Taksonomi Risiko: Mengelompokkan Risiko untuk Pengelolaan yang Lebih Baik

Taksonomi Risiko: Mengelompokkan Risiko untuk Pengelolaan yang Lebih Baik
RB 23 Oktober 2024
Rate this post

RWI ConsultingTaksonomi risiko adalah konsep penting dalam manajemen risiko, yang bertujuan untuk mengelompokkan berbagai jenis risiko sehingga lebih mudah untuk dikenali, dianalisis, dan dikelola.

Taksonomi risiko itu “peta bahasa” untuk risiko. Organisasi memakai peta ini supaya semua orang menyebut risiko dengan cara yang sama, menaruhnya di kategori yang tepat, lalu membahasnya dengan data yang bisa membandingkan antar unit dan antar periode. Tanpa taksonomi, daftar risiko cepat berubah jadi campur aduk: istilah berbeda untuk hal yang sama, kategori tumpang tindih, dan konsolidasi level korporat jadi debat terminologi.

Taksonomi membantu organisasi mengelompokkan risiko agar proses identifikasi, analisis, dan pengelolaan berjalan lebih cepat dan lebih rapi. Tim tidak lagi mulai dari kertas kosong setiap kali melakukan assessment.

Mereka cukup menelusuri kategori yang sudah telah sepakati, lalu memeriksa apakah ada risiko yang muncul di masing-masing area. Hasilnya, organisasi menangkap risiko yang relevan lebih konsisten, bukan tergantung siapa yang ikut rapat.

Taksonomi juga membuat pembacaan risiko jauh lebih tajam. Saat organisasi menaruh semua risiko ke dalam struktur yang sama, manajemen bisa melihat pola. Manajemen bisa menangkap risiko apa yang paling sering muncul di berbagai unit, risiko mana yang terus berulang dari tahun ke tahun, dan area mana yang paling banyak memerlukan kontrol atau perbaikan proses. Pola ini memberi sinyal yang berguna untuk prioritas investasi, perbaikan SOP, atau perubahan kebijakan.

Taksonomi Risiko: Mengelompokkan Risiko untuk Pengelolaan yang Lebih Baik

Di sisi pengukuran, taksonomi memperkuat kualitas data. Organisasi bisa membandingkan tingkat risiko antar domain karena definisinya jelas. Organisasi bisa menghindari duplikasi, misalnya satu risiko yang sama masuk sebagai “risiko operasional” di unit A, tetapi masuk sebagai “risiko kepatuhan” di unit B. Saat semua unit memakai struktur yang sama, laporan korporat menjadi lebih bersih dan lebih bisa dipakai Direksi.

Taksonomi juga mempermudah penentuan pemilik risiko. Setiap kategori biasanya memiliki “rumah” pemilik yang logis. Risiko SDM biasanya melekat ke fungsi people atau HR, risiko kepatuhan melekat ke compliance, risiko keamanan informasi melekat ke fungsi TI dan keamanan, risiko finansial melekat ke fungsi keuangan, dan seterusnya. Ketika pemilik jelas, tindak lanjut berjalan lebih cepat karena organisasi tidak saling lempar tanggung jawab.

Kalau Anda memasukkan taksonomi ke dalam RJPP atau RKAP berbasis risiko, manfaatnya makin terasa. Taksonomi membantu organisasi mengaitkan sasaran strategis dengan profil risiko, lalu menurunkan indikator seperti KRI dan threshold dengan kategori yang konsisten. Saat indikator bergerak, manajemen bisa segera mengidentifikasi “keluarga risiko” mana yang terdampak, lalu memilih respons yang sesuai.

Cara menyusun taksonomi yang rapi biasanya dimulai dari tujuan organisasi. Tim menetapkan kategori besar yang relevan dengan bisnis, lalu menurunkannya menjadi subkategori yang lebih spesifik. Tim menuliskan definisi singkat untuk tiap kategori agar semua orang memahami batasnya. Setelah itu, tim memetakan contoh risiko yang umum muncul di kategori tersebut, termasuk pemiliknya dan kaitannya dengan proses atau unit kerja. Struktur ini membuat taksonomi mudah dipakai, bukan hanya bagus di slide.

Baca juga:

Artikel ini akan membahas pengertian taksonomi risiko, cara kerjanya, contoh penerapannya, serta tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasinya.

Pengertian Taksonomi Risiko

Taksonomi risiko merupakan metode klasifikasi yang digunakan untuk mengelompokkan risiko ke dalam kategori yang lebih spesifik.

Proses ini mencakup identifikasi, kategorisasi, dan pengelompokan risiko berdasarkan karakteristik yang mirip.

Tujuan dari taksonomi risiko adalah untuk memberikan struktur yang memudahkan identifikasi dan analisis risiko, serta memfasilitasi komunikasi risiko dalam organisasi.

Dengan mengelompokkan risiko ke dalam kategori yang jelas, seperti risiko operasional, risiko finansial, dan risiko strategis, organisasi dapat lebih cepat menemukan strategi mitigasi yang sesuai untuk masing-masing kelompok risiko tersebut.

Bagaimana Taksonomi Risiko Bekerja

Risk-Awareness-&-Competency-Building
Risk-Awareness-&-Competency-Building

Taksonomi risiko bekerja dengan cara menyusun risiko ke dalam kelompok yang konsisten dan relevan dengan karakter bisnis serta sektor industri organisasi. Melalui pendekatan ini, organisasi tidak hanya mengumpulkan daftar risiko, tetapi membangun struktur berpikir yang memandu proses identifikasi, analisis, dan pengambilan keputusan secara sistematis.

Prosesnya dimulai saat organisasi mengenali seluruh risiko yang berpotensi memengaruhi pencapaian tujuan. Tim menelusuri risiko yang muncul dari lingkungan internal seperti proses, sistem, dan sumber daya manusia, serta risiko dari lingkungan eksternal seperti perubahan regulasi, kondisi ekonomi, dinamika pasar, dan ekspektasi pemangku kepentingan. Tahap ini bertujuan memastikan tidak ada area penting yang terlewat karena bias fungsi atau sudut pandang tertentu.

Mengelompokkan Risiko

Setelah organisasi mengenali risiko, langkah berikutnya mengelompokkan risiko tersebut berdasarkan kriteria yang disepakati. Pengelompokan dapat mengikuti sumber risiko, sifat dampak, atau karakteristik tertentu yang relevan dengan model bisnis.

Sebagai contoh, organisasi dapat memisahkan risiko yang berasal dari faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah dan perubahan ekonomi dari risiko yang bersumber dari proses internal. Tahap ini membantu organisasi melihat pola dan keterkaitan antar risiko secara lebih jelas.

Organisasi kemudian menyusun kategori risiko yang lebih spesifik sesuai kebutuhan. Kategori ini biasanya mencerminkan domain utama seperti strategis, operasional, keuangan, kepatuhan, teknologi informasi, atau reputasi.

Struktur kategori tidak bersifat generik, tetapi menyesuaikan kompleksitas dan konteks industri agar taksonomi benar-benar berguna sebagai alat kerja, bukan sekadar formalitas.

Dengan struktur taksonomi yang jelas, organisasi dapat melakukan analisis dan penilaian risiko secara lebih tajam. Manajemen dapat menilai dampak dan tingkat urgensi setiap kelompok risiko, membandingkan eksposur antar kategori, serta menetapkan prioritas penanganan secara objektif.

Pendekatan ini memudahkan Direksi melihat area risiko yang paling memengaruhi keberlanjutan bisnis dan menentukan respons yang selaras dengan strategi jangka panjang.

Contoh Taksonomi Risiko

Contoh taksonomi risiko yang umum digunakan di berbagai industri antara lain:

  1. Risiko Operasional
    Meliputi risiko terkait dengan proses internal, seperti gangguan teknologi, kegagalan proses, dan kesalahan manusia.
  2. Risiko Keuangan
    Mengacu pada risiko yang terkait dengan keuangan perusahaan, termasuk risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas.
  3. Risiko Strategis
    Melibatkan risiko yang timbul dari keputusan strategis, seperti masuknya pesaing baru, perubahan permintaan pasar, dan pergeseran regulasi.
  4. Risiko Reputasi
    Risiko yang terkait dengan citra dan reputasi organisasi, seperti ulasan negatif, pelanggaran etika, atau kesalahan publik.

Tantangan Penerapan Taksonomi Risiko

Meski taksonomi risiko memiliki banyak manfaat, ada beberapa tantangan yang mungkin dihadapi organisasi dalam penerapannya:

  1. Kesesuaian Kategori Risiko
    Menentukan kategori yang sesuai dengan bisnis organisasi dapat menjadi tantangan, terutama jika perusahaan bergerak di sektor yang kompleks atau memiliki risiko yang unik.
  2. Ketersediaan Data
    Proses taksonomi risiko memerlukan data yang akurat dan lengkap. Jika data yang tersedia tidak memadai, maka analisis risiko mungkin tidak tepat.
  3. Komunikasi Risiko
    Meskipun taksonomi risiko bertujuan untuk memfasilitasi komunikasi, terkadang perbedaan pemahaman mengenai kategori risiko antar bagian dalam organisasi dapat menyebabkan miskomunikasi.
  4. Adaptasi terhadap Perubahan
    Risiko yang dihadapi organisasi dapat berubah seiring waktu. Oleh karena itu, taksonomi risiko harus fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis dan peraturan.

Kesimpulan

Taksonomi risiko adalah alat yang efektif untuk membantu organisasi mengelola risiko dengan lebih baik melalui pengelompokan yang terstruktur. ‘

Dengan menerapkan taksonomi risiko, organisasi dapat memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai berbagai jenis risiko yang dihadapi, serta menentukan prioritas dalam penanganannya.

Namun, penerapan taksonomi risiko juga memiliki tantangan, terutama terkait kesesuaian kategori, ketersediaan data, dan adaptasi terhadap perubahan.

Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menyesuaikan taksonomi risiko dengan kebutuhan dan lingkungan bisnis yang dinamis.

Bisnis Anda Layak Untuk Bertahan dan Berkembang! Dengan pendekatan kami, keberlangsungan bukan hanya mimpi. Buat Strategi Anda Bersama Kami Hari Ini!

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top