Risk Management Information System (RMIS)

Photo by Tiger Lily on Pexels
Risk Management Information System atau RMIS adalah sistem informasi yang digunakan untuk membantu perusahaan mengelola data, proses, monitoring, dan pelaporan risiko secara terintegrasi.
RMIS menghubungkan proses manajemen risiko dengan kebutuhan informasi. Risk register, risk appetite, Key Risk Indicator, control, mitigation, loss event, action plan, approval, dashboard, dan reporting dapat dikelola dalam satu platform sehingga informasi risiko tidak lagi tersebar pada banyak file dan spreadsheet.
Dalam praktiknya, RMIS bukan sekadar aplikasi input risiko. Sistem perlu mendukung traceability, accountability, workflow, auditability, konsolidasi data, serta penyediaan informasi yang relevan bagi risk owner, fungsi manajemen risiko, dan management.
Materi internal RWI mengenai pengembangan aplikasi manajemen risiko menggunakan pendekatan end-to-end risk register, customization, integration, access control, dashboard, reporting, training, security, dan maintenance untuk memperkuat traceability dan auditability data risiko.
Materi internal lain juga mencakup risk appetite, KRI, loss event database, action plan, risk aggregation, early warning, dashboard, user log, workflow approval, dan pelaporan sebagai bagian dari Sistem Informasi Manajemen Risiko.
Apa Itu Risk Management Information System?

Photo by Annas Zakaria on Pexels
Risk Management Information System adalah sistem yang mengumpulkan, menyimpan, memproses, menghubungkan, dan menyajikan informasi risiko untuk mendukung proses manajemen risiko perusahaan.
Sistem tersebut dapat membantu pengguna:
- mencatat risiko;
- melakukan risk assessment;
- mencatat existing control;
- menentukan residual risk;
- menetapkan mitigation;
- memantau KRI;
- mencatat loss event;
- mengelola action plan;
- melakukan approval;
- menghasilkan dashboard;
- menyusun laporan risiko.
Dengan demikian, RMIS merupakan kombinasi antara risk management process dan information system.
Apa Kepanjangan RMIS?

Photo by Nelly Aran on Pexels
Dalam konteks artikel ini, RMIS adalah singkatan dari <strong>Risk Management Information System</strong>.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan sistem informasi yang mendukung pengelolaan risiko secara terstruktur.
Di luar konteks manajemen risiko, singkatan RMIS dapat digunakan untuk istilah lain. Karena itu, perusahaan perlu menggunakan istilah lengkap Risk Management Information System pada dokumentasi, kebutuhan sistem, dan komunikasi agar konteksnya jelas.
Mengapa Perusahaan Membutuhkan RMIS?

Photo by Burst on Pexels
Ketika organisasi masih kecil, risk register dapat dikelola menggunakan spreadsheet.
Namun seiring bertambahnya:
- jumlah unit;
- jumlah risiko;
- jumlah risk owner;
- jumlah action plan;
- jumlah KRI;
- jumlah approval;
- jumlah entitas;
- frekuensi reporting;
pengelolaan manual menjadi semakin kompleks.
Masalah yang sering muncul antara lain:
- data tersebar;
- format tidak konsisten;
- version control lemah;
- risk register terlambat diperbarui;
- action plan tidak dimonitor;
- KRI tidak memiliki reminder;
- management report disusun manual;
- audit trail terbatas;
- data antarunit sulit dikonsolidasikan.
RMIS membantu mengurangi keterbatasan tersebut.
RMIS Bukan Sekadar Database Risiko
Database hanya menyimpan data.
RMIS perlu mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan.
Alur yang lebih utuh adalah:
<strong>Data Risiko → Validasi → Approval → Monitoring → Aggregation → Analysis → Reporting → Decision</strong>
Karena itu, kualitas RMIS tidak hanya ditentukan oleh jumlah fitur.
Sistem perlu mampu mendukung governance dan workflow dari informasi risiko.
RMIS vs Risk Management Software
Istilah RMIS dan risk management software sering digunakan untuk kebutuhan yang serupa.
Namun terdapat perbedaan penekanan.
Aspek: Fokus
RMIS: Informasi, data, workflow, dan reporting
Risk Management Software: Aplikasi untuk mendukung proses risiko
Aspek: Sudut pandang
RMIS: Information system
Risk Management Software: Software capability
Aspek: Output utama
RMIS: Risk information dan management insight
Risk Management Software: Digitalisasi proses risiko
Aspek: Integration
RMIS: Sangat penting
Risk Management Software: Tergantung kebutuhan
Dalam implementasi nyata, keduanya dapat merujuk pada platform yang sama.
RMIS vs Enterprise Risk Management Software
RMIS dapat digunakan untuk satu proses, satu unit, maupun skala enterprise.
Enterprise Risk Management software lebih menekankan enterprise-wide risk aggregation, multi-entity management, risk appetite, dan executive reporting.
RMIS menekankan bagaimana data risiko dikumpulkan, dikelola, divalidasi, dan disajikan sebagai informasi.
Perusahaan dapat membangun RMIS yang sekaligus berfungsi sebagai enterprise risk management platform.
Komponen 1: Risk Governance
RMIS perlu mengikuti struktur governance perusahaan.
Sistem perlu mengetahui:
- siapa risk owner;
- siapa reviewer;
- siapa approver;
- siapa administrator;
- siapa yang dapat melihat data;
- siapa yang bertanggung jawab atas action.
Jika governance tidak jelas, workflow sistem juga akan sulit disusun.
Komponen 2: Risk Taxonomy
Risk taxonomy memberikan bahasa yang konsisten.
RMIS dapat mengelola:
- risk category;
- risk subcategory;
- risk event;
- risk factor;
- risk source;
- business process;
- legal aspect.
Taxonomy terpusat membantu reporting dan aggregation.
Komponen 3: Risk Appetite
Risk appetite memberikan batasan atas exposure yang dapat diterima.
RMIS dapat menyimpan:
- risk appetite statement;
- risk limit;
- risk tolerance;
- risk capacity;
- risk metric;
- threshold;
- actual exposure.
Materi internal RWI memasukkan risk appetite statement dan ambang batas sebagai bagian dari modul strategi risiko.
Komponen 4: Risk Register
Risk register merupakan salah satu data utama RMIS.
Data dapat mencakup:
- objective;
- risk event;
- cause;
- impact;
- likelihood;
- inherent risk;
- existing control;
- residual risk;
- risk owner;
- treatment plan.
Materi internal RWI menempatkan risk register dari identifikasi, penilaian, mitigation, hingga monitoring sebagai proses end-to-end dalam aplikasi manajemen risiko.
Komponen 5: Risk Assessment
RMIS dapat mendukung metode assessment yang digunakan perusahaan.
Parameter dapat berupa:
- likelihood;
- financial impact;
- operational impact;
- reputational impact;
- compliance impact;
- control effectiveness;
- residual exposure.
Scoring harus mengikuti methodology perusahaan, bukan dipaksakan oleh aplikasi.
Komponen 6: Risk Matrix
Risk matrix membantu mengklasifikasikan level risiko.
RMIS dapat menampilkan:
- inherent risk map;
- residual risk map;
- target risk map;
- risk movement;
- risk distribution.
Heatmap membantu visualisasi, tetapi management tetap perlu membaca context di balik score.
Komponen 7: Existing Control
Existing control perlu dikaitkan dengan risk.
Data control dapat mencakup:
- control description;
- control owner;
- control type;
- frequency;
- evidence;
- effectiveness;
- testing history.
Control data membantu menjelaskan bagaimana residual risk terbentuk.
Komponen 8: Risk Treatment
Treatment menjelaskan tindakan untuk mengubah exposure.
RMIS dapat mengelola:
- treatment option;
- action plan;
- PIC;
- target date;
- budget;
- progress;
- evidence;
- status;
- effectiveness.
Dengan sistem, mitigation tidak berhenti setelah risk register disetujui.
Komponen 9: Action Plan Monitoring
Action plan monitoring adalah salah satu capability penting.
Sistem dapat memberikan:
- upcoming due-date reminder;
- overdue alert;
- progress monitoring;
- evidence upload;
- approval;
- closure;
- re-opening.
Materi internal RWI mencakup reminder untuk action plan yang mendekati deadline dan yang telah overdue.
Komponen 10: Key Risk Indicator
KRI membantu mendeteksi perubahan exposure.
RMIS dapat menyimpan:
- KRI definition;
- risk linkage;
- data source;
- PIC;
- frequency;
- threshold;
- actual value;
- trend;
- status.
Materi internal RWI memasukkan KRI, mapping dengan unit kerja, threshold, reminder, dan early warning sebagai bagian dari sistem.
Komponen 11: Early Warning System
RMIS dapat memberikan early warning ketika:
- KRI melewati threshold;
- risk melebihi appetite;
- mitigation overdue;
- control gagal;
- loss event terjadi;
- exposure meningkat secara signifikan.
Early warning perlu menghasilkan escalation dan action.
Komponen 12: Loss Event Database
Loss event database menyimpan informasi kejadian risiko aktual.
Data dapat mencakup:
- event;
- date;
- process;
- risk category;
- cause;
- financial loss;
- non-financial impact;
- recovery;
- corrective action.
Historical loss memberikan evidence untuk memperbaiki risk assessment.
Komponen 13: Risk Aggregation
Risk aggregation membantu management melihat exposure pada level yang lebih tinggi.
RMIS dapat mengonsolidasikan:
- risk by unit;
- risk by category;
- risk by entity;
- risk by objective;
- risk by project;
- risk by risk level.
Aggregation memerlukan taxonomy dan methodology yang konsisten.
Komponen 14: Enterprise Risk Profile
Enterprise risk profile dapat berisi:
- top risks;
- risk trend;
- risk outside appetite;
- critical KRI;
- major loss events;
- overdue mitigation;
- emerging risks.
RMIS membantu memperbarui profile berdasarkan data yang tersedia.
Komponen 15: Risk Dashboard
Risk dashboard menyajikan informasi secara visual.
Dashboard dapat menampilkan:
- top risk;
- heatmap;
- risk appetite status;
- KRI status;
- mitigation progress;
- loss event;
- overdue action;
- risk trend.
Materi internal RWI menempatkan dashboard data analitik sebagai sarana untuk mendukung pengambilan keputusan.
Komponen 16: Executive Reporting
Executive reporting perlu fokus pada informasi yang membutuhkan perhatian management.
Contoh:
- perubahan top risk;
- breach terhadap appetite;
- KRI critical;
- action overdue;
- significant loss event;
- risk concentration;
- management decision required.
RMIS membantu mengurangi konsolidasi manual.
Komponen 17: Workflow Management
Workflow mengatur alur review dan approval.
Sistem dapat mengatur:
- single approval;
- multi approval;
- approval by role;
- approval by position;
- approval by group;
- SLA;
- delegation;
- notification.
Materi internal RWI juga mencakup workflow fleksibel, multi-approval, SLA, notification, dan covering officer.
Komponen 18: Role-Based Access
RMIS perlu memiliki hak akses berbasis role.
Hak akses dapat dibedakan menjadi:
- view;
- create;
- edit;
- approve;
- export;
- administrator.
Materi internal RWI memasukkan user privilege berdasarkan role untuk menjaga keamanan dan pembagian wewenang.
Komponen 19: Audit Trail
Audit trail mencatat aktivitas pengguna.
RMIS dapat menyimpan:
- user;
- date and time;
- data created;
- data changed;
- approval;
- status change;
- previous value.
Audit trail meningkatkan traceability dan auditability.
Komponen 20: Notification dan Reminder
Notification dapat digunakan untuk:
- risk review deadline;
- KRI update;
- action plan deadline;
- approval request;
- overdue action;
- threshold breach;
- assessment period.
Reminder membantu meningkatkan timeliness.
Komponen 21: Data Integration
RMIS dapat memperoleh data dari sistem lain.
Integration dapat mencakup:
- financial data;
- operational data;
- HR data;
- project data;
- performance data;
- incident data.
Materi internal RWI memasukkan integrasi dengan sistem eksisting sebagai bagian dari kebutuhan aplikasi.
Komponen 22: Multi-Entity Management
Holding dan grup perusahaan dapat menggunakan RMIS untuk mengelola:
- holding;
- subholding;
- subsidiary;
- business unit;
- project.
Corporate risk function dapat memperoleh consolidated view sementara masing-masing entitas tetap memiliki access sesuai role.
Komponen 23: Master Data
Master data membantu menjaga konsistensi.
Data dapat mencakup:
- organization;
- user;
- risk taxonomy;
- risk event;
- risk factor;
- control;
- product;
- process;
- parameter.
Master data yang buruk akan menghasilkan reporting yang tidak konsisten.
Komponen 24: Reporting Template
RMIS dapat menyediakan berbagai report:
- risk register;
- KRI;
- loss event;
- mitigation;
- action plan;
- risk exposure;
- risk appetite;
- unit risk profile.
Reporting template perlu mengikuti kebutuhan management.
Komponen 25: Data Quality
Data quality harus dikelola.
RMIS dapat menggunakan:
- mandatory field;
- input validation;
- approval;
- taxonomy control;
- duplicate checking;
- periodic review;
- data ownership.
Software tidak otomatis menjamin data akurat.
Komponen 26: Security
Risk information dapat bersifat sensitif.
Security perlu mencakup:
- authentication;
- authorization;
- role-based access;
- encryption;
- backup;
- audit log;
- input validation;
- security testing.
Materi internal RWI mencakup encryption, authentication, access management, security testing, backup, dan audit trail sebagai bagian dari desain sistem.
Komponen 27: Backup dan Restore
Backup penting karena RMIS menyimpan historical risk information.
Sistem perlu memiliki mekanisme:
- scheduled backup;
- restore;
- retention;
- recovery test;
- access control.
Materi internal RWI memasukkan backup dan restore sebagai kebutuhan aplikasi.
Komponen 28: Customization
RMIS perlu menyesuaikan methodology perusahaan.
Customization dapat mencakup:
- risk matrix;
- scoring;
- taxonomy;
- workflow;
- report;
- dashboard;
- KRI threshold;
- master data.
Customization perlu dijaga agar tidak membuat sistem sulit dipelihara.
Komponen 29: Mobile-Friendly Access
Mobile-friendly design dapat membantu user:
- review risk;
- approve;
- update action;
- melihat dashboard;
- menerima notification.
Access tetap perlu mengikuti security policy.
Komponen 30: Maintenance
Setelah go-live, RMIS membutuhkan:
- helpdesk;
- bug fixing;
- security patch;
- configuration update;
- performance monitoring;
- enhancement;
- regulatory adjustment.
Materi internal RWI memasukkan support, maintenance, bug fixing, dan pembaruan berkala sebagai bagian dari lifecycle aplikasi.
Bagaimana RMIS Mendukung Risk Management Process?
RMIS dapat menghubungkan seluruh proses:
1. Establish Context
Menyimpan objective, scope, taxonomy, dan criteria.
2. Identify Risk
Mencatat risk event, cause, dan impact.
3. Analyze Risk
Menilai likelihood, impact, dan control.
4. Evaluate Risk
Menentukan priority dan acceptance.
5. Treat Risk
Menyusun mitigation dan action plan.
6. Monitor Risk
Memantau KRI, exposure, dan action.
7. Report Risk
Menyajikan dashboard dan management report.
8. Review and Improve
Memperbarui risk berdasarkan perubahan kondisi.
RMIS dan Risk-Informed Decision-Making
Nilai RMIS muncul ketika informasi digunakan dalam keputusan.
Management dapat menggunakan data sistem untuk:
- memilih prioritas mitigation;
- menentukan resource allocation;
- menilai exposure proyek;
- membahas risk appetite breach;
- memantau strategic risks;
- menilai emerging risks.
RMIS perlu menghasilkan insight yang dapat ditindaklanjuti.
RMIS dan Risk Culture
RMIS dapat meningkatkan discipline, tetapi tidak menggantikan risk culture.
Risk culture tetap membutuhkan:
- leadership commitment;
- risk ownership;
- timely update;
- quality discussion;
- challenge;
- escalation;
- accountability.
Sistem yang baik tetap akan menghasilkan data buruk jika user hanya mengisi untuk memenuhi administrasi.
RMIS dan Performance Management
Risk information dapat dikaitkan dengan performance.
Contoh:
- KPI tidak tercapai karena risk event;
- exposure meningkat ketika target bisnis dinaikkan;
- mitigation membutuhkan tambahan budget;
- control weakness memengaruhi operational performance.
Integration membantu management membaca risk dan performance bersama-sama.
RMIS dan Enterprise Risk Reporting
RMIS dapat membantu menghasilkan reporting pada beberapa level:
- risk owner;
- unit;
- division;
- entity;
- corporate;
- management;
- board.
Setiap audience membutuhkan detail yang berbeda.
RMIS dan Risk Maturity
Risk maturity dapat digunakan untuk menilai apakah organisasi siap mendigitalisasi proses.
Jika maturity masih rendah, perusahaan mungkin perlu memperkuat:
- methodology;
- taxonomy;
- risk ownership;
- governance;
- reporting;
- data discipline.
Digitalisasi tidak sebaiknya digunakan untuk menutupi proses yang belum jelas.
Bagaimana Menentukan Kebutuhan RMIS?
Requirement gathering perlu menjawab:
- berapa jumlah user;
- berapa unit dan entity;
- apa risk methodology;
- apa taxonomy;
- bagaimana workflow;
- apa KRI yang digunakan;
- apa reporting requirement;
- apa integration requirement;
- apa security requirement;
- apa future roadmap.
Materi internal RWI menempatkan pertemuan dengan user untuk mendefinisikan kebutuhan dan sasaran proyek sebagai bagian dari tahap pengembangan aplikasi.
Blueprint RMIS
Blueprint menerjemahkan kebutuhan menjadi desain sistem.
Blueprint dapat mencakup:
- business process;
- module;
- workflow;
- user role;
- data structure;
- report;
- dashboard;
- integration;
- security;
- deployment.
Blueprint membantu menyelaraskan user, risk function, dan development team.
Tahapan Implementasi RMIS
1. Project Initiation
Menentukan scope, governance, timeline, dan team.
2. Current-State Review
Memahami process, file, system, dan pain point saat ini.
3. Requirement Gathering
Mendefinisikan functional dan non-functional requirements.
4. Blueprint
Menyusun desain process dan system.
5. Development atau Configuration
Membangun module.
6. Integration
Menghubungkan data sources.
7. Testing
Melakukan functional, integration, security, dan UAT.
8. Data Migration
Membersihkan dan memindahkan data.
9. Training
Melatih administrator dan end user.
10. Go-Live
Mengaktifkan sistem.
11. Hypercare
Menangani issue awal implementasi.
12. Maintenance
Melakukan support dan enhancement.
User Acceptance Testing RMIS
UAT perlu menguji scenario:
- risk creation;
- risk assessment;
- approval;
- rejection;
- KRI update;
- alert;
- mitigation monitoring;
- report generation;
- access right;
- dashboard.
UAT perlu melibatkan beberapa user role.
Data Migration ke RMIS
Data existing perlu dievaluasi sebelum dipindahkan.
Hal yang perlu diperiksa:
- duplicate risk;
- obsolete risk;
- taxonomy mismatch;
- missing owner;
- invalid score;
- incomplete treatment;
- poor data quality.
Data cleansing akan meningkatkan kualitas sistem baru.
Change Management dalam Implementasi RMIS
RMIS mengubah cara user mengelola risiko.
Change management dapat mencakup:
- communication;
- training;
- user guide;
- champion;
- helpdesk;
- adoption monitoring;
- feedback.
Tanpa change management, user dapat tetap menggunakan file manual di luar sistem.
Indikator Keberhasilan RMIS
Keberhasilan tidak hanya diukur dari go-live.
Indikator dapat mencakup:
- user adoption;
- risk update timeliness;
- KRI completion;
- action closure;
- data completeness;
- reporting speed;
- reduction of manual consolidation;
- audit trail quality;
- management usage.
Kesalahan Umum Implementasi RMIS
1. Langsung Membangun Sistem tanpa Methodology
Aplikasi mengikuti proses yang belum stabil.
2. RMIS Hanya Menjadi Form Digital
Tidak ada integration dan monitoring.
3. Risk Taxonomy Tidak Konsisten
Reporting menjadi sulit.
4. Workflow Terlalu Panjang
Approval melambat.
5. KRI Tidak Memiliki Threshold
Early warning tidak bekerja.
6. Dashboard Menjadi Fokus Utama
Data quality terabaikan.
7. Data Migration Tidak Dibersihkan
Masalah lama berpindah ke sistem baru.
8. User Access Tidak Dirancang dengan Baik
Data terlalu terbuka atau terlalu tertutup.
9. Training Tidak Memadai
Adoption rendah.
10. Tidak Ada Maintenance Roadmap
RMIS cepat tertinggal dari kebutuhan bisnis.
Manfaat Risk Management Information System
Area: Data
Manfaat: Mengonsolidasikan informasi risiko.
Area: Traceability
Manfaat: Mencatat perubahan dan approval.
Area: Accountability
Manfaat: Memperjelas owner dan PIC.
Area: KRI
Manfaat: Mendukung early warning.
Area: Monitoring
Manfaat: Mempercepat pemantauan mitigation.
Area: Reporting
Manfaat: Mengurangi konsolidasi manual.
Area: Dashboard
Manfaat: Meningkatkan management visibility.
Area: Decision
Manfaat: Menyediakan informasi untuk keputusan berbasis risiko.
Kapan Perusahaan Membutuhkan RMIS?
Beberapa tanda kebutuhan:
- risk register tersebar di banyak file;
- reporting memerlukan konsolidasi manual;
- KRI dikelola melalui spreadsheet;
- action plan sering terlambat;
- risk owner sulit dipantau;
- audit trail terbatas;
- management membutuhkan dashboard;
- risk data perlu diintegrasikan;
- jumlah unit atau entity meningkat.
Pendekatan RWI Consulting
RWI Consulting membantu perusahaan merancang Risk Management Information System melalui current-state review, requirement analysis, blueprint, workflow, risk register, KRI, loss event, action plan, dashboard, integration, security, testing, user readiness, dan implementation roadmap.
Pendekatan tersebut menempatkan RMIS sebagai information system yang memperkuat governance, traceability, data quality, monitoring, reporting, dan risk-informed decision-making.
FAQ Risk Management Information System
Apa itu Risk Management Information System?
Risk Management Information System adalah sistem yang membantu perusahaan mengelola data, proses, monitoring, dan reporting risiko secara terintegrasi.
Apa kepanjangan RMIS?
Dalam konteks manajemen risiko, RMIS adalah Risk Management Information System.
Apa fungsi utama RMIS?
RMIS mendukung risk register, assessment, control, KRI, mitigation, loss event, workflow, dashboard, reporting, dan monitoring.
Apa beda RMIS dan risk management software?
RMIS menekankan pengelolaan informasi dan workflow risiko, sementara risk management software merupakan istilah yang lebih umum untuk aplikasi pendukung manajemen risiko.
Apakah RMIS dapat digunakan untuk Enterprise Risk Management?
Ya. RMIS dapat dirancang untuk mendukung enterprise-wide risk management, aggregation, multi-entity reporting, dan executive dashboard.
Apakah RMIS dapat mengelola KRI?
Ya. KRI dapat dikaitkan dengan risk, threshold, actual value, owner, trend, dan alert.
Apakah RMIS dapat memiliki early warning?
Ya. Early warning dapat dipicu oleh threshold breach, risk outside appetite, overdue action, atau kondisi lain yang dikonfigurasi.
Apakah RMIS dapat mengelola loss event?
Ya. Loss event database dapat digunakan untuk mencatat kejadian, loss, recovery, cause, dan corrective action.
Apakah RMIS dapat diintegrasikan dengan sistem lain?
Ya. RMIS dapat mengambil financial, operational, HR, project, performance, atau incident data sesuai kebutuhan.
Apa manfaat audit trail dalam RMIS?
Audit trail meningkatkan traceability dengan mencatat user activity, perubahan data, approval, dan status.
Apakah RMIS bisa digunakan holding?
Ya. Sistem dapat mendukung struktur multi-entity dengan consolidated reporting dan role-based access.
Apa yang perlu disiapkan sebelum implementasi RMIS?
Perusahaan perlu menyiapkan methodology, taxonomy, organization structure, workflow, user role, data, reporting, integration, dan security requirements.
Apakah data lama perlu dimigrasikan?
Bisa, tetapi data perlu dibersihkan agar duplicate, obsolete, atau inconsistent records tidak masuk ke sistem baru.
Bagaimana mengukur keberhasilan RMIS?
Keberhasilan dapat dilihat dari adoption, data quality, timeliness, action closure, reporting speed, auditability, dan penggunaan informasi risiko oleh management.
Apakah RMIS memerlukan maintenance?
Ya. Maintenance diperlukan untuk security, bug fixing, performance, configuration, enhancement, dan perubahan kebutuhan perusahaan.
Konsultasi Risk Management Information System
RWI Consulting membantu perusahaan membangun RMIS yang menghubungkan risk data, ownership, workflow, KRI, mitigation, loss event, dashboard, reporting, dan management decision dalam satu sistem yang terstruktur.
<strong>Bangun Risk Management Information System yang tidak hanya menyimpan data risiko, tetapi mengubah data tersebut menjadi informasi yang dapat digunakan untuk monitoring dan pengambilan keputusan.</strong>




