Risk Maturity Adalah: Tahapan, Strategi, dan Perbedaannya dengan RMI

RWI Consulting – Risk maturity adalah tingkat kematangan praktik manajemen risiko bukan sekadar kelengkapan dokumen, melainkan seberapa dalam risiko tertanam dalam cara organisasi berpikir, mengambil keputusan, dan bekerja setiap hari. fvfdv
Dalam kerangka ini, risk maturity menjalankan dua fungsi kunci:
- Mengarahkan perilaku dan proses: risiko hadir sejak perencanaan hingga evaluasi kinerja;
- Menjamin keberlanjutan: strategi dieksekusi dengan kontrol yang layak, indikator dini, dan disiplin tindak lanjut. Dengan kata lain, fokusnya bergeser dari “punya kebijakan” ke “punya kemampuan yang terukur dampaknya”.
Risk Maturity Adalah?

Risk maturity adalah tingkat kematangan praktik manajemen risiko, bukan hanya kelengkapan dokumen, tetapi sejauh mana risiko benar-benar tertanam dalam cara organisasi berpikir, mengambil keputusan, dan bekerja. Fungsi utamanya ada dua:
- Mengarahkan perilaku dan proses: risiko hadir sejak perencanaan hingga evaluasi kinerja, bukan ditemui di akhir sebagai pelengkap laporan.
- Menjamin keberlanjutan: keputusan strategis dieksekusi dengan kontrol yang layak, indikator dini, dan disiplin tindak lanjut.
Dengan kata lain, risk maturity menggeser fokus dari “punya kebijakan” ke “punya kemampuan yang bisa diukur dampaknya”.
B. Konsep Risk Maturity Level (RML)
RWI menggunakan kerangka Risk Maturity Level (RML) lima tingkat untuk memetakan kondisi organisasi—cukup ringkas untuk komunikasi eksekutif namun detail untuk menyusun roadmap.
Level 1 — Ad Hoc
Reaktif, tidak terstruktur. Risiko ditangani setelah terjadi insiden. Ketergantungan pada individu tinggi, dokumentasi minim.
Level 2 — Preliminary
Ada kebijakan awal atau daftar risiko, namun fragmented. Unit berbeda memakai istilah dan format yang tidak seragam. Pelatihan tidak terarah.
Level 3 — Defined
Kerangka dan proses sudah terdokumentasi: identifikasi–analisis–evaluasi–perlakuan–monitoring. Risk register hidup, ada pemilik risiko, dan rapat berkala.
Level 4 — Managed
Integrasi nyata dengan strategi dan kinerja: KRI/KPI dipakai dalam rapat bisnis, kontrol diuji (TOD/TOE), program BCP/BCMS berjalan, dan pelaporan memicu aksi.
Level 5 — Integrated & Proactive
Budaya risiko melekat. Analitik dan stress testing dipakai untuk menyimulasikan skenario. Pengambilan keputusan berbasis data lintas fungsi, dan perbaikan berlangsung terus-menerus.
C. Tahapan Risk Maturity: Ciri, Tantangan, dan Nilai Tambah
Level 1 – Ad Hoc
- Ciri: respons panik saat incident, “hero culture”, tidak ada metrik.
- Tantangan: bias individu, pemborosan biaya pemulihan.
- Nilai tambah bila naik level: visibilitas awal atas risiko kritikal, penghematan downtime.
Level 2 – Preliminary
- Ciri: ada kebijakan, namun daftar risiko sporadis; tidak ada owner jelas.
- Tantangan: prioritas tumpang tindih, pelaporan tidak konsisten.
- Nilai tambah: keseragaman bahasa dan format; penentuan prioritas jadi mungkin.
Level 3 – Defined
- Ciri: proses jelas; risk register per unit; risk appetite dan RACI mulai diterapkan.
- Tantangan: memastikan proses berdampak ke keputusan, bukan sekadar kepatuhan.
- Nilai tambah: proses mulai mengurangi variabilitas kinerja; quick wins kontrol terlihat.
Level 4 – Managed
- Ciri: KRI terhubung dengan target bisnis; TOD/TOE untuk kontrol kunci; BCMS/BCP diuji.
- Tantangan: menjaga disiplin eksekusi lintas fungsi; mengelola vendor kritikal.
- Nilai tambah: keputusan lebih cepat; kejutan biaya/insiden turun signifikan.
Level 5 – Integrated & Proactive
- Ciri: stress testing, pemodelan risiko, dan skenario dipakai rutin; budaya melapor masalah lebih dini.
- Tantangan: mempertahankan kualitas data & governance saat skala tumbuh.
- Nilai tambah: ketahanan (resilience) tinggi dan keunggulan kompetitif berkelanjutan.
D. Strategi Meningkatkan Risk Maturity
1) Budaya & Kepemimpinan
- Tetapkan tone at the top: direksi bicara risiko dalam bahasa tujuan, bukan jargon.
- Dorong “speak-up culture”: lapor anomali dini dihargai, bukan dihukum.
2) Governance yang Jelas
- Satu risk policy dan kosakata bersama.
- RACI: siapa pemilik risiko, siapa challenge, siapa eskalasi.
- Ritme quarterly risk review dan post-incident review.
3) Kapabilitas & Pelatihan
- Program berbasis peran: risk owner, control owner, auditor, manajer bisnis.
- Clinic sessions: menyusun risk register, KRI, dan playbook krisis untuk kasus nyata.
4) Integrasi ke Pengambilan Keputusan
- Masukkan risiko ke Business Case (biaya, dampak, mitigasi).
- KRI dengan ambang batas & aksi: ketika melampaui, ada playbook yang dijalankan.
- Tautkan ERM–BCMS/BCP–Audit–GRC agar tidak jalan sendiri-sendiri.
5) Data & Teknologi
- Repositori loss events dan early warning.
- Dasbor satu halaman untuk eksekutif; tidak semuanya metrik—pilih yang menggerakkan keputusan.
Risk Maturity vs Risk Maturity Index (RMI): Apa Bedanya?
- Risk maturity = konsep & perjalanan transformasi: menjelaskan level kemampuan organisasi dan tindakan untuk naik kelas.
- RMI = alat ukur terstandar: assessment multidimensi (governance, proses, data-teknologi, kompetensi, budaya) yang menghasilkan skor & profil kematangan—sering dipakai sebagai baseline dan rujukan kepatuhan (mis. selaras PER-2/MBU/03/2023 dan kebijakan turunan yang kerap disebut “SK-8”, sesuai konteks sektor). Keduanya saling melengkapi: RMI menjawab “seberapa matang?”, risk maturity menjawab “bagaimana naik ke level berikutnya?”.
Manfaat Meningkatkan Risk Maturity
Cara Memulai Perjalanan Risk Maturity (Roadmap Ringkas)
Langkah 1 — Diagnosis
Lakukan penilaian awal (bisa memakai RMI), petakan level per dimensi, dan temukan 5–7 gap kritikal paling dekat dengan tujuan bisnis.
Langkah 2 — Target & Roadmap
Tetapkan target (mis. dari Level 2→3 dalam 6–9 bulan) dan jalankan rencana:
- 0–30 hari: samakan kosakata & kebijakan; susun risk register prioritas; tetapkan KRI awal.
- 31–60 hari: quick wins kontrol; lakukan table-top exercise; mulai post-incident review.
- 61–90 hari: uji TOD/TOE untuk kontrol kunci; aktifkan dasbor; rancang stress testing sederhana.
Langkah 3 — Evaluasi Berkala
Review triwulanan (downtime, loss events, efektivitas kontrol, progres remediasi) dan ulangi assessment tiap 6–12 bulan untuk memvalidasi kemajuan.
Pada akhirnya, risk maturity adalah cara paling jujur menilai kesiapan organisasi menghadapi ketidakpastian—diukur bukan oleh tebalnya dokumen, melainkan oleh kualitas keputusan, ketertautan indikator, dan disiplin eksekusi.
Ukur posisi dengan RMI, lalu jalankan strategi peningkatan bertahap: perkuat budaya & governance, latih peran kunci, integrasikan risiko dalam rapat kinerja, dan uji kontrol serta rencana pemulihan secara konsisten. Jika Anda ingin melangkah lebih cepat, RWI dapat membantu assessment RMI, menyusun roadmap yang realistis, dan memfasilitasi workshop implementasi berbasis kasus Anda.
Ingin memulai dengan cepat? RWI bisa membantu assessment RMI, menyusun roadmap yang realistis, dan memfasilitasi workshop implementasi berbasis kasus Anda sendiri. Hubungi kami sekarang!






