7 Contoh Greenwashing dan Pelajaran untuk Perusahaan Indonesia

RWI Consulting – Di tengah meningkatnya minat konsumen terhadap produk ramah lingkungan, janji hijau mudah terdengar meyakinkan. Namun, tidak semua klaim benar-benar mencerminkan perubahan proses yang berarti. Banyak contoh greenwashing di media dan riset memperlihatkan pola berulang: kata-kata hijau tanpa data, visual alam yang menutupi dampak, hingga target besar tanpa peta jalan.
Baca: Isu ESG di Indonesia: Tantangan, Tren 2025, dan Arah Tata Kelola
Artikel ini merangkum dan mengembangkan isi agar tim pemasaran, keberlanjutan, dan manajemen punya acuan untuk membedakan inisiatif yang autentik dari sekadar gimik.
Apa Itu Greenwashing dan Mengapa Berisiko

Greenwashing adalah praktik komunikasi yang menimbulkan kesan ramah lingkungan, padahal dampak sebenarnya belum sesuai klaim. Kadang berbentuk label hijau yang tak memiliki dasar, atau kampanye sosial yang menarik tetapi tidak menyentuh akar proses bisnis.
Akibatnya, publik kesulitan membedakan antara kemajuan nyata dan pencitraan semata. Di Indonesia, fenomena ini sering disebut “jebakan gimik hijau.” Meski belum banyak regulasi khusus, tekanan moral dan sosial dari konsumen kini cukup kuat untuk menjatuhkan reputasi merek yang terbukti menyesatkan.
Baca: Manfaat ESG untuk Perusahaan
7 Contoh Greenwashing yang Sering Terjadi
1. Klaim Umum Tanpa Bukti
Perusahaan menyebut produknya “ramah lingkungan” tanpa data pendukung. Misalnya klaim “lebih baik bagi bumi” tanpa metrik atau pembanding.
2. Label dan Ikon Hijau yang Samar
Kemasan penuh daun, tetesan air, atau warna hijau yang menimbulkan asosiasi alam, padahal tidak ada sertifikasi independen.
3. Menonjolkan Satu Aspek, Menutupi Gambaran Besar
Produk menyorot satu hal kecil seperti “botol daur ulang,” tetapi menutupi emisi besar dari bahan baku atau distribusi.
4. Offset Sebagai Pengalih Fokus
Klaim netral karbon diangkat besar-besaran, sementara pengurangan di proses inti minim.
5. Target Jangka Panjang Tanpa Roadmap
Target nol emisi tahun 2050 terdengar ambisius, tetapi tanpa milestone, indikator, atau progres tahunan.
6. Bahasa Teknis yang Membingungkan
Menggunakan istilah teknis yang tidak bisa diverifikasi publik, seperti “biodegradable polymer compound” tanpa konteks.
7. Kampanye Sosial yang Menutupi Dampak Inti
Perusahaan gencar menunjukkan kegiatan CSR seperti penanaman pohon, tetapi mengabaikan isu besar seperti limbah pabrik.
Tanda-Tanda Peringatan
Beberapa sinyal yang patut dicermati oleh konsumen dan pemangku kepentingan:
- Klaim yang terlalu umum atau tanpa pembanding
- Visual hijau berlebihan tanpa data
- Tidak ada bukti atau laporan hasil
- Tidak tersedia metodologi atau akses ke data
Dampak bagi Bisnis
Greenwashing bukan sekadar persoalan etika; ia juga ancaman terhadap kepercayaan publik. Sekali konsumen menemukan ketidaksesuaian, reputasi bisa turun drastis. Lebih baik menampilkan kemajuan bertahap yang jujur ketimbang janji besar tanpa bukti.
Kejujuran kini menjadi mata uang reputasi. Brand yang konsisten dengan data, transparansi, dan proses nyata akan bertahan lebih lama dibanding yang hanya menjual citra.
Checklist Anti-Greenwashing untuk Tim Pemasaran & ESG
| Area | Pertanyaan Kunci | Bukti yang Dibutuhkan | Hasil Ideal |
| Klaim | Apakah klaim bisa diverifikasi pihak ketiga? | Data, metodologi, audit | Narasi berbasis bukti |
| Label | Apakah sertifikasi diakui dan jelas kriterianya? | Dokumen sertifikasi | Daftar label sah |
| Dampak | Apakah menampilkan keseluruhan dampak, bukan hanya sebagian? | Analisis siklus hidup | Ringkasan total dampak |
| Target | Apakah target punya milestone tahunan? | Roadmap, KPI | Rencana kerja bertahap |
| Offset | Apakah pengurangan langsung jadi prioritas? | Rencana pengurangan | Penjelasan hierarki aksi |
| Bahasa | Apakah istilah teknis mudah dipahami publik? | Glosarium, FAQ | Materi edukatif sederhana |
Dari Klaim ke Kredibilitas
Banyak liputan menyoroti perusahaan yang gagal menjaga keseimbangan antara komunikasi dan tindakan. Polanya sama: promosi besar, tapi minim data.
Greenwashing bukan hanya kesalahan komunikasi—ia mencerminkan kegagalan tata kelola. Untuk mencegahnya, perusahaan perlu:
- Menyusun kebijakan komunikasi berbasis data,
- Menetapkan standar internal untuk validasi klaim, dan
- Melibatkan audit independen pada laporan keberlanjutan.
Kesimpulan
Greenwashing bisa jadi jebakan bagi perusahaan yang ingin terlihat cepat “hijau.” Padahal, kepercayaan publik hanya tumbuh dari transparansi dan konsistensi.
Lebih baik melangkah kecil dengan data yang jelas daripada berlari cepat dengan klaim kosong. Karena di era keberlanjutan, yang dinilai bukan seberapa keras Anda bicara, tapi seberapa nyata perubahan yang terjadi.






