Integrasi ERM dan BCM: Satu Sistem Risiko untuk Respon dan Pemulihan Bisnis

Integrasi ERM dan BCM: Satu Sistem Risiko untuk Respon dan Pemulihan Bisnis
RB 6 Februari 2026
Rate this post

RWI Consulting – Integrasi ERM dan BCM menyatukan manajemen risiko enterprise dengan sistem kelangsungan usaha agar perusahaan memegang satu peta risiko, satu prioritas proses kritikal, satu mekanisme eskalasi, dan satu siklus uji-simulasi-perbaikan yang terhubung ke pengambilan keputusan.

Definisi risikonya jelas, yakni “effect of uncertainty on objectives”, dan manajemen risikonya mencakup prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan, serta memantau risiko sekaligus merangkum sistem pengendalian intern dan tata kelola terintegrasi.

Integrasi ERM dan BCM: Satu Sistem Risiko untuk Respon dan Pemulihan Bisnis

Kenapa ERM dan BCM harus jalan sebagai satu sistem

BCMS memberi kerangka terstruktur untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko yang bisa menghancurkan kelangsungan operasional, lalu mendorong strategi pemulihan saat gangguan terjadi.

Regulasi BUMN juga menuntut rencana darurat atau contingency/continuity plan serta metode perlakuan risiko disruptif yang membahayakan kelangsungan usaha.

Kalau ERM berjalan sendiri, tim sering berhenti di risk register, KRI, dan laporan. Kalau BCM berjalan sendiri, tim sering berhenti di BIA, BCP, dan latihan.

Integrasi menutup celah itu dengan cara mengikat prioritas ERM (risk appetite, risk limit, top risks) ke prioritas BCM (CBF, MTPD, RTO, RPO) sehingga perusahaan tidak perlu memilih dua “kebenaran” yang saling bertabrakan saat krisis.

Baca juga;

Prinsip integrasi yang tahan audit dan tahan kejutan

Integrasi yang rapi mengikuti tiga landasan yang sudah umum di organisasi besar:

  • PER-2 menguatkan tuntutan risk governance, risk appetite, dan maturity assessment dalam praktik BUMN.
  • ISO 31000 menekankan leadership, integration, design, implementation, evaluation, dan improvement, plus proses komunikasi-konsultasi, identifikasi-analisis-evaluasi, perlakuan risiko, serta recording-reporting.
  • COSO ERM mengikat risiko ke strategi dan kinerja, memakai komponen governance & culture, strategy & objective-setting (termasuk risk appetite), performance, review & revision, serta information-communication-reporting.

Di level praktik, risk appetite statement, ambang risiko, dan metrik strategi risiko memberi “batas bermain” yang terukur. Integrasi memakai batas itu untuk memutuskan proses mana yang wajib pulih lebih dulu, seberapa cepat, dan dengan sumber daya apa.

Arsitektur integrasi ERM–BCM

1) Tata kelola dan peran

Model tiga lini membagi peran secara tegas: dewan mengawasi efektivitas sistem risiko, direksi menetapkan kebijakan dan risk appetite, lini pertama mengelola risiko harian, lini kedua menyusun metodologi dan memantau mitigasi, lini ketiga memberi assurance independen.

Di BCM, struktur juga perlu jelas. Praktik BCMS biasanya memasang BC Steering Committee, BC Management Team, BC Planning Team, dan BC Functional Team agar eksekusi tidak mengambang.

2) Proses yang tersambung dari “sebelum” ke “sesudah” gangguan

BCMS yang efektif mengarahkan perusahaan untuk menjaga operasi tetap berjalan pada tingkat yang sudah ditetapkan, melindungi aktivitas penciptaan nilai, serta menjaga reputasi saat peristiwa disruptif terjadi.

Dalam implementasi BCMS, organisasi biasanya menjalankan BIA, BCS, BCP, CMP, dan IT DRP, lalu menguji melalui berbagai skenario.

Integrasi menempelkan “risk thinking” ERM ke seluruh rantai itu:

  • ERM menyediakan risk taxonomy, risk metrics, parameter criteria, risk appetite, risk tolerance, risk limit, KRI, serta mekanisme pemantauan. Paket deliverables seperti integrated risk management guidelines, risk taxonomy, risk metrics, metodologi risk appetite, KRI, contingency plan guidelines, dan blueprint aplikasi ERM yang menghubungkan korporat-proyek-anak usaha menunjukkan bentuk konkret arsitektur ini.
  • BCM memakai hasil itu untuk memilih proses kritikal, menetapkan target pemulihan, menyiapkan skenario, dan membangun prosedur respon-pemulihan.

3) Data dan “single source of truth”

BIA mengunci kebutuhan bisnis dan batas waktu dampak: stakeholder requirements, critical activities, MTPD, RTO, dan RPO. Integrasi menuntut satu kamus data: satu daftar proses, satu pemetaan aset pendukung, satu daftar ketergantungan (vendor, TI, fasilitas, SDM), lalu menghubungkan semuanya ke risk register dan top risks.

4) Teknologi dan dashboard

Integrasi yang matang butuh layer monitoring. Rancangan platform risk management system biasanya memuat modul risk register, risk strategy, risk aggregation, KRI, serta evaluasi implementasi.

Di lapangan, beberapa proyek juga menggabungkan dokumen ERM, praktik dashboard risk modeling, dan BCM tests agar manajemen melihat sinyal dan respons dalam satu layar.

Ruang lingkup layanan integrasi ERM dan BCM

Bagian ini menulis paket kerja yang membuat ERM dan BCM benar-benar menyatu, bukan sekadar berdampingan.

Fase 1 — Diagnosis dan penyelarasan desain

  • Tim menilai kondisi ERM dan BCM saat ini, termasuk kebijakan, prosedur, struktur, dan kesiapan data.
  • Tim menyelaraskan istilah, taksonomi, kriteria dampak, dan kriteria prioritas agar ERM dan BCM memakai bahasa yang sama.

Di BCMS, organisasi sering memulai dengan menentukan CBF yang fokus pada proses kritikal serta memilih unit pilot sebelum roll-out.

Fase 2 — Penyatuan strategi risiko dengan kebutuhan pemulihan

  • Tim mengikat risk appetite dan ambang risiko ke keputusan pemulihan (mana yang tidak boleh berhenti, mana yang boleh turun level layanan sementara).
  • Tim memetakan top risks ke critical business functions dan skenario gangguan.

Dalam praktik BCMS, organisasi menjalankan BIA dan risk assessment pada CBF sebagai fondasi prioritas.

Fase 3 — Paket rencana terintegrasi

Deliverables inti yang biasanya muncul dalam paket BCMS meliputi:

  • Business Continuity Strategy (BCS)
  • Business Continuity Plan (BCP)
  • Crisis Management Plan (CMP)
  • IT Disaster Recovery Plan (IT DRP)
  • Protocol escalation procedure
  • Rencana sosialisasi dan drill-test

Integrasi menambahkan “koneksi ERM” ke setiap dokumen:

  • BCP mengacu ke risk register dan KRI untuk trigger eskalasi.
  • CMP memakai risk appetite sebagai batas keputusan (kapan stop operasi, kapan switch mode).
  • IT DRP mengikat RPO/RTO TI ke RPO/RTO bisnis agar target tidak saling bertolak belakang.

Fase 4 — Uji coba, simulasi, dan perbaikan siklus

BCP test yang rapi mencatat matriks waktu-aktor, call tree, dan aspek teknis lain agar tim tidak menebak saat kejadian. Di sisi praktik, organisasi juga menjalankan drill test dan simulation test untuk menguji skenario.

Integrasi memastikan latihan tidak berhenti sebagai formalitas:

  • Tim mengukur gap kontrol dan gap respon.
  • Tim memperbarui risk treatment plan untuk risiko disruptif, lalu memasukkan perubahan itu kembali ke ERM.

Fase 5 — Monitoring, pelaporan, dan penguatan maturitas

Kematangan (maturity) biasanya menilai dimensi seperti risk culture & capability, governance, framework & compliance, process & control, serta risk data-information-technology. Integrasi menargetkan peningkatan di dimensi tersebut lewat:

  • Dashboard terintegrasi untuk memantau risk register, KRI, serta status uji BCP.
  • KRI dan early warning yang terhubung ke playbook respon.
  • Evaluasi implementasi dan monitoring berkala.

Deliverables yang harus perusahaan pegang setelah integrasi

Paket minimal yang langsung bisa dipakai audit, latihan, dan eksekusi:

  1. Dokumen kerangka terintegrasi: kebijakan, prosedur, risk taxonomy, risk metrics, parameter criteria, risk appetite, risk tolerance, risk limit.
  2. Pemetaan proses kritikal dan baseline kebutuhan pemulihan: MTPD, RTO, RPO per proses.
  3. Dokumen operasional: BCS, BCP, CMP, IT DRP, escalation protocol.
  4. Bukti uji: laporan drill/simulation, catatan call tree dan time-actor matrix, daftar perbaikan dan owner.
  5. Blueprint teknologi: modul risk register, risk strategy, risk aggregation, KRI, evaluasi implementasi, serta dashboard pemantauan.

Kapabilitas eksekusi dan konteks pengalaman

RWI Consulting menyebut pengalaman sejak 2005 dengan lebih dari 100 klien dan layanan yang mencakup ERM, BCM, RMI, GRC/IT Governance, serta sistem informasi manajemen risiko. RWI juga menampilkan sertifikasi ISO 9001:2015 dan ISO 37001:2016.

Contoh penugasan yang relevan menunjukkan bentuk integrasi di dunia nyata, termasuk pengembangan BCMS dan ERM dalam satu paket deliverables, serta gap analysis yang menggabungkan risk dan BC berikut blueprint early warning.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top