, utilisasi aset) dan baca tren. Contoh evaluasi pendapatan 2020–2024 dapat menunjukkan dinamika: ada tahun yang underperform, lalu rebound, lalu turun karena biaya dan kompetisi. Pola seperti ini lebih berguna daripada satu angka rata-rata.
B. Volatilitas (apakah hasil “meledak-ledak”)
Volatilitas tinggi menunjukkan perusahaan bergantung pada faktor eksternal, kontrak besar, atau kontrol operasional yang lemah. Tandai indikator yang volatil sebagai prioritas perbaikan.
C. Konsistensi eksekusi strategi
Evaluasi harus menilai “pelaksanaan strategi dan kebijakan yang telah ditetapkan”. Jadi, setiap strategi harus punya bukti eksekusi:
- program berjalan sesuai milestone,
- anggaran terserap untuk hasil yang relevan,
- perubahan strategi terjadi karena keputusan sadar (bukan karena gagal eksekusi).
Analisis deviasi: pisahkan faktor eksternal, internal, dan keputusan manajemen
Agar evaluasi berguna untuk RJPP berikutnya, pecah penyebab deviasi menjadi tiga kelas:
- Eksternal: pasar, regulasi, pandemi, harga komoditas, kompetisi.
- Internal: kapasitas operasi, biaya, proses, SDM, teknologi, vendor.
- Keputusan manajemen: perubahan prioritas, perubahan portofolio, penundaan investasi.
RJPP yang menyertakan evaluasi biasanya juga menuliskan “kendala yang dihadapi serta upaya pemecahan masalah”. Gunakan format yang sama, tetapi pastikan organisasi menulis akar masalah dan keputusan korektif, bukan daftar alasan.
Uji relevansi asumsi RJPP lama terhadap realitas
Deviasi besar sering muncul karena asumsi gagal. Karena itu, evaluasi harus menguji ulang:
- asumsi permintaan,
- asumsi biaya utama,
- asumsi investasi dan timeline,
- asumsi pendanaan.
Dalam scope kerja penyusunan RJPP, tim biasanya memasukkan “penyesuaian asumsi” sebagai komponen penting sebelum menyusun program kerja, investasi, dan proyeksi keuangan. Evaluasi RJPP memberi input utama untuk penyesuaian ini.
Output tahap ini: daftar asumsi yang tetap valid, asumsi yang perlu revisi, dan asumsi yang harus dibuang.
Evaluasi program strategis dan investasi: ukur deliverables, bukan aktivitas
Banyak RJPP gagal bukan karena strategi salah, tetapi karena program tidak deliver.
Gunakan matriks program (per program strategis)
- tujuan program (kaitkan ke sasaran RJPP),
- milestone dan target output,
- realisasi output,
- deviasi waktu/biaya,
- akar masalah,
- keputusan perbaikan (lanjut, restruktur, stop, ganti).
Jika organisasi merencanakan “skedul investasi dan proyeksi keuangan” untuk periode RJPP berikutnya. valuasi investasi RJPP sebelumnya harus memberi pelajaran: program mana yang memakan cash tetapi tidak menambah kapasitas atau value.
Masukkan lensa risiko sejak evaluasi, bukan saat penyusunan ulang
Evaluasi pelaksanaan RJPP harus menyiapkan bahan untuk RJPP berbasis risiko. Dalam kerangka layanan RJPP berbasis risiko, scope biasanya mencakup evaluasi kinerja periode sebelumnya, identifikasi gap, penyusunan roadmap, dan penyusunan RJPP 5 tahunan. Artinya, evaluasi harus sudah memetakan:
- risiko yang paling sering memicu deviasi,
- kontrol yang gagal,
- indikator dini (KRI) yang telat muncul,
- tindakan mitigasi yang efektif vs yang tidak.
Hasilnya: RJPP berikutnya bisa menguji sasaran dan strategi dengan batas toleransi risiko sejak awal, bukan sekadar menempel bab risiko.
Susun “Laporan Evaluasi Analisis Kinerja” dengan struktur yang memaksa keputusan
Scope pekerjaan RJPP yang rapi menempatkan “Laporan Evaluasi Analisis Kinerja” sebagai output utama. Agar laporan ini benar-benar dipakai, susun isi sebagai berikut:
- Ringkasan eksekutif: 10 temuan terbesar + 10 keputusan korektif
- Scorecard 5 tahun (target–RKAP–realisasi) per indikator utama
- Analisis deviasi per indikator (internal/eksternal/keputusan)
- Evaluasi strategi & kebijakan (berhasil/gagal dan alasannya)
- Evaluasi program & investasi (deliverability dan value)
- Kendala utama dan cara organisasi menyelesaikannya
- Daftar asumsi yang harus direvisi
- Implikasi ke RJPP berikutnya dan RKAP tahun berjalan
Tutup laporan dengan keputusan yang tegas: apa yang harus dilanjutkan, dihentikan, atau diganti.
Lanjutkan dengan “Gap Analysis dan Roadmap RJPP” yang bisa dieksekusi
Setelah evaluasi, organisasi harus mengidentifikasi gap dan menyusun roadmap RJPP sebagai output berikutnya. Roadmap yang berguna harus menjawab:
- gap kapabilitas (pasar, operasi, teknologi, SDM, governance),
- gap portofolio (produk/layanan, segmen, wilayah),
- gap finansial (profitability, liquidity, funding),
- gap risiko (exposure tinggi tanpa kontrol memadai).
Bentuk roadmap yang kuat
- 0–6 bulan: quick wins (kontrol biaya, perbaikan proses, stop loss)
- 6–18 bulan: program penguatan (kapasitas, governance, sistem)
- 18–60 bulan: transformasi (investasi besar, ekspansi, diversifikasi)
Roadmap harus terhubung langsung ke sasaran RJPP baru dan proyeksi keuangan.
Tata kelola evaluasi: siapa memimpin, siapa mengunci keputusan
Agar evaluasi tidak jadi proyek staf, atur governance sederhana:
- Sponsor: Direksi
- Pengarah: komite strategi/komite manajemen risiko
- Pelaksana: tim perencanaan korporat + keuangan + operasional + risk owner
- Validasi: technical meeting untuk mengunci data dan narasi (tim sering memakai technical meeting dalam metodologi kerja RJPP)
Tujuan governance ini satu: organisasi mengunci satu versi kebenaran (single source of truth) untuk target, realisasi, penyebab, dan keputusan korektif.
Output akhir yang harus ada agar evaluasi “selesai”
Minimal keluaran evaluasi pelaksanaan RJPP lima tahunan:
- Laporan Evaluasi Analisis Kinerja
- Laporan Identifikasi Gap dan Penyusunan Roadmap
- Paket data: matriks RJPP–RKAP–realisasi per tahun + matriks program & investasi
- Draft rekomendasi perubahan asumsi, strategi, kebijakan, dan program kerja untuk RJPP baru
Kombinasi ini mempercepat penyusunan RJPP berikutnya karena tim tidak mengulang debat data dan tidak mengulang kesalahan analisis.




