Penilaian Kematangan BCM: Panduan Lengkap Berbasis Proyek

Penilaian Kematangan BCM: Panduan Lengkap Berbasis Proyek
RB 13 Oktober 2025
5/5 - (1 vote)

RWI Consulting – Bayangkan pagi sibuk berubah jadi siaga total: layanan keuangan macet, jaringan tersendat, telepon darurat berdering bersahut-sahutan. Dalam momen itu, yang membedakan organisasi pulih cepat dari yang tertatih adalah kedewasaan sistem kelangsungan usaha.

Bukan slogan, melainkan proses yang jelas, peran yang sigap, dan bukti yang rapi.

Baca: BCM Maturity Assessment: Pengertian, Tahapan dan Konsultan Indonesia

Itulah konteks penilaian kematangan BCM. Membaca kondisi nyata, memperlihatkan celah, dan menuntun penyempurnaan agar Business Continuity Management System (BCMS) bekerja saat krisis betul-betul datang.

Kerangka BCMS sendiri bertumpu pada siklus Plan-Do-Check-Act dan bertujuan menjaga operasi penting tetap berjalan pada tingkat yang ada, melindungi merek serta kepentingan para pemangku kepentingan ketika disrupsi terjadi.

Apa yang dimaksud “penilaian kematangan BCM”

Baca: Pengertian, Tahapan dan Tujuan BCMS (Business Continuity Management Sistem)   

Dalam portofolio pekerjaan, keluaran yang sering mencakup BCM Maturity Level and Recommendations, bersama kebijakan dan manual BCM, serta laporan implementasi. Artinya, asesmen tidak berhenti pada skor ada paket rekomendasi dan perangkat kerja yang menuntun perbaikan.

Di organisasi layanan keuangan dan BUMN, penilaian kematangan sering menyatu dengan agenda lebih luas: mempertahankan kesesuaian SNI ISO 22301 melalui pendampingan surveillance audit, simulasi BCP/DRP, sosialisasi, evaluasi dokumen BCMS, sampai koordinasi dengan badan sertifikasi agar sertifikasi tetap terjaga.

Apa saja Penilaian: bukti, proses, dan kesiapan tim

Penilaian menyentuh tiga lapis: dokumen, praktik, dan tata kelola. Di dokumen sumber, ruang lingkup kerja menegaskan artefak inti BCMS—Business Impact Analysis (BIA), strategi dan solusi kelangsungan, Business Continuity Plan (BCP), serta Drilling, Testing, and Simulations (DTS) beserta pelatihan untuk unit terkait. Elemen-elemen ini menjadi “bagian tubuh” yang diperiksa saat mengukur kematangan.

Kesiapan audit internal (Clause 9.2 ISO 22301:2019) dan rapat tinjauan manajemen termasuk fokus, karena keduanya menutup siklus Check–Act dalam PDCA: memeriksa, lalu memperbaiki. Dokumen kerja mencantumkan panduan pemeriksaan, pelibatan auditor internal, serta pedoman management review sebagai keluaran.

Sebagai jangkar perbaikan berkelanjutan, organisasi juga menyusun roadmap pengembangan BCMS hingga lima tahun agar hasil asesmen berubah menjadi rencana terstruktur, bukan catatan yang mengendap.

Tahapan penilaian kematangan BCM

1. Persiapan dan maintenance audit. Tim menyelaraskan konteks, meninjau status implementasi lewat quality assurance audit, menyusun action plan, dan menjalankan sosialisasi serta workshop sekaligus menyiapkan project timeline, laporan pre-assessment, dan bukti pelatihan.

2. Evaluasi dan perbaikan dokumen. Evaluasi menyentuh kebijakan/ sasaran BCMS, Risk & Threat Assessment, BIA, RTO/RPO, strategi pemulihan, komunikasi krisis, serta efektivitas kontrol di BCP, CMP, ERP, CCP, DRP. Tahap ini juga menggelar simulasi BCM untuk membuktikan rencana bisa tereksekusi.

3. Surveillance audit dan tindak lanjut. Konsultan mendampingi rapat tinjauan manajemen, hadir saat surveillance dari badan sertifikasi, lalu membantu merumuskan tindakan perbaikan atas temuan. Keluaran utama: notulen, laporan surveillance, dan laporan tindakan perbaikan.

Di banyak proyek, daftar output yang terdokumentasi juga memuat paket lengkap dari kick-off, sertifikat pelatihan, laporan sosialisasi, laporan audit, bukti pengujian BCM, hingga laporan tindakan perbaikan pasca-audit—seluruhnya menjadi bukti kerja saat menilai kematangan.

“Operasi yang dilindungi” dan garis waktu insiden: mengapa penting untuk kematangan

Materi menampilkan contoh area yang perlu perlindungan: penyaluran pembiayaan, pengelolaan dana, operasi sistem informasi dan pembayaran internal, sampai komunikasi resmi kepada pemangku kepentingan. Penilaian kematangan akan menakar sejauh mana proses-proses ini sudah memiliki BIA, strategi, rencana, dan uji yang memadai.

Visual timeline insiden membantu menyepakati ekspektasi: dari emergency response menuju resumption (operasi pada kondisi disruptif), lanjut recovery hingga restoration. Konsep MTPD, RTO, dan RPO mengikat target waktu pulih pada kemampuan yang realistis—indikator kunci yang sering menjadi “ukuran kematangan” dalam diskusi proyek.

Metode dan cara kerja asesmen

Pendekatan kerja menggabungkan standar ISO 22301:2019, model proses seperti Value Chain Model dan Business Process Mapping, lalu metode kaji dokumen, FGD, technical meeting, presentasi/diskusi, hingga DTS. Praktik ini memberi gambaran menyeluruh: dari kebijakan sampai simulasi lapangan.

Untuk proyek berskala organisasi, jadwal pelaksanaan memetakan urutan yang ritmis: kick-off, penyempurnaan pedoman, penyusunan BIA dan BCP, pelaksanaan DTS, pelatihan, pendampingan audit, rapat tinjauan manajemen, hingga penyusunan roadmap lima tahun dan pemaparan laporan final. Alur inilah yang biasanya menjadi “tulang punggung” penilaian kematangan.

Apa Outcomenya?

Selain tingkat kematangan BCM dan rekomendasi, organisasi lazim menerima dokumen kebijakan/ manual, laporan implementasi, laporan audit internal (sesuai Clause 9.2), pedoman management review, serta roadmap pengembangan lima tahun. Keluaran ini menunjukkan kedalaman kematangan—bukan sekadar kepatuhan dasar.

Bagaimana memakai hasil penilaian kematangan

  1. Prioritaskan operasi kritikal berdasarkan BIA dan stress-testing—materi sumber menautkan indikator seperti MTPD dan RTO agar target pemulihan selaras dengan kapasitas.
  2. Rangkum celah dalam action plan lalu uji lewat DTS; masukkan temuan ke management review untuk disetujui sebagai perbaikan.
  3. Jaga siklus sertifikasi melalui pre-assessment, surveillance, dan tindak lanjut—langkah yang terangkumjelas dalam peta jalan menuju ISO 22301.

Minta asesmen awal untuk memetakan posisi BCMS saat ini dan celah prioritas. Hubungi kami sekarang.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top