10 Tren Global Manajemen Risiko & Kepatuhan 2026

10 Tren Global Manajemen Risiko & Kepatuhan 2026
RB 29 Desember 2025
Rate this post

RWI Consulting – Tren manajemen risiko 2026 bergerak ke arah yang lebih “real-time”: GRC makin bergantung pada AI, monitoring berkelanjutan, kualitas data, dan ketahanan operasional, sambil menghadapi lonjakan fraud, cybercrime, sanksi, serta tuntutan ESG dan integritas rantai pasok. Banyak ringkasan tren 2026 dari lembaga dan penyedia GRC menempatkan AI, supply chain integrity, tekanan regulasi, dan perubahan peran tim compliance sebagai tema besar.

Di bawah ini 10 tren yang paling sering muncul lintas laporan 2026. Anggap ini “peta cuaca”. Anda tetap perlu menyesuaikan dengan industri, profil risiko, dan regulasi yang berlaku di organisasi Anda.

Tren 1: Agentic AI masuk ke workflow GRC, tapi governance tetap memegang rem tangan

GRC mulai memakai AI yang tidak hanya menganalisis, tetapi juga merencanakan dan mengeksekusi tugas tertentu, seperti monitoring risiko berkelanjutan, alert prediktif, dan dukungan keputusan. Di saat yang sama, organisasi menuntut guardrails yang jelas melalui dashboard yang menjelaskan keputusan AI, termasuk kepatuhan pada regulasi AI yang berkembang.

Implikasinya sederhana: tim GRC akan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pekerjaan “menjawab pertanyaan kebijakan yang berulang” dan lebih banyak waktu untuk menguji kualitas kebijakan, kualitas data, dan kualitas kontrol.

Tren 2: Kualitas data menjadi pembeda utama, karena AI memperbesar kesalahan data

Begitu AI masuk ke proses GRC, data buruk langsung menghasilkan insight buruk. Laporan tren 2026 menekankan masalah klasik: data risiko tersebar di silo ERM, compliance, dan audit, lalu merusak kepercayaan pada analitik. Karena itu, banyak organisasi mulai memprioritaskan arsitektur data yang lebih rapi, termasuk jejak lineage dan tata kelola metadata agar tim bisa mengaudit keputusan.

Di level praktis, “data governance” berhenti jadi proyek IT. Ia berubah menjadi pondasi GRC.

Tren 3: Continuous monitoring menggantikan ritme tahunan, karena risiko bergerak dalam hitungan jam

Banyak tren 2026 menyorot pergeseran dari proses berkala ke pemantauan berkelanjutan, khususnya untuk risiko digital, fraud, dan pihak ketiga. AI agents bahkan diproyeksikan membantu monitoring berkelanjutan dan alert prediktif.

Kalau organisasi Anda ingin menutup gap ini, Anda bisa menata kombinasi KRI dan trigger peringatan dini. Contoh konsep implementasinya terlihat pada pendekatan Risk Early Warning System yang memantau parameter dari KRI dan memberi peringatan dini saat risiko berpotensi muncul.

Tren 4: Fraud dan scam naik kelas, karena “alat” kriminal ikut berkembang

Konsultan-ESG-Assesment
Klik di sini.

Kekhawatiran global 2026 menempatkan fraud, scam, dan financial crime sebagai perhatian besar. Teknologi membantu tim compliance, tetapi teknologi juga memperkuat pelaku kriminal, termasuk lewat AI dan aset kripto.

Tren ini mendorong dua respons: organisasi memperkuat kontrol preventif, dan organisasi mempercepat deteksi serta respons insiden. Banyak perusahaan mulai menilai keberhasilan AI bukan dari efisiensi, tetapi dari “kepercayaan” yang tercipta karena pencegahan scam dan fraud.

Tren 5: Cybercrime makin terorganisir, cyber jadi isu kepatuhan, bukan hanya isu IT

Daftar kekhawatiran compliance global 2026 memasukkan “professionalization of cybercrime” dan data privacy sebagai isu besar, yang berarti tim compliance dan legal ikut memegang peran kunci, bukan hanya tim keamanan informasi.

Di level risiko makro, WEF juga menempatkan cyber-espionage dan warfare sebagai salah satu risiko jangka pendek yang menonjol, jadi organisasi perlu melihat cyber sebagai risiko bisnis dan risiko tata kelola sekaligus.

Tren 6: Third-party risk dan integritas supply chain makin “dipaksa” oleh publik dan regulator

Rantai pasok berubah menjadi area audit moral dan area audit kepatuhan. Tren 2026 menyebut supply chain ethics dan integrity sebagai faktor yang makin penting, dan kekhawatiran compliance 2026 juga menempatkan integritas pihak ketiga serta supply chain sebagai topik utama.

Risiko ini jarang selesai lewat klausul kontrak saja. Anda perlu due diligence yang konsisten, pemantauan vendor yang lebih sering, serta mekanisme eskalasi saat indikator mulai menyimpang.

Tren 7: Sanksi, tarif, dan geopolitik memaksa compliance bergerak lebih cepat

Kekhawatiran compliance 2026 memasukkan sanksi dan tarif, juga perubahan regulasi yang makin cepat. Di sisi audit dan risk environment, laporan “Risk in Focus 2026” juga menautkan risiko regulatory change dengan geopolitical uncertainty di banyak wilayah.

Maknanya: organisasi perlu “radar regulasi” yang aktif. Tim GRC harus cepat menerjemahkan perubahan menjadi kontrol, SOP, dan bukti kerja.

Tren 8: ESG compliance bergeser dari narasi ke kontrol, assurance, dan bukti

Banyak organisasi sudah melewati fase “kita peduli ESG”. Tren 2026 membawa ESG ke ranah kepatuhan: apa yang Anda klaim harus punya data, proses, dan kontrol. Daftar kekhawatiran global 2026 memasukkan ESG compliance sebagai isu tersendiri, bukan sekadar topik komunikasi.

Tren 8: ESG compliance bergeser dari narasi ke kontrol, assurance, dan bukti

Banyak organisasi sudah melewati fase “kita peduli ESG”. Tren 2026 membawa ESG ke ranah kepatuhan: apa yang Anda klaim harus punya data, proses, dan kontrol. Daftar kekhawatiran global 2026 memasukkan ESG compliance sebagai isu tersendiri, bukan sekadar topik komunikasi

Tren 9: Operational resilience naik panggung, BCM melebar melampaui “rencana darurat”

Laporan tren 2026 menekankan risiko yang saling terhubung, dan banyak ringkasan 2026 menyorot cyberattacks, AI risk, dan supply chain shocks sebagai penggerak kebutuhan resilience.

Laporan internal audit global juga menempatkan business resilience sebagai area yang menonjol, dengan variasi prioritas antar wilayah. Realitanya terasa makin jelas saat organisasi menghadapi cuaca ekstrem dan disrupsi fisik yang berulang.

Tren 10: Budaya, human capital, dan kompetensi GRC kembali jadi titik rawan

Tren 2026 tidak hanya bicara teknologi. Ada sinyal stres di tenaga kerja dan tantangan strategi berbasis risiko, yang membuat budaya etika dan kemampuan tim menjadi faktor penentu.

Baca juga:

  1. Memahami Organ Pengelolaan Risiko
  2. Implementasi ESG Indonesia
  3. Figur Publik bagi Perusahaan: Antara Laba dan Malapetaka
  4. Contoh Risiko ESG di Perusahaan
  5. Efektivitas Kontrol

Dalam “Risk in Focus 2026”, human capital tetap muncul sebagai risiko yang relevan di banyak wilayah, termasuk isu keterampilan dan ketersediaan tenaga kerja dengan skill yang organisasi butuhkan. Karena itu, banyak organisasi mulai menguatkan kompetensi GRC lewat pelatihan dan sertifikasi peran. Salah satu contoh jalur kompetensi yang relevan ada pada program Certified Governance Risk Compliance Specialist.

Bagaimana menerjemahkan 10 tren ini menjadi langkah kerja 2026

Kalau Anda hanya mengambil satu benang merah, ambil ini: GRC 2026 menang hadiah lewat kecepatan dan keterlacakan. Anda perlu proses yang cepat mendeteksi deviasi, cepat mendorong tindakan, dan tetap meninggalkan audit trail.

Di sisi tooling, banyak organisasi mulai menata platform risiko yang selaras dengan proses ISO 31000 agar workflow risk assessment, treatment, monitoring, dan reporting berjalan konsisten. Kalau Anda sedang mengevaluasi perangkatnya, Anda bisa memakai checklist fitur wajib pada software manajemen risiko ISO 31000 sebagai alat uji vendor, supaya klaim “sesuai ISO” tidak berhenti sebagai slogan.

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top