Teknik Wawancara dalam Assessment Tata Kelola TI

Teknik Wawancara dalam Assessment Tata Kelola TI
RB 18 November 2025
Rate this post

RWI Consulting – Dalam banyak proyek assessment tata kelola TI, RWI hampir selalu menempatkan wawancara sebagai salah satu sumber data utama, berdampingan dengan kajian dokumen dan survei. Di metodologi penilaian maturitas TI berbasis COBIT dan BIMM, tahap baseline eksplisit menyebut kombinasi review dokumen, self-assessment, dan wawancara sebelum tim memberi skor capability 0–5 dan menyusun heatmap kondisi awal.

Layanan IT Maturity Assessment RWI juga menggambarkan pola serupa: kerja muulai dengan telaah dokumen, diskusi teknis, wawancara, lalu berakhir pada laporan akhir dan roadmap.

Teknik Wawancara dalam Assessment Tata Kelola TI

Flyer Complimentary Session Penilaian Penyelenggaran TI
Complimentary Session Penilaian Penyelenggara TI. Klik di sini.

Artikel ini merangkum teknik wawancara dalam assessment tata kelola TI dengan merujuk pada cara RWI memakai wawancara di berbagai konteks: IT maturity, manajemen risiko, business continuity, sampai pemetaan pemangku kepentingan.

Posisi wawancara dalam metode assessment RWI

Beberapa artikel RWI memberi gambaran konsisten soal di mana wawancara “duduk” dalam metodologi:

  • Dalam Metode Penilaian Maturitas TI Berbasis COBIT & BIMM, fase baseline mencakup kesepakatan ruang lingkup, lalu pengumpulan data melalui kajian dokumen, survei, dan wawancara sebelum scoring capability dilakukan.
  • Di artikel Konsultan IT Maturity, metodologi kerja mencakup review dokumen, diskusi teknis, wawancara, dan penyusunan laporan akhir sebagai satu rangkaian.
  • Dalam panduan Business Impact Analysis, fase pengumpulan data menempatkan kuesioner dan wawancara sebagai kanal utama untuk menggali dampak gangguan terhadap proses bisnis.
  • Artikel Risk Maturity Index menegaskan peran wawancara dan survei untuk menggali sejauh mana pemilik risiko memahami peran, proses, dan pengendalian di organisasinya.

Jadi, di ekosistem RWI, wawancara bukan pelengkap; wawancara menjadi jembatan antara angka di kuesioner, isi dokumen, dan realitas perilaku tata kelola TI di lapangan.

Untuk gambaran besar kerangka penilaian, lihat artikel edukatif Penilaian Maturitas IT: Pengertian, Tahapan, dan Contoh Roadmap, yang menjelaskan alur dari baseline hingga roadmap

Menentukan narasumber: siapa yang perlu diwawancarai?

Artikel tentang RKAP berbasis risiko menjelaskan bahwa kombinasi survei dan wawancara dilakukan dengan narasumber internal dan eksternal, tergantung kebutuhan analisis.

Di assessment tata kelola TI, pola yang sama biasanya muncul:

  • Level governance dan manajemen puncak
    Untuk membaca domain tata kelola dan arah strategis, wawancara melibatkan dewan, komite TI, dan eksekutif yang bertanggung jawab atas kebijakan TI serta risiko strategis. Pendekatan ini sejalan dengan artikel mengenai peran COBIT 2019 terhadap tata kelola TI dan ICOFR yang menyoroti fungsi domain EDM dan APO di level ini.
  • Pemilik proses TI dan risk owner
    Artikel Risk Maturity Index menggambarkan wawancara dengan pemilik risiko untuk memahami bagaimana mereka melihat peran, proses, dan kontrol yang berjalan. Pola ini juga relevan untuk pemilik proses TI ketika tim melakukan penilaian capability per domain COBIT.
  • Perwakilan fungsi bisnis dan unit operasional
    Di panduan BIA dan double materiality, wawancara bersama survei dan lokakarya dipakai untuk memahami perspektif pemangku kepentingan di berbagai fungsi. Untuk tata kelola TI, pendekatan ini membantu menangkap “sisi pengguna” terhadap kebijakan, layanan, dan kontrol TI.

Kuncinya: tim asesmen menyusun peta pemangku kepentingan lebih dulu, lalu memilih narasumber yang mewakili sudut pandang governance, manajemen risiko, TI, dan bisnis.

Merancang panduan wawancara sesuai tujuan assessment

Berbagai artikel RWI menunjukkan bahwa wawancara selalu melekat pada tujuan analisis:

  • Pada IT maturity, wawancara membantu memvalidasi skor kapabilitas proses COBIT dan membaca karakteristik indikator kematangan TI, misalnya keberadaan SOP, register risiko, atau praktik review berkala.
  • Di Risk Maturity Index, wawancara mendukung penilaian dimensi seperti budaya risiko, organisasional, kerangka risiko, dan proses kontrol, yang kemudian masuk ke perhitungan skor.
  • Pada double materiality, wawancara dan lokakarya dipakai untuk memetakan persepsi pemangku kepentingan sebelum organisasi menyusun matriks isu ESG.

Dengan pola itu, panduan wawancara untuk tata kelola TI biasanya mengelompokkan topik seputar:

  • Peran dan mandat: bagaimana dewan, komite, dan unit TI memahami perannya dalam tata kelola TI.
  • Proses dan praktik harian: bagaimana kebijakan dan prosedur TI berjalan dalam keseharian.
  • Risiko dan kontrol: bagaimana risiko TI muncul, dicatat, dan dikelola; bagaimana kontrol bekerja di level operasional.
  • Kinerja dan perbaikan: bagaimana organisasi memonitor kinerja TI dan menggunakan hasilnya untuk perbaikan.

Struktur ini selaras dengan cara RWI menghubungkan skor capability, indikator kematangan, dan roadmap dalam berbagai artikel IT maturity dan risk maturity.

Menggabungkan wawancara dengan survei dan dokumen

Hampir semua metodologi yang RWI jelaskan menempatkan wawancara bersama kanal data lain, bukan sebagai satu-satunya sumber:

  • Di penilaian maturitas TI berbasis COBIT & BIMM, baseline memakai kajian dokumen, survei self-assessment, dan wawancara sebelum penilai menyusun heatmap.
  • Dalam BIA, fase ketiga secara eksplisit menggabungkan kuesioner dan wawancara untuk mengumpulkan data proses bisnis.
  • Artikel RKAP berbasis risiko menyebut survei dan wawancara dengan narasumber internal dan eksternal, setelah kajian dokumen dan analisis data.

Untuk assessment tata kelola TI, pola yang sama berlaku:

  1. Mulai dari dokumen
    Tim membaca kebijakan, SOP, struktur organisasi, notulen komite, dan laporan TI. Langkah ini memberi kerangka awal sebelum bertemu narasumber.
  2. Gunakan survei untuk lebar, wawancara untuk kedalaman
    Survei memberikan gambaran luas tentang persepsi dan praktik di banyak unit, sementara wawancara memperdalam area yang penting atau kontroversial.
  3. Pakai wawancara untuk menguji konsistensi
    Hasil wawancara membantu mengkonfirmasi apakah praktik di lapangan selaras dengan apa yang tertulis di dokumen dan angka di survei.

Pendekatan kombinasi seperti ini sejalan dengan cara RWI membangun evidence sebelum menghitung skor indeks, baik di IT maturity maupun risk maturity.

. Mengolah hasil wawancara menjadi temuan tata kelola TI

Artikel Teknis Perhitungan Penilaian RMI menjelaskan bahwa hasil wawancara dan parameter lain diberi skor per dimensi, lalu dihitung rata-ratanya untuk menghasilkan indeks.
Pola serupa muncul di penilaian IT Maturity, di mana hasil wawancara ikut membentuk penilaian capability dan maturity level per domain COBIT.

Dalam konteks tata kelola TI, pengolahan hasil wawancara biasanya berjalan seperti ini:

  • Kategorikan jawaban per tema
    Misalnya: peran governance, manajemen risiko TI, pengelolaan sumber daya, layanan, dan monitoring. Pengelompokan ini memudahkan penilai mengaitkan temuan ke domain EDM, APO, BAI, DSS, dan MEA.
  • Bandingkan antara kelompok narasumber
    Artikel double materiality dan risk maturity sama-sama menunjukkan pentingnya membaca perbedaan persepsi antar pemangku kepentingan. Untuk tata kelola TI, perbedaan antara perspektif governance, TI, dan bisnis sering menjadi sinyal penting.
  • Tautkan ke indikator kematangan
    Artikel tentang contoh indikator tingkat kematangan TI memberi karakteristik tiap fase, seperti keberadaan SOP, SLA/OLA, register risiko, dashboard KPI, audit, hingga praktik terbaik. Hasil wawancara membantu menilai apakah karakteristik tersebut benar-benar hadir dan berjalan.
  • Gunakan untuk menjelaskan skor
    Saat laporan menampilkan skor capability dan maturity, kutipan terpilih dari wawancara (tanpa menyebut nama) sering dipakai untuk menjelaskan “mengapa” skor di satu domain tertahan di level tertentu.

Dengan cara ini, wawancara tidak berakhir sebagai teks panjang yang sulit dibaca, tetapi berubah menjadi bukti naratif yang menguatkan angka dalam laporan tata kelola TI.

Menjaga kualitas dan objektivitas wawancara

Artikel-artikel RWI yang mengulas BIA, risk maturity, dan double materiality menggarisbawahi beberapa prinsip umum pengumpulan data:

  • Transparansi metodologi: penjelasan bahwa penilaian memakai kombinasi dokumen, survei, wawancara, dan lokakarya; bukan satu sumber tunggal.
  • Struktur penilaian yang jelas: hasil wawancara tidak berdiri sendiri, tetapi masuk ke parameter penilaian sebelum dihitung rata-rata atau dihubungkan dengan skala 0–5.

Dalam assessment tata kelola TI, prinsip ini berarti:

  • tim menjelaskan sejak awal kepada narasumber bagaimana hasil wawancara akan digunakan,
  • penilai mengaitkan jawaban ke kriteria yang sudah disepakati (misalnya model kapabilitas COBIT atau indikator maturity),
  • dan organisasi dapat menelusuri bagaimana wawancara berkontribusi pada temuan dan rekomendasi tanpa mengorbankan kerahasiaan individu.

Untuk melihat bagaimana wawancara berperan di dalam layanan yang lebih luas, Anda bisa merujuk halaman Penilaian Penyelenggaraan TI (IT Maturity Assessment) yang menjelaskan tujuan, keluaran, dan pendekatan end-to-end asesmen tata kelola TI.

Dengan memahami teknik wawancara dalam assessment tata kelola TI seperti di atas, Anda bisa memandang sesi tanya jawab bukan sekadar ritual, tetapi sebagai alat untuk:

  • menguji konsistensi antara dokumen dan praktik,
  • membaca budaya tata kelola TI dari sudut pandang beragam pemangku kepentingan,
  • dan menerjemahkan pengalaman orang-orang di lapangan ke dalam skor capability, maturity level, dan roadmap yang lebih tajam.
About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top