Business Continuity Management Perbankan: BCMS yang Mengunci Layanan Kritis, Target Pemulihan, dan Eksekusi Saat Krisis

RB 9 Februari 2026
Rate this post

RWI Consulting – Business Continuity Management (BCM) perbankan adalah sistem manajemen yang memastikan fungsi-fungsi kritikal bank tetap berjalan atau pulih cepat saat gangguan, dengan target waktu pemulihan yang jelas, langkah kerja rinci, struktur komando, dan pembuktian kesiapan melalui pengujian.

Kenapa BCM perbankan harus memperlakukannya sebagai sistem, bukan dokumen

Operasi bank bergantung pada layanan yang saling mengunci: transaksi, kanal digital, layanan cabang, pelaporan, treasury, keamanan informasi, dan ekosistem pihak ketiga. Ketika satu titik jatuh, efek dominonya langsung: antrean transaksi, gagal bayar, kekacauan rekonsiliasi, lonjakan komplain, dan eksposur reputasi.

BCM yang efektif mengubah “kekhawatiran” menjadi desain operasional: apa yang harus menjadi prioritas, berapa lama toleransi berhenti, dan bagaimana pemulihan tereksekusi.

Business Continuity Management Perbankan: BCMS yang Mengunci Layanan Kritis, Target Pemulihan, dan Eksekusi Saat Krisis

business continuity management perbankan

Apa yang dilindungi dalam BCM perbankan

BCM perbankan berangkat dari “critical business function” (CBF), yaitu fungsi yang jika berhenti akan memicu dampak terbesar dalam waktu tercepat. Contoh kelompok CBF yang umum di bank:

  • Core banking dan proses pemrosesan transaksi inti
  • Kanal transaksi digital: mobile/internet banking, API layanan, switching/ATM
  • Pembayaran, settlement, rekonsiliasi, dan fungsi likuiditas harian
  • Layanan nasabah: call center, complaint handling, notifikasi transaksi
  • Pelaporan kepatuhan dan pelaporan manajemen yang beririsan dengan tenggat waktu
  • Operasi cabang kritikal, terutama yang menopang volume transaksi tinggi
  • Fungsi keamanan dan respons insiden untuk menjaga integritas layanan saat gangguan bersifat siber

Program BCM tidak menggantikan keamanan siber, tata kelola TI, atau manajemen risiko. BCM mengunci kemampuan bank untuk tetap melayani saat kontrol pencegahan gagal atau saat gangguan berasal dari luar kendali.

BCM menerjemahkan “tetap berjalan atau pulih cepat” menjadi target yang bisa eksekusi

Bagian inti BCM adalah mengubah kebutuhan keberlangsungan menjadi parameter operasional:

  • MTPD/MTD: batas maksimum gangguan yang masih bisa ditoleransi sebelum dampak menjadi tidak dapat terterima
  • RTO: target waktu pemulihan layanan sampai level minimum yang menjadi sepakati
  • RPO: batas kehilangan data yang masih bisa diterima dari sudut operasi dan rekonsiliasi
  • MBCO: level minimum layanan yang harus tetap tersedia selama kondisi disruptif

Parameter ini bukan angka kosmetik. Angka ini menentukan desain arsitektur pemulihan, kapasitas cadangan, urutan pemulihan aplikasi, kebutuhan SDM, serta opsi kerja manual sementara.

Kerangka kerja yang lazim dipakai: ISO 22301 dan disiplin PDCA

Di praktik industri, BCMS (Business Continuity Management System) biasanya dirancang selaras ISO 22301:2019 agar tata kelola, dokumentasi, pengujian, dan perbaikan berkelanjutan berada dalam satu siklus manajemen. Konsep sederhananya: rencanakan (kebijakan, ruang lingkup, BIA), jalankan (strategi dan rencana), cek (uji dan evaluasi), perbaiki (corrective actions dan peningkatan).

Dalam perbankan, BCMS yang matang juga harus “menjahit” komponen yang sering terpisah:

  • Incident response dan keamanan informasi (karena banyak gangguan modern bersifat siber)
  • IT disaster recovery (DRP) untuk pemulihan infrastruktur dan aplikasi
  • Crisis management dan komunikasi krisis untuk keputusan level eksekutif dan pengendalian narasi
  • Vendor/outsourcing continuity, karena dependensi pihak ketiga sering menjadi single point of failure

Tahapan implementasi BCM perbankan yang operasional

Berikut urutan kerja yang biasanya menghasilkan sistem yang bisa dipakai saat kejadian nyata, bukan sekadar rapi saat audit.

1) Tetapkan scope dan governance BCMS

Scope BCMS dipakukan pada layanan kritis dan dependensinya, berikut struktur peran: siapa pemilik CBF, siapa koordinator BCMS, siapa pengambil keputusan aktivasi, dan siapa pemilik pemulihan TI. Tanpa governance, bank cenderung lambat memutuskan kapan aktivasi BCP dilakukan.

2) Bangun awareness dan disiplin kerja lintas unit

BCM selalu lintas fungsi. Training awareness menyamakan bahasa antara bisnis, operasi, TI, dan keamanan. Hasil yang diinginkan: seluruh pihak mengerti peran masing-masing saat kondisi disruptif, bukan baru belajar di tengah insiden.

3) Jalankan Business Impact Analysis (BIA)

BIA memetakan proses, aset, dependensi, dan dampak “overtime” saat gangguan berlangsung. Di sini ditetapkan MTPD, RTO, RPO, MBCO, dan prioritas pemulihan. Untuk bank, BIA harus memasukkan dampak rekonsiliasi dan konsekuensi operasional pascapemulihan, bukan hanya “downtime aplikasi”.

4) Rumuskan Business Continuity Strategy (BCS)

BCS menetapkan strategi untuk memenuhi target pemulihan: failover, alternate site, kapasitas cadangan, manual workaround, pengalihan volume transaksi, pemulihan bertahap, sampai strategi komunikasi ke pemangku kepentingan. BCS memaksa keputusan biaya-manfaat: ketahanan tidak gratis, tetapi juga tidak boleh spekulatif.

5) Susun Business Continuity Plan (BCP)

BCP adalah playbook eksekusi: trigger, call tree, time-actor matrix, langkah emergency response, resumption (operasi terbatas), recovery (pemulihan sesuai RTO), dan restoration (kembali normal). Untuk perbankan, BCP yang baik selalu memuat prosedur rekonsiliasi dan kontrol pascapemulihan untuk memastikan integritas transaksi.

6) Uji lewat drilling dan testing simulation

BCM yang tidak pernah diuji adalah asumsi. Table-top dan semi real test menguji: kecepatan eskalasi, kualitas keputusan, ketepatan langkah teknis, kesiapan komunikasi, dan kemampuan unit menjalankan operasi terbatas tanpa kehilangan kendali. Hasil uji harus ditutup dengan perbaikan terukur.

7) Kunci protokol eskalasi dan aktivasi BCP

Bank butuh mekanisme aktivasi yang tegas agar tidak terlambat bertindak. Protokol ini menetapkan kondisi/trigger, siapa yang berwenang mengaktifkan, batas waktu keputusan, jalur komunikasi, serta koordinasi antar-BCP (CBF) dan BCP korporat.

8) Sosialisasi dan perbaikan berkelanjutan

BCMS harus hidup mengikuti perubahan: produk digital baru, perubahan vendor, migrasi data center, restrukturisasi organisasi, perubahan arsitektur keamanan, dan perubahan pola serangan. Sosialisasi memastikan dokumen tidak menjadi “museum prosedur”.

Baca juga:

Layanan RWI untuk penyusunan BCM/BCMS perbankan

RWI menjalankan pendampingan implementasi BCMS berbasis ISO 22301:2019 dengan lingkup kerja yang operasional: training awareness BCMS, penyusunan kebijakan/pedoman BCMS, implementasi melalui piloting sampai maksimal 4 CBF sebagai dasar penyusunan BIA–BCS–BCP, pelaksanaan drilling dan testing simulation (table-top dan semi real test) untuk satu skenario terintegrasi yang melibatkan maksimal 4 CBF, penyusunan protokol eskalasi dan aktivasi BCP di tingkat korporat, serta sosialisasi implementasi BCMS.

Output yang biasanya dicari manajemen bank dari proyek BCM

  • Penetapan CBF prioritas dan urutan pemulihan berbasis BIA
  • Target MTPD/RTO/RPO yang nyambung ke strategi pemulihan dan kemampuan DR
  • BCP yang bisa dieksekusi (bukan narasi) lengkap dengan trigger dan struktur keputusan
  • Bukti uji simulasi dan daftar perbaikan yang menutup gap kesiapan
  • Protokol eskalasi-aktivasi yang mempercepat respons korporat saat gangguan

BCM perbankan yang matang menghasilkan satu hal yang bisa dibaca direksi tanpa debat panjang: layanan kritis apa yang dijaga, seberapa cepat harus pulih, bagaimana cara pulih, siapa yang memutuskan, dan bukti bahwa sistemnya pernah diuji serta diperbaiki.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top