ISO 31000 di Perusahaan Indonesia: Roadmap, Kerangka, Langkah

ISO 31000 di Perusahaan Indonesia: Roadmap, Kerangka, Langkah
RB 19 September 2025
Rate this post

RWI Consulting – Saat risiko makin kompleks dan tuntutan tata kelola semakin ketat, perusahaan di Indonesia membutuhkan bahasa yang sama untuk membicarakan ketidakpastian. Di banyak BUMN maupun korporasi swasta, ISO 31000 bukan lagi sekadar jargon. Standar ini dipakai sehari-hari sebagai rujukan nyata, diturunkan ke dalam kebijakan, proses kerja, hingga indikator kinerja.

Artikel ini membahas bagaimana organisasi di Indonesia menjadikan ISO 31000 sebagai fondasi manajemen risiko. Di dalamnya juga dijelaskan kaitannya dengan pengukuran Risk Maturity Index dan langkah praktis membangun program manajemen risiko, mulai dari tahap awal sampai penyusunan roadmap perbaikan yang dapat diaudit.

Risk-Maturity-Index-(RMI)-Assessment

Key takeaways

  • Sejumlah perusahaan Indonesia, termasuk BUMN, menyatakan telah menerapkan pedoman dan prosedur manajemen risiko berbasis ISO 31000:2018 untuk menyelaraskan praktik dengan tata kelola yang diharapkan.
  • Evaluasi berkala dilakukan untuk melihat kesenjangan terhadap ISO 31000:2018 dan menyiapkan roadmap perbaikan penerapannya.
  • Di lingkungan BUMN, penguatan governance dijalankan melalui Risk Maturity Index (RMI) tahunan sesuai petunjuk teknis. Tujuan RMI antara lain mengukur tingkat kematangan, menilai gap, dan menyiapkan roadmap perbaikan.
  • Dimensi penilaian yang lazim dipakai dalam RMI meliputi budaya dan kapabilitas risiko, organisasi dan tata kelola, kerangka dan kepatuhan, proses dan kontrol, serta model data dan teknologi.

Dalam dokumen kerja resminya, banyak perusahaan di Indonesia menjadikan ISO 31000:2018 Risk Management Guideline sebagai dasar penyusunan pedoman serta prosedur internal. Dengan acuan ini, organisasi bisa menata sistem manajemen risiko perusahaan (enterprise risk management) agar berjalan konsisten dan selaras di seluruh unit bisnis.

Di PT Hutama Karya (Persero), misalnya, komitmen tersebut tidak hanya berhenti pada tataran deklarasi. Mereka juga mengukur tingkat maturitas penerapan manajemen risiko untuk melihat sejauh mana praktik yang ada sesuai dengan standar ISO 31000:2018. Dari hasil pengukuran itu, perusahaan bisa mengidentifikasi celah yang masih ada sekaligus menyusun peta jalan (roadmap) perbaikannya.

Dengan cara ini, ISO 31000 tidak hanya dipakai sebagai panduan dasar, tapi juga menjadi alat ukur yang membantu organisasi melakukan perbaikan berkelanjutan.

ISO 31000 Indonesia dalam Praktik

Dalam menilai sejauh mana manajemen risiko dijalankan, perusahaan biasanya melihat beberapa faktor kunci. Hal-hal ini menjadi tanda bahwa penerapan manajemen risiko benar-benar hidup di dalam organisasi, bukan hanya tertulis di dokumen.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Konsep manajemen risiko dipahami dan dikomunikasikan ke seluruh lini.
  • Ada kebijakan yang jelas dan mudah diacu.
  • Praktik manajemen risiko dijalankan di setiap proses bisnis.
  • Risk appetite perusahaan didefinisikan dengan tegas.
  • Implementasi diawasi secara konsisten.

Contoh nyata bisa dilihat di salah satu perusahaan BUMN melalui Risk Maturity Index (RMI) yang mereka gunakan untuk mengukur dan memperbaiki penerapan manajemen risiko.

Singkatnya, penerapan ISO 31000 di Indonesia beroperasi melalui lima unsur utama: komunikasi, kebijakan, pelaksanaan, risk appetite, dan pengawasan. Kelima hal ini menjadi tolok ukur awal untuk menilai kepatuhan internal terhadap standar tersebut.

Hubungan ISO 31000 dengan Risk Maturity Index (RMI)

Di lingkungan BUMN, ada kebijakan yang mewajibkan perusahaan melakukan penilaian RMI (Risk Maturity Index) setiap tahun. Tujuannya sederhana tapi penting: mengukur tingkat kematangan manajemen risiko, menemukan celah dibandingkan dengan pedoman teknis, lalu merancang roadmap perbaikan baik untuk jangka pendek maupun panjang. Penilaian ini bisa dilakukan oleh pihak independen, atau oleh tim internal yang bekerja dengan pendampingan.

RMI dipakai sebagai alat ukur yang menyeluruh. Dimensi yang dievaluasi meliputi budaya dan kapabilitas, organisasi dan tata kelola, kerangka kerja serta kepatuhan, proses dan kontrol, hingga model data dan teknologi.

Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa memetakan kekuatan sekaligus kelemahan pada pilar Governance. Hasilnya, program manajemen risiko berbasis ISO 31000 bisa terus berkembang menuju tingkat maturitas yang lebih tinggi dari waktu ke waktu.

Roadmap ISO 31000 di Indonesia

Berikut kerangka kerja yang diringkas dari praktik Urutannya dimulai dari pengaturan awal hingga tahap pelaporan.

Penetapan Mandat dan Perencanaan

Langkah pertama adalah menunjuk PIC serta membentuk tim lintas fungsi. Dari sini, jadwal kerja dirancang sekaligus rencana pengumpulan data yang nantinya dibutuhkan oleh penilai internal maupun independen.

Dokumen kerja menegaskan pentingnya kesiapan administrasi tender, kerahasiaan data, serta kedisiplinan dalam menjalankan jadwal. Untuk menjaga kerahasiaan, perusahaan biasanya menyiapkan perjanjian NDA sebagai bagian dari paket pengadaan.

Penilaian Awal Kesenjangan terhadap ISO 31000

Tahap berikutnya adalah melakukan gap assessment. Evaluasi ini menggunakan faktor-faktor yang sudah dikenal, seperti apakah konsep manajemen risiko sudah dipahami di organisasi, apakah kebijakan tersedia, apakah penerapan berjalan, bagaimana risk appetite didefinisikan, dan apakah pengawasan dilakukan secara konsisten. Hasil penilaian menjadi daftar kesenjangan awal yang perlu ditindaklanjuti.

Pengukuran RMI dan Validasi

Selanjutnya, perusahaan melakukan pengukuran Risk Maturity Index (RMI) sesuai petunjuk teknis. Proses ini mencakup pengukuran tingkat maturitas, pencatatan temuan gap, serta penarikan rekomendasi perbaikan.

Di beberapa organisasi, penilaian pertama biasanya dilakukan oleh pihak independen, sebelum kemudian dikelola oleh tim internal. Setelah hasil keluar, diadakan sharing session bersama unit pengawasan internal, pengelola risiko, dan fungsi kepatuhan untuk menyamakan pemahaman.

Penyusunan Roadmap Perbaikan

Dari hasil RMI, perusahaan menyusun roadmap perbaikan. Isinya berupa rencana jangka pendek dan jangka panjang yang diselaraskan dengan rencana strategis perusahaan. Setiap area dalam dimensi RMI diprioritaskan, dengan penanggung jawab dan batas waktu yang jelas, sehingga perbaikan bisa terukur.

Eksekusi dan Pemantauan

Tahap terakhir adalah pelaksanaan perbaikan sesuai jadwal. Selama proses, perusahaan tetap menjaga standar kerahasiaan serta mengikuti aturan perubahan yang ditetapkan oleh pengadaan. Bila muncul perselisihan, penyelesaiannya mengacu pada hukum Indonesia dan forum arbitrase sebagaimana tertuang dalam dokumen pengadaan.

Ringkasan dan Langkah Selanjutnya

ISO 31000 di Indonesia bukan hanya sekadar pedoman formal. Di banyak perusahaan, standar ini dipakai sebagai pijakan untuk menata kebijakan, proses, hingga pengawasan. Tingkat kematangannya lalu diuji lewat Risk Maturity Index (RMI) agar perbaikan tidak berhenti di level kepatuhan semata.

Langkahnya bisa dimulai sederhana: tetapkan mandat dan rencana kerja yang jelas, lakukan penilaian awal untuk melihat gap terhadap ISO 31000, jalankan RMI, lalu turunkan hasilnya ke roadmap perbaikan.

Pastikan setiap inisiatif punya penanggung jawab, tenggat waktu, dan indikator yang terukur. Sharing session dan lesson learned juga penting agar pemahaman menyebar ke seluruh fungsi organisasi.

Dari sini, Anda bisa menentukan langkah yang paling relevan: apakah mengarahkan tim ke pelatihan, melakukan pendampingan implementasi, atau menjalankan penilaian kematangan penuh. Pilih sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan organisasi Anda.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top