Jurnal Enterprise Risk Management (ERM): Peta Riset dan Temuan Kunci

Jurnal Enterprise Risk Management (ERM): Peta Riset dan Temuan Kunci
RB 26 Januari 2026
Rate this post

RWI Consulting – Jurnal Enterprise Risk Management (ERM) memberi landasan paling kuat untuk memahami dua hal: apakah ERM benar-benar meningkatkan nilai/kinerja perusahaan, dan faktor apa yang membuat ERM efektif atau sekadar “label tata kelola”.

Riset inti menunjukkan banyak studi menemukan asosiasi positif ERM dengan nilai atau kinerja, namun riset juga menyorot masalah klasik: definisi ERM yang berbeda-beda, cara ukur yang lemah, dan bias sebab-akibat (perusahaan yang sudah bagus lebih mudah mengadopsi ERM). Kerangka baca yang tepat memisahkan “hasil positif yang kredibel” dari “hasil positif yang rapuh”.

Di bawah ini adalah sajian jurnal/paper inti dan cara memakainya untuk praktik perusahaan (strategi, KPI/KRI, dan review kinerja) tanpa mengandalkan slogan.

Jurnal Enterprise Risk Management (ERM): Peta Riset dan Temuan Kunci

manfaat-manajemen-risiko
manfaat-manajemen-risiko

1) Paper inti yang paling sering jadi rujukan ERM

1.1 Literature review yang memetakan masalah besar ERM (wajib baca)

Bromiley, McShane, Nair, Rustambekov (2015) di Long Range Planning menyusun review, kritik, dan arah riset ERM. Paper ini penting karena menegaskan ERM menuntut pengelolaan risiko terintegrasi di seluruh organisasi, dan menyelaraskan manajemen risiko dengan tata kelola dan strategi; pada saat yang sama, paper ini menyorot riset akademik ERM masih berkembang dan sering terseret masalah pengukuran.

Cara pakai di praktik:

  • Jadikan paper ini “filter kualitas” saat membaca studi ERM lain: cek bagaimana penulis mendefinisikan ERM dan mengukurnya.
  • Hindari mengambil kesimpulan “ERM pasti menaikkan nilai” hanya karena satu studi; lihat konsistensi bukti dan metodologinya.

1.2 Studi nilai perusahaan (firm value) yang sering dikutip

Hoyt & Liebenberg (2011) di Journal of Risk and Insurance menguji ERM pada perusahaan asuransi AS, memodelkan determinan ERM sekaligus efek ERM ke nilai perusahaan (Tobin’s Q). Abstrak paper ini menyatakan hubungan positif antara nilai perusahaan dan penggunaan ERM, dengan “ERM premium” sekitar 20% yang signifikan secara statistik dan ekonomi.

Cara pakai di praktik:

  • Gunakan temuan ini sebagai bukti bahwa ERM berpotensi menciptakan nilai, terutama saat organisasi mengaitkan ERM ke keputusan strategis dan struktur tata kelola.
  • Jangan menyalin angka “20%” ke konteks industri lain tanpa pembuktian internal; studi ini fokus sektor asuransi AS.

1.3 Studi kinerja (firm performance) yang mengukur “tingkat implementasi ERM”, bukan sekadar ada/tidak

Florio & Leoni (2017) di The British Accounting Review meneliti perusahaan publik Italia dan menguji hubungan antara tingkat implementasi ERM dan kinerja. Abstraknya menekankan perusahaan dengan level implementasi ERM yang lebih maju menunjukkan kinerja lebih tinggi (kinerja finansial dan evaluasi pasar), dan uji tambahan mendukung ekspektasi bahwa ERM efektif meningkatkan kinerja dengan menurunkan eksposur risiko; paper ini juga menyatakan tidak menemukan reverse causality dalam jangka pendek.

Cara pakai di praktik:

  • Ukur ERM sebagai “kecanggihan sistem” (fitur dan disiplin), bukan sekadar keberadaan dokumen.
  • Tuntut bukti: indikator risiko (KRI), mekanisme eskalasi, serta review dan tindak lanjut yang mengubah keputusan.

2) Kanal jurnal yang sering memuat riset ERM

Daripada mencari acak, mulai dari “kolam riset” yang benar.

2.1 Special issue ERM (pintu masuk cepat)

Journal of Risk and Financial Management (JRFM) memiliki special issue “Enterprise Risk Management”. Halaman special issue ini merangkum fokus riset ERM (determinants, firm performance, governance, CRO, big data) dan mencantumkan paper review seperti Anton & Afloarei Nucu (2020) “Enterprise Risk Management: A Literature Review and Agenda for Future Research”.

Cara pakai di praktik:

  • Gunakan daftar paper di special issue untuk membangun “bibliografi inti” tanpa kehilangan konteks.
  • Fokus pada paper yang menguji governance (komite risiko/CRO), kualitas implementasi, dan outcome.

3) Bukti empiris di Indonesia (konteks lokal) dan cara membacanya

Riset Indonesia sering memakai data BEI/IDX dan proksi ERM berbasis COSO/disclosure. Nilainya besar untuk konteks lokal, namun tetap perlu kontrol kualitas metodologi.

3.1 ERM dan nilai perusahaan (BEI)

Artikel “Enterprise Risk Management (ERM) and Corporate Value in Indonesia” di Jurnal Ekonomi KIAT meneliti perusahaan manufaktur BEI (2019–2020), memakai Tobin’s Q sebagai proksi firm value, dan menempatkan variabel kontrol seperti firm size, ROA, dan managerial ownership.

3.2 ERM dan nilai perusahaan (manufaktur, kontrol tambahan)

Artikel Assets: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi meneliti pengaruh ERM terhadap corporate value pada perusahaan manufaktur (data 2016–2020), dengan kontrol firm size, leverage, dan age.

3.3 ERM, CSR, dan kinerja (panel manufaktur BEI)

Paper di Goodwood Akuntansi dan Auditing Reviu (2019–2023) menyatakan ERM berdampak positif dan signifikan pada ROA dan Tobin’s Q, dengan CSR sebagai variabel mediasi; paper ini menyebut pengukuran ERM berbasis enam kriteria yang diadaptasi dari Florio & Leoni (2017).

3.4 ERM dan firm value pada LQ45

Paper Al-Kharaj: Journal of Islamic Economic and Business meneliti LQ45 periode 2020–2023, menyatakan ERM berpengaruh positif pada firm value, dan profitability serta capital structure memperkuat hubungan tersebut (moderasi).

Cara membaca bukti Indonesia tanpa tertipu:

  • Cek proksi ERM: disclosure checklist sering tidak menangkap kualitas eksekusi.
  • Cek risiko endogeneity: perusahaan “lebih baik” sering lebih mudah menerapkan ERM; hasil positif bisa muncul karena seleksi, bukan karena ERM.
  • Bandingkan dengan temuan review/kritik ERM agar interpretasi tetap waras.

4) Dari jurnal ke praktik: “paket minimum” ERM yang bisa diuji kinerjanya

Riset yang lebih kuat cenderung menilai ERM sebagai sistem, bukan sebagai dokumen. Sistem itu butuh indikator, ritme, dan bukti keputusan.

4.1 KPI vs KRI: hasil vs peringatan dini

KPI mengukur hasil (lagging). KRI memberi sinyal sebelum kegagalan (leading). Praktik manajemen risiko operasional sering mengikat KRI dengan ambang batas hijau–kuning–merah dan memicu tindakan cepat.

Indonesia Re menjelaskan tiga pilar risiko operasional: RCSA, LED, dan KRI. Artikel tersebut menggambarkan KRI sebagai alat pemantau berkelanjutan yang mendeteksi perubahan indikasi peningkatan risiko dan memberi peringatan dini; artikel itu juga mencontohkan KRI dengan ambang (misal hijau <2 jam downtime, kuning 2–4 jam, merah >4 jam) dan dashboard sebagai pemicu tindakan.

Praktik yang selaras dengan riset:

  • Tetapkan KRI yang relevan untuk risiko strategis/operasional.
  • Pasang threshold yang memicu eskalasi, bukan sekadar laporan.
  • Catat tindakan korektif dan bukti penutupan.

4.2 Ukur “tingkat implementasi ERM”, bukan sekadar “ada ERM”

Florio & Leoni menangkap “variety of features” untuk mengukur sophistication ERM. Itu memberi sinyal tegas: kualitas implementasi memengaruhi hasil.

Konversi ke checklist internal yang bisa diaudit:

  • Organisasi menetapkan risk appetite dan memakai batas itu saat memilih strategi/target.
  • Organisasi memelihara peta risiko strategis dan menugaskan risk owner yang nyata.
  • Organisasi memakai KRI dan review berkala yang menghasilkan keputusan korektif.
  • Organisasi menilai dampak ERM pada eksposur risiko, bukan hanya kepatuhan dokumen.

Jika Anda butuh contoh implementasi yang berorientasi dashboard dan artefak kerja, lihat pendekatan berbasis risk dashboard dan profiling pada halaman layanan berikut: Konsultan Risk Dashboard dan Konsultan Risk Assesment Profiling.

5) Kerangka evaluasi kualitas bukti riset ERM (praktis untuk keputusan manajemen)

Gunakan kerangka ini saat Anda membaca jurnal ERM dan ingin menurunkannya ke kebijakan internal.

5.1 Pertanyaan 1: Apa definisi ERM di paper itu?

Bromiley dkk menekankan ERM sebagai pengelolaan risiko terintegrasi yang menuntut penyelarasan dengan governance dan strategi. Jika paper menyamakan ERM dengan “pengungkapan risiko di laporan tahunan”, kualitas kesimpulan biasanya turun.

5.2 Pertanyaan 2: Bagaimana penulis mengukur ERM?

  • Proxy “CRO/komite risiko ada” memberi sinyal struktur, namun tidak selalu menangkap eksekusi.
  • Proxy “disclosure checklist” menangkap dokumentasi, namun sering kehilangan realitas keputusan.
  • Pengukuran “sophistication/features” (seperti pendekatan Florio & Leoni) cenderung lebih dekat ke praktik.

5.3 Pertanyaan 3: Apakah paper mengatasi bias sebab-akibat?

Hoyt & Liebenberg memodelkan determinan ERM sekaligus efek pada firm value, yang membantu mengurangi bias seleksi di konteks penelitian tersebut. Namun pembaca tetap perlu mengakui konteks industri dan pasar.

6) Rekomendasi susunan “bibliografi minimum” untuk ERM yang serius

Susun bahan bacaan internal dalam tiga lapis:

  1. Fondasi konseptual dan kritik: Bromiley dkk (2015) untuk definisi dan jebakan riset ERM.
  2. Bukti nilai/kinerja: Hoyt & Liebenberg (2011) untuk firm value; Florio & Leoni (2017) untuk performa dan sophistication.
  3. Konteks lokal: studi BEI (KIAT; Assets; Goodwood; Al-Kharaj) untuk melihat pola di Indonesia, lalu bandingkan hasilnya dengan kritik metodologi di review.

Kesimpulan

Jurnal ERM menunjukkan potensi nyata: studi klasik menemukan asosiasi positif ERM dengan nilai perusahaan (Tobin’s Q) pada konteks tertentu, dan studi lain mengaitkan tingkat implementasi ERM yang lebih maju dengan kinerja yang lebih tinggi.

Namun riset juga mengingatkan risiko interpretasi: definisi ERM sering berbeda, proksi pengukuran sering lemah, dan bias sebab-akibat sering mengganggu kesimpulan.

Praktik terbaik menuntut ERM sebagai sistem keputusan: risk appetite yang operasional, peta risiko strategis yang ringkas, pasangan KPI–KRI dengan threshold, serta review berkala yang menghasilkan tindakan korektif berbasis bukti.

Baca juga:

About RWI
RWI Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen risiko yang berdiri sejak tahun 2005. Selama belasan tahun ini, kami telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada ratusan klien dari berbagai sektor industri baik BUMN maupun swasta untuk memberikan solusi yang tepat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan.
Top