Struktur Bab RJPP untuk Sektor Non-Keuangan

RWI Consulting – Struktur bab RJPP sektor non-keuangan harus memusatkan dokumen pada mesin eksekusi: kapasitas, operasi & aset, supply chain, HSE/kepatuhan, pipeline proyek, CAPEX, dan arus kas.
Kalau Anda memakai struktur generik tanpa bab-bab operasional ini, RJPP akan terlihat rapi tetapi gagal memberi bahan RKAP: target tahunan tidak “dibayar” oleh program dan cashflow.
Di bawah ini struktur yang bisa dipakai untuk manufaktur, energi, konstruksi, logistik, transportasi, agribisnis, tambang, dan layanan utilitas non-keuangan. Saya buat sebagai format operasional: tiap bab punya tujuan, output tabel, dan “jembatan” ke RKAP.
Struktur Bab RJPP untuk Sektor Non-Keuangan

Prinsip desain RJPP non-keuangan
- Mulai dari kapasitas dan constraint, bukan dari target revenue. Di sektor non-keuangan, volume dan keandalan aset menentukan revenue.
- Turunkan strategi menjadi portofolio proyek (pipeline) dan program kerja lintas fungsi.
- Kunci CAPEX → kapasitas → revenue ramp → cashflow. Jangan menulis CAPEX sebagai angka tunggal.
- Pasang guardrail risiko dan HSE sejak awal. Risiko operasi dan kepatuhan menghancurkan proyeksi paling cepat.
- Buat paket turunan RKAP tahun-1 sebagai lampiran wajib, supaya RKAP menjadi mekanis.
Struktur Bab RJPP Non-Keuangan (format siap eksekusi)
Bab 0. Ringkasan Eksekutif (wajib “angka + program + uang”)
Tujuan: memberi satu halaman kendali untuk Direksi/Komisaris.
Isi minimum:
- KPI korporat 5 tahun (target per tahun 1–5)
- 10–15 program/proyek utama + biaya + milestone tahunan
- ringkasan CAPEX/OPEX + sumber dana + ringkasan arus kas
- 10 risiko strategis + indikator pemicu (KRI) + tindakan saat tembus
- “Paket RKAP tahun-1” (target + program + anggaran tahun pertama)
Tabel wajib:
- KPI Tree (KPI korporat → KPI unit → KPI proyek)
- Portfolio summary (proyek, output, CAPEX, start–finish, owner)
Bab 1. Pendahuluan, Mandat, dan Ruang Lingkup
Tujuan: mengunci batas dokumen supaya semua unit bekerja pada definisi yang sama.
Isi minimum:
- ruang lingkup bisnis (produk/segmen/wilayah)
- batasan regulasi utama (izin, standar kualitas, keselamatan, lingkungan)
- asumsi dasar periode (mis. tahun dasar, basis data)
- definisi “menang” 5 tahun (3–5 tujuan besar)
Bab 2. Evaluasi Kinerja Periode Sebelumnya (dan akar deviasi)
Tujuan: menghapus asumsi palsu sebelum menyusun strategi baru.
Fokus non-keuangan: deviasi biasanya datang dari downtime, yield rendah, gangguan supply, biaya energi, bottleneck logistik, dan HSE.
Tabel wajib:
- Matriks target vs realisasi per tahun: produksi, utilisasi, OEE, downtime, yield, biaya per unit, OTIF, incident rate, EBITDA, operating cashflow.
- Matriks proyek: rencana vs realisasi milestone, cost overrun, manfaat yang tercapai.
Output keputusan: “stop/continue/reshape” untuk program besar yang gagal deliver.
Bab 3. Analisis Eksternal: Industri, Permintaan, Harga Input, dan Regulasi
Tujuan: memberi dasar angka untuk proyeksi dan pilihan strategi.
Isi minimum:
- permintaan & tren harga (produk/jasa)
- struktur kompetisi (kapasitas industri, pricing power)
- supply market input (bahan baku, energi, logistik)
- peta regulasi dan perubahan yang memukul biaya/kapasitas
Tabel wajib:
- Skenario 3 lapis (base/downside/upside) dengan driver kuantitatif: volume, harga, kurs, harga energi, biaya logistik, biaya material.
Bab 4. Analisis Internal: Operasi, Aset, Kapasitas, dan Keandalan
Ini bab pembeda utama non-keuangan.
Tujuan: membuat “mesin produksi/layanan” terlihat nyata, termasuk constraint yang menahan growth.
Isi minimum:
- peta aset utama dan kapasitas terpasang
- utilisasi, OEE/availability, yield, bottleneck proses
- backlog maintenance, kondisi sparepart kritikal
- kualitas (reject rate), SLA/OTIF, biaya per unit
- kompetensi operator dan kesiapan shift/crew
Tabel wajib:
- Capacity & constraint map (aset → kapasitas → bottleneck)
- Reliability plan summary (downtime driver, rencana maintenance, kebutuhan sparepart)
- Cost driver tree (energi, material, labor, logistics)
Bab 5. Arah Strategi Korporat dan Business Model 5 Tahun
Tujuan: menetapkan pilihan strategis yang tegas (bukan daftar keinginan).
Isi minimum:
- portofolio bisnis: core, adjacency, exit
- strategi pricing dan kontrak (jika relevant)
- strategi jaringan (plant/depot/terminal) dan distribusi
- strategi efisiensi: margin expansion lewat cost driver utama
Output: 5–7 strategi inti yang langsung menunjuk program/proyek.
Bab 6. Strategi Fungsional (yang wajib untuk non-keuangan)
Tujuan: mengunci program lintas fungsi yang biasanya jadi sumber kegagalan eksekusi.
Sub-bab wajib:
- Operasi & Asset Management (reliability, maintenance, TPM/RCM jika dipakai)
- Supply Chain & Procurement (dual sourcing, buffer policy, vendor critical)
- HSE, Lingkungan, dan Kepatuhan (standar, audit, izin, kontrol kritikal)
- SDM & Produktivitas (manpower plan, skill roadmap, safety culture)
- TI/OT dan Data (SCADA/MES/ERP, integrasi data operasi–keuangan)
Tabel wajib:
- Functional program list (program → KPI → owner → biaya → timeline)
Untuk konteks tata kelola risiko lintas fungsi, kaitkan desain ini dengan program ERM dan monitoring (contoh layanan: ERM).
Bab 7. Portofolio Program Strategis dan Pipeline Proyek
Tujuan: menjadikan strategi sebagai “daftar kerja” 5 tahun.
Isi minimum:
- 10–25 program/proyek prioritas (batasi, jangan semua masuk)
- business case ringkas per proyek: output, manfaat, risiko, dependensi
- milestone tahunan dan kebutuhan resource
Tabel wajib:
- Pipeline proyek 5 tahun (proyek, output kapasitas, CAPEX per tahun, start–finish, owner, dependensi, risiko)
- Program-to-KPI matrix (program mana menggerakkan KPI mana)
Bab 8. Rencana Investasi (CAPEX), Sumber Dana, dan Prioritas
Tujuan: memaksa disiplin capital allocation.
Isi minimum:
- klasifikasi CAPEX: maintenance vs growth vs compliance/HSE
- urutan prioritas: wajib-jalan (compliance), menjaga core (reliability), growth
- kebijakan gate investasi dan limit persetujuan
Tabel wajib:
- CAPEX register per tahun
- CAPEX gate & approval matrix
- Asset replacement schedule (untuk aset tua/risiko tinggi)
Bab 9. Proyeksi Keuangan 5 Tahun (P&L, Neraca, Cashflow) + Stress Test
Tujuan: mengunci kelayakan rencana (feasibility).
Non-keuangan wajib cashflow-first.
Isi minimum:
- asumsi proyeksi yang konsisten dengan Bab 3 dan Bab 4
- proyeksi P&L, neraca, arus kas per tahun
- covenant/rasio internal (likuiditas minimum, leverage, DSCR)
- stress test downside dan respon manajemen (capex deferral, cost take-out, working capital action)
Tabel wajib:
- Cashflow bridge: CAPEX → kapasitas → revenue ramp → margin → cash
- Sensitivity table: harga input/energi, volume, kurs
Untuk disiplin dashboard pengendalian kinerja dan risiko, kaitkan dengan kerangka monitoring (contoh: Risk Dashboard).
Bab 10. Manajemen Risiko Terintegrasi (Risk Appetite, KRI, Mitigasi)
Tujuan: membuat RJPP tahan guncangan operasi dan pasar.
Isi minimum:
- top risks strategis (operasi, supply, HSE, regulasi, proyek, pendanaan)
- risk appetite/limit yang memicu tindakan
- KRI + threshold + tindakan saat tembus
- rencana mitigasi yang punya biaya dan owner
Tabel wajib:
- Risk register strategis 5 tahun
- KRI dashboard + trigger response
Bab 11. ESG dan Perizinan (khusus non-keuangan: bukan kosmetik)
Tujuan: menjaga lisensi beroperasi (license to operate) dan menghindari shock compliance cost.
Isi minimum:
- peta izin/AMDAL/standar lingkungan yang relevan
- roadmap efisiensi energi/emisi/limbah (kalau applicable)
- program keselamatan kerja dan audit kepatuhan
Output: biaya compliance masuk ke CAPEX/OPEX, bukan catatan kaki.
Bab 12. Tata Kelola Implementasi dan Turunan ke RKAP
Tujuan: membuat RJPP “hidup” dan otomatis turun ke rencana tahunan.
Isi minimum:
- mekanisme review triwulanan KPI dan program
- kalender turunan: RJPP → RKAP year-1 → monitoring → evaluasi
- RACI (siapa pemilik KPI, pemilik program, pemilik risiko)
Lampiran wajib: Paket RKAP Tahun-1
- KPI tahun-1 final
- program/proyek tahun-1 + milestone + anggaran
- asumsi tahun-1
- risk action plan tahun-1 (KRI + trigger + respon)
- daftar CAPEX tahun-1 + gate approval
Bab yang paling sering lemah pada RJPP non-keuangan (dan perbaikan cepat)

- Bab Operasi & Aset terlalu deskriptif. Perbaiki dengan peta bottleneck + reliability plan + cost driver tree.
- Bab Pipeline Proyek hanya daftar. Perbaiki dengan business case ringkas + CAPEX per tahun + dependensi + risiko.
- Bab Proyeksi Keuangan tidak nyambung ke kapasitas. Perbaiki dengan cashflow bridge CAPEX → kapasitas → revenue ramp.
- Bab HSE/Compliance jadi formalitas. Perbaiki dengan roadmap izin + biaya compliance yang masuk CAPEX/OPEX.
- Bab Turunan RKAP tidak ada. Perbaiki dengan lampiran paket tahun-1 sebagai output wajib.
Baca juga:
- Contoh RKAP Perusahaan:
- Format RJPP BUMN yang Mudah Dieksekusi
- RJPP untuk swasta menuju IPO
- Contoh Kasus Manajemen Risiko pada Perusahaan
- Contoh Indikator ESG di Dokumen RJPP






