Software Manajemen Risiko ISO 31000: Checklist Fitur Wajib Agar “Sesuai ISO” Bukan Sekadar Slogan

Software Manajemen Risiko ISO 31000: Checklist Fitur Wajib Agar “Sesuai ISO” Bukan Sekadar Slogan
RB 23 Desember 2025
Rate this post

RWI Consulting – Kalau vendor mengklaim “sesuai ISO 31000”, software-nya harus benar-benar mendukung proses manajemen risiko end-to-end: menetapkan konteks dan kriteria, melakukan identifikasi–analisis–evaluasi, menetapkan perlakuan risiko, memantau dan meninjau, lalu mencatat dan melaporkan secara konsisten.

ISO 31000 sendiri memberi pedoman dan pendekatan komprehensif untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, menangani, memantau, dan mengomunikasikan risiko di organisasi.

Satu catatan penting sebelum masuk checklist: ISO 31000 itu guidelines untuk manajemen risiko organisasi, bukan “sertifikasi produk software”. Jadi, klaim “ISO 31000 compliant” baru masuk akal ketika vendor bisa menunjukkan mapping fitur ke proses dan kebutuhan bukti kerja, bukan sekadar menempel logo ISO di brosur.

Software Manajemen Risiko ISO 31000

Di bawah ini checklist yang bisa Anda pakai untuk “menguji” klaim tersebut.

1. Software harus memaksa organisasi menetapkan scope, konteks, dan kriteria

ISO 31000 menempatkan “scope, context, criteria” sebagai tahap penting supaya organisasi menyesuaikan proses manajemen risiko dengan kebutuhan nyata.

Software yang serius harus menyediakan:

Pengaturan scope per entitas/unit/proses/proyek (bukan hanya satu risk register untuk semua)
Internal & external context: kolom/struktur untuk faktor internal dan eksternal yang relevan
Risk criteria yang bisa Anda konfigurasi (misalnya definisi skala dampak, skala kemungkinan, kriteria penerimaan risiko)
Taksonomi risiko yang bisa Anda kunci dan pakai konsisten (kategori, sumber risiko, area)
Risk appetite / risk tolerance / limit sebagai “ambang” yang memengaruhi status, eskalasi, dan persetujuan (bukan teks tempelan)

Kalau software tidak punya tempat yang jelas untuk konteks dan kriteria, tim akan mengisi risk register tanpa kompas. Nanti angka “tinggi/sedang/rendah” berubah menjadi opini.

2. Software harus mendukung risk assessment sesuai urutan ISO 31000

ISO 31000 menggambarkan risk assessment sebagai rangkaian identifikasi, analisis, dan evaluasi.

1) Identifikasi risiko

☐ Form input risiko yang memaksa tim menulis peristiwa risiko (event) secara jelas
☐ Kolom penyebab dan dampak (agar tim tidak menulis “risiko X” tanpa logika)
☐ Relasi ke aset/proses/tujuan (agar Anda bisa menautkan risiko ke objective)
☐ Template identifikasi per konteks (operasional, proyek, TI, compliance) tanpa mengunci satu cara

2) Analisis risiko

☐ Metode penilaian yang bisa Anda atur (kualitatif minimal: likelihood–impact)
Matriks risiko yang bisa dikonfigurasi (warna, batas, definisi level)
☐ Pemisahan inherent risk dan residual risk (agar kontrol tidak “hilang” dari analisis)
☐ Kolom kontrol yang sudah ada + efektivitasnya (minimal: ada/tidak, atau skala sederhana)
☐ Dukungan lampiran bukti (SOP, laporan audit, data kinerja) di level risiko/kontrol

3) Evaluasi risiko

☐ Fitur untuk membandingkan hasil analisis dengan risk criteria (accept/monitor/mitigate/escalate)
☐ Workflow “risk acceptance” saat owner menerima risiko di atas ambang tertentu
☐ Catatan alasan dan persetujuan yang tercatat rapi

Kalau software hanya bisa menghitung skor tanpa evaluasi terhadap kriteria dan tanpa jalur persetujuan, klaim “sesuai ISO 31000” terasa rapuh.

3. Software harus mengubah risiko jadi aksi yang bisa ditagih

ISO 31000 menempatkan risk treatment sebagai langkah inti setelah assessment.

Software harus menyediakan:

Rencana perlakuan risiko (treatment plan) yang terhubung langsung ke risiko
☐ Pilihan pendekatan perlakuan (misalnya: mengurangi, menghindari, berbagi, menerima) sebagai kategori kerja
Action tracker: PIC, due date, status, evidensi penyelesaian
☐ Dependensi dan milestone (minimal: Anda bisa menautkan satu aksi ke aksi lain)
☐ Perhitungan ulang residual risk setelah aksi selesai (atau minimal memaksa review ulang)
☐ Workflow approval untuk rencana aksi (owner–reviewer–approver)

Kalau software tidak bisa menagih aksi dan memaksa review ulang, tim akan kembali ke pola lama: risiko “rapi” di slide, tapi aksi tidak jalan.

4. Checklist monitoring & review: software harus membuat risiko tetap hidup

ISO 31000 menekankan monitoring dan review sebagai bagian proses. iso.org+1

Minimal, software perlu:

☐ Jadwal review (bulanan/kuartalan/adhoc) per risiko atau per unit
☐ Mekanisme update status yang mudah untuk risk owner (bukan form 20 kolom)
☐ Tren risiko (perubahan skor, perubahan status, perubahan kontrol/aksi)
☐ Notifikasi dan eskalasi saat risiko melewati ambang atau saat aksi telat
☐ Dashboard ringkas untuk manajemen: top risks, overdue actions, perubahan paling signifikan

Kalau Anda ingin level yang lebih kuat, Anda bisa menambahkan modul indikator dan peringatan dini. Sistem EWS biasanya memantau parameter dari KRI untuk memberi early warning dan memudahkan pemilik indikator melakukan update

5. Checklist recording & reporting: software harus menghasilkan bukti kerja yang rapi

ISO 31000 memasukkan “recording and reporting” sebagai bagian proses.

Vendor harus bisa menunjukkan:

Risk register terstruktur yang bisa diekspor (bukan screenshot)
☐ Riwayat perubahan (versioning) untuk risiko, kontrol, dan treatment plan
☐ Laporan periodik: profil risiko, peta risiko, ringkasan aksi, dan tren
☐ Jejak siapa melakukan perubahan dan kapan (audit trail)
☐ Penyimpanan evidensi dan dokumen pendukung (bukti meeting, bukti aksi, dokumen kontrol)

Kalau software tidak punya audit trail dan versioning, Anda akan kesulitan saat manajemen meminta “kenapa skor berubah” atau saat audit internal meminta bukti.

6. Checklist communication & consultation: software harus memfasilitasi kolaborasi, bukan hanya input data

ISO 31000 menempatkan komunikasi dan konsultasi sebagai bagian proses manajemen risiko.

Cek fitur ini:

☐ Komentar dan diskusi di level risiko/aksi (dengan mention dan notifikasi)
☐ Assignment yang jelas: risk owner, control owner, action owner, reviewer
☐ Mekanisme sign-off (bukan sekadar “status: done”)
☐ Riwayat percakapan yang tetap melekat pada risiko, bukan hilang di chat terpisah

7. Checklist governance: software harus mendukung integrasi ke tata kelola, bukan berdiri sendiri

ISO menekankan integrasi manajemen risiko ke aktivitas organisasi.

Software yang layak harus menyediakan:

☐ Role-based access control (RBAC) yang rapi per fungsi/unit
☐ Struktur organisasi dan pemetaan kepemilikan risiko per unit
☐ Paket pelaporan untuk rapat manajemen/komite (dashboard + export)
☐ Kemampuan mengatur kebijakan, kriteria, dan taksonomi secara terpusat, lalu menerapkannya lintas entitas

8. Checklist governance: software harus mendukung integrasi ke tata kelola, bukan berdiri sendiri

ISO menekankan integrasi manajemen risiko ke aktivitas organisasi.

Software yang layak harus menyediakan:

☐ Role-based access control (RBAC) yang rapi per fungsi/unit
☐ Struktur organisasi dan pemetaan kepemilikan risiko per unit
☐ Paket pelaporan untuk rapat manajemen/komite (dashboard + export)
☐ Kemampuan mengatur kebijakan, kriteria, dan taksonomi secara terpusat, lalu menerapkannya lintas entitas.

9. Checklist keamanan & reliabilitas: jangan biarkan risk system jadi sumber risiko baru

☐ SSO atau integrasi autentikasi (minimal dukung kebijakan akses perusahaan)
☐ Backup dan mekanisme pemulihan data
☐ Log akses dan aktivitas pengguna
☐ Pengaturan segregasi data per entitas (kalau ada kebutuhan anak usaha)

Penutup

ISO 31000 memberi peta: prinsip, kerangka, dan proses. Software yang “sesuai ISO 31000” harus membantu organisasi menjalankan proses itu secara konsisten, mudah diaudit, dan mudah dilaporkan.

Kalau Anda ingin membandingkan software secara lebih tajam, pakai checklist ini sebagai scoring sheet saat demo. Anda akan cepat melihat mana yang benar-benar mendukung praktik manajemen risiko, dan mana yang hanya mengandalkan tagline.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top