Paper-Based Market: Ancaman Bubble Risk bagi Ekonomi Riil

RWI Consulting – Dalam beberapa dekade terakhir, ada pergeseran fundamental dalam disiplin ekonomi, ketika prinsip-prinsip yang dulu dianggap sebagai landasan kuat kini sering diabaikan.
Salah satu penyebab utamanya adalah kurang disiplinnya para pelaku pasar. Dalam upaya mengejar keuntungan yang maksimal, sebagian besar institusi keuangan dan investor mengambil risiko yang berlebihan, sering kali didorong oleh insentif jangka pendek. Hal ini menciptakan lingkungan sedemikian ketika spekulasi menjadi lebih dominan daripada investasi yang berdasarkan fundamental ekonomi yang kuat.
Baca: Mengurai Kerumitan dan Mengelola Risiko Rantai Pasok di Indonesia
Salah satu contoh klasik adalah krisis subprime mortgage pada tahun 2008-2010 yang terjadi di Amerika Serika. Bank-bank dan lembaga keuangan lainnya secara agresif memberikan pinjaman hipotek kepada individu dengan riwayat kredit yang buruk, suatu praktik yang dikenal sebagai subprime lending.
Mereka tidak hanya mengabaikan risiko gagal bayar, tetapi juga mengemas pinjaman-pinjaman ini menjadi instrumen keuangan yang kompleks, seperti Collateralized Debt Obligations (CDOs), dan menjualnya ke investor di seluruh dunia.
Kurangnya disiplin ini, yang didukung oleh deregulasi dan peringkat kredit yang optimis, menciptakan gelembung di pasar properti yang pada akhirnya meledak dan menyebabkan resesi global.
Selain itu, disiplin ekonomi yang melemah juga terlihat dari kebijakan moneter yang seringkali sangat longgar. Suku bunga rendah yang berkepanjangan, misalnya, dapat mendorong investor untuk mencari aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi, yang pada gilirannya memicu spekulasi di pasar saham atau properti. Ketika biaya pinjaman sangat rendah, perusahaan dan individu cenderung mengambil utang lebih banyak, yang dapat memompa nilai aset secara artifisial.
Paper-Based Market vs. Real Economy: Kesenjangan yang Membahayakan
Salah satu perubahan paling signifikan dalam ekonomi modern adalah dominasi paper-based market—yaitu, pasar di mana nilai aset lebih banyak ditentukan oleh instrumen keuangan, derivatif, dan spekulasi, daripada oleh produksi barang dan jasa riil. Dalam sistem ini, uang seolah-olah berputar di antara instrumen-instrumen finansial tanpa benar-benar mendukung pertumbuhan ekonomi yang produktif.
Sebagai contoh, transaksi di pasar derivatif global jauh melampaui Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Instrumen-instrumen ini, seperti options, futures, dan swaps, meskipun memiliki tujuan yang sah dalam manajemen risiko, seringkali digunakan untuk spekulasi murni. Ketika nilai instrumen-instrumen ini meningkat, hal itu menciptakan ilusi kekayaan yang tidak didukung oleh pertumbuhan ekonomi riil.
Ketika gelembung ini pecah, dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar keuangan, namun berpotensi akan meluas ke ekonomi riil, menyebabkan PHK, kebangkrutan bisnis, dan penurunan konsumsi.
Baca: Panduan Ringkas bagi Kepemimpinan di Era VUCA
Kesenjangan ini diperburuk oleh praktik leveraging atau penggunaan utang untuk meningkatkan keuntungan. Dalam paper-based market, leverage dapat mencapai tingkat yang ekstrem. Lembaga keuangan meminjam miliaran dolar untuk berinvestasi dalam aset finansial, dan meskipun ini dapat memperbesar keuntungan, itu juga memperbesar kerugian.
Ketika nilai aset jatuh, leverage yang tinggi dapat dengan cepat menghancurkan nilai ekuitas, memicu krisis likuiditas dan kebangkrutan yang dapat menular ke seluruh sistem. Kasus Long-Term Capital Management (LTCM) pada tahun 1998 adalah contoh sempurna dari bahaya leverage ekstrem dalam paper-based market. LTCM, sebuah hedge fund, menggunakan leverage masif yang hampir menghancurkan sistem keuangan global ketika taruhannya tidak berhasil.
Liberalisasi Pasar Tanpa Regulasi: Resep Bencana
Liberalisasi pasar, yang pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kompetisi, dapat menjadi bumerang ketika tidak disertai dengan regulasi yang memadai (sila tengok analisis dari Prof Ronald I. McKinnon dkk). Teks yang Anda kutip dari buku Risk Management menyoroti bagaimana deregulasi memungkinkan pemain pasar untuk beroperasi di luar batas-batas keamanan.
Ketika pemerintah mencabut regulasi yang membatasi risiko, seperti pembatasan leverage atau aturan yang ketat tentang jenis investasi yang diperbolehkan, hal itu memberikan lampu hijau bagi para pelaku pasar untuk mengejar keuntungan tanpa terlalu khawatir tentang konsekuensi sistemik.
Deregulasi sektor perbankan di Amerika Serikat pada tahun-tahun menjelang krisis 2008 adalah contoh yang paling relevan. Pencabutan Glass-Steagall Act pada tahun 1999 memungkinkan bank komersial untuk terlibat dalam aktivitas perbankan investasi yang lebih berisiko.
Ini membuka pintu bagi mereka untuk berpartisipasi dalam pasar derivatif dan instrumen kompleks lainnya, yang sebelumnya merupakan domain terpisah. Tanpa pengawasan yang ketat, bank-bank ini menjadi terlalu besar dan terlalu saling terhubung (too big to fail dan too interconnected to fail), yang membuat sistem keuangan secara keseluruhan sangat rentan.
Akibat dari liberalisasi yang tidak terregulasi ini adalah penciptaan “gelembung” atau bubble yang semakin besar. Ketika harga aset—apakah itu saham, properti, atau instrumen keuangan—meningkat secara eksponensial dan terlepas dari nilai fundamentalnya, gelembung terbentuk. Gelembung ini didorong oleh euphoria spekulatif dan herd behavior (perilaku ikut-ikutan), yakni ketika setiap orang ingin bergabung karena takut ketinggalan (Fear of Missing Out atau FOMO).
Penutup
Pada akhirnya, gelembung ekonomi bukanlah fenomena acak, melainkan hasil dari kombinasi faktor-faktor yang saling berinteraksi: kurang disiplinnya para pelaku pasar yang terobsesi mengejar keuntungan jangka pendek, dominasi paper-based market yang terpisah dari ekonomi riil, dan liberalisasi pasar yang tidak diatur dengan baik.
Meskipun sistem manajemen risiko telah berkembang, seperti yang dicatat oleh Crouhy, Galai, dan Mark, mereka tidak dapat mencegah semua jenis krisis besar. Selama ada insentif untuk mengambil risiko berlebihan dan sistem keuangan yang terlalu bergantung pada instrumen spekulatif, risiko gelembung akan selalu ada.
Pertanyaannya bukanlah apakah sistem manajemen risiko dapat mencegah krisis, tetapi apakah kita dapat belajar dari kegagalan masa lalu dan membangun sistem yang lebih tahan banting yang mempromosikan disiplin, transparansi, serta perlunya komitmen yang lebih kuat untuk membangun hubungan timbal-balik yang mendalam antara dunia keuangan dan ekonomi riil.






