Peran BCM dalam Ketahanan Operasional Perusahaan

Peran BCM dalam Ketahanan Operasional Perusahaan
RB 6 Februari 2026
Rate this post

RWI Consulting – BCM memperkuat ketahanan operasional dengan cara melindungi fungsi-fungsi kritikal melalui penerapan yang sistematis, terukur, dan selaras standar, lalu memastikan organisasi siap menjalankan pemulihan saat gangguan terjadi.

Peran BCM dalam Ketahanan Operasional Perusahaan

BCM kemudian menerjemahkan kebutuhan “tetap berjalan atau pulih cepat” menjadi target waktu dan langkah kerja rinci untuk melanjutkan serta memulihkan proses kritikal yang terganggu, termasuk langkah tanggap darurat dan pemulihan.

Peran inti BCM dalam ketahanan operasional

Ketahanan operasional bukan slogan. BCM membuatnya menjadi sistem kerja yang punya tiga dampak langsung:

  1. Menetapkan apa yang benar-benar wajib bertahan
    BCM mengunci proses kritikal dan kebutuhan stakeholder lewat Business Impact Analysis (BIA).
  2. Menetapkan batas waktu dan batas kehilangan yang disepakati
  3. BIA mengikat maximum tolerable period of disruption (MTPD) dan recovery time objective (RTO) agar manajemen punya batas toleransi gangguan yang jelas. Pada level pemulihan data, BCM juga memakai RPO dalam kerangka BIA.
  4. Menjadikan respon dan pemulihan sebagai prosedur, bukan improvisasi
  5. BCM membangun Business Continuity Plan (BCP) yang merinci strategi, solusi, langkah resumption, emergency response, restoration, hingga recovery untuk proses kritikal.

BCM memetakan gangguan menjadi kebutuhan pemulihan yang terukur

BIA memaksa organisasi memikirkan dampak gangguan sebagai kurva waktu, bukan sekadar daftar risiko. Kerangka BIA mencakup identifikasi stakeholder dan kebutuhannya, proses kritikal, MTPD, RTO, insiden disruptif dan dampaknya dari waktu ke waktu, serta dependency dan interdependency.

Tujuan BIA menegaskan fokus itu: mengidentifikasi stakeholder, peristiwa disruptif, proses kritikal, MTPD, RTO, lalu menetapkan strategi dan solusi kelangsungan usaha.

Dalam kerangka ketahanan operasional, peran BCM di sini sederhana tetapi keras:

  • BCM menguji “seberapa lama organisasi boleh terganggu” (MTPD).
  • BCM mengikat “seberapa cepat organisasi harus pulih” (RTO).
  • BCM mengikat “seberapa banyak kehilangan data yang organisasi toleransi” (RPO) saat layanan digital terlibat.

Hasilnya bukan dokumen kosmetik. Hasilnya menjadi input untuk keputusan investasi, kapasitas backup, desain lokasi alternatif, desain staffing minimum, dan desain prioritas pemulihan lintas unit.

BCM membangun paket kontrol operasional: BIA → BCS → BCP

BCM biasanya menyusun rangkaian dokumen yang saling mengunci. Ruang lingkup penilaian maturitas berbasis ISO 22301:2019 menempatkan BIA, penilaian risiko, Business Continuity Strategy (BCS), dan BCP sebagai elemen inti.

  • BIA menentukan kebutuhan dan target pemulihan.
  • BCS memilih strategi dan solusi yang sanggup memenuhi target itu.
  • BCP menjabarkan langkah kerja yang harus tim jalankan dalam timeline yang jelas agar critical business function (CBF) bisa melanjutkan dan memulihkan proses kritikal, termasuk respons darurat dan pemulihan.

Di banyak organisasi, BCM juga menggabungkan Risk Assessment (RA) sebagai prosedur formal yang berjalan beriringan dengan BIA dan BCP. Ini penting untuk ketahanan operasional karena gangguan jarang datang dari satu sumber; skenario sering bertumpuk (TI, vendor, fasilitas, manusia, keamanan, bencana).

BCM mengubah kesiapan menjadi kebiasaan melalui drill, testing, dan simulation

Ketahanan operasional runtuh saat organisasi mengandalkan dokumen tanpa latihan. BCM menutup celah itu lewat Drilling, Testing, and Simulation (DTS) yang memuat skenario, call tree, time actor matrix, kertas kerja peserta, serta evaluasi dan laporan hasil

Tujuan DTS jelas: menguji dan melatih langkah yang CBF jalankan untuk melanjutkan serta memulihkan proses kritikal yang terganggu dengan melibatkan seluruh pihak terkait.

Untuk ketahanan operasional, DTS memberi dua manfaat yang tidak bisa digantikan rapat:

  • Menguji keputusan nyata di bawah tekanan waktu, karena time actor matrix memaksa siapa melakukan apa dalam menit dan jam yang terukur.
  • Menguji jalur komunikasi, karena call tree memaksa eskalasi berjalan rapi, bukan menyebar liar.

Contoh detail DTS juga menunjukkan bagaimana tim mengoordinasikan pemindahan layanan ke DRC saat terjadi power failure, lalu tim aplikasi, jaringan, database, dan server menjalankan perannya secara berurutan

Pola ini menggambarkan “ketahanan operasional” versi nyata: koordinasi lintas fungsi, keputusan cepat, dan langkah teknis yang terstandardisasi.

BCM membangun tata kelola ketahanan operasional: kepemimpinan sampai audit

BCM bukan proyek satu kali. BCM menuntut kepemimpinan, disiplin, dan evaluasi berkala.

Dokumen Bank Indonesia menegaskan kebutuhan penerapan MKT secara sistematis untuk menjaga kesinambungan fungsi kritikal, dan menempatkan evaluasi berkala sebagai cara memastikan efektivitas implementasi

Dokumen yang sama juga menempatkan sertifikasi ISO 22301:2019 BCMS sebagai langkah strategis untuk menyelaraskan praktik dengan standar internasional sekaligus menunjukkan komitmen terhadap ketahanan operasional.

Dalam penilaian maturitas berbasis ISO 22301:2019, dimensi yang organisasi nilai mencakup kepemimpinan dan komitmen manajemen, kesadaran dan pelatihan, penetapan proses bisnis kritis, BIA, penilaian risiko, BCS, BCP, pengujian dan latihan, audit sistem, dan peningkatan berkelanjutan.

Rangkaian ini menggambarkan peran BCM yang lengkap: bukan hanya “punya rencana”, tetapi mengelola siklus hidup rencana.

BCM memperkuat kepatuhan dan kredibilitas ketahanan operasional

BCM sering menjadi bukti yang paling mudah diverifikasi untuk menunjukkan kesiapan operasional, karena BCM menautkan standar, prosedur, latihan, dan output yang bisa diaudit.

Dalam referensi kerja BCM, standar ISO 22301:2019 dan Peraturan Menteri BUMN PER-2/MBU/03/2023 muncul sebagai rujukan. Ini berarti BCM ikut membangun “ketahanan operasional” yang tidak hanya efektif, tetapi juga selaras ekspektasi tata kelola.

Output kerja BCM yang langsung menopang ketahanan operasional

Output yang paling berguna untuk operasional sehari-hari biasanya berbentuk prosedur dan paket latihan, bukan sekadar slide.

Contoh output pekerjaan yang eksplisit mencakup: prosedur penerapan BIA dan Risk Assessment, prosedur BCP (termasuk crisis communication plan), prosedur call tree dan tanggap bencana (Emergency Response Plan), serta prosedur pelatihan dan uji coba BCP/ERP untuk beberapa skenario disaster. Paket ini menutup tiga kebutuhan ketahanan operasional:

  • Pejelasan peran, karena call tree dan ERP mengikat eskalasi serta tanggung jawab.
  • Kejelasan target pemulihan, karena BIA/BCP mengikat MTPD dan RTO serta langkah pemulihan.
  • Kejelasan kompetensi, karena pelatihan dan uji coba memaksa organisasi menguasai prosedur dalam kondisi realistis.

Peran BCM pada organisasi layanan publik dan industri berisiko tinggi

Ketahanan operasional sering menjadi prioritas tertinggi pada organisasi yang melayani publik dan infrastruktur kritikal.

Contoh implementasi BCMS untuk menjaga layanan berkelanjutan muncul pada kasus PT Jasa Marga (Persero) Tbk yang menerapkan BCMS sesuai ISO 22301:2019 untuk memastikan layanan tetap berkelanjutan dan tidak terputus.

Contoh lain menyebut perusahaan asuransi (IFG Life) yang menguatkan ketahanan operasional dan kepatuhan melalui implementasi BCMS berbasis ISO 22301:2019.

Pada sektor dengan potensi gangguan ekstrem, dokumen juga menunjukkan integrasi implementasi ISO 22301:2019 BCMS yang mencakup pengembangan kebijakan BCMS, piloting BIA–BCS–BCP untuk beberapa fungsi kritikal, drilling/testing simulations terintegrasi, dan socialization lintas perusahaan untuk memperkuat operational resilience

Ini memperjelas peran BCM: BCM membangun kesiapan organisasi dalam bentuk sistem, bukan reaksi ad hoc.

Pendekatan layanan penyusunan dan penguatan BCM untuk ketahanan operasional

Bagian ini menulis pendekatan kerja yang fokus pada hasil operasional.

1) Penetapan fungsi kritikal dan baseline kebutuhan pemulihan

Tim memetakan proses kritikal, kebutuhan stakeholder, dampak gangguan, dependency, lalu menegaskan MTPD dan RTO melalui kerangka BIA.

2) Penyusunan strategi dan rencana

Tim menyusun prosedur BIA/RA, merancang BCP yang memuat business resumption, emergency response, restoration, dan recovery plan, lalu menyiapkan call tree dan ERP sebagai jalur eksekusi.

3) Latihan dan simulasi berbasis skenario

Tim menjalankan DTS yang memuat skenario, call tree, time actor matrix, dan evaluasi hasil untuk memastikan tim menguasai langkah pemulihan.

4) Penilaian, audit, dan perbaikan berkelanjutan

Tim memakai kerangka maturitas yang menilai kepemimpinan, awareness, BIA, RA, BCS, BCP, pengujian, audit sistem, dan peningkatan berkelanjutan agar BCM bertahan sebagai sistem hidup.

Dalam praktik ketahanan operasional, organisasi biasanya menggabungkan BCM dengan tata kelola risiko enterprise agar risk appetite, prioritas kontrol, dan prioritas pemulihan saling mengunci.

Hal ini relevan dengan layanan terkait enterprise risk management, dan layanan implementasi /layanan/business-continuity-management-system.

Baca juga:

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top