BCM untuk Perusahaan Telekomunikasi dan Data Center

BCM untuk Perusahaan Telekomunikasi dan Data Center
RB 10 Februari 2026
Rate this post

RWI Consulting – BCM untuk perusahaan telekomunikasi dan data center adalah pendekatan sistemik agar operasi tetap berlanjut dan layanan tetap dapat dihasilkan pada tingkat yang ditetapkan ketika peristiwa disruptif terjadi, sekaligus melindungi reputasi dan kepentingan pemangku kepentingan.

BCM untuk Perusahaan Telekomunikasi dan Data Center

Dalam praktiknya, fokusnya mengunci keterhubungan antara BCMS dan IT DRP yang sudah berjalan, memutakhirkan BIA–BCP–DRP–BCS untuk aplikasi prioritas, menguji kesiapan lewat drilling/testing/simulation, lalu memastikan kesiapan infrastruktur melalui roadmap yang spesifik untuk fungsi operasional TI.

Kenapa telco dan data center perlu “BCM yang menyatu”, bukan BCM sebagai dokumen

Ruang lingkup kerja menempatkan “gap analysis terhadap kondisi BCMS dan IT DRP existing” sebagai titik awal. Ini menegaskan satu prinsip: ketahanan operasional di industri yang sangat bergantung pada jaringan dan pusat data tidak bisa memisahkan tata kelola kelangsungan usaha (BCMS) dari rencana pemulihan teknis (IT DRP).

Konsekuensi langsungnya:

  • Kalau IT DRP kuat tapi BCMS lemah, organisasi lambat mengaktifkan rencana, koordinasi lintas fungsi kacau, dan eskalasi keputusan terlambat.
    Kerangka kerja yang dipakai memang memaksa keduanya dievaluasi, diperbaiki, dan diuji sebagai satu kapabilitas.
  • Kalau BCMS kuat tapi IT DRP lemah, pemulihan teknis meleset dari target.

BCMS sebagai sistem manajemen: disiplin “rencana–uji–perbaiki”

Model implementasi menempatkan BCMS sebagai siklus perbaikan berkelanjutan: menetapkan (plan), menjalankan (do), memonitor dan meninjau (check), lalu memelihara dan meningkatkan (act). Implikasinya untuk telco dan data center: rencana pemulihan tidak dianggap selesai saat dokumen selesai; ia harus diuji, dibuktikan, lalu diperbarui berdasarkan temuan.

Rangkaian inti yang dikunci: BIA → BCS → BCP, ditutup oleh DTS

Kerangka kerja menekankan rangkaian BIA–BCS–BCP dan pengujian (DTS) sebagai satu paket end-to-end.

BIA: mengubah “kritis” menjadi target pemulihan yang terukur

BIA diarahkan untuk menentukan pemangku kepentingan, peristiwa disruptif, proses kritikal, MTPD, RTO, serta strategi keberlangsungan usaha. Di dalamnya ada penetapan MBCO (minimum level layanan), pemetaan dampak seiring waktu (impacts overtime), dan penentuan RPO/RTO/MTPD sebagai parameter yang mengunci kebutuhan pemulihan.

Untuk telco dan data center, arti praktisnya:

  • layanan/koneksi prioritas dan dependensinya ditetapkan dulu,
  • batas toleransi gangguan dan target pemulihan jadi angka yang bisa diuji,
  • prioritas pemulihan tidak ditentukan lewat intuisi, tapi lewat kebutuhan layanan minimum (MBCO).

BCS: strategi continuity yang memaksa urutan, kapasitas, dan solusi

BCS dirumuskan sebagai strategi dan solusi kelangsungan usaha dengan langkah tanggap darurat dan pemulihan, untuk memastikan critical business function dapat melanjutkan serta memulihkan proses kritikal.

Elemen yang ditetapkan mencakup criticality tiering serta rencana resumption–recovery–restoration. Di telco dan data center, BCS harus berfungsi sebagai “jembatan keputusan”:

  • layanan mana yang harus kembali dulu (tiering),
  • bagaimana operasi berjalan pada kondisi disruptif (resumption),
  • bagaimana kembali ke kapasitas normal (recovery dan restoration),
  • resource dan interdependensi apa yang wajib tersedia agar target pemulihan realistis.

CP dan DRP: playbook eksekusi + pemulihan teknis untuk aplikasi prioritas

Ruang lingkup kerja memuat pemutakhiran dokumen BIA, BCP, DRP, dan BCS, termasuk DRP untuk aplikasi prioritas (jumlah disepakati). Ini mengunci dua hal:

  • BCP menjadi playbook lintas fungsi (operasional, layanan, fasilitas, komunikasi),
  • DRP menjadi playbook teknis yang diarahkan untuk memenuhi target pemulihan yang ditetapkan oleh BIA/BCS.

4) DTS: pengujian berbasis skenario, call tree, dan time-actor matrix

Tujuan DTS adalah menguji dan melatih langkah tanggap darurat dan pemulihan dengan melibatkan seluruh pihak terkait. Komponen uji mencakup skenario, call tree, dan time actor matrix, dengan bentuk table top simulation, semi real test, hingga real test. Hasil uji menjadi dasar penyempurnaan rencana.

Untuk operasi telco dan pusat data, ini penting karena dua kegagalan paling mahal biasanya ada pada:

  • waktu eskalasi dan aktivasi yang lambat (orang bingung kapan “naik level”),
  • urutan aksi yang salah (teknis benar, tetapi salah prioritas layanan).
    DTS menguji keduanya secara eksplisit lewat skenario dan time-actor matrix.

Paket kerja yang operasional (langsung bisa jadi TOR internal)

Ruang lingkup dan deliverables dapat dibaca sebagai program penguatan ketahanan untuk telco/data center:

  1. Gap analysis BCMS dan IT DRP existing terhadap best practice, dengan output laporan gap analysis implementasi BCMS dan IT DRP.
  2. Pengukuran maturitas BCMS, dengan output laporan maturitas.
  3. Pemutakhiran kebijakan dan pedoman BCMS, termasuk ruang lingkup penerapan DRP.
  4. Penyusunan/pengkinian BIA, BCP, DRP, BCS, termasuk DRP untuk aplikasi prioritas.
  5. Pelaksanaan drilling/testing/simulation untuk menguji BCP & DRP, dengan output materi training, laporan pelaksanaan, dan laporan hasil uji.
  6. Penyusunan infrastructure readiness roadmap untuk mendukung BCMS dan DRP pada fungsi operasional TI.
  7. Sosialisasi hasil pemutakhiran, berikut materi dan laporan pelaksanaan.

Selain itu, pendekatan implementasi awal dapat dipakukan melalui piloting maksimal 4 fungsi kritikal untuk identifikasi area kritikal, prioritas layanan, dan penyusunan BIA–BCS–BCP.

Protokol eskalasi dan aktivasi: mengunci “kapan rencana dipakai”

Ruang lingkup implementasi memasukkan penyusunan protokol eskalasi dan aktivasi BCP di tingkat korporat sebagai deliverable tersendiri. Dalam konteks telco/data center, ini adalah mekanisme untuk:

  • mempercepat keputusan aktivasi saat kondisi ambiguous (belum “jelas besar”),
  • memastikan jalur komando dan eskalasi tidak putus di tengah operasi 24/7,
  • mengurangi risiko “terlambat mengaktifkan” yang sering memperbesar downtime.

Metodologi kerja: berbasis dokumen, forum teknis, dan pengujian

Metodologi yang dicantumkan mengandalkan document review, drilling/testing/simulation, forum diskusi terfokus, presentasi dan diskusi, serta technical meeting dan laporan proyek.

Ini menghasilkan dua hal penting untuk industri yang sangat operasional:

  • keputusan dan asumsi tercatat (audit-ready),
  • eksekusi diuji melalui simulasi dan laporan hasil uji (operation-ready).

Output minimum yang seharusnya dihasilkan

Output pekerjaan yang disebut mencakup materi pelatihan awareness, dokumen BIA, dokumen BCP, dokumen pedoman kebijakan BCMS, laporan pelaksanaan DTS, dokumen protokol eskalasi dan aktivasi BCP korporat, serta materi sosialisasi implementasi.

Jika diterapkan pada telco dan data center, paket output ini memastikan tiga lapisan siap sekaligus:

  • lapisan kebijakan/guideline (aturan main dan scope),
  • lapisan kebutuhan dan rencana pemulihan (BIA–BCS–BCP–DRP),
  • lapisan bukti kesiapan (DTS + laporan + perbaikan + roadmap kesiapan infrastruktur).

Baca juga:

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top