Contingency Plan adalah: Definisi, Komponen, Trigger, Stress Testing, Recovery Plan, dan Resolution Plan

RWI Consulting – Contingency Plan adalah dokumen rencana darurat perusahaan yang memuat prosedur penanganan ketika perusahaan masuk kondisi terburuk (worst case scenario), dan biasanya terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Recovery Plan dan Resolution Plan.
Intinya sederhana dan keras: perusahaan tidak menunggu krisis menjatuhkan operasional, perusahaan menyiapkan indikator pemicu, opsi aksi, serta tata kelola keputusan agar organisasi bergerak cepat, konsisten, dan terukur saat situasi memburuk.
Contingency Plan adalah: Definisi, Komponen, Trigger, Stress Testing, Recovery Plan, dan Resolution Plan
Kerangka ini memposisikan Contingency Plan sebagai puncak respons pada spektrum gangguan. Business Continuity Management menyiapkan rencana untuk gangguan, bencana, atau insiden yang mengganggu operasi saat kondisi belum masuk kategori krisis.
Contingency Plan bergerak saat gangguan sudah naik kelas menjadi krisis, saat perusahaan perlu tindakan terstruktur dan responsif untuk menstabilkan kondisi.
Di lingkungan BUMN, rencana darurat ini juga memiliki bobot governance yang tegas. Rencana darurat wajib memperoleh persetujuan Dewan Komisaris atau Dewan Pengawas, lalu memperoleh pengesahan dari pemegang saham pengendali. Struktur ini memaksa perusahaan menempatkan rencana darurat sebagai keputusan korporat, bukan catatan teknis.
Mengapa Contingency Plan harus ada, bukan sekadar formalitas

Krisis jarang datang sebagai satu pukulan. Krisis muncul sebagai rangkaian tekanan yang saling mengunci: pendapatan melemah, biaya tetap tetap menekan, likuiditas menipis, covenant membatasi pendanaan, lalu perusahaan kehilangan ruang manuver. Tanpa rencana, organisasi biasanya gagal bukan karena kekurangan ide, tetapi karena:
- keputusan terlambat,
- keputusan saling bertabrakan antar fungsi,
- eskalasi tidak jelas,
- komunikasi eksternal tidak terkendali.
Contingency Plan memecah kekacauan itu menjadi sistem: indikator, trigger, fase aksi, PIC, hambatan, rencana mitigasi hambatan, dan mekanisme pelaporan.
Apa saja isi Contingency Plan yang dianggap “lengkap”
Struktur dokumen yang konsisten membantu pembaca eksekutif memahami rencana dalam satu napas, lalu membantu tim operasional mengeksekusinya tanpa tafsir ulang. Output dokumen rencana darurat biasanya mencakup:
- ringkasan eksekutif,
- gambaran umum perusahaan,
- analisis dampak kondisi stres,
- strategi rencana aksi dan opsi pemulihan,
- strategi pengungkapan rencana aksi,
- template pelaporan hasil evaluasi dan pengujian,
- pelaporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris,
- pembaruan dokumen berbasis umpan balik
Di praktik penyusunan untuk BUMN, dokumen juga menekankan bahwa Contingency Plan memuat strategi rencana aksi, opsi pemulihan, opsi resolusi, serta pengungkapan rencana aksi untuk internal dan eksternal.
Recovery Plan dan Resolution Plan: dua mesin, dua tujuan
Banyak organisasi mencampuradukkan pemulihan dan resolusi, lalu bingung saat tekanan makin berat. Pisahkan sejak awal.
Recovery Plan
Sistem Recovery Plan memuat langkah-langkah untuk menstabilkan perusahaan dan mengembalikannya ke kondisi normal dengan memonitor indikator pemulihan dan menerapkan opsi recovery. Recovery menargetkan keberlanjutan usaha dengan asumsi perusahaan masih punya peluang membalik keadaan.
Resolution Plan
Resolution Plan memuat langkah drastis saat recovery tidak cukup. Di konteks rencana darurat, fase resolusi muncul setelah fase pencegahan, pemulihan, dan perbaikan, lalu berujung pada “perusahaan gagal” bila resolusi pun tidak berjalan
Resolution Plan bukan “plan B” yang lembut; ia mengatur cara perusahaan menyelamatkan nilai, melindungi stakeholder, dan menutup risiko sistemik saat pemulihan tidak lagi realistis.
Trigger Level: tombol aktivasi yang memaksa organisasi bertindak
Baca juga:
- IT Maturity: Penilaian Tata Kelola TI BUMN Indonesia
- Pengertian dan Manfaat Contingency Plan BUMN
- Pelatihan BCMS & Internal Control
- Stress Testing & Contingency Plan
- Model Penilaian Tingkat Kematangan Manajemen Risiko
Dokumen rencana darurat tidak hidup tanpa trigger. Trigger Level berfungsi sebagai threshold yang mengaktifkan opsi pemulihan dan biasanya mencakup aspek finansial dan operasional
Definisi operasionalnya tegas:
- Aksi recovery berhenti saat metrik kembali ke tingkat sehat dan stabil sesuai target yang ditetapkan
- Aksi recovery dimulai saat metrik kinerja keuangan atau operasional mencapai atau melampaui ambang batas yang mengindikasikan masalah serius dan perlu tindakan segera.
- Aksi resolusi dimulai saat metrik mencapai ambang kritis dan tindakan pemulihan tidak lagi cukup, sehingga perusahaan perlu langkah lebih drastis.
- Aksi resolusi berhenti saat perusahaan mencapai stabilitas memadai atau proses likuidasi atau pengalihan aset selesai.
Trigger juga membutuhkan basis penetapan yang masuk akal. Untuk fase pencegahan, organisasi dapat memakai safety factor berbasis judgement standard seperti rating rationale, APS, RKAP, covenant, dan data historis. Untuk recovery, organisasi mempertimbangkan covenant dan rambu hukum terkait kepailitan dan PKPU.
Fase penanganan: Pencegahan, Pemulihan, Perbaikan, Resolusi

Kerangka Contingency Plan membagi respons ke dalam fase agar organisasi tidak melompat-lompat tanpa urutan. Materi rencana darurat menggambarkan fase pencegahan, pemulihan, perbaikan, lalu resolusi
1) Fase Pencegahan
Tujuan fase ini menjaga indikator tetap berada pada level aman dan menahan eskalasi. Rencana di fase ini biasanya menekankan tindakan dini, kontrol biaya, kontrol risiko, dan penguatan monitoring.
2) Fase Pemulihan
Tujuan fase ini mengembalikan indikator ke ambang sehat dengan menjalankan recovery options yang sudah ditetapkan. Trigger memaksa manajemen mengeksekusi, bukan mendiskusikan ulang.
3) Fase Perbaikan
Tujuan fase ini menstabilkan kondisi saat tekanan makin besar dan recovery belum cukup. Organisasi biasanya menaikkan intensitas aksi, memperketat kontrol, dan menambah langkah struktural.
4) Fase Resolusi
Tujuan fase ini menyelamatkan nilai dan menutup risiko saat recovery gagal.
Kerangka ini menghindari dua kegagalan klasik: organisasi yang terlalu lama bertahan pada “mode normal”, atau organisasi yang terlalu cepat mengeksekusi tindakan ekstrem tanpa proses.
Indikator yang wajib dipantau: finansial dan operasional
Contingency Plan yang matang memadukan indikator finansial dan operasional. Pada praktik rencana darurat, indikator finansial dapat mencakup DER, CICR, CR, QR, ROE, ROA, Debt to EBITDA, EBITDA Margin, dan NPA, sedangkan indikator operasional dapat mencakup metrik sesuai konteks industri
Indikator finansial inti yang sering dipakai
Contoh indikator yang dipakai untuk menyusun indikator recovery plan mencakup:
- Permodalan: Debt to Equity Ratio dan Debt to Total Asset
- Likuiditas: Current Ratio dan Quick Ratio
- Rentabilitas: Gross Profit Margin, ROA, ROE
- Kualitas aset: Asset Utilization Ratio
Indikator-indikator ini disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan perusahaan
Contoh trigger bertingkat untuk likuiditas dan profitabilitas
Ilustrasi trigger sering menampilkan ambang bertingkat untuk mendorong aksi di fase pencegahan, pemulihan, dan perbaikan. Contoh yang muncul dalam materi menunjukkan Current Ratio <110 persen untuk pencegahan, <100 persen untuk pemulihan, dan <90 persen untuk perbaikan. . Prinsipnya yang penting: manajemen menetapkan angka yang membuat organisasi bergerak sebelum terlambat, bukan angka yang sekadar menggambarkan kerusakan setelah terjadi.
Indikator operasional: jangan biarkan keuangan bekerja sendirian
Krisis sering bermula dari sisi operasional. Karena itu, materi rencana darurat juga memasukkan indikator operasional sesuai sektor. Contoh kerangka menggunakan indikator seperti downtime layanan kritikal untuk skenario siber. Pesan besarnya: indikator operasional harus memicu aksi sama kuatnya dengan indikator keuangan.
Recovery Options: paket aksi yang siap jalan
Recovery options harus spesifik, bisa dieksekusi, dan memiliki logika sebab-akibat yang jelas terhadap indikator.
Contoh recovery options untuk aspek keuangan yang muncul pada materi:
- Permodalan: penundaan pembagian dividen, divestasi kepemilikan pada entitas terelasi, pengajuan tambahan setoran modal
- Likuiditas: intensifikasi penagihan piutang untuk meningkatkan arus kas masuk, pinjaman likuiditas jangka pendek untuk menjaga dana operasional, restrukturisasi utang
- Rentabilitas: diversifikasi sumber pendapatan, efisiensi biaya, joint operation atau revenue sharing, penjualan aset tetap yang kurang optimal untuk operasi utama
- Kualitas aset: percepatan penagihan piutang, negosiasi percepatan penagihan, penagihan melalui jalur hukum.
Daftar di atas menunjukkan bentuk yang benar: aksi berbasis pengungkit nyata, bukan jargon.
Resolution Actions: langkah drastis yang menyelamatkan nilai saat pemulihan gagal
Resolution action harus menjawab satu pertanyaan: bagaimana perusahaan menyelamatkan nilai yang tersisa dan melindungi stakeholder saat recovery tidak memadai.
Contoh aksi resolusi yang muncul dalam ilustrasi:
- Likuidasi aset, yaitu menjual aset tetap yang tidak esensial atau bernilai tinggi untuk meningkatkan likuiditas.
- Konversi utang menjadi ekuitas (debt-to-equity swap) untuk mengurangi beban utang dan meningkatkan ekuitas
Materi juga menekankan analisis hambatan dan cara mengatasinya sebagai bagian dari penajaman rencana, bukan catatan pinggir.
Stress Testing: cara memaksa rencana berbasis realitas, bukan optimisme
Contingency Plan yang tidak diuji hanya menjadi dokumen. Praktik penyusunan menempatkan stress testing sebagai deliverable utama, termasuk laporan hasil stress testing forward looking atas indikator action trigger yang digunakan dalam rancangan rencana darurat. Materi deliverables juga mencakup tools analisis stress testing berbasis Excel dan materi sosialisasi hasil stress testing.
Jenis skenario yang perlu diuji
Kerangka stress test biasanya membagi skenario menjadi:
- idiosyncratic, yaitu skenario spesifik perusahaan,
- market-wide shock, yaitu guncangan pasar luas,
- combined, yaitu gabungan keduanya.
Materi contoh juga menunjukkan pengelompokan skenario idiosyncratic dan market-wide
Prinsip penerapannya tetap sama untuk sektor apa pun: uji kondisi ekstrem yang memukul arus kas, biaya, akses pendanaan, atau kapasitas operasi.
Output stress testing yang berguna
- Output yang berguna bukan angka semata. Output yang berguna menghasilkan:
- kebutuhan eskalasi dan keputusan korporat yang harus siap.
- indikator mana yang paling cepat memicu trigger,
- opsi recovery mana yang paling cepat menahan eskalasi,
- hambatan yang paling mungkin muncul saat implementasi,
Governance dan struktur keputusan: siapa memutuskan, siapa mengeksekusi
Rencana darurat menuntut struktur keputusan yang tidak ambigu.
Persetujuan dan pengesahan
Rencana darurat memerlukan persetujuan Dewan Komisaris atau Dewan Pengawas dan pengesahan pemegang saham pengendali. Struktur ini mengunci legitimasi, sehingga manajemen tidak ragu menjalankan aksi yang terasa “tidak nyaman” saat trigger terpenuhi.
Pelaporan
Output pekerjaan rencana darurat menempatkan laporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris sebagai bagian dari deliverable. Pelaporan bukan formalitas; pelaporan menjaga disiplin eksekusi dan memastikan setiap fase berjalan sesuai rambu.
Strategi pengungkapan dan komunikasi: krisis memerlukan satu narasi
Krisis memunculkan dua risiko tambahan: rumor dan interpretasi liar. Karena itu, Contingency Plan memasukkan strategi pengungkapan rencana aksi kepada pihak internal dan eksternal. Kerangka kerja juga menekankan tata kelola fungsi penyediaan informasi, sistem informasi manajemen, dan kerangka komunikasi.
Prinsip implementasi komunikasi yang efektif:
- tetapkan sumber kebenaran tunggal,
- tetapkan jalur eskalasi pesan,
- sinkronkan pesan treasury, legal, komersial, dan korporat,
- hindari “pesan yang berubah tiap rapat”.
Integrasi dengan risk appetite, risk tolerance, dan risk limit
Contingency Plan tidak berdiri sendiri. Kerangka umum menempatkan risk limit, risk appetite, dan risk tolerance sebagai fondasi yang mengarahkan trigger level dan keputusan. Ini mencegah dua ekstrem: rencana yang terlalu agresif sehingga merusak bisnis, atau rencana yang terlalu lembek sehingga gagal menyelamatkan perusahaan.
Pada konteks grup usaha, materi juga menekankan alignment antara holding dan anak perusahaan pada risk appetite dan tolerance, integrasi recovery–resolution, serta prosedur eskalasi. Tanpa alignment, anak usaha bisa menunda eskalasi, lalu holding kehilangan waktu terbaik untuk bertindak.
Cara menyusun artikel kebijakan menjadi rencana yang siap eksekusi
Bagian ini memindahkan definisi ke praktik.
1) Tetapkan ruang lingkup dan tujuan
Rencana darurat harus menegaskan komitmen perusahaan untuk mengantisipasi krisis, dengan tujuan pencegahan, pemulihan, dan perbaikan kondisi demi menjaga keberlanjutan usaha. Tujuan ini harus muncul di ringkasan eksekutif agar pembaca tidak salah mengira dokumen sebagai “laporan risiko”.
2) Susun gambaran umum perusahaan yang relevan untuk krisis
Materi penyusunan menjabarkan bahwa gambaran umum memuat profil legalitas, visi misi, kepemilikan, struktur organisasi, aktivitas bisnis utama dan penunjang, rencana bisnis, strategi pengelolaan risiko, serta anak perusahaan. Ini bukan profil brosur; ini peta struktur yang menentukan jalur eskalasi, dukungan intra-group, dan titik rawan saat krisis.
3) Bangun taksonomi indikator dan trigger
Mulai dari indikator permodalan, likuiditas, rentabilitas, kualitas aset, lalu tambahkan indikator lain yang berpotensi menimbulkan masalah signifikan, baik kuantitatif maupun kualitatif. Setelah itu, tetapkan trigger pencegahan, pemulihan, perbaikan, dan resolusi.
4) Tuliskan daftar recovery options per skenario dan per fase
Jangan menulis recovery options sebagai daftar bebas. Kaitkan setiap opsi pada:
- indikator yang terdampak,
- fase yang mengaktifkan,
- PIC,
- hambatan,
- rencana mitigasi hambatan.
Materi bahkan menekankan penajaman analisis hambatan dan cara mengatasinya sebagai kewajiban yang makin rinci
5) Tuliskan resolution actions sebagai paket “nilai tersisa”
Gunakan resolution actions seperti likuidasi aset dan debt-to-equity swap bila konteks relevan. Tambahkan prasyarat, risiko reputasi, konsekuensi governance, dan kebutuhan persetujuan.
6) Jalankan stress testing dan kunci pembaruan berkala
Dokumen membutuhkan pembaruan dan harus menyertakan hasil pengujian atas indikator yang ditetapkan. Tanpa pembaruan, trigger menjadi usang, dan opsi aksi tidak lagi feasible.
Kesalahan fatal yang sering muncul pada Contingency Plan
- Trigger level kabur, sehingga organisasi berdebat saat krisis sudah berjalan.
- Recovery options tidak memiliki PIC, hambatan, dan rencana mitigasi hambatan. Materi menekankan kebutuhan analisis hambatan yang rinci
- Dokumen tidak memasukkan strategi pengungkapan internal-eksternal, padahal kerangka mewajibkan pengungkapan dan kerangka komunikasi
- Stress testing tidak dilakukan atau tidak forward looking, padahal deliverables mencakup laporan stress testing atas action trigger
- Governance tidak jelas, padahal rencana darurat memerlukan persetujuan pengawas dan pengesahan pemegang saham pengendali
Jangan tunggu sampai krisis datang! Mulailah menyusun Contingency Plan untuk memastikan keberlanjutan bisnis Anda di masa depan. Klik Di sini! atau Enterprise Risk Management.

Konsultan Contingency Plan BUMN di Indonesia diperlukan perusahaan/organisasi yang memiliki kebutuhan untuk mempertahankan keberlangsungan fungsi kritikal ketika terjadi bencana, agar perusahaan dapat tetap memenuhi tingkat minimum kewajiban legal-nya kepada para stakeholders.






