Format RJPP BUMN yang Mudah Dieksekusi

Format RJPP BUMN yang Mudah Dieksekusi
RB 3 Februari 2026
Rate this post

RWI Consulting – RJPP adalah rencana jangka panjang (umumnya 5 tahunan) yang menjadi acuan arah perusahaan dan dasar penyusunan RKAP. Karena RJPP harus “turun” menjadi RKAP, format RJPP yang mudah dieksekusi wajib memaksa tiga hal sejak awal: sasaran kuantitatif per tahun, program kerja + anggaran yang menggerakkan sasaran, dan proyeksi keuangan/arus kas yang membiayai program.

Regulasi biasanya meminta bab-bab lengkap, tetapi versi operasional perlu menekankan tabel-tabel “mesin eksekusi” agar RKAP tinggal menyalin, bukan menebak.

Di bawah ini format operasional RJPP BUMN: bab yang paling sering lemah, isi minimal yang wajib ada, dan cara menyusunnya supaya langsung nyambung ke RKAP.

Prinsip desain: RJPP harus punya “mesin turunan RKAP”

Sebelum masuk bab, kunci 6 artefak yang harus muncul di RJPP. Kalau enam ini tidak ada, RKAP akan lepas dari strategi.

  1. Sasaran akhir periode + sasaran kuantitatif per tahun
  2. Strategi (korporasi/bisnis/fungsional) per tahun
  3. Kebijakan umum & fungsional sebagai “aturan main eksekusi”
  4. Program kerja + anggaran (multi-year) dan milestone
  5. Matriks keterkaitan sasaran–strategi–kebijakan–program (ini pengunci konsistensi)
  6. Program investasi + sumber dana + proyeksi keuangan (laba rugi, posisi keuangan, arus kas)

Format Bab RJPP BUMN versi operasional (yang nyambung ke RKAP)

Bab 0 — Ringkasan Eksekutif (sering lemah karena terlalu naratif)

Masalah umum: ringkasan eksekutif jadi brosur; tidak memberi pegangan angka dan keputusan.

Isi operasional (wajib 6 halaman padat):

  • “Definisi menang” 5 tahun: 8–12 KPI korporat, lengkap target per tahun
  • 10 program strategis + nilai anggaran multi-year + milestone tahunan
  • ringkasan CAPEX/OPEX dan sumber dana
  • 10 risiko strategis + KRI/threshold + rencana perlakuan risiko
  • 1 halaman “turunan RKAP tahun 1”: target tahun pertama + paket program tahun pertama

Output ke RKAP: “turunan RKAP tahun 1” di ringkasan eksekutif langsung menjadi halaman pembuka RKAP.

Bab 1 — Pendahuluan & Profil (sering lemah karena terlalu panjang)

Masalah umum: terlalu banyak deskripsi perusahaan; terlalu sedikit konteks “kenapa arah berubah”.

Isi operasional:

  • mandat pemegang saham/holding dan batasan strategis (apa yang tidak boleh dilakukan)
  • baseline kinerja terakhir (angka ringkas)
  • definisi ruang lingkup RJPP dan asumsi besar

RJPP lazim memuat profil, visi–misi, GCG, dan struktur organisasi, tetapi versi operasional membatasi bagian ini agar bab strategi tidak tenggelam.

Output ke RKAP: baseline dan ruang lingkup menjadi “asumsi dasar” RKAP.

Bab 2 — Evaluasi RJPP Sebelumnya (bab yang paling sering lemah)

Masalah umum: evaluasi hanya menceritakan capaian; tidak mengunci penyebab deviasi dan keputusan korektif.

Regulasi meminta evaluasi yang menjelaskan pencapaian, penyimpangan, strategi/kebijakan yang dijalankan, serta kendala dan upaya pemecahan

Isi operasional (pakai matriks):

  • Matriks RJPP–RKAP–Realisasi per tahun (target, realisasi, deviasi, sebab, tindakan)
  • Tabel “program strategis: milestone vs realisasi” (deliverables, waktu, biaya, value)
  • 10 pelajaran utama yang mengubah desain RJPP baru

Output ke RKAP: daftar deviasi terbesar dan penyebabnya menjadi “risiko dan mitigasi RKAP” (bukan sekadar catatan).

Bab 3 — Analisis Lingkungan & Posisi Perusahaan (sering lemah karena tidak berubah jadi keputusan)

RJPP biasanya memuat analisis SWOT, analisis industri, daya saing, dan faktor eksternal

Masalah umum: analisis bagus, tetapi tidak memaksa pilihan strategi dan trade-off.

Isi operasional:

  • 3–5 skenario industri (base/upside/downside) yang mengubah prioritas
  • 5 keputusan strategi yang tegas: masuk/keluar segmen, fokus geografi, portofolio produk
  • asumsi kuantitatif yang menggerakkan proyeksi (harga, volume, kurs, cost driver)

Output ke RKAP: asumsi skenario base menjadi asumsi RKAP; skenario downside menjadi stress test internal RKAP.

Bab 4 — Tujuan, Sasaran, dan KPI (sering lemah karena tidak kuantitatif per tahun)

RJPP harus menetapkan tujuan akhir periode dan sasaran kuantitatif per tahun

Masalah umum: sasaran hanya kalimat; KPI tidak lengkap; definisi indikator berubah tiap tahun.

Isi operasional (wajib tabel):

  • Tabel KPI Korporat (8–12 KPI) dengan target per tahun 1–5
  • Definisi indikator: rumus, sumber data, owner, frekuensi pelaporan
  • Cascading: KPI korporat → KPI unit → KPI program (minimal 1 level turun)

Output ke RKAP: KPI tahun-1 otomatis menjadi KPI RKAP; tidak perlu desain ulang.

Bab 5 — Strategi Tahunan (Korporasi, Bisnis, Fungsional) (sering lemah karena tidak “terprogram”)

Competency Building

RJPP memuat strategi tahunan korporasi, bisnis, dan fungsional

Masalah umum: strategi bagus, tetapi tidak punya pemilik dan tidak punya program.

Isi operasional:

  • 5–7 strategi korporasi (narasi 1 paragraf) + ukuran sukses (KPI yang terpengaruh)
  • strategi per unit bisnis/fungsi yang langsung menunjuk program yang akan jalan
  • daftar dependensi lintas fungsi (TI, SDM, procurement)

Output ke RKAP: strategi tahun-1 menjadi “arah kebijakan RKAP”; strategi fungsi langsung jadi program fungsi RKAP.

Bab 6 — Kebijakan Umum & Kebijakan Fungsional (sering lemah karena tidak mengikat keputusan)

RJPP memuat kebijakan umum dan fungsional.

Masalah umum: kebijakan jadi slogan; tidak memandu keputusan investasi, procurement, atau SDM.

Isi operasional:

  • kebijakan investasi (gate, IRR/payback rule, prioritas CAPEX)
  • kebijakan komersial (segmen prioritas, pricing corridor)
  • kebijakan operasi (reliability target, outsourcing rule)
  • kebijakan SDM (kapabilitas inti, skill roadmap)
  • kebijakan digital/data (arsitektur, keamanan, integrasi)

Output ke RKAP: kebijakan menjadi “batasan penyusunan anggaran” dan rule approval RKAP.

ab 7 — Program Kerja dan Inisiatif Strategis + Anggaran (bab yang paling menentukan eksekusi)

RJPP harus memuat program kegiatan beserta anggarannya.

Masalah umum: daftar program panjang; tidak ada milestone; tidak ada owner; tidak ada “tahunan”.

Isi operasional (paket tabel):

  • Daftar program strategis (maks 10–20) dengan: owner, output, milestone tahunan, anggaran multi-year, KPI terkait
  • Tabel “program → KPI” (program mana menggerakkan KPI mana)
  • “Program tahun-1” dipisah jelas sebagai paket RKAP tahun pertama

Output ke RKAP: program tahun-1 + anggaran tahun-1 menjadi bab program kerja RKAP.

Bab 8 — Investasi, Sumber Dana, dan Proyeksi Keuangan 5 Tahun (sering lemah karena tidak mengikat arus kas)

RJPP harus memuat asumsi proyeksi, program investasi dan proyeksi sumber dana, serta proyeksi laba rugi, posisi keuangan, dan arus kas.

Masalah umum: proyeksi hanya “angka target”; tidak menunjukkan arus kas dan kebutuhan pendanaan.

Isi operasional:

  • CAPEX plan per tahun + tujuan investasi + output kapasitas
  • sumber dana per tahun (internal cash, pinjaman, PMN, divestasi)
  • proyeksi P&L, neraca, cashflow per tahun
  • sensitivitas 2–3 variabel utama (volume, harga, kurs, cost driver)

Output ke RKAP: proyeksi tahun-1 menjadi baseline RKAP; kebutuhan pendanaan tahun-1 menjadi rencana pendanaan RKAP.

Bab 9 — Risiko Strategis dan Manajemen Risiko Jangka Panjang (sering lemah karena hanya daftar)

RJPP harus memuat strategi risiko, profil risiko, mitigasi, dan batas toleransi risiko untuk mencapai tujuan strategis

RJPP berbasis risiko menguji sasaran dan strategi menggunakan risk appetite, KRI/threshold, dan rencana perlakuan risiko.

Masalah umum: risiko tidak mengubah strategi; KRI tidak punya threshold; mitigasi tidak punya anggaran.

Isi operasional:

  • Risk appetite statement + batas toleransi per domain
  • Top risks (10–20) + KRI + threshold + owner + tindakan + anggaran mitigasi
  • “Risk-to-RKAP mapping”: risiko mana yang harus masuk RKAP tahun-1 sebagai program mitigasi

Output ke RKAP: risk-to-RKAP mapping langsung menjadi program mitigasi dan anggaran risiko di RKAP.

Bab 10 — Matriks Keterkaitan (bab yang sering hilang, padahal pengunci)

RJPP perlu memiliki matriks keterkaitan sasaran–strategi–kebijakan–program.

Masalah umum: bab ini tidak ada atau dibuat sekadarnya, sehingga RKAP kehilangan “benang merah”.

Isi operasional (wajib 1 matriks utama + 2 matriks turunan):

  1. Matriks Sasaran → Strategi → Kebijakan → Program
  2. Matriks Program → KPI (program mana menggerakkan KPI mana)
  3. Matriks Program → Anggaran → Sumber Dana

Output ke RKAP: matriks (2) dan (3) menjadi struktur bab RKAP (KPI, program, anggaran).

Bab 11 — Penutup dan Pengesahan (sering lemah karena tidak mengunci implementasi)

Pengesahan biasanya ditandatangani Dewan Komisaris dan Direksi.

Masalah umum: setelah pengesahan, tidak ada mekanisme “turun ke RKAP” dan tidak ada governance monitoring.

Isi operasional:

  • kalender turunan: RJPP final → RKAP year-1 → KPI → monitoring kuartalan
  • mekanisme evaluasi tahunan: RJPP vs RKAP vs realisasi (format evaluasi wajib)
  • daftar keputusan yang harus diambil Direksi pada Q1 year-1

Output ke RKAP: kalender dan governance monitoring menjadi lampiran RKAP.

Bab yang paling sering lemah dan cara memperkuatnya (ringkas)

  1. Evaluasi RJPP sebelumnya: perkuat dengan matriks RJPP–RKAP–realisasi + akar masalah + tindakan.
  2. Sasaran & KPI: wajib kuantitatif per tahun, bukan narasi.
  3. Program kerja + anggaran: wajib milestone tahunan + owner + kaitan KPI.
  4. Proyeksi keuangan & arus kas: wajib cashflow dan sumber dana, bukan hanya target laba.
  5. Risiko: wajib risk appetite, KRI/threshold, dan rencana perlakuan yang mengubah prioritas.
  6. Matriks keterkaitan: wajib ada untuk mengunci benang merah dan memudahkan RKAP.

“Jembatan” RJPP → RKAP: aturan turunan yang membuat RKAP otomatis

Agar RKAP tinggal menyalin dari RJPP (bukan membuat ulang), tetapkan aturan ini di RJPP:

  • Target RKAP tahun-1 = target RJPP tahun-1 (KPI korporat dan unit)
  • Program RKAP tahun-1 = subset program RJPP dengan milestone tahun-1 dan anggaran tahun-1
  • Anggaran RKAP tahun-1 = anggaran tahun-1 dari tabel program + baseline OPEX
  • Asumsi RKAP = asumsi base-case RJPP yang sudah diuji dalam proyeksi
  • Risiko RKAP = top risks RJPP yang punya KRI/threshold dan mitigasi beranggaran

Dengan aturan ini, RKAP menjadi “turunan mekanis” dari RJPP, bukan arena negosiasi ulang strategi.

Baca juga:

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top