RJPP Selaras PER-2/MBU/03/2023 Berbasis Risiko

RWI Consulting – RJPP selaras PER-2/MBU/03/2023 berarti perusahaan menyusun rencana jangka panjang sebagai acuan strategis dan dasar RKAP, lalu menguji strategi sejak awal melalui risiko, batas toleransi, indikator dini, dan rencana perlakuan risiko yang punya biaya serta timeline.
PER-2/MBU/03/2023 menegaskan posisi RJPP sebagai kompas strategis, dan Kementerian BUMN menempatkan RJPP sebagai pijakan RKAP sekaligus meminta keselarasan dengan perencanaan strategis BUMN, aspirasi pemegang saham, serta kebijakan dan pelaporan manajemen risiko terintegrasi.
Banyak RJPP gagal memberi dampak karena RJPP berhenti di “narasi strategi”. Tim perencanaan lalu kesulitan saat menurunkan program kerja dan anggaran tahunan, terutama ketika asumsi bergeser. Model risk-based corporate planning menutup celah itu dengan membuat RJPP “punya mekanisme eksekusi”, bukan sekadar arah.
RJPP Selaras PER-2/MBU/03/2023 Berbasis Risiko
Di rwi.co.id, Anda bisa melihat konteks umum RJPP di halaman Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) agar pembaca awam menangkap peran RJPP sebelum masuk ke pembahasan berbasis risiko.
Apa yang perlu “selaras” agar RJPP memenuhi PER-2/MBU/03/2023
Selaras tidak berarti menempelkan kalimat regulasi ke dokumen. Selaras berarti isi RJPP membuktikan tiga hal.
Pertama, RJPP berfungsi sebagai acuan strategis yang memandu pengelolaan perusahaan. Kedua, RJPP memberi dasar yang jelas untuk RKAP. Ketiga, RJPP menyatu dengan kerangka manajemen risiko terintegrasi dan ritme pelaporan risiko. Dokumen rujukan mengaitkan kebutuhan selaras ini dengan pedoman perencanaan strategis BUMN, aspirasi pemegang saham, serta petunjuk teknis manajemen risiko dan pelaporannya.
Jika Anda ingin RJPP terasa “regulatory-ready”, Anda perlu menunjukkan benang merahnya di struktur dokumen, bukan hanya di halaman pendahuluan.
Risk-based corporate planning: cara praktis membuat strategi tahan guncangan
Risk-based corporate planning untuk RJPP menggabungkan dua jalur kerja yang sering berjalan terpisah.
Jalur perencanaan korporat biasanya bergerak dari evaluasi periode sebelumnya, analisis internal dan eksternal, penyusunan asumsi, penetapan tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan, lalu program kerja, investasi, serta proyeksi keuangan. Dokumen rujukan juga menyebut metode analisis seperti SWOT, PESTLE, value chain, analisis industri, dan kerangka daya saing untuk membaca posisi perusahaan.
Jalur risiko bergerak dari risk appetite statement dan batasan risiko korporat, taksonomi risiko, pemetaan metrik strategi risiko, penyusunan profil risiko, KRI dan threshold, penetapan target residual, sampai rencana perlakuan risiko dengan biaya dan timeline. Dokumen rujukan menggambarkan alur ini sebagai bagian “perencanaan strategis berbasis risiko”.
Ketika dua jalur ini bertemu, RJPP berubah dari “dokumen strategi” menjadi “alat pengendali eksekusi”.
Inti RJPP berbasis risiko yang biasanya paling dicari Direksi dan Dewan
Bagian ini sering menjadi titik tanya dalam review: “Strateginya jelas, tapi bagaimana kita menjaga target saat situasi berubah?”
Dokumen rujukan memberi alur yang bisa Anda pakai sebagai kerangka.
Perusahaan memulai dari risk appetite statement di level entitas dan batasan risiko korporat. Perusahaan lalu mengaitkannya dengan taksonomi risiko yang teragregasi, kemudian menyusun metrik strategi risiko yang memetakan strategi risiko berdasarkan sasaran dan taksonomi serta menyesuaikannya dengan selera risiko dan nilai batas risiko.
Ketika dua jalur ini bertemu, RJPP berubah dari “dokumen strategi” menjadi “alat pengendali eksekusi”.
Inti RJPP berbasis risiko yang biasanya paling dicari Direksi dan Dewan
Bagian ini sering menjadi titik tanya dalam review: “Strateginya jelas, tapi bagaimana kita menjaga target saat situasi berubah?”
Dokumen rujukan memberi alur yang bisa Anda pakai sebagai kerangka.
Perusahaan memulai dari risk appetite statement di level entitas dan batasan risiko korporat. Perusahaan lalu mengaitkannya dengan taksonomi risiko yang teragregasi, kemudian menyusun metrik strategi risiko yang memetakan strategi risiko berdasarkan sasaran dan taksonomi serta menyesuaikannya dengan selera risiko dan nilai batas risiko.
Setelah itu, tim memilih sasaran dan strategi bisnis dengan mempertimbangkan risiko yang muncul dan hasil yang ingin dicapai. Di sini, strategi tidak boleh sekadar “bagus di kertas”. Strategi harus “jalan” dalam batas toleransi yang manajemen pegang.
Langkah berikutnya membentuk profil risiko yang menghubungkan sasaran dengan peristiwa risiko. Tim memakai KRI dan threshold untuk menjaga nilai RKAP sebagai early warning system, lalu menempelkan kontrol yang sudah ada agar organisasi tahu titik penahan awal.
Sesudah itu, tim menghitung risiko inheren dan risiko residual, lalu menyusun rencana perlakuan risiko dengan pilihan tindakan yang jelas serta biaya dan timeline. Tim memantau pergerakan risiko lewat heatmap dan memastikan eksposur residual tidak melampaui batas risiko korporat.
Kalau Anda mencari “koneksi langsung RJPP ke RKAP”, Anda biasanya menemukannya di KRI dan threshold. Untuk konteks RKAP berbasis risiko, Anda bisa menyisipkan rujukan internal seperti Pengertian RKAP Berbasis Risiko agar pembaca memahami logika integrasinya.
Struktur RJPP yang “selaras regulasi” sekaligus enak dipakai tim perencanaan
Di dokumen rujukan, RJPP memuat komponen-komponen yang jelas: evaluasi pelaksanaan RJPP periode sebelumnya, analisis posisi perusahaan saat penyusunan, penyusunan asumsi internal dan eksternal, penetapan tujuan-sasaran-strategi-kebijakan-program kerja, program investasi dan pembiayaan, serta proyeksi keuangan.
Risk-based corporate planning tidak menambah “bab yang banyak”. Ia menambah “keterkaitan”.
Anda bisa menyusun struktur cornerstone seperti ini:
Bab awal menjelaskan arah dan konteks. Bab tengah mengunci strategi dan program. Selanjutnya, Bab inti menempelkan risiko sebagai penguji strategi. Bab akhir memastikan roadmap dan proyeksi siap turun ke RKAP.
Kuncinya: setiap sasaran strategis harus punya jejak yang mudah ditelusuri menuju tiga hal: program kerja, kebutuhan anggaran, dan profil risiko beserta indikator dini.
Metode kerja yang menjaga kredibilitas, bukan sekadar mempercepat penulisan
Agar RJPP punya E-E-A-T yang kuat, tim perlu menunjukkan proses yang bisa diuji. Dokumen rujukan menuliskan metodologi kerja yang mencakup kaji dokumen, survei, wawancara, FGD, technical meeting, serta sesi presentasi dan diskusi.
Dengan alur itu, perusahaan tidak “menebak” strategi. Perusahaan menguji temuan lewat bukti, memvalidasi asumsi, dan menyelaraskan keputusan melalui forum yang melibatkan pemilik proses.
Kalau Anda ingin membangun kepercayaan pembaca, Anda bisa menuliskan secara ringkas: tim mengumpulkan data, tim memvalidasi, lalu tim menyepakati. Tiga kata kerja ini membuat pembaca merasa dokumen tidak lahir dari opini semata.
Output yang seharusnya keluar dari penyusunan RJPP berbasis risiko
Dokumen rujukan merinci deliverables yang bisa Anda jadikan standar minimal.
Pertama, laporan evaluasi dan analisis kinerja pelaksanaan RJPP periode sebelumnya. Kedua, laporan identifikasi gap dan penyusunan roadmap RJPP. Ketiga, draft final RJPP yang memuat asumsi, program kerja operasional bisnis dan non-bisnis, jadwal investasi dan proyeksi keuangan untuk periode yang ditetapkan, serta program kerja ESG dan manajemen risiko, berikut tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program kerja, dan inisiatif strategis.
Bagian roadmap sering menentukan apakah RJPP berguna atau hanya rapi. Roadmap memaksa organisasi memilih urutan, bukan menumpuk daftar.
Cara membuat RJPP benar-benar “nyambung” ke RKAP, bukan hanya “turunan di judul”
Anda bisa mengukur koneksi RJPP ke RKAP dari satu pertanyaan: “Kalau manajemen meminta prioritas RKAP tahun depan, apakah RJPP memberi jawaban yang tegas?”
RJPP memberi jawaban tegas ketika RJPP memuat pilihan sasaran dan strategi, lalu menautkannya ke profil risiko yang memakai KRI dan threshold untuk menjaga nilai RKAP sebagai early warning system.
Di level praktik, koneksi itu terlihat saat RKAP meminjam tiga komponen dari RJPP:
RKAP meminjam prioritas program kerja yang RJPP susun dalam roadmap. Selanjutnya, RKAP meminjam asumsi sebagai baseline. RKAP meminjam KRI dan threshold sebagai “rambu” agar manajemen tahu kapan melakukan koreksi.
Untuk memperkuat sisi monitoring tahunan, Anda bisa menyelipkan tautan internal seperti Monitoring RKAP Berbasis Risiko agar pembaca memahami ritme kontrol setelah RJPP selesai.
Baca juga:
- Kajian Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP)
- RJPP Berbasis Risiko
- Taksonomi Risiko
- Pengertian RKAP Berbasis Risiko
Kesalahan yang sering membuat RJPP “terlihat patuh” tetapi lemah saat eksekusi
Kesalahan pertama: tim menulis risk appetite sebagai slogan, lalu tidak menurunkannya ke batasan, indikator, dan keputusan program. Dokumen rujukan justru menempatkan risk appetite, kapasitas, toleransi, selera, dan batasan sebagai fondasi sebelum tim memilih strategi.
Kesalahan kedua: tim mengisi profil risiko tanpa menghubungkan sasaran ke peristiwa risiko dan KRI. Padahal, model yang dirujuk mengaitkan sasaran dan peristiwa risiko lalu memakai KRI dan threshold untuk menjaga RKAP.
Kesalahan ketiga: tim menulis mitigasi tanpa biaya dan timeline. Akibatnya RKAP tidak pernah memasukkan anggaran mitigasi secara jelas. Model rujukan menuntut rencana perlakuan risiko yang memuat biaya dan timeline.
Kesalahan-kesalahan ini biasanya tidak muncul karena orang “tidak paham”. Kesalahan muncul karena tim memisahkan perencanaan dan risiko sebagai dua pekerjaan. Risk-based corporate planning menyatukan keduanya.
FAQ: pertanyaan yang sering muncul saat RJPP harus selaras PER-2/MBU/03/2023
Apa indikator paling mudah untuk menilai RJPP sudah selaras PER-2/MBU/03/2023?
RJPP menunjukkan peran sebagai acuan strategis dan dasar RKAP, lalu RJPP menautkan strategi dengan kerangka manajemen risiko terintegrasi dan pelaporannya melalui artefak seperti taksonomi, profil risiko, KRI, threshold, dan rencana perlakuan risiko.
Apa yang membedakan RJPP berbasis risiko dari RJPP “naratif”?
RJPP berbasis risiko menguji strategi melalui risk appetite, taksonomi, profil risiko, KRI dan threshold, target residual, serta rencana perlakuan yang punya biaya dan timeline.
Metode kerja apa yang paling relevan untuk membangun dokumen yang kredibel?
Kaji dokumen, survei, wawancara, FGD, technical meeting, lalu presentasi dan diskusi untuk validasi.
Apa output minimum yang seharusnya ada setelah proyek RJPP?
Laporan evaluasi kinerja, laporan gap dan roadmap, serta draft final RJPP yang memuat asumsi, program kerja, investasi dan proyeksi, serta program kerja ESG dan manajemen risiko.






