Memulai Bisnis dengan Fokus pada Prinsip ESG

Memulai Bisnis dengan Fokus pada Prinsip ESG
RB 24 November 2025
Rate this post

RWI Consulting – Dunia bisnis sedang mengalami pergeseran. Dekade lalu, “keuntungan” (profit) adalah satu-satunya raja. Hari ini, narasi tersebut telah berubah. Investor, konsumen, dan talenta terbaik kini menuntut lebih: mereka mencari Tujuan (Purpose) dan Dampak (Impact).

Memulai Bisnis dengan Fokus pada Prinsip ESG

Konsultan-ESG-Assesment
Konsultan-ESG-Assesment. Klik di sini.

Memulai bisnis dengan fokus pada ESG (Environmental, Social, and Governance) bukan lagi sekadar tren atau “pemanis” pemasaran (greenwashing). Ini adalah strategi fundamental untuk Manajemen Risiko dan keberlangsungan jangka panjang. Bisnis yang mengabaikan ESG ibarat membangun rumah di atas pasir—rentan terhadap regulasi yang mengetat, krisis iklim, dan gejolak sosial.

Lantas, bagaimana cara memulai bisnis yang tidak hanya profitable, tetapi juga sustainable sejak hari pertama? Berikut adalah panduan strategisnya.

Pahami dulu ESG dan bedakannya dari sekadar CSR

Sebelum lari ke rencana aksi, kita perlu memahami “bahasa” yang akan kita pakai. Artikel ESG adalah: Pengertian, Aturan, dan Cara Menerapkan merangkum bahwa:

  • Environmental berbicara tentang jejak lingkungan bisnis: energi, emisi, limbah, penggunaan sumber daya.
  • Social menyentuh cara bisnis memperlakukan karyawan, pemasok, pelanggan, dan komunitas.
  • Governance menyangkut struktur pengambilan keputusan, transparansi, pengendalian risiko, hingga integritas.

Di artikel lain, RWI membandingkan ESG dengan CSR. ESG menekankan data, indikator, dan ekspektasi pasar; CSR lebih dekat ke narasi dan program sosial yang bersifat sukarela. Untuk bisnis baru, kuncinya sederhana: Kita tidak hanya menjalankan program kebaikan sesekali, tetapi mengatur cara perusahaan mengambil keputusan sehari-hari.

Lakukan Penilaian Materialitas (Materiality Assessment)

Tidak semua isu ESG relevan untuk semua bisnis. Sebuah perusahaan teknologi mungkin lebih fokus pada Data Privacy (Governance) dan Energy Efficiency (Environment), sementara perusahaan manufaktur harus fokus pada Waste Management dan Labor Rights.

Lakukan Materiality Assessment untuk mengidentifikasi isu mana yang paling berdampak pada bisnis Anda dan di mana bisnis Anda paling berdampak pada dunia.

Baca Juga: Pahami cara mengidentifikasi risiko prioritas melalui Risk Assessment Methodology yang tepat.

Pilar Lingkungan (Environment): Efisiensi Sejak Desain

Jangan menunggu menjadi besar untuk peduli lingkungan. Mulailah dari efisiensi operasional:

  • Rantai Pasok: Pilih pemasok yang juga memiliki komitmen keberlanjutan.
  • Operasional Hemat Energi: Gunakan teknologi digital untuk mengurangi jejak karbon fisik.
  • Produk: Desain produk dengan prinsip circular economy—mudah didaur ulang atau memiliki siklus hidup yang panjang.

Pilar Sosial (Social): Manusia di Atas Segalanya

Aspek sosial seringkali menjadi blind spot bagi bisnis baru yang terlalu fokus pada produk. Padahal, risiko reputasi terbesar sering datang dari sini.

  • Standar Ketenagakerjaan: Pastikan kontrak kerja adil, lingkungan aman, dan ada jenjang karir yang jelas.
  • Inklusivitas: Bangun tim yang beragam sejak awal. Studi menunjukkan tim yang beragam (DEI) menghasilkan inovasi yang lebih baik.
  • Hubungan Masyarakat: Jadilah tetangga yang baik bagi komunitas di sekitar lokasi operasional Anda.

Terkait: Pelajari panduan mendalam mengenai Hak Asasi Manusia dan Ketenagakerjaan dalam ESG untuk memastikan kepatuhan sosial Anda.

Pilar Tata Kelola (Governance): Membangun Kepercayaan

Tata kelola (Governance) adalah tulang punggung yang menjaga integritas bisnis. Untuk bisnis baru, ini berarti:

  • Transparansi: Pisahkan keuangan pribadi dan perusahaan dengan tegas.
  • Etika Bisnis: Buat Code of Conduct sederhana namun tegas mengenai anti-suap dan gratifikasi. Penerapan standar seperti ISO 37001 bisa menjadi acuan.
  • Manajemen Risiko: Integrasikan ESG ke dalam profil risiko perusahaan.

Pelajari Lebih Lanjut: Bagaimana Risk Maturity Index membantu mengukur kesiapan tata kelola risiko organisasi Anda.

Ukur, Laporkan, dan Perbaiki

Apa yang tidak diukur, tidak bisa dikelola. Tentukan metrik ESG sederhana sejak awal (misalnya: penggunaan listrik bulanan, tingkat turnover karyawan, persentase limbah terolah).

Meskipun Anda belum wajib membuat Sustainability Report yang kompleks, membuat laporan dampak sederhana (Impact Report) tahunan akan membangun kredibilitas luar biasa di mata investor dan bank. Ini juga menjadi latihan yang baik menuju pelaporan standar global seperti GRI di masa depan.

Tantangan: Biaya vs. Investasi

Banyak pengusaha ragu karena menganggap ESG itu mahal. Ubah pola pikir tersebut.

  • Mengganti lampu hemat energi adalah biaya di depan, tapi penghematan jangka panjang.
  • Memberikan upah layak dan kesejahteraan karyawan adalah biaya, tapi mengurangi biaya rekrutmen akibat turnover yang tinggi.
  • Membangun tata kelola yang baik mencegah biaya hukum dan denda regulasi di masa depan.

Kesimpulan: ESG adalah Strategi Ketahanan Bisnis

Memulai bisnis dengan fokus ESG bukan berarti Anda harus sempurna sejak hari pertama. Ini adalah tentang progress, bukan perfection. Dengan mengintegrasikan ESG, Anda sedang membangun Business Continuity Management System alami yang membuat bisnis Anda lebih tangguh menghadapi krisis di masa depan.

Di era di mana konsumen semakin kritis dan regulasi semakin ketat, bisnis berbasis ESG bukan lagi pilihan, melainkan satu-satunya jalan menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.


Ingin Membangun Roadmap ESG yang Solid untuk Bisnis Anda? RWI Consulting siap mendampingi Anda, mulai dari Gap Analysis, penyusunan ESG Roadmap, hingga integrasi Manajemen Risiko yang komprehensif. Hubungi kami sekarang juga.

Baca juga:

  1. ESG adalah: Pengertian, Aturan, dan Cara Menerapkan RWI Consulting
  2. Roadmap ESG Perusahaan: Materi, Proses, dan Output RWI Consulting
  3. Double Materiality adalah: Definisi, Manfaat, dan Cara Menerapkannya RWI Consulting
  4. 7 Contoh Greenwashing dan Pelajaran untuk Perusahaan

Dengan begitu, perjalanan Anda memulai bisnis tidak hanya berfokus pada pertumbuhan omzet, tetapi juga membangun jejak yang lebih bertanggung jawab di lingkungan, masyarakat, dan tata kelola.

Referensi

  1. World Economic Forum (WEF) – Measuring Stakeholder Capitalism.
  2. POJK Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan.
  3. UN Global Compact – Guide for Startups.
About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top