Jangan Asal Buat Survei: Ini Contoh Pertanyaan Budaya Risiko yang Lebih Tajam

Jangan Asal Buat Survei: Ini Contoh Pertanyaan Budaya Risiko yang Lebih Tajam
RB 6 Maret 2026
Rate this post

RWI Consulting – Survei budaya risiko yang baik tidak cukup bertanya, “Apakah Anda sadar risiko?” Pertanyaan seperti itu terlalu umum. Hasilnya rapi, tetapi dangkal.

Survei budaya risiko yang lebih kuat biasanya mengikuti struktur yang lebih jelas. Dalam model yang dipakai untuk pengukuran budaya risiko, budaya risiko dipecah menjadi 4 elemen, 10 sub-elemen, dan 40 atribut.

Jangan Asal Buat Survei: Ini Contoh Pertanyaan Budaya Risiko yang Lebih Tajam

penyusunan ERM

Konsultan ERM Indonesia. Klik di sini.

Empat elemen itu adalah Transparency, Acknowledgement, Responsiveness, dan Respect, dengan sub-elemen seperti Level of Insight, Tolerance, Communication, Confidence, Openness, Challenge, Speed of Response, Level of Care, Cooperation, dan Adherence to Rules.

Kalimat sederhananya: survei budaya risiko harus mengukur perilaku, bukan sekadar opini umum.

Skala yang paling mudah dipakai

Model penilaian budaya risiko biasanya memakai skala 1 sampai 5 untuk setiap atribut, lalu skor sub-elemen dihitung dari rata-rata pertanyaannya, dan skor elemen dihitung dari rata-rata sub-elemen.

Agar mudah dipakai, gunakan skala seperti ini:

1 = Sangat Tidak Setuju
2 = Tidak Setuju
3 = Netral / Cukup
4 = Setuju
5 = Sangat Setuju

Untuk pertanyaan tertentu, Anda juga bisa memakai skala kecepatan atau frekuensi. Tetapi untuk versi awal, skala setuju-tidak setuju paling aman.

Cara menyusun pertanyaan survei budaya risiko

Ada tiga prinsip sederhana.

Pertama, pertanyaannya harus memakai bahasa yang dipahami responden.
Kedua, pertanyaannya harus mengukur perilaku yang benar-benar terjadi.
Ketiga, pertanyaannya harus bisa ditindaklanjuti.

Itu berarti pertanyaan seperti ini kurang tajam:

  • “Apakah budaya risiko di perusahaan sudah baik?”

Yang lebih baik:

  • “Saya memahami kapan suatu isu harus segera dieskalasi ke atasan atau fungsi terkait.”
  • “Risiko yang saya lihat di unit kerja bisa saya sampaikan tanpa takut disalahkan.”

Struktur pertanyaan berdasarkan elemen budaya risiko

Berikut contoh pertanyaan survei budaya risiko yang bisa langsung dipakai. Saya susun mengikuti 10 sub-elemen utama agar lebih rapi dan mudah dipetakan ke hasil.

A. Transparency

1) Level of Insight

Sub-elemen ini mengukur apakah orang benar-benar memahami risiko, data risiko, dan pemetaan risikonya. Dalam model yang digunakan, area ini mencakup pemahaman risiko, wawasan risiko, pemahaman data, dan pemetaan risiko.

Contoh pertanyaan:

  1. Saya memahami risiko utama yang paling memengaruhi unit kerja saya.
  2. Saya mengetahui faktor penyebab utama dari risiko-risiko tersebut.
  3. Informasi mengenai risiko tersedia dan cukup mudah diakses saat saya membutuhkannya.
  4. Data risiko yang digunakan di unit kerja saya cukup jelas dan dapat dipercaya.
  5. Pemetaan risiko di perusahaan dilakukan secara terstruktur, bukan sekadar formalitas.
  6. Saya memahami bagaimana risiko di unit saya dapat memengaruhi tujuan perusahaan secara lebih luas.

2) Tolerance

Sub-elemen ini mengukur apakah orang memahami batas risiko, risk appetite, dan risk limit perusahaan.

Contoh pertanyaan:
7. Saya memahami batas risiko yang masih dapat diterima oleh perusahaan.
8. Saya mengetahui kapan suatu kondisi sudah melewati batas risiko yang diperbolehkan.
9. Risk appetite perusahaan sudah dikomunikasikan dengan cukup jelas.
10. Saya bisa membedakan keputusan yang masih sesuai risk appetite dan yang sudah terlalu agresif.
11. Dalam praktik kerja, target bisnis tidak membuat kami mengabaikan batas risiko yang sudah ditetapkan.

3) Communication

Sub-elemen ini mengukur kualitas komunikasi kebijakan, status risiko, dan prosedur pelaporan risiko.

Contoh pertanyaan:
12. Kebijakan manajemen risiko dikomunikasikan dengan jelas ke seluruh level organisasi.
13. Perubahan status risiko dan mitigasi disampaikan secara berkala.
14. Jalur komunikasi untuk menyampaikan isu risiko sudah jelas.
15. Saya memahami prosedur pelaporan risiko di perusahaan.
16. Informasi risiko tidak berhenti di satu level, tetapi mengalir sampai ke pihak yang perlu mengetahuinya.
17. Komunikasi risiko antar unit kerja berjalan cukup baik.

B. Acknowledgement

4) Confidence

Sub-elemen ini mengukur rasa percaya diri individu dan keyakinan bahwa organisasi mendukung penyampaian isu risiko.

Contoh pertanyaan:
18. Saya cukup percaya diri untuk menyampaikan risiko yang saya lihat di pekerjaan saya.
19. Atasan saya mendukung diskusi terbuka mengenai risiko.
20. Saya tidak merasa harus menunggu masalah menjadi besar sebelum melaporkannya.
21. Saya percaya bahwa penyampaian isu risiko akan ditanggapi dengan serius.

5) Openness

Sub-elemen ini mengukur keterbukaan informasi, ide, dan diskusi risiko.

Contoh pertanyaan:
22. Orang di unit kerja saya bisa membicarakan risiko secara terbuka.
23. Pimpinan terbuka terhadap masukan yang menyoroti potensi risiko.
24. Kesalahan atau near-miss bisa dibahas sebagai bahan belajar, bukan hanya untuk menyalahkan orang.
25. Unit kerja saya tidak menutup-nutupi informasi penting yang berkaitan dengan risiko.

6) Challenge

Sub-elemen ini mengukur apakah organisasi berani menguji efektivitas proses, kontrol, dan keputusan. Dalam contoh temuan budaya risiko, salah satu area lemah yang sering muncul adalah organisasi mengadopsi proses tanpa challenge terhadap efektivitas risiko

Contoh pertanyaan:
26. Orang di perusahaan ini berani mempertanyakan proses yang kurang efektif dalam mengelola risiko.
27. Usulan perbaikan terhadap kontrol atau mitigasi diterima dengan terbuka.
28. Kami tidak sekadar mengikuti prosedur, tetapi juga menilai apakah prosedur itu masih efektif.
29. Keputusan penting bisa didiskusikan secara kritis tanpa dianggap melawan atasan.

C. Responsiveness

7) Speed of Response

Sub-elemen ini mengukur kecepatan organisasi merespons risiko. Dalam contoh pengukuran, atributnya mencakup waktu reaksi, kecepatan eskalasi, akurasi tanggapan, dan waktu pemulihan

Contoh pertanyaan:
30. Organisasi merespons risiko dengan cepat setelah risiko diidentifikasi.
31. Risiko yang muncul segera dibawa ke perhatian manajemen atau pihak terkait setelah ditemukan.
32. Tanggapan awal terhadap risiko biasanya akurat dan tepat sasaran.
33. Waktu yang dibutuhkan untuk pulih dari insiden atau risiko tergolong cukup cepat.
34. Organisasi tidak menunda eskalasi ketika risiko sudah jelas terlihat.
35. Keputusan terhadap risiko mendesak dapat diambil tanpa birokrasi yang terlalu lambat.

8) Level of Care

Sub-elemen ini mengukur perhatian terhadap detail, prioritas mitigasi, dan kehati-hatian organisasi. Dalam interpretasi skor, level ini menggambarkan apakah perhatian terhadap risiko masih reaktif atau sudah menjadi kebiasaan di seluruh perusahaan

Contoh pertanyaan:
36. Unit kerja saya memberi perhatian serius pada detail yang dapat memicu risiko.
37. Kami memprioritaskan mitigasi risiko yang paling penting, bukan hanya yang paling mudah.
38. Manajemen menunjukkan ketelitian saat meninjau tindakan mitigasi.
39. Kami tidak menunggu insiden terjadi untuk mulai memikirkan respons risiko.
40. Perencanaan risiko dilakukan sebelum keputusan penting dijalankan.

D. Respect

9) Cooperation

Sub-elemen ini mengukur kolaborasi lintas fungsi dalam pengelolaan risiko. Dalam kerangka budaya risiko, kerja sama dan kontribusi antar pihak menjadi bagian penting dari elemen Respect

Contoh pertanyaan:
41. Unit kerja di perusahaan ini bekerja sama saat menangani risiko lintas fungsi.
42. Fungsi bisnis, manajemen risiko, kepatuhan, dan audit dapat berkoordinasi dengan baik.
43. Orang dari unit lain cukup terbuka untuk membantu saat terjadi isu risiko bersama.
44. Penanganan risiko tidak berhenti di satu unit saja, tetapi dikerjakan bersama sampai selesai.

10) Adherence to Rules

Sub-elemen ini mengukur kepatuhan terhadap aturan, prosedur, dan disiplin pelaksanaan. Dalam banyak organisasi, budaya kepatuhan lemah saat orang memahami aturan tetapi tetap mengabaikannya demi target jangka pendek.

Contoh pertanyaan:
45. Pegawai di perusahaan ini mematuhi prosedur manajemen risiko yang telah ditetapkan.
46. Kepatuhan terhadap prosedur tetap dijaga meskipun target kerja sedang tinggi.
47. Pelanggaran terhadap prosedur risiko dievaluasi secara konsisten.
48. Saya memahami prosedur kerja yang berkaitan dengan pengendalian risiko.
49. Perusahaan tidak mentoleransi pengabaian prosedur yang dapat meningkatkan risiko.

Contoh pertanyaan khusus untuk level Direksi dan manajemen

Kalau Anda ingin survei lebih tajam, pisahkan sebagian pertanyaan untuk level pimpinan.

Contoh:

  1. Direksi secara aktif menunjukkan dukungan terhadap budaya risiko.
  2. Pimpinan secara konsisten menyeimbangkan target jangka pendek dengan risiko jangka panjang.
  3. Pimpinan membuka ruang untuk diskusi risiko yang sulit secara konstruktif.
  4. Manajemen memberi contoh nyata dalam kepatuhan terhadap kebijakan risiko.
  5. Keputusan strategis mempertimbangkan risiko secara eksplisit, bukan hanya peluang.

Ini penting karena dalam model kematangan, peran aktif Direksi menjadi pembeda yang jelas antara level rendah dan level yang lebih baik

Contoh pertanyaan khusus untuk lini pertama

Untuk lini pertama, pertanyaannya perlu lebih dekat ke praktik kerja.

Contoh:

  1. Saya tahu risiko utama dalam proses kerja saya sehari-hari.
  2. Saya tahu kapan sebuah isu harus saya eskalasi.
  3. Saya bisa melaporkan near-miss tanpa takut dipersalahkan.
  4. Saya memahami batas risiko yang berlaku di area kerja saya.
  5. Saya tidak mengorbankan kontrol hanya demi kecepatan kerja.

Contoh pertanyaan khusus untuk lini kedua dan lini ketiga

Untuk lini kedua dan ketiga, pertanyaannya bisa menyorot kualitas kolaborasi dan feedback loop.

Contoh:

  1. Lini pertama memberikan informasi risiko yang cukup untuk evaluasi dan tindak lanjut.
  2. Ada feedback loop yang sehat antara lini pertama, lini kedua, dan lini ketiga.
  3. Fungsi pengawasan dapat memberi challenge tanpa dianggap menghambat bisnis.
  4. Temuan risiko dan kontrol direspons secara nyata oleh unit terkait.
  5. Koordinasi antar lini berjalan cukup cepat saat risiko meningkat.

Pertanyaan ini relevan karena salah satu contoh kelemahan budaya risiko yang sering muncul adalah tidak adanya monitoring feedback loop antara first line dengan second/third line.

Format survei yang paling praktis

Agar mudah diolah, gunakan format berikut:

  • 25–40 pertanyaan inti
  • skala 1–5
  • dipilah per elemen atau sub-elemen
  • ditambah 2–3 pertanyaan terbuka

Contoh pertanyaan terbuka

  1. Menurut Anda, perilaku apa yang paling menghambat budaya risiko di perusahaan ini?
  2. Area apa yang paling perlu diperbaiki agar pengelolaan risiko lebih efektif?
  3. Apa satu perubahan paling penting yang sebaiknya dilakukan manajemen untuk memperkuat budaya risiko?

Pertanyaan terbuka ini penting untuk menangkap konteks yang tidak selalu muncul di angka.

Kesalahan yang paling sering saat membuat pertanyaan survei budaya risiko

Pertama, pertanyaannya terlalu abstrak.
Kedua, semua pertanyaan terdengar “baik” sehingga responden cenderung menjawab aman.
Ketiga, pertanyaannya tidak bisa ditindaklanjuti.
Keempat, survei tidak membedakan level responden.
Kelima, hasilnya tidak dihubungkan ke roadmap perbaikan.

Kalau survei hanya menghasilkan kesimpulan seperti “awareness cukup baik”, berarti pertanyaannya belum tajam.

Kesimpulan

Contoh pertanyaan survei budaya risiko yang baik harus mengikuti struktur yang jelas. Model yang kuat membagi budaya risiko ke 4 elemen, 10 sub-elemen, dan 40 atribut

Dengan struktur itu, perusahaan bisa menyusun pertanyaan yang lebih tajam untuk mengukur:

  • pemahaman risiko,
  • pemahaman limit,
  • komunikasi risiko,
  • keterbukaan,
  • challenge,
  • kecepatan respons,
  • perhatian terhadap mitigasi,
  • kolaborasi,
  • dan kepatuhan.

Kalau Anda ingin hasil survei lebih berguna, pakai pertanyaan yang mengukur perilaku nyata dan pastikan setiap hasil bisa diterjemahkan menjadi tindakan perbaikan.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top