Risk Based Corporate Planning untuk RJPP: Cara Menyusun Rencana Jangka Panjang

Risk Based Corporate Planning untuk RJPP: Cara Menyusun Rencana Jangka Panjang
RB 12 Januari 2026
Rate this post

RWI Consulting – Risk based corporate planning untuk RJPP berarti Anda menyusun rencana jangka panjang dengan menguji strategi terhadap risiko sejak awal, lalu menurunkannya menjadi profil risiko, KRI dan threshold, rencana perlakuan risiko, dan roadmap program kerja yang siap dipakai sebagai dasar RKAP.

Pendekatan ini selaras dengan kebutuhan RJPP di BUMN yang menempatkan RJPP sebagai acuan strategis dan rujukan penyusunan RKAP, sekaligus menuntut keselarasan dengan arahan strategis BUMN dan kerangka manajemen risiko terintegrasi beserta pelaporannya.

Kalau Anda menyusun RJPP hanya sebagai narasi visi-strategi, Anda akan mengejar dua masalah di tahun berjalan: target terlihat bagus di atas kertas, tetapi tim sulit menjaga realisasi saat asumsi meleset.

Risk Based Corporate Planning untuk RJPP: Cara Menyusun Rencana Jangka Panjang

Baca juga:

  1. Kajian Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP)
  2. RJPP Berbasis Risiko
  3. Pengertian RKAP Berbasis Risiko
  4. Sertifikasi CRP: Pilar Penting dalam Manajemen Risiko

Risk based corporate planning menutup celah itu karena ia memaksa organisasi merancang strategi bersama “rem” dan “sabuk pengaman” berupa batas toleransi, indikator dini, kontrol, serta rencana mitigasi dengan biaya dan timeline.

Mengapa RJPP butuh pendekatan berbasis risiko

Dokumen rujukan menekankan RJPP sebagai amanat regulasi di lingkungan BUMN dan menempatkannya sebagai dasar penyusunan RKAP. Dokumen itu juga menuntut keselarasan RJPP dengan arah perencanaan strategis BUMN, aspirasi pemegang saham, kebijakan manajemen risiko terintegrasi, serta pelaporan manajemen risiko.

Di sisi eksekusi, risk based corporate planning memberi manfaat yang mudah Anda rasakan:

Anda bisa menguji strategi terhadap risiko sebelum organisasi mengunci program dan investasi. Anda bisa menautkan indikator risiko ke ritme pemantauan RKAP, sehingga manajemen melihat sinyal lebih awal, bukan baru bereaksi saat deviasi membesar.

Bagian RJPP yang wajib Anda susun, lalu “dikencangkan” dengan risiko

Dokumen rujukan memetakan struktur dan materi yang biasanya muncul dalam RJPP.

Anda mulai dari pendahuluan yang memuat latar belakang, visi-misi, tujuan strategis, dan arah pengembangan, termasuk kebijakan investasi dan pembiayaan.

Anda lalu masuk ke evaluasi pelaksanaan periode sebelumnya dengan membandingkan RJPP, RKAP, dan realisasi tahunan pada tiga aspek: capaian tujuan dan deviasi, pelaksanaan strategi dan kebijakan, serta kendala dan upaya pemecahan.

Sesudah itu, Anda memetakan posisi perusahaan saat penyusunan RJPP melalui analisis internal-eksternal. Dokumen menyebut metode seperti SWOT, PESTLE, value chain, analisis lingkungan bisnis, Porter 5 forces, sampai analisis daya saing.

Anda mengunci asumsi internal dan eksternal yang menjadi dasar proyeksi dan skenario. Asumsi internal menyorot kondisi perusahaan dan kekuatan-kelemahan yang memengaruhi pencapaian tujuan. Asumsi eksternal mencakup tren global dan nasional, arah industri, inovasi teknologi dan model bisnis, serta dinamika kompetisi yang bisa menciptakan peluang atau ancaman.

Anda lalu menetapkan tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program kerja, dan inisiatif strategis. Dokumen juga menekankan kebutuhan matriks keterkaitan antara sasaran, strategi, kebijakan, dan program agar arah pengembangan terlihat rinci.

Terakhir, Anda menyusun investasi dan proyeksi keuangan jangka panjang, termasuk proyeksi laba rugi, posisi keuangan, arus kas, dan perubahan ekuitas, disertai asumsi proyeksi keuangan.

Itu “tubuh” RJPP. Risk based corporate planning menambahkan “sistem saraf” yang menghubungkan tubuh tersebut dengan risiko.

Inti risk based corporate planning: perencanaan strategis berbasis risiko

Dokumen rujukan menjabarkan alur perencanaan strategis berbasis risiko yang sangat operasional.

Anda bisa membacanya sebagai rantai logika:

Mulai dari risk appetite statement di level entitas dan batasan risiko korporat, lalu menautkannya dengan taksonomi risiko. Anda kemudian membangun metrik strategi risiko yang memetakan strategi risiko berdasarkan sasaran dan taksonomi, lalu menyesuaikannya dengan selera risiko dan nilai batas risiko.

Sesudah itu, Anda memilih sasaran dan strategi bisnis dengan mempertimbangkan risiko yang muncul dan hasil yang ingin dicapai. Di titik ini, strategi tidak lagi “indah” saja. Strategi harus “layak jalan” di bawah ketidakpastian.

Anda lalu menyusun profil risiko yang menghubungkan sasaran dengan peristiwa risiko, memakai KRI dan threshold untuk menjaga nilai RKAP sebagai early warning. Anda menambahkan kontrol yang sudah ada agar organisasi tahu titik penahan yang sudah dimiliki.

Berikutnya, Anda menghitung eksposur risiko untuk mendapatkan gambaran level risiko setelah organisasi menjalankan kontrol yang ada di awal tahun. Dokumen menyebut komponen dampak, kemungkinan, dan nilai eksposur.

Anda menetapkan target risiko residual per triwulan dan tahunan, lalu Anda menyusun rencana perlakuan risiko untuk mencapai target tersebut. Dokumen menyebut opsi perlakuan seperti menerima dan memantau, mengurangi, berbagi/transfer, atau menghindari, beserta biaya dan timeline.

Di ujung rantai, Anda memantau pergerakan risiko melalui heatmap dan memastikan eksposur residual tidak melewati batas risiko korporat.

Kalau Anda menjalankan alur ini dengan rapi, RJPP Anda berubah menjadi rencana jangka panjang yang bukan hanya ambisius, tetapi juga tahan guncangan.

Cara mengikat RJPP ke RKAP tanpa “putus koneksi”

Dokumen rujukan menempatkan KRI dan threshold sebagai mekanisme untuk menjaga nilai RKAP sebagai early warning system.

Artinya begini: Anda tidak hanya menurunkan strategi RJPP menjadi program RKAP. Anda juga menurunkan “rambu” agar organisasi tahu kapan harus mengerem, kapan harus mengalihkan prioritas, dan kapan harus mengaktifkan rencana mitigasi.

Agar koneksinya kuat, Anda perlu menjaga konsistensi:

KRI dan threshold di RJPP harus punya hubungan yang jelas ke sasaran dan risiko. Rencana perlakuan risiko harus punya biaya dan timeline agar RKAP bisa menganggarkan tindakan, bukan sekadar mencatatnya. Profil risiko harus menyimpan kontrol yang sudah ada, supaya tim tidak mendesain mitigasi dari nol.

Deliverables yang biasanya muncul dari pekerjaan risk based corporate planning untuk RJPP

Dokumen rujukan merangkum deliverables inti sebagai tiga paket.

Pertama, laporan evaluasi dan analisis kinerja pelaksanaan RJPP periode sebelumnya.
Kedua, laporan identifikasi gap dan penyusunan roadmap RJPP.
Ketiga, dokumen draft final RJPP untuk periode yang disusun, yang memuat asumsi, program kerja bisnis dan non-bisnis, jadwal investasi dan proyeksi keuangan, program kerja ESG dan manajemen risiko, serta tujuan-sasaran-strategi-kebijakan-program dan inisiatif strategis.

Di sisi proses kerja, dokumen menyebut metode seperti kaji dokumen, survei, wawancara, FGD, technical meeting, serta sesi presentasi dan diskusi.

Pendekatan tersebut membantu menjaga kualitas karena tim menguji data dan menyelaraskan keputusan melalui konsultasi dan persetujuan informasi bersama unit kerja dan manajemen.

Peta tahapan kerja yang runut dari kick-off sampai sosialisasi

Dokumen rujukan menampilkan jadwal pelaksanaan yang memuat rangkaian aktivitas dari kick-off, pengumpulan data, evaluasi RJPP sebelumnya, penyusunan kuesioner, wawancara, validasi data, penyusunan kertas kerja, analisis internal-eksternal, identifikasi gap, penetapan gap prioritas, penetapan sasaran-strategi, penyusunan roadmap dan program prioritas, proyeksi keuangan, finalisasi draft RJPP, sosialisasi hasil, sampai closing meeting.

Anda tidak perlu meniru jadwal minggu-per-minggu persis sama. Namun Anda perlu menjaga urutannya agar keputusan strategi berdiri di atas data, bukan intuisi.

Contoh “output risk-based” yang sering dilupakan, padahal menentukan kualitas RJPP

Banyak organisasi menulis strategi dan program kerja dengan rapi, lalu menganggap RJPP selesai. Risk based corporate planning meminta Anda menuntaskan beberapa artefak tambahan yang membuat dokumen lebih bisa dieksekusi.

Anda perlu risk appetite statement yang operasional, bukan slogan. Dokumen rujukan menggambarkan spektrum sikap risiko dan mengaitkannya dengan batasan risiko korporat.

  • Anda perlu taksonomi risiko yang konsisten agar profil risiko tidak menjadi daftar campur aduk.
  • Selanjutnya, Anda perlu metrik strategi risiko yang memetakan sasaran dan taksonomi terhadap nilai batas risiko.
  • Anda perlu KRI dan threshold yang menjaga RKAP, bukan sekadar KPI kinerja.
  • Selebihnya, Anda perlu rencana perlakuan risiko yang memuat biaya dan timeline, agar program mitigasi bisa masuk prioritas dan anggaran.

Jika artefak ini hadir, manajemen bisa mengelola RJPP sebagai sistem, bukan sebagai dokumen.

FAQ

Apakah risk based corporate planning sama dengan RJPP berbasis risiko?
Risk based corporate planning mengarah pada proses perencanaan korporat yang memakai risiko sebagai penguji strategi, lalu menghasilkan RJPP berbasis risiko sebagai output, lengkap dengan gap analysis, roadmap, proyeksi, serta program risiko dan ESG.

Apa yang membuat RJPP “nyambung” ke RKAP?
RJPP perlu mengaitkan sasaran dan strategi dengan profil risiko, KRI dan threshold untuk early warning, serta rencana perlakuan risiko yang punya biaya dan timeline, sehingga RKAP bisa menurunkannya menjadi program dan anggaran tahunan.

Metode apa yang umum dipakai untuk menyusun RJPP berbasis risiko?
Dokumen rujukan menyebut kaji dokumen, survei, wawancara, FGD, technical meeting, dan sesi presentasi serta diskusi untuk menyusun evaluasi, analisis, dan finalisasi dokumen.

Apa deliverables minimum yang perlu ada?
Laporan evaluasi kinerja, laporan gap dan roadmap, serta draft final RJPP yang memuat asumsi, program kerja, investasi, proyeksi keuangan, dan program ESG serta manajemen risiko.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top