Roadmap ESG Perusahaan: Materi, Proses, dan Output

Roadmap ESG Perusahaan: Materi, Proses, dan Output
RB 17 September 2025
Rate this post

Hari ini, perusahaan tidak lagi dinilai hanya dari seberapa besar laba yang ada. Dalam percakapan sehari-hari baik dengan karyawan, pemasok, regulator, maupun investor, muncul satu pertanyaan yang sederhana tapi sulit terjawab: bagaimana mengubah komitmen keberlanjutan menjadi langkah nyata yang runut, terukur, dan bisa audit? Jawabannnya ada pada roadmap ESG yang tersusun dengan rapi

Mengapa Roadmap ESG Penting?

Baca: Contoh Risiko ESG di Perusahaan

Tanpa arah yang jelas, inisiatif keberlanjutan rentan terpecah-pecah berjalan sendiri-sendiri, tanpa benang merah yang kuat. Itulah mengapa roadmap ESG menjadi kunci. Bukan sekadar dokumen, tapi alat navigasi untuk menyatukan tujuan, strategi, dan tindakan lintas fungsi dalam organisasi.

Dokumen kerja seperti KAK RMI menegaskan pentingnya pendekatan yang berkesinambungan. Bukan hanya membuat rencana sekali jalan, tapi juga melakukan penilaian rutin untuk memastikan manajemen risiko tetap sejalan dengan arah strategis perusahaan.

Dalam praktiknya, roadmap seringkali berawal dengan pengukuran posisi saat ini menggunakan standar seperti ISO 31000:2018. Dari situ, organisasi bisa mengidentifikasi celah, lalu menyusun langkah-langkah perbaikan yang sistematis.

Environmental-Social-and-Governance-ESG
Environmental-Social-and-Governance-ESG

Roadmap ESG Perusahaan

Jika kita telaah berbagai TOR proyek ESG, terlihat ada pola kerja yang konsisten. Beberapa komponen inti ini menjadi fondasi dari roadmap yang efektif, bukan hanya untuk kepatuhan, tapi juga untuk pencapaian strategis jangka panjang.

1. Materiality Assessment & Pelibatan Pemangku Kepentingan

Setiap proyek ESG dengan pertanyaan kunci: isu apa yang paling relevan untuk perusahaan ini? Jawabannya tidak bisa ditebak, tapi harus dibangun melalui proses yang terstruktur.

Biasanya, tim ESG melakukan diskusi kelompok terarah (FGD), wawancara, dan sesi eksekutif lintas fungsi. Tujuannya jelas: menyelaraskan isu prioritas ESG dengan strategi bisnis yang sedang dijalankan.
Hasilnya dirangkum dalam Laporan Materialitas dokumen penting yang menyaring mana isu perlu ditangani segera, dan mana yang bisa dimasukkan ke fase berikutnya.

Baca: Fungsi Tata Kelola dalam ESG

Tanpa pemetaan isu yang tajam, ESG mudah terjebak jadi proyek seremonial.

2. ESG Study & Analisis Kesenjangan

Setelah prioritas disepakati, konsultan biasanya menyusun studi ESG. Isinya mencakup:

  • Analisis kesenjangan terhadap regulasi, standar, atau permintaan pemangku kepentingan,
  • Pemetaan aktivitas perusahaan terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola,
  • Serta identifikasi risiko ESG dan opsi mitigasinya.

Dari sini muncul rekomendasi kebijakan dan arah perbaikan jangka pendek maupun panjang.

Studi ini adalah dasar berpikir strategis, bukan sekadar pelengkap dokumen.

3. Strategi, Target & Inisiatif

Setelah tahu di mana posisi organisasi dan ke mana harus menuju, saatnya menyusun strategi dan target. Biasanya dibagi menjadi tiga horizon: jangka pendek, menengah, dan panjang.

Target diturunkan menjadi inisiatif nyata, dan dirumuskan bersama fungsi-fungsi kunci agar dapat dijalankan tanpa konflik sumber daya. Ini fase di mana ESG mulai menyatu ke dalam perencanaan dan anggaran tahunan.

4. Blueprint & Dokumen Roadmap

Semua komponen di atas dikunci dalam satu dokumen utama: blueprint dan roadmap ESG.
Dokumen ini menyajikan siapa melakukan apa, kapan, dengan indikator kinerja yang jelas.

Roadmap bukan hanya peta, tapi alat bantu pengambilan keputusan manajemen.

5. Inventarisasi & Perhitungan Emisi GRK

Perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK) adalah salah satu keluaran teknis yang wajib disusun.
TOR ESG menekankan pentingnya menghitung emisi:

Baca: Keberlanjutan (Sustainable) dan Kaitannya dengan ESG

  • Scope 1: emisi langsung dari aktivitas operasional,
  • Scope 2: emisi dari konsumsi listrik,
  • Scope 3: emisi tidak langsung lainnya (seperti rantai pasok atau transportasi karyawan).

Data ini menjadi baseline penting untuk menyusun program efisiensi dan target pengurangan emisi yang realistis.

6. Sesi Pimpinan & Diseminasi Lintas Fungsi

Agar tidak berhenti di atas kertas, hasil roadmap ESG dibawa ke meja pimpinan.
Sesi eksekutif dan workshop lintas fungsi dijalankan untuk memvalidasi hasil, menyamakan pemahaman, dan membangun komitmen operasional.

ESG yang berjalan bukan karena dokumennya bagus, tapi karena semua pihak merasa memiliki peran di dalamnya.

Sinkron dengan Tata Kelola Risiko: Peran RMI

Dalam praktik banyak BUMN, roadmap ESG tidak berdiri sendiri, yang mana harus tertambat kuat pada sistem tata kelola risiko yang sudah berjalan. Di sinilah Risk Maturity Index (RMI) memainkan peran penting sebagai jangkar integrasi antara keberlanjutan dan manajemen risiko.

Dokumen kerja seperti KAK RMI menjelaskan tujuannya dengan gamblang: mengukur tingkat kematangan manajemen risiko organisasi, menemukan celah terhadap pedoman teknis, lalu menyiapkan peta perbaikan yang terarah dan terukur.

Penilaiannya tidak sembarangan. Ada lima dimensi utama yang digunakan sebagai bingkai evaluasi:

  1. Budaya & Kapabilitas
    Sejauh mana kesadaran risiko tertanam dalam keseharian organisasi?
  2. Organisasi & Tata Kelola
    Apakah struktur, peran, dan tanggung jawab pengelolaan risiko sudah berjalan efektif?
  3. Kerangka & Kepatuhan
    Apakah kebijakan, prosedur, dan standar mengacu pada best practice dan ditaati?
  4. Proses & Kontrol
    Seberapa kuat mekanisme identifikasi, analisis, dan pengendalian risiko diterapkan?
  5. Model, Data & Teknologi
    Apakah pengelolaan risiko didukung data yang andal dan alat bantu teknologi yang sesuai?

Lewat pendekatan ini, RMI bukan hanya alat ukur—ia juga pengarah strategis. Ia membantu memastikan bahwa setiap inisiatif ESG selaras dengan kapasitas risiko dan arah jangka panjang perusahaan.

Dengan menjadikan RMI sebagai bagian dari proses ESG, perusahaan bukan hanya menunjukkan kepatuhan, tapi juga kematangan dalam menghadapi ketidakpastian dan kompleksitas keberlanjutan.

Keluaran RMI yang disebutkan di TOR/KAK antara lain hasil penilaian, gap analysis, dan roadmap perbaikan. Kegiatan sharing session dan lesson learned dilaksanakan agar tim internal menyerap metodologi dan siap melanjutkan perbaikan pada siklus berikutnya.

Tata Kelola Proyek dan Administrasi Pengadaan

Roadmap ESG dan pendampingan RMI pada contoh dokumen diatur dengan administrasi yang tegas.

  • Kerahasiaan: peserta tender wajib menandatangani NDA dan menjaga informasi di luar tujuan pekerjaan.
  • Kewajiban peserta: harus terdaftar di DRT perusahaan, menjalankan pekerjaan secara profesional, patuh jadwal, menjaga kerahasiaan, dan tidak mengganti PIC tanpa pemberitahuan.
  • Masa pelaksanaan: contoh KAK menetapkan 2 bulan/8 minggu sejak perintah mulai kerja.
  • Komunikasi resmi dan perubahan: seluruh pertanyaan selama jam kerja disalurkan ke alamat yang ditetapkan; perubahan syarat dapat diberlakukan dan menjadi bagian kontrak.

Rangka aturan ini penting agar roadmap dan program RMI punya jejak audit yang jelas.

Contoh Alur 6 Bulan Roadmap ESG Perusahaan

Mengacu TOR roadmap, pengembangan peta jalan dapat dipecah menjadi fase berikut agar tim bekerja ritmis dan fokus pada keluaran.

  1. Bulan 1 – Kickoff, NDA, penentuan lingkup, pengumpulan data awal, dan penyusunan rencana FGD/interview.
  2. Bulan 2 – Pelaksanaan materiality assessment, penetapan prioritas isu, dan draf Laporan Materialitas.
  3. Bulan 3ESG Study: analisis kesenjangan serta mitigasi risiko; pemetaan aktivitas terhadap aspek ESG dan sasaran perusahaan.
  4. Bulan 4 – Perumusan strategi, target, dan inisiatif untuk horizon pendek, menengah, panjang; penyelarasan awal dengan pimpinan.
  5. Bulan 5 – Finalisasi dokumen blueprint dan roadmap; inventarisasi emisi GRK Scope 1–3 diselesaikan.
  6. Bulan 6Executive session untuk pengesahan, diseminasi internal, dan rencana eksekusi lintas fungsi.

Di BUMN, alur roadmap ini selaras dengan siklus RMI yang berjalan tersendiri selama ±8 minggu dan menghasilkan gap analysis serta roadmap perbaikan. Keduanya kemudian disatukan ke rencana tahunan dan rencana jangka panjang perusahaan.

Kesimpulan

Agar tidak berhenti pada slogan, roadmap ESG perusahaan harus mengikat komitmen menjadi urutan kerja yang jelas: materialitas → studi & gap → strategi & inisiatif → blueprint/roadmap → emisi GRK → diseminasi → perbaikan berulang.

Pada organisasi BUMN, siklus ini disandingkan dengan RMI sehingga pilar Governance punya ukuran yang tegas. Dengan alur seperti ini, perusahaan dapat bergerak dari niat menuju pembuktian, dari kebijakan menuju capaian yang bisa diaudit dan dievaluasi setiap tahun.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top