RWI Consulting – Krisis dalam organisasi, terutama dalam dunia usaha dan keuangan, bisa datang secara tiba-tiba—baik dalam bentuk gangguan operasional, tekanan keuangan, maupun kegagalan sistemik. Di sinilah peran Recovery Plan dan Resolution Plan menjadi sangat vital.
Baca: Pengertian dan Manfaat Contingency Plan untuk Perusahaan BUMN
Dalam konteks manajemen risiko modern, khususnya berdasarkan arahan Kementerian BUMN dan praktik terbaik yang berkembang, perusahaan-perusahaan kini dituntut untuk menyusun kedua rencana tersebut sebagai bagian dari kerangka Contingency Plan secara menyeluruh. Tapi, sebenarnya apa fungsi Recovery & Resolution Plan dalam penanganan krisis?
Booklet: Penyusunan & Implementasi Contingency Plan (CP) 2026
Pelajari panduan penyusunan dan pembaruan Contingency Plan sesuai Surat Kementerian BUMN Nomor S-468/MBU/09/2024 (APS RKAP BUMN Sistemik A, Sistemik B & Anak Perusahaan) bersama Deddy Jacobus dan tim Senior Partner RWI Consulting: 4 komponen utama CP, penetapan indikator pemicu (trigger level) permodalan & likuiditas, fungsi Recovery & Resolution Plan, hingga pelaksanaan Stress Testing.
Apa Itu Recovery Plan dan Resolution Plan?
Recovery Plan adalah strategi yang disusun untuk mengembalikan kondisi perusahaan ke posisi yang stabil dan sehat saat mulai mengalami tekanan serius, seperti menurunnya likuiditas atau meningkatnya utang secara signifikan.
Resolution Plan merupakan langkah yang disiapkan jika krisis semakin dalam dan tak bisa dihindari, sehingga dibutuhkan strategi penyelamatan yang lebih drastis seperti restrukturisasi, penjualan aset, atau intervensi lainnya.
Keduanya merupakan bagian dari Contingency Plan yang saling melengkapi dan harus dipersiapkan sejak dini.
Fungsi dan Manfaat Recovery & Resolution Plan

1. Menentukan Titik Pemicu Krisis (Trigger Level)
Rencana ini membantu organisasi mengidentifikasi titik-titik kritis yang menjadi indikator awal potensi krisis. Beberapa contoh indikator yang digunakan antara lain:
Baca: Contingency Plan Bisa Menjadi Solusi dari Berbagai Risiko Bisnis Ini
- Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio):
- Di atas 200%–250%: perlu evaluasi strategi pendanaan.
- Di atas 300%: sudah dianggap kritis dan butuh restrukturisasi.
- Rasio Lancar dan Rasio Cepat (Current & Quick Ratio):
- Di bawah 0,5: dianggap sangat kritis dan memerlukan perbaikan serius atau bahkan injeksi likuiditas.
Dengan indikator ini, organisasi tidak hanya tahu kapan harus bertindak, tapi juga seberapa besar urgensi tindakan tersebut.
2. Menyusun Rencana Bertahap (Preventif hingga Resolutif)
Melalui Recovery & Resolution Plan, organisasi memiliki peta jalan saat menghadapi tekanan. Ini mencakup:
- Fase Pencegahan: Melakukan revisi strategi keuangan dan operasional sebelum krisis muncul.
- Fase Pemulihan (Recovery): Menjalankan taktik penyelamatan untuk memulihkan stabilitas bisnis.
- Fase Perbaikan dan Resolusi: Menyusun langkah ekstrem apabila kondisi memburuk, termasuk upaya restrukturisasi atau penjualan aset.
3. Menjaga Kepercayaan Stakeholder
Salah satu fungsi utama dari rencana ini adalah menjaga kepercayaan investor, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan adanya Recovery & Resolution Plan yang kuat, organisasi menunjukkan bahwa mereka tidak hanya siap saat situasi normal, tetapi juga saat badai datang.
4. Menjadi Wajib bagi BUMN dan Anak Usahanya
Dalam gambar disebutkan bahwa rencana ini sudah menjadi bagian dari kebijakan Kementerian BUMN dan wajib disampaikan kepada Kementerian setiap tahun. Artinya, keberadaan dokumen ini bukan hanya untuk mitigasi risiko, tapi juga bagian dari akuntabilitas dan tata kelola yang baik (Good Corporate Governance).
Kesimpulan
Recovery dan Resolution Plan bukan hanya dokumen administratif, tetapi alat strategis yang membantu organisasi tetap tangguh di tengah krisis. Dengan indikator yang jelas, pemetaan tahapan krisis, dan tindakan terstruktur, perusahaan bisa menavigasi situasi sulit dengan lebih tenang dan terarah.
Deddy Jacobus, Drs., MBA, CIR, CCSA, ERMCP, CRMA, QCRO, LA BCMS, CRP, CEIP
Senior Partner & Lead Business Resilience & Contingency Advisor — RWI Consulting
Deddy Jacobus adalah praktisi dan konsultan senior manajemen risiko, keberlangsungan bisnis (Business Continuity Management), dan tata kelola krisis dengan pengalaman lebih dari 20 tahun mendampingi BUMN Sistemik A, BUMN Sistemik B, Anak Perusahaan BUMN, dan korporasi nasional dalam penyusunan Contingency Plan (sesuai PER-2/MBU/03/2023 & Surat Kementerian BUMN No. S-468/MBU/09/2024), Stress Testing, Recovery & Resolution Plan, serta implementasi ISO 22301 BCMS.
Kredensial & Sertifikasi Profesional:
- LA BCMS (Lead Auditor ISO 22301 Business Continuity Management System) — keahlian utama dalam audit dan arsitektur ketahanan operasional serta rencana kontinjensi.
- ERMCP (Enterprise Risk Management Certified Professional) & CIR (International Certificate in Risk Management).
- CRMA (Certified in Risk Management Assurance) & CCSA (Certification in Control Self-Assessment) — The Institute of Internal Auditors (IIA).
- QCRO (Qualified Chief Risk Officer), CRP (Certified Risk Professional), & CEIP (Certified ESG & Investing Professional).
Rekam Jejak Pendampingan Contingency Plan & Ketahanan Bisnis:
Bersama rekan Senior Partner Eko Budi Utomo, SE, MM, CRP, CSP, CEIP, Carbon Trading Cert., CRME, CBCMP, beliau memimpin layanan konsultasi & pendampingan penyusunan Contingency Plan, pengembangan kebijakan & prosedur, penetapan indikator pemicu (trigger level) permodalan dan likuiditas, pelaksanaan Stress Testing, pelatihan & simulasi tanggap darurat, hingga kajian independen untuk perbaikan Contingency Plan di berbagai grup BUMN dan korporasi strategis.
Pelajari Rangkaian Lengkap Penyusunan & Implementasi Contingency Plan
- Pilar Utama: Contingency Plan Adalah: Definisi, Komponen, Trigger, Stress Testing, Recovery & Resolution Plan
- 4 Komponen Utama Contingency Plan Perusahaan
- Memantau dan Mengendalikan Trigger Level dalam Contingency Plan Perusahaan
- Evaluasi Efektivitas Contingency Plan Setelah Krisis: Metode, KPI, dan Pembaruan
- Contingency Plan Risiko Likuiditas Perusahaan: Trigger, Aksi Pemulihan, dan Tata Kelola
- Layanan Pendampingan: Jasa Konsultan Penyusunan Contingency Plan, Stress Testing & Simulasi Krisis RWI Consulting
Booklet: Penyusunan & Implementasi Contingency Plan (CP) 2026
Pelajari panduan penyusunan dan pembaruan Contingency Plan sesuai Surat Kementerian BUMN Nomor S-468/MBU/09/2024 (APS RKAP BUMN Sistemik A, Sistemik B & Anak Perusahaan) bersama Deddy Jacobus dan tim Senior Partner RWI Consulting: 4 komponen utama CP, penetapan indikator pemicu (trigger level) permodalan & likuiditas, fungsi Recovery & Resolution Plan, hingga pelaksanaan Stress Testing.
Siapkan Contingency Plan yang Teruji Bersama RWI Consulting
Diskusikan pemetaan skenario krisis, penetapan trigger level & stress testing, penyusunan Recovery & Resolution Plan, hingga kajian independen sesuai Surat Kementerian BUMN No. S-468/MBU/09/2024 bersama Deddy Jacobus dan tim konsultan Contingency Plan RWI Consulting.




