Struktur Bab RJPP untuk Sektor Non-Keuangan

Struktur Bab RJPP untuk Sektor Non-Keuangan
RB 4 Februari 2026
Rate this post

RWI Consulting – Struktur bab RJPP sektor non-keuangan harus memusatkan dokumen pada mesin eksekusi: kapasitas, operasi & aset, supply chain, HSE/kepatuhan, pipeline proyek, CAPEX, dan arus kas.

Kalau Anda memakai struktur generik tanpa bab-bab operasional ini, RJPP akan terlihat rapi tetapi gagal memberi bahan RKAP: target tahunan tidak “dibayar” oleh program dan cashflow.

Di bawah ini struktur yang bisa dipakai untuk manufaktur, energi, konstruksi, logistik, transportasi, agribisnis, tambang, dan layanan utilitas non-keuangan. Saya buat sebagai format operasional: tiap bab punya tujuan, output tabel, dan “jembatan” ke RKAP.

Struktur Bab RJPP untuk Sektor Non-Keuangan

Konsultan RJPP, Penyusunan RJPP di Indonesia.

Prinsip desain RJPP non-keuangan

  1. Mulai dari kapasitas dan constraint, bukan dari target revenue. Di sektor non-keuangan, volume dan keandalan aset menentukan revenue.
  2. Turunkan strategi menjadi portofolio proyek (pipeline) dan program kerja lintas fungsi.
  3. Kunci CAPEX → kapasitas → revenue ramp → cashflow. Jangan menulis CAPEX sebagai angka tunggal.
  4. Pasang guardrail risiko dan HSE sejak awal. Risiko operasi dan kepatuhan menghancurkan proyeksi paling cepat.
  5. Buat paket turunan RKAP tahun-1 sebagai lampiran wajib, supaya RKAP menjadi mekanis.

Struktur Bab RJPP Non-Keuangan (format siap eksekusi)

Bab 0. Ringkasan Eksekutif (wajib “angka + program + uang”)

Tujuan: memberi satu halaman kendali untuk Direksi/Komisaris.
Isi minimum:

  • KPI korporat 5 tahun (target per tahun 1–5)
  • 10–15 program/proyek utama + biaya + milestone tahunan
  • ringkasan CAPEX/OPEX + sumber dana + ringkasan arus kas
  • 10 risiko strategis + indikator pemicu (KRI) + tindakan saat tembus
  • “Paket RKAP tahun-1” (target + program + anggaran tahun pertama)

Tabel wajib:

  • KPI Tree (KPI korporat → KPI unit → KPI proyek)
  • Portfolio summary (proyek, output, CAPEX, start–finish, owner)

Bab 1. Pendahuluan, Mandat, dan Ruang Lingkup

Tujuan: mengunci batas dokumen supaya semua unit bekerja pada definisi yang sama.
Isi minimum:

  • ruang lingkup bisnis (produk/segmen/wilayah)
  • batasan regulasi utama (izin, standar kualitas, keselamatan, lingkungan)
  • asumsi dasar periode (mis. tahun dasar, basis data)
  • definisi “menang” 5 tahun (3–5 tujuan besar)

Bab 2. Evaluasi Kinerja Periode Sebelumnya (dan akar deviasi)

Tujuan: menghapus asumsi palsu sebelum menyusun strategi baru.
Fokus non-keuangan: deviasi biasanya datang dari downtime, yield rendah, gangguan supply, biaya energi, bottleneck logistik, dan HSE.

Tabel wajib:

  • Matriks target vs realisasi per tahun: produksi, utilisasi, OEE, downtime, yield, biaya per unit, OTIF, incident rate, EBITDA, operating cashflow.
  • Matriks proyek: rencana vs realisasi milestone, cost overrun, manfaat yang tercapai.

Output keputusan: “stop/continue/reshape” untuk program besar yang gagal deliver.

Bab 3. Analisis Eksternal: Industri, Permintaan, Harga Input, dan Regulasi

Tujuan: memberi dasar angka untuk proyeksi dan pilihan strategi.
Isi minimum:

  • permintaan & tren harga (produk/jasa)
  • struktur kompetisi (kapasitas industri, pricing power)
  • supply market input (bahan baku, energi, logistik)
  • peta regulasi dan perubahan yang memukul biaya/kapasitas

Tabel wajib:

  • Skenario 3 lapis (base/downside/upside) dengan driver kuantitatif: volume, harga, kurs, harga energi, biaya logistik, biaya material.

Bab 4. Analisis Internal: Operasi, Aset, Kapasitas, dan Keandalan

Ini bab pembeda utama non-keuangan.
Tujuan: membuat “mesin produksi/layanan” terlihat nyata, termasuk constraint yang menahan growth.

Isi minimum:

  • peta aset utama dan kapasitas terpasang
  • utilisasi, OEE/availability, yield, bottleneck proses
  • backlog maintenance, kondisi sparepart kritikal
  • kualitas (reject rate), SLA/OTIF, biaya per unit
  • kompetensi operator dan kesiapan shift/crew

Tabel wajib:

  • Capacity & constraint map (aset → kapasitas → bottleneck)
  • Reliability plan summary (downtime driver, rencana maintenance, kebutuhan sparepart)
  • Cost driver tree (energi, material, labor, logistics)

Bab 5. Arah Strategi Korporat dan Business Model 5 Tahun

Tujuan: menetapkan pilihan strategis yang tegas (bukan daftar keinginan).
Isi minimum:

  • portofolio bisnis: core, adjacency, exit
  • strategi pricing dan kontrak (jika relevant)
  • strategi jaringan (plant/depot/terminal) dan distribusi
  • strategi efisiensi: margin expansion lewat cost driver utama

Output: 5–7 strategi inti yang langsung menunjuk program/proyek.

Bab 6. Strategi Fungsional (yang wajib untuk non-keuangan)

Tujuan: mengunci program lintas fungsi yang biasanya jadi sumber kegagalan eksekusi.
Sub-bab wajib:

  1. Operasi & Asset Management (reliability, maintenance, TPM/RCM jika dipakai)
  2. Supply Chain & Procurement (dual sourcing, buffer policy, vendor critical)
  3. HSE, Lingkungan, dan Kepatuhan (standar, audit, izin, kontrol kritikal)
  4. SDM & Produktivitas (manpower plan, skill roadmap, safety culture)
  5. TI/OT dan Data (SCADA/MES/ERP, integrasi data operasi–keuangan)

Tabel wajib:

  • Functional program list (program → KPI → owner → biaya → timeline)

Untuk konteks tata kelola risiko lintas fungsi, kaitkan desain ini dengan program ERM dan monitoring (contoh layanan: ERM).

Bab 7. Portofolio Program Strategis dan Pipeline Proyek

Tujuan: menjadikan strategi sebagai “daftar kerja” 5 tahun.
Isi minimum:

  • 10–25 program/proyek prioritas (batasi, jangan semua masuk)
  • business case ringkas per proyek: output, manfaat, risiko, dependensi
  • milestone tahunan dan kebutuhan resource

Tabel wajib:

  • Pipeline proyek 5 tahun (proyek, output kapasitas, CAPEX per tahun, start–finish, owner, dependensi, risiko)
  • Program-to-KPI matrix (program mana menggerakkan KPI mana)

Bab 8. Rencana Investasi (CAPEX), Sumber Dana, dan Prioritas

Tujuan: memaksa disiplin capital allocation.
Isi minimum:

  • klasifikasi CAPEX: maintenance vs growth vs compliance/HSE
  • urutan prioritas: wajib-jalan (compliance), menjaga core (reliability), growth
  • kebijakan gate investasi dan limit persetujuan

Tabel wajib:

  • CAPEX register per tahun
  • CAPEX gate & approval matrix
  • Asset replacement schedule (untuk aset tua/risiko tinggi)

Bab 9. Proyeksi Keuangan 5 Tahun (P&L, Neraca, Cashflow) + Stress Test

Tujuan: mengunci kelayakan rencana (feasibility).
Non-keuangan wajib cashflow-first.

Isi minimum:

  • asumsi proyeksi yang konsisten dengan Bab 3 dan Bab 4
  • proyeksi P&L, neraca, arus kas per tahun
  • covenant/rasio internal (likuiditas minimum, leverage, DSCR)
  • stress test downside dan respon manajemen (capex deferral, cost take-out, working capital action)

Tabel wajib:

  • Cashflow bridge: CAPEX → kapasitas → revenue ramp → margin → cash
  • Sensitivity table: harga input/energi, volume, kurs

Untuk disiplin dashboard pengendalian kinerja dan risiko, kaitkan dengan kerangka monitoring (contoh: Risk Dashboard).

Bab 10. Manajemen Risiko Terintegrasi (Risk Appetite, KRI, Mitigasi)

Tujuan: membuat RJPP tahan guncangan operasi dan pasar.
Isi minimum:

  • top risks strategis (operasi, supply, HSE, regulasi, proyek, pendanaan)
  • risk appetite/limit yang memicu tindakan
  • KRI + threshold + tindakan saat tembus
  • rencana mitigasi yang punya biaya dan owner

Tabel wajib:

  • Risk register strategis 5 tahun
  • KRI dashboard + trigger response

Bab 11. ESG dan Perizinan (khusus non-keuangan: bukan kosmetik)

Tujuan: menjaga lisensi beroperasi (license to operate) dan menghindari shock compliance cost.
Isi minimum:

  • peta izin/AMDAL/standar lingkungan yang relevan
  • roadmap efisiensi energi/emisi/limbah (kalau applicable)
  • program keselamatan kerja dan audit kepatuhan

Output: biaya compliance masuk ke CAPEX/OPEX, bukan catatan kaki.

Bab 12. Tata Kelola Implementasi dan Turunan ke RKAP

Tujuan: membuat RJPP “hidup” dan otomatis turun ke rencana tahunan.
Isi minimum:

  • mekanisme review triwulanan KPI dan program
  • kalender turunan: RJPP → RKAP year-1 → monitoring → evaluasi
  • RACI (siapa pemilik KPI, pemilik program, pemilik risiko)

Lampiran wajib: Paket RKAP Tahun-1

  • KPI tahun-1 final
  • program/proyek tahun-1 + milestone + anggaran
  • asumsi tahun-1
  • risk action plan tahun-1 (KRI + trigger + respon)
  • daftar CAPEX tahun-1 + gate approval

Bab yang paling sering lemah pada RJPP non-keuangan (dan perbaikan cepat)

Competency Building
  1. Bab Operasi & Aset terlalu deskriptif. Perbaiki dengan peta bottleneck + reliability plan + cost driver tree.
  2. Bab Pipeline Proyek hanya daftar. Perbaiki dengan business case ringkas + CAPEX per tahun + dependensi + risiko.
  3. Bab Proyeksi Keuangan tidak nyambung ke kapasitas. Perbaiki dengan cashflow bridge CAPEX → kapasitas → revenue ramp.
  4. Bab HSE/Compliance jadi formalitas. Perbaiki dengan roadmap izin + biaya compliance yang masuk CAPEX/OPEX.
  5. Bab Turunan RKAP tidak ada. Perbaiki dengan lampiran paket tahun-1 sebagai output wajib.

Baca juga:

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top