Assessment Manajemen Risiko ISO 31000

RWI Consulting – Ketika lingkungan bisnis bergerak cepat, organisasi di Indonesia membutuhkan bahasa bersama untuk membicarakan ketidakpastian. Assessment Manajemen Risiko berbasis ISO 31000 memberi kerangka untuk menilai sejauh mana praktik manajemen risiko sudah berjalan, area mana yang masih lemah, dan prioritas perbaikan.
Di banyak perusahaan, penilaian ini tidak berdiri sendiri. Ini bersama dengan pengukuran tingkat kematangan manajemen risiko, penyusunan roadmap perbaikan, serta sesi berbagi pembelajaran lintas fungsi.
Dengan begitu, perubahan tidak berhenti pada kepatuhan administratif, tetapi benar-benar mendorong peningkatan berkelanjutan.
Baca: ISO 31000 di Perusahaan Indonesia: Roadmap, Kerangka, Langkah
Pengertian Risk Assesment ISO 31000
Risk assessment ISO 31000 adalah proses terstruktur untuk mengenali, menganalisis, dan mengevaluasi risiko sebelum memutuskan perlakuannya. Dalam praktik Indonesia, assessment biasanya berkaitan dengan beberapa tujuan utama:
- Memberi gambaran objektif posisi saat ini terhadap pedoman ISO 31000. Hasilnya berupa peta kesenjangan dan rekomendasi peningkatan.
- Menyusun rencana perbaikan berjenjang yang sinkron dengan rencana kerja tahunan dan jangka panjang perusahaan.
- Memperkuat tata kelola dan akuntabilitas melalui penetapan peran, dokumentasi bukti, serta forum pengambilan keputusan.
- Mendorong pengambilan keputusan berbasis risiko sehingga program, investasi, dan inisiatif operasional lebih terarah.
Menetapkan Konteks dan Kriteria Risiko
Sebelum masuk ke tahap penilaian, tim perlu lebih dulu menetapkan konteks organisasi dan kriteria risiko. Langkah ini penting supaya proses penilaian tidak melebar ke mana-mana, tetapi tetap fokus pada ruang lingkup, tujuan, proses utama, serta para pemangku kepentingan yang relevan.
Beberapa hal yang biasanya di tahap ini antara lain:
- Merumuskan konteks internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap tujuan organisasi.
- Menentukan kriteria risiko yang menjadi acuan konsisten untuk menilai kemungkinan dan dampak.
- Menetapkan skala likelihood dan impact sesuai karakter bisnis dan tingkat toleransi manajemen.
Dengan pondasi ini, proses penilaian risiko bisa berjalan lebih terarah dan hasilnya lebih bisa lebih andal.
Risk Appetite dan Tolerance
Dalam kerangka ISO 31000, risk appetite menggambarkan tingkat risiko yang siap diterima organisasi untuk mencapai tujuannya. Sementara itu, risk tolerance adalah batas variasi yang masih diperbolehkan dari appetite tersebut. Keduanya menjadi bagian penting dalam assessment agar tetap sejalan dengan strategi perusahaan.
Baca: Contoh Risk Appetite di Perusahaan: Studi Kasus & Praktik Terbaik
Tugas umum tim di tahap ini biasanya mencakup:
- Memastikan pernyataan risk appetite sudah mendapat persetujuan pimpinan dan tersampaikan ke seluruh unit kerja.
- Menilai apakah toleransi risiko sudah menetap untuk proses-proses kritikal dan benar-benar ada sebagai panduan keputusan.
- Menghubungkan appetite dan tolerance dengan kriteria risiko serta prioritas program mitigasi.
Baca: Apa itu Risk Appetite dan Risk Tolerance di Perusahaan?
Dengan cara ini, perusahaan dapat menjaga keseimbangan antara keberanian mengambil risiko dan disiplin dalam mengendalikan dampaknya.
Identifikasi dan Analisis Risiko
Tahap ini berfokus pada pemetaan sumber risiko, kejadian yang mungkin terjadi, skenario, penyebab, serta konsekuensinya. Tujuannya adalah memahami faktor pendorong kemungkinan (likelihood) dan besaran dampak (impact), sehingga bisa ditetapkan prioritas penanganan.
- Identifikasi dilakukan dengan menelusuri proses ujung ke ujung, mengamati titik kontrol, dan mempelajari insiden masa lalu.
- Analisis kemudian menilai penyebab, efektivitas kontrol yang ada, serta memperkirakan sisa risiko (residual risk).
Untuk mendukung analisis, ISO 31000 sering dipadukan dengan metode dari keluarga ISO 31010, seperti FMEA, Bow Tie, HAZOP, hingga simulasi Monte Carlo.
Evaluasi dan Prioritisasi
Setelah dianalisis, risiko dievaluasi dengan membandingkan hasilnya terhadap kriteria yang sudah ditetapkan. Dari sini, diputuskan apakah risiko bisa diterima, perlu mitigasi, atau harus ditangani dengan cara lain. Agar tidak sekadar berhenti di angka, evaluasi biasanya diakhiri dengan prioritisasi, supaya sumber daya difokuskan pada isu yang paling material.
- Risk ranking umumnya didasarkan pada kombinasi likelihood dan impact.
- Alat visual yang sering dipakai adalah matriks risiko 5×5 atau heat map untuk menunjukkan prioritas secara jelas.
Perlakuan Risiko dan Rencana Mitigasi
Begitu prioritas ditetapkan, organisasi menyusun rencana perlakuan risiko sesuai prinsip ISO 31000: risiko bisa dihindari, dikurangi, dipindahkan, atau diterima dengan tambahan kontrol.
Agar tidak berhenti di level kepatuhan, ada beberapa prinsip yang biasanya diterapkan:
- Menyusun rencana mitigasi lengkap dengan tujuan, aktivitas, penanggung jawab, jadwal, dan indikator hasil.
- Mempertimbangkan biaya dan manfaat secara proporsional.
- Menjaga keseimbangan antara kontrol pencegahan dan deteksi, agar pengendalian tidak timpang.
- Melakukan uji kelayakan sebelum rencana dijalankan dalam operasi.
Dengan pendekatan ini, penanganan risiko tidak hanya formalitas, tapi benar-benar menjadi bagian dari pengambilan keputusan strategis.
Risk Register dan Pelaporan
Dalam ISO 31000, risk register menjadi arsip utama hasil assessment. Dokumen ini menyatukan seluruh temuan mulai dari identifikasi, analisis, evaluasi, hingga rencana perlakuan risiko dalam satu tempat sehingga mudah dipantau maupun diaudit.
Komponen yang biasanya dicatat dalam risk register antara lain:
- Deskripsi risiko beserta akar penyebabnya.
- Proses yang terdampak, pemilik risiko, dan kontrol yang sudah ada.
- Nilai risiko inherent dan residual sesuai kriteria.
- Rencana mitigasi lengkap dengan tenggat dan indikator pemantauan.
- Status terkini beserta catatan perubahan.
Sebagian besar organisasi menyusun template risk register dalam format spreadsheet agar konsolidasi lebih mudah dilakukan.
Monitoring, Review, dan Peningkatan Berkelanjutan
Assessment hanya bernilai jika ditindaklanjuti. Karena itu, perusahaan menetapkan monitoring dan review berkala untuk memastikan rencana mitigasi berjalan sesuai jadwal dan menilai ulang risiko ketika terjadi perubahan signifikan.
Kegiatan yang umum dikelola di tahap ini antara lain:
- Pelacakan KPI manajemen risiko di level program maupun proyek.
- Audit internal risiko untuk menguji desain dan efektivitas kontrol.
- Sharing session dan lesson learned lintas unit agar praktik baik tersebar dan kesalahan tidak berulang.
Peran dan Tata Kelola
Agar assessment efektif, peran setiap pihak harus jelas dan forum pengambilan keputusan berfungsi dengan baik.
- Risk owner: pemilik proses yang bertanggung jawab atas pengelolaan risiko, pelaksanaan mitigasi, dan pelaporan status.
- RACI: alat bantu untuk membedakan siapa yang bertanggung jawab, menyetujui, dikonsultasikan, dan diinformasikan terkait setiap risiko prioritas.
- Komite manajemen risiko: forum evaluasi, eskalasi, serta pengambilan keputusan terhadap risiko yang melampaui batas toleransi.
Integrasi dengan ERM, ESG, dan BCP
Agar hasil assessment memberi dampak nyata, temuan harus diintegrasikan dengan kerangka kerja lain yang sering berjalan bersamaan di Indonesia:
- ISO 31000 dan ERM: ISO 31000 berfungsi sebagai pedoman fleksibel bagi enterprise risk management. Keduanya sama-sama menekankan konteks, kepemimpinan, proses, serta perbaikan berkelanjutan.
- ESG risk: risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola biasanya masuk daftar risiko strategis. Assessment membantu menyusun roadmap, inisiatif, dan rencana perbaikan tata kelola.
- Contingency plan dan BCP: risiko prioritas yang berpotensi mengganggu kesinambungan layanan diteruskan ke rencana kesiapsiagaan dan pemulihan.
RWI Consulting sebagai Konsultan ESG Indonesia
RWI Consulting sebagai Konsultan Contingency Plan Indonesia
RWI Consulting sebagai Konsultan ERM Indonesia






