Risk Appetite untuk Risiko Model: BUMN Sering Punya Model, Tapi Belum Punya Batas Gagalnya

RWI Consulting – Banyak perusahaan sudah punya risk appetite bisnis. Mereka menetapkan batas untuk likuiditas, profit, proyek, kredit, atau operasional. Tetapi banyak perusahaan belum menetapkan risk appetite khusus untuk risiko model.
Risk Appetite untuk Risiko Model (Model Risk Appetite)

Padahal perusahaan sudah memakai model untuk:
- stress testing,
- proyeksi cash flow,
- risk modelling,
- limit,
- KRI,
- early warning.
Kalau model gagal, keputusan juga ikut gagal.
Karena itu, perusahaan perlu menulis model risk appetite. Tujuannya sederhana: perusahaan menentukan seberapa besar kegagalan model yang masih bisa ditoleransi, lalu menetapkan trigger dan tindakan sebelum model merusak keputusan.
Dalam konteks BUMN, materi internal risk modelling juga sudah menekankan evaluasi akurasi model dan validitas data oleh fungsi manajemen risiko (PER-2) serta kebutuhan konsistensi proses/agregasi risiko (SK-6).
Apa beda risk appetite bisnis vs model risk appetite
Risk appetite bisnis
Fokus pada hasil bisnis dan risiko utama, misalnya:
- kerugian maksimum
- batas likuiditas
- batas leverage
- batas keterlambatan proyek
- batas NPL / kualitas aset
Model risk appetite
Fokus pada kualitas alat hitung dan alat keputusan, misalnya:
- berapa banyak model material yang boleh belum tervalidasi
- seberapa besar deviasi output model vs realisasi yang masih diterima
- berapa lama model error boleh belum diperbaiki
- berapa banyak override yang masih wajar
- berapa banyak perubahan model yang boleh terjadi tanpa validasi ulang (jawabannya idealnya: nol untuk model material)
Intinya:
risk appetite bisnis mengukur risiko hasil, sedangkan model risk appetite mengukur risiko dari alat yang menghasilkan angka hasil.
Kenapa perusahaan perlu model risk appetite
Tanpa model risk appetite, perusahaan biasanya jatuh ke tiga masalah:
1) Tim menilai model secara reaktif
Tim baru bergerak setelah angka meleset jauh.
2) Manajemen tidak punya batas yang jelas
Komite melihat temuan validasi, tetapi tidak tahu apakah temuan itu sudah melewati ambang serius.
3) Semua model diperlakukan sama
Padahal model material dan model bantu analisis tidak butuh kontrol yang sama.
Model risk appetite menyelesaikan ini dengan cara yang sangat praktis:
- menetapkan ambang,
- menetapkan indikator,
- menetapkan trigger,
- menetapkan respons.
Prinsip dasar saat menetapkan model risk appetite
Gunakan prinsip ini supaya dokumen tidak berhenti sebagai teori.
1) Pisahkan model material dan non-material
Jangan pakai satu selera risiko untuk semua model.
Model material biasanya memengaruhi:
- risk limit
- stress testing
- proyeksi keuangan
- contingency / recovery trigger
- pelaporan Direksi/Komisaris
Model seperti ini butuh appetite lebih ketat.
2) Fokus pada “failure mode” model
Jangan menulis appetite terlalu umum seperti “perusahaan memiliki toleransi rendah terhadap risiko model”. Kalimat itu rapi, tetapi tidak bisa dipakai.
Tulis berdasarkan mode kegagalan model:
- kegagalan desain model
- kegagalan data
- kegagalan implementasi
- kegagalan penggunaan
- kegagalan governance (validasi terlambat, review terlambat, change log tidak ada)
3) Gabungkan pernyataan kualitatif + angka
Perusahaan butuh dua lapis:
- pernyataan sikap (tone at the top)
- metrik kuantitatif (ambang kerja harian)
Tanpa angka, tim bingung.
Tanpa pernyataan sikap, komite sulit menjaga arah.
Cara menyusun model risk appetite (versi sederhana)
1) Mulai dari inventaris model
Sebelum menetapkan appetite, perusahaan perlu tahu model apa saja yang aktif:
- nama model
- tujuan penggunaan
- owner
- validator
- user utama
- tingkat materialitas
Tanpa daftar model, perusahaan tidak bisa menetapkan appetite yang relevan.
2) Pilih area risiko model yang paling penting
Untuk model risk appetite, area yang paling umum adalah:
A. Risiko validasi
Contoh fokus:
- model material belum validasi awal
- re-validasi lewat jatuh tempo
- validasi tidak independen
B. Risiko performa model
Contoh fokus:
- deviasi forecast vs realisasi
- penurunan akurasi
- output model tidak stabil
C. Risiko data model
Contoh fokus:
- data tidak lengkap
- data tidak valid
- data source berubah tanpa persetujuan
D. Risiko perubahan model
Contoh fokus:
- perubahan formula tanpa approval
- perubahan parameter tanpa dokumentasi
- versi model tidak terkendali
E. Risiko penggunaan model
Contoh fokus:
- override berlebihan
- user memakai model di luar tujuan
- user salah baca output
3) Tulis pernyataan risk appetite khusus risiko model
Gunakan bahasa sederhana dan tegas.
Contoh pernyataan:
- Perusahaan memiliki selera risiko rendah terhadap penggunaan model material tanpa validasi independen.
- Perusahaan memiliki selera risiko sangat rendah terhadap perubahan model material tanpa persetujuan dan pencatatan versi.
- Perusahaan memiliki selera risiko moderat terhadap deviasi performa model dalam rentang yang masih terkendali dan dapat dikalibrasi cepat.
- Perusahaan memiliki selera risiko rendah terhadap override output model yang berulang tanpa dasar analisis.
Kalimat seperti ini membantu Direksi/Komite membaca sikap risiko secara cepat.
4) Turunkan ke model risk tolerance dan model risk limit
Setelah menulis appetite, perusahaan perlu menurunkan ke angka.
Contoh metrik model risk appetite (praktis)
Pilih beberapa metrik dulu. Jangan terlalu banyak.
Governance & validation
- % model material yang belum validasi independen
- % model material yang lewat jadwal re-validasi
- jumlah temuan validasi kritikal yang belum ditutup
Performance
- deviasi output model vs realisasi (per model material)
- jumlah model material yang performanya turun di bawah threshold
- frekuensi recalibration karena performa turun
Data quality
- % data input kritikal yang gagal quality check
- jumlah incident data yang memengaruhi output model
- waktu pemulihan data issue
Change control
- jumlah perubahan model tanpa approval
- jumlah versi model aktif yang tidak terdaftar
- % perubahan mayor yang belum validasi ulang
Use & override
- % override pada model material
- jumlah override tanpa justifikasi
- jumlah keputusan yang memakai model di luar scope penggunaannya
Contoh struktur ambang (traffic light) untuk risiko model
Ini format yang paling mudah dipakai tim dan komite.
Hijau (normal)
Model berjalan sesuai batas.
- validasi on-time
- performa dalam threshold
- data issue minor
- override wajar
Kuning (warning)
Ada sinyal penurunan, tetapi tim masih bisa menahan risiko.
- deviasi performa naik
- re-validasi mendekati jatuh tempo
- override meningkat
- data issue mulai berulang
Tindakan:
- review owner + developer + validator
- analisis akar masalah
- kalibrasi / perbaikan data
- pembatasan penggunaan tertentu jika perlu
Merah (breach)
Risiko model melewati limit.
- model material tanpa validasi
- deviasi output melewati batas
- perubahan model tanpa approval
- data issue kritikal merusak output
- override tinggi dan berulang
Tindakan:
- eskalasi ke komite model / komite risiko
- batasi / hentikan penggunaan model
- gunakan fallback method / manual control
- wajib re-validasi / redesign
- laporkan dampak ke keputusan yang terdampak
Ini cara paling efektif untuk mengubah risk appetite menjadi tindakan nyata.
Metrik model risk appetite yang cocok untuk BUMN (versi awal)
Untuk BUMN atau grup usaha, mulai dari metrik yang mudah dikumpulkan dulu. Gunakan paket minimum ini:
Paket minimum (8 metrik)
- % model material dengan owner resmi
- % model material dengan validasi independen aktif
- % model material lewat due date re-validasi
- Jumlah temuan validasi kritikal yang belum selesai
- % perubahan model material tanpa change approval
- % override pada model material
- % data input kritikal gagal quality check
- Jumlah incident model yang berdampak pada keputusan/laporan
Paket ini sudah cukup kuat untuk mulai membangun dashboard model-risk.
Hubungan model risk appetite dengan risk appetite bisnis
Jangan pisahkan total. Hubungkan, tetapi jangan campur.
Cara hubungannya
- Risk appetite bisnis menetapkan target hasil (mis. likuiditas, profit, limit risiko)
- Model risk appetite menjaga kualitas model yang dipakai untuk menghitung/monitor target hasil itu
Contoh:
- Perusahaan memakai stress testing untuk menilai ketahanan cash flow
- Perusahaan menetapkan risk appetite likuiditas
- Perusahaan juga menetapkan model risk appetite untuk model stress testing:
- validasi wajib,
- data quality minimum,
- threshold deviasi,
- jadwal review,
- trigger pembatasan penggunaan model
Jadi, model risk appetite berfungsi sebagai lapisan pengaman kualitas keputusan.
Governance yang perlu mendukung model risk appetite
Supaya tidak berhenti di dokumen, perusahaan perlu menetapkan siapa melakukan apa.
Direksi / Komite Risiko
- menyetujui model risk appetite untuk model material
- meninjau breach material
- menyetujui tindakan besar (freeze model, redesign, fallback)
Unit Manajemen Risiko
- mengelola kerangka model-risk
- memantau indikator model risk appetite
- menyiapkan pelaporan ke komite
- mengeskalasi breach
Model Owner
- menjaga model tetap relevan
- menindaklanjuti temuan dan deviasi
- mengusulkan kalibrasi/perubahan
Validator independen
- menilai performa, data, metodologi
- memberi status kelayakan model
- memberi rekomendasi tindakan
User
- mencatat override dan anomali
- memakai model sesuai scope
- melaporkan masalah penggunaan
Kesalahan paling sering saat menyusun model risk appetite
Baca juga:
1) Menyalin risk appetite bisnis lalu mengganti judul
Hasilnya terlalu umum dan tidak mengatur failure model.
2) Menulis sikap tanpa metrik
Tim tidak bisa memantau dan komite tidak bisa menilai breach.
3) Menetapkan metrik terlalu banyak
Dashboard penuh, tindakan kosong.
4) Tidak membedakan model material vs non-material
Kontrol jadi terlalu berat atau terlalu longgar.
5) Tidak menyiapkan trigger dan respons
Risk appetite hanya menjadi “angka pajangan”.
Kesimpulan
Model risk appetite membantu perusahaan menetapkan batas risiko khusus untuk kegagalan model, bukan hanya untuk risiko bisnis. Perusahaan perlu menetapkan batas itu pada area validasi, performa model, kualitas data, kontrol perubahan, dan penggunaan model.
Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa:
- mendeteksi masalah model lebih cepat,
- mengeskalasi breach dengan jelas,
- menjaga kualitas keputusan,
- dan menyambungkan governance model ke kerangka manajemen risiko yang lebih luas di BUMN.





