Apa Itu CSR: Peran, Contoh, dan Hubungannya dengan ESG

RWI Consulting – Istilah CSR (Corporate Social Responsibility) sudah lama beredar di brosur tahunan, laporan perusahaan, sampai konten media sosial. Hampir setiap perusahaan bicara tentang “kepedulian terhadap masyarakat” atau “kontribusi bagi lingkungan”.
Masalahnya, label CSR bisa berarti dua hal yang sangat berbeda:
- Komitmen sosial yang sungguh-sungguh dan konsisten.
- Sekadar upaya memoles citra, yang bisa jatuh menjadi greenwashing ketika klaim keberlanjutan tidak sejalan dengan praktik bisnis sehari-hari.
RWI melalui artikel tentang ESG vs CSR menjelaskan bahwa banyak perusahaan mencampuradukkan dua istilah itu. CSR biasanya hadir dalam bentuk program sosial sukarela, sementara ESG dipakai investor dan pemangku kepentingan sebagai kerangka terukur untuk menilai kinerja keberlanjutan.
Supaya tidak tersesat, kita mulai dari pertanyaan dasar: apa itu CSR, sebenarnya?
Apa Itu CSR: Peran, Contoh, dan Hubungannya dengan ESG

1. Apa itu CSR?
Secara sederhana, CSR adalah komitmen perusahaan untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan melalui program sosial yang dirancang di luar operasi intinya.
Dalam banyak pembahasan, CSR dipandang sebagai:
- ekspresi komitmen sosial perusahaan,
- lewat program yang biasanya bersifat sukarela,
- dengan fokus ke komunitas dan citra sebagai corporate citizen yang baik.
Contoh bentuk CSR yang sering muncul antara lain:
- dukungan pendidikan di sekitar wilayah operasional,
- program kesehatan atau keselamatan komunitas,
- bantuan bencana, atau
- kegiatan lingkungan seperti penanaman pohon dan bersih-bersih area publik.
Artikel layanan konsultasi ESG di RWI juga menyinggung bahwa banyak perusahaan sudah punya inisiatif CSR, tetapi belum memiliki strategi keberlanjutan yang terintegrasi. CSR berjalan sebagai program sendiri, sementara pengelolaan risiko dan tata kelola belum menyatu dengan agenda keberlanjutan yang lebih luas.
Jadi, CSR menjawab pertanyaan “bagaimana perusahaan memberi kembali kepada masyarakat”, tetapi belum tentu menjawab “bagaimana perusahaan mengelola dampak kegiatan bisnisnya secara menyeluruh”.
2. Tujuan dan manfaat CSR bagi perusahaan
Dari berbagai pembahasan RWI tentang ESG dan aspek sosial, terlihat beberapa pola alasan mengapa perusahaan menjalankan CSR:
- Membangun hubungan dengan komunitas
Perusahaan ingin hadir sebagai tetangga yang baik. Program pendidikan, kesehatan, atau pengembangan ekonomi lokal membantu menciptakan hubungan yang lebih positif dengan masyarakat sekitar. - Menguatkan reputasi dan kepercayaan
Di era ketika publik makin kritis, perusahaan yang terlihat peduli pada isu sosial cenderung lebih dipercaya. CSR memberi ruang bagi perusahaan untuk menunjukkan nilai yang mereka pegang, bukan hanya produk yang mereka jual. - Meningkatkan keterlibatan karyawan
Program sosial yang melibatkan karyawan dapat memperkuat rasa bangga terhadap perusahaan. Aspek sosial dan ketenagakerjaan menjadi bagian penting dari risiko reputasi; ketika perusahaan mengelola ini dengan serius, ikatan karyawan terhadap organisasi juga ikut menguat. - Mendukung agenda keberlanjutan dan ESG
CSR bukan pengganti ESG, tetapi bisa menjadi pintu masuk. Program sosial yang sudah berjalan bisa perusahaan tata ulang sehingga selaras dengan strategi keberlanjutan dan indikator yang lebih terukur.
Singkatnya, CSR membantu perusahaan membangun narasi dan hubungan sosial. Namun, agar narasi itu tidak kosong, CSR perlu terhubung dengan cara perusahaan menjalankan bisnis sehari-hari.
3. Perbedaan CSR dan ESG: mengapa perusahaan perlu paham batasnya
Beberapa garis besarnya:
- Tujuan dan audiens
- CSR berfokus pada kontribusi sosial dan pembangunan citra di mata komunitas dan publik umum.
- ESG berfokus pada cara perusahaan mengelola isu lingkungan, sosial, dan tata kelola yang punya dampak ke keputusan investor, regulator, dan pemangku kepentingan lain.
- Cara kerja dan cakupan
- CSR biasanya mengambil bentuk program terpisah: kegiatan sosial, filantropi, atau dukungan komunitas.
- ESG menembus ke strategi inti, kebijakan, dan sistem pengukuran. Ia bukan hanya daftar program, tetapi kerangka yang menjangkau proses bisnis, risiko, dan pelaporan.
- Pengukuran dan pelaporan
- CSR banyak memakai narasi: cerita dampak, dokumentasi kegiatan, dan testimoni. Standar pengukuran sering beragam.
- ESG menuntut metrik dan indikator yang konsisten, sehingga pasar bisa menilai kinerja keberlanjutan secara lebih objektif.
- Relasi dengan regulasi dan pasar
- CSR berangkat dari komitmen sukarela dan nilai korporat.
- ESG semakin dekat dengan ekspektasi regulasi dan syarat pasar modal, termasuk standar pelaporan dan penilaian risiko.
Cara mudah mengingatnya: CSR bercerita tentang “program baik”, sementara ESG berbicara tentang “sistem dan angka” yang menjadi dasar keputusan bisnis dan investasi.
4. CSR sebagai bagian dari pilar “S” dalam ESG
Artikel tentang memulai bisnis dengan prinsip ESG menyebut bahwa ESG menuntut perusahaan mengatur cara mengambil keputusan sehari-hari, bukan sekadar menjalankan program baik sesekali. ESG mencakup jejak lingkungan, cara perusahaan memperlakukan orang, dan kualitas tata kelola.
Di sini, posisi CSR menjadi lebih jelas:
- Program CSR sering kali berada di pilar S (Social), misalnya dukungan komunitas, pemberdayaan masyarakat, atau program pendidikan.
- Namun, aspek sosial dalam ESG jauh lebih luas: hak asasi manusia, ketenagakerjaan, K3, keragaman, hingga dampak sosial di rantai pasok.
Panduan HAM dan ketenagakerjaan dalam ESG menegaskan bahwa risiko sosial adalah risiko bisnis. Program sosial saja tidak cukup jika perusahaan masih memiliki praktik kerja yang melanggar standar ketenagakerjaan atau HAM di rantai pasoknya.
Jadi:
- CSR bisa menjadi “wajah ramah” dari pilar sosial.
- ESG memastikan wajah ramah itu konsisten dengan apa yang terjadi di pabrik, kantor, dan rantai pasok.
5. CSR, reputasi, dan risiko greenwashing
Artikel “7 Contoh Greenwashing dan Cara Menghindarinya” memberi contoh: perusahaan rajin mempromosikan kegiatan CSR seperti penanaman pohon, tetapi di saat yang sama mengabaikan isu besar seperti limbah pabrik.
Beberapa pelajaran dari sana:
- CSR tanpa perbaikan proses inti mudah terlihat janggal
Konsumen dan pemangku kepentingan semakin sensitif terhadap ketidaksesuaian antara kampanye dan kenyataan. Ketika perusahaan mengangkat tinggi proyek CSR tetapi diam terhadap masalah besar di operasi, publik cepat menangkap ketidakseimbangan itu. - Narasi tanpa data melemahkan kredibilitas
Klaim “ramah lingkungan” atau “peduli masyarakat” yang tidak diiringi bukti atau metrik membuat perusahaan rentan dicurigai. Hal yang sama berlaku di ruang CSR: cerita dampak perlu dukungan data, meskipun sederhana. - Greenwashing adalah persoalan tata kelola, bukan hanya komunikasi
Jebakan greenwashing muncul saat tata kelola dan prosedur belum mengatur standar komunikasi, validasi klaim, dan pelaporan yang berbasis data.
Supaya CSR tidak jatuh ke jebakan ini, perusahaan perlu:
- menempatkan CSR dalam konteks strategi keberlanjutan dan manajemen risiko,
- menyelaraskan cerita program sosial dengan fakta di lapangan,
- dan menyiapkan bukti yang dapat ditelaah, bukan hanya visual dan slogan.
6. Cara merancang program CSR yang lebih strategis
Berdasarkan pendekatan ESG yang sering dibahas RWI, kita bisa menarik beberapa prinsip agar program CSR tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan tata kelola dan risiko.
a. Mulai dari isu yang material, bukan sekadar populer
Konsep materialitas dalam ESG menekankan pentingnya memilih isu yang paling relevan bagi bisnis dan bagi pemangku kepentingan. Pendekatan serupa bisa perusahaan pakai untuk CSR:
- identifikasi isu sosial utama yang berkaitan dengan sektor dan lokasi operasional,
- dengarkan masyarakat sekitar, regulator, dan karyawan,
- lalu pilih beberapa tema prioritas yang akan menjadi fokus CSR dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan begitu, CSR tidak berubah-ubah setiap tahun hanya mengikuti tren.
b. Selaraskan CSR dengan kebijakan dan proses internal
Program CSR yang memberi beasiswa, misalnya, akan lebih kuat maknanya jika perusahaan juga memiliki praktik ketenagakerjaan yang adil, inklusif, dan menjaga hak-hak pekerja di internal. Integrasi ini penting agar komitmen sosial tidak berhenti di permukaan.
Pertanyaan yang perlu manajemen ajukan:
- Apakah ada kebijakan tertulis yang mendukung nilai di balik program CSR?
- Apakah praktik di rantai pasok sejalan dengan narasi kepedulian sosial yang perusahaan angkat?
Jika jawabannya “belum”, program CSR sebaiknya diiringi perbaikan kebijakan dan prosedur internal.
c. Ukur dampak CSR secara sederhana namun konsisten
Apa yang tidak diukur, sulit dikelola. Hal yang sama berlaku untuk CSR.
Perusahaan bisa:
- menetapkan beberapa indikator sederhana (jumlah penerima manfaat, jam pelatihan, partisipasi karyawan, dan sebagainya),
- mencatatnya secara konsisten setiap tahun,
- lalu meringkas dampaknya dalam laporan singkat yang mudah dipahami.
Tidak perlu langsung menggunakan standar pelaporan yang kompleks. Namun, kebiasaan mengukur sejak awal akan memudahkan saat perusahaan suatu hari beralih ke pelaporan keberlanjutan berbasis ESG.
d. Hubungkan CSR dengan perjalanan menuju ESG
Artikel tentang memulai bisnis dengan prinsip ESG memberi gambaran bagaimana bisnis bisa beralih dari program terpisah ke sistem keberlanjutan yang lebih menyatu.
Untuk perusahaan yang sudah lama menjalankan CSR, langkah-langkah praktisnya bisa seperti ini:
- Peta semua program CSR yang ada.
- Kelompokkan program berdasarkan pilar ESG (Environment, Social, Governance).
- Identifikasi mana yang paling relevan dengan strategi bisnis dan risiko utama.
- Jadikan program-program itu sebagai bagian dari roadmap ESG, bukan hanya daftar kegiatan tahunan.
Dengan pendekatan seperti ini, CSR tidak hanya menjadi “lampu sorot” di laporan tahunan, tetapi juga fondasi awal untuk membangun strategi ESG yang terukur.
7. Penutup: CSR itu penting, tetapi bukan tujuan akhir
Jadi, apa itu CSR?
CSR adalah cara perusahaan menunjukkan tanggung jawab sosialnya melalui program konkret untuk masyarakat dan lingkungan. Ia membantu memperkuat hubungan dengan komunitas, membangun reputasi, dan memberi ruang bagi karyawan untuk terlibat dalam hal yang bermakna.
Namun, di era ketika investor, regulator, dan publik menuntut bukti yang lebih terukur, CSR saja tidak cukup. Kerangka ESG memberi struktur yang menghubungkan program-program itu dengan kebijakan, data, dan tata kelola. Jika CSR menjadi “cerita baik” perusahaan, ESG memastikan cerita itu datang dari praktik yang konsisten dan bisa diuji.
Dengan memahami peran dan batas CSR, perusahaan dapat melangkah lebih jernih: tetap menjalankan program sosial yang relevan, sekaligus membangun sistem keberlanjutan dan manajemen risiko yang kokoh untuk jangka panjang.






