Memahami Model Tiga Lini (Three Lines Model) dalam Manajemen Risiko

Memahami Model Tiga Lini (Three Lines Model) dalam Manajemen Risiko
RB 10 Juli 2025
5/5 - (2 votes)

Bagaimana memastikan manajemen risiko bukan sekadar jargon dalam dokumen, tapi benar-benar hidup di setiap bagian organisasi? Di sinilah Model Tiga Lini (Three Lines Model) berperan.

Lebih dari sekadar bagan struktur organisasi, model ini adalah kerangka kerja yang menjelaskan siapa bertanggung jawab atas apa, dan bagaimana semua fungsi di perusahaan dari operasional hingga pengawasan bekerja secara selaras dalam mengelola risiko.

Model ini menawarkan pendekatan yang jelas dan terstruktur: dari lini yang menjalankan aktivitas dan mengelola risiko langsung, hingga lini yang memantau dan memberi jaminan bahwa risiko ditangani dengan tepat. Hasilnya? Organisasi tidak hanya bereaksi saat krisis datang, tetapi sudah siap sejak awal membangun resiliensi dan nilai jangka panjang.

Model Tiga Lini (Three Lines Model)

Three Lines Model
Three Lines Model

Lini Pertama: Pemilik Risiko di Lapangan

Lini Pertama adalah pondasi dari keseluruhan sistem manajemen risiko. Mereka adalah unit-unit operasional tim yang bekerja langsung menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari, di mana risiko muncul secara alami sebagai bagian dari proses.

Dalam model ini, mereka disebut pemilik risiko. Artinya, tanggung jawab mengelola risiko ada di tangan mereka sendiri bukan dilempar ke fungsi lain. Siapa yang paling paham proses? Mereka. Maka merekalah yang paling tepat untuk mengenali risiko sejak awal dan mengambil langkah pengendalian langsung.

Lini Pertama adalah pihak yang secara aktif mengidentifikasi, menilai, dan menangani risiko dalam aktivitas operasional. Mereka adalah garda depan tempat pengelolaan risiko dimulai, bukan tempat risiko diserahkan.

Peran Kunci Lini Pertama: Mengelola Risiko dari Sumbernya

Lini Pertama punya tanggung jawab utama dalam mengelola risiko langsung dari sumbernya di tempat risiko itu muncul. Berikut tiga peran utamanya:

  1. Identifikasi Risiko Secara Proaktif
    Tim-tim operasional seperti penjualan, produksi, layanan pelanggan, hingga TI, bertugas mengenali potensi risiko yang muncul dari aktivitas harian mereka. Misalnya, tim penjualan menyadari potensi kredit macet dari pelanggan baru, atau tim produksi mengantisipasi risiko gangguan mesin. Mereka tidak menunggu risiko terjadi mereka mengidentifikasi sejak dini.
  2. Pengelolaan Risiko Harian
    Setelah risiko dikenali, Lini Pertama langsung bergerak. Mereka menerapkan kontrol, menjalankan prosedur, melakukan pengecekan rutin, dan memastikan semuanya berjalan sesuai batas risiko yang telah ditetapkan. Mereka tidak menunggu arahan dari fungsi pengawasan karena pengendalian risiko adalah bagian dari tugas harian mereka.
  3. Memiliki Risiko sebagai Bagian dari Pekerjaan
    Risiko bukan tugas tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab inti mereka. Keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian target, tapi juga dari seberapa baik mereka mengelola risiko selama proses mencapainya.

Lini Kedua: Arsitek dan Pengawas Strategi Risiko

Kalau Lini Pertama adalah para pelaksana di lapangan, maka Lini Kedua adalah pelatih dan perancang strateginya. Mereka terdiri dari fungsi manajemen risiko dan kepatuhan yang berdiri independen dari unit operasional. Independensi ini penting agar mereka bisa memberi pandangan objektif dan berani mengkritisi asumsi atau pendekatan yang diambil Lini Pertama.

Peran Lini Kedua bersifat menyeluruh dan strategis. Mereka tidak terjun langsung ke aktivitas operasional, tapi justru dari “tribun” mereka memantau keseluruhan permainan, merancang kerangka kerja, dan memastikan risiko ditangani secara konsisten di seluruh organisasi.

Lini Ketiga: Penjamin Independen Tata Kelola

Lini Ketiga adalah lapisan terakhir sekaligus penjamin independen dalam sistem manajemen risiko. Peran ini dijalankan oleh fungsi audit internal, yang tugas utamanya bukan mengelola risiko secara langsung, melainkan memberikan penilaian objektif dan independen atas efektivitas dua lini sebelumnya.

Mereka mengevaluasi sejauh mana risiko benar-benar dikendalikan dan apakah kerangka kerja tata kelola perusahaan berjalan sebagaimana mestinya. Lewat audit dan review, mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti:

  • Apakah Lini Pertama sungguh-sungguh mengidentifikasi dan mengelola risiko mereka?
  • Apakah kerangka kerja yang dirancang Lini Kedua cukup kuat dan dijalankan dengan baik?
  • Apakah keseluruhan sistem manajemen risiko berfungsi seperti yang direncanakan?

Yang paling penting dari Lini Ketiga adalah independensinya. Fungsi audit internal tidak hanya melapor ke Direksi, tapi juga langsung ke Dewan Komisaris atau Dewan Pengawas. Jalur pelaporan ganda ini penting agar mereka bisa menyampaikan temuan tanpa intervensi dari manajemen yang mereka audit.

Hasilnya? Dewan Komisaris bisa mendapat pandangan yang jernih dan tidak tersaring tentang bagaimana perusahaan mengelola risiko dan menjalankan tata kelola. Fungsi ini menjadi garda akhir yang memastikan semua lini bekerja sebagaimana mestinya untuk menjaga kesehatan organisasi secara menyeluruh.

Peran Sentral Kepemimpinan: Direksi dan Dewan Komisaris

Model Tiga Lini bukan sekadar struktur, tetapi memerlukan kepemimpinan yang aktif untuk benar-benar berjalan efektif. Tanpa arahan dan pengawasan dari pucuk pimpinan, model ini akan mudah kehilangan arah.

Direksi memainkan peran sentral. Mereka memimpin jalannya perusahaan secara keseluruhan, termasuk pengelolaan risiko. Laporan dari Lini Pertama dan Kedua menjadi bahan bakar utama bagi Direksi untuk mengambil keputusan strategis yang tepat. Mereka juga memastikan bahwa setiap lini memiliki cukup sumber daya agar sistem manajemen risiko berjalan optimal. Tak berhenti di sana, Direksi juga menerima temuan dari Lini Ketiga (Audit Internal), lalu menindaklanjuti rekomendasi perbaikannya.

Dewan Komisaris (atau Dewan Pengawas) berada pada posisi pengawasan tertinggi. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan dikelola dengan prinsip tata kelola yang baik. Model Tiga Lini memberi mereka alat penting khususnya lewat laporan independen dari Lini Ketiga untuk mengawasi apakah sistem yang dirancang oleh Direksi benar-benar dijalankan dan bekerja dengan efektif di lapangan.

Sinergi dan Interaksi: Tiga Lini (Three Lines Model)

Kekuatan Model Tiga Lini terletak pada bagaimana tiap bagian berinteraksi dan saling mengisi. Ini bukan soal menciptakan pembagian kerja kaku, melainkan membangun ekosistem yang kohesif, dengan komunikasi yang lancar dari bawah ke atas.

  • Lini Pertama melapor ke Direksi tentang risiko operasional harian dan efektivitas kontrol langsung di lapangan.
  • Lini Kedua menyampaikan gambaran besar profil risiko perusahaan secara keseluruhan, termasuk tren dan efektivitas kerangka kerja yang digunakan.
  • Lini Ketiga memberikan laporan independen kepada Direksi dan Dewan Komisaris. Mereka memberi pandangan objektif soal apakah sistem tata kelola dan kontrol risiko berjalan sebagaimana mestinya.

Saat ketiga lini ini berjalan selaras di bawah pengawasan yang kuat, organisasi akan jauh lebih siap menghadapi risiko tidak reaktif, tapi antisipatif. Artinya, tidak ada lagi kejutan besar yang datang tiba-tiba. Risiko dikenali lebih awal, dikelola dengan bijak, dan keputusan strategis dibuat dengan pandangan yang menyeluruh dan berbasis data.

Kesimpulan

Model Tiga Lini, seperti yang ditegaskan dalam PER-2/MBU/03/2023 dari Kementerian BUMN, bukan hanya sekadar sistem pertahanan. Tiga lini ini adalah cetak biru untuk membangun perusahaan yang tangguh, transparan, dan memiliki kesadaran risiko yang melekat dalam budaya kerjanya.

Dengan membagi peran secara jelas antara pemilik risiko (Lini Pertama), pengarah dan pengawas risiko (Lini Kedua), serta penjamin independen (Lini Ketiga), model ini menghilangkan area abu-abu dan menutup celah tanggung jawab. Hasilnya adalah organisasi yang lebih gesit, terkendali, dan siap menghadapi ketidakpastian.

Bagi perusahaan yang benar-benar ingin mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam setiap aspek operasionalnya, menerapkan Model Tiga Lini bukan lagi opsi ini langkah wajib. Bukan hanya untuk bertahan saat krisis datang, tapi untuk terus tumbuh dan menavigasi masa depan dengan percaya diri.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top