Tingkat Kematangan GRC: Apa Artinya?

Photo by Arif Syuhada on Pexels
Tingkat kematangan GRC atau GRC maturity level menunjukkan seberapa jauh Governance, Risk, dan Compliance telah dibangun, diterapkan, diintegrasikan, dimonitor, dan ditingkatkan secara berkelanjutan dalam organisasi.
Pengukuran maturitas tidak hanya melihat apakah perusahaan sudah memiliki kebijakan, struktur, atau risk register. Penilaian yang lebih matang perlu melihat apakah seluruh elemen tersebut benar-benar digunakan, saling terhubung, didukung oleh kompetensi yang memadai, serta menghasilkan informasi yang membantu pengambilan keputusan.
Karena itu, dua perusahaan dapat memiliki dokumen GRC yang hampir sama tetapi berada pada tingkat kematangan yang berbeda. Perusahaan pertama mungkin telah memiliki kebijakan namun penerapannya masih terpisah antar fungsi. Perusahaan kedua dapat menggunakan kebijakan yang sama tetapi sudah menghubungkan governance, risk, compliance, control, performance, dan assurance dalam satu mekanisme yang konsisten.
Dalam praktik assessment RWI, tingkat maturitas digunakan sebagai baseline untuk mengidentifikasi kondisi aktual, gap, target maturity, rekomendasi, prioritas tindak lanjut, dan roadmap peningkatan GRC.
Mengapa Tingkat Kematangan GRC Perlu Diukur?

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels
Organisasi sering mengetahui bahwa framework GRC sudah tersedia, tetapi belum mengetahui seberapa efektif framework tersebut diterapkan. Pengukuran maturity membantu menjawab pertanyaan yang lebih spesifik.
- Apakah governance sudah benar-benar berjalan atau baru terdokumentasi?
- Apakah risk management sudah terhubung dengan strategi dan kinerja?
- Apakah compliance masih berbentuk checklist atau sudah risk-based?
- Apakah kontrol telah memiliki owner, evidence, dan pengujian?
- Apakah Three Lines telah bekerja secara konsisten?
- Apakah informasi GRC digunakan untuk mengambil keputusan?
- Apakah sistem informasi sudah mendukung monitoring dan reporting?
- Apakah perbaikan dilakukan secara berkelanjutan?
Tanpa maturity assessment, organisasi dapat terlalu cepat menyimpulkan bahwa GRC telah efektif hanya karena kebijakan dan struktur tersedia.
Pengukuran tingkat kematangan membantu perusahaan membedakan antara existence dan effectiveness: apakah suatu komponen sekadar ada atau benar-benar berjalan dan memberikan nilai.
GRC Maturity Bukan Sekadar Skor

Photo by Heru Dharma on Pexels
Skor maturity memang memudahkan management membaca posisi organisasi. Namun skor bukan tujuan akhir.
Nilai yang lebih penting adalah pemahaman mengenai:
- praktik yang sudah berjalan baik;
- kesenjangan utama;
- root cause dari gap;
- risiko jika gap tidak diperbaiki;
- prioritas perbaikan;
- target capability yang ingin dicapai;
- roadmap implementasi.
Organisasi yang terlalu fokus mengejar angka dapat terdorong membangun evidence hanya untuk memenuhi kriteria. Padahal maturity yang sesungguhnya terlihat ketika GRC digunakan dalam aktivitas management sehari-hari.
Karena itu, assessment sebaiknya menghasilkan score + gap + recommendation + priority + roadmap, bukan hanya satu angka komposit.
Dua Model Level Maturitas GRC yang Perlu Dibedakan

Photo by Gustavo Fring on Pexels
Istilah “Level 1 sampai Level 5” tidak selalu menggunakan nama level yang sama. Ini penting agar organisasi tidak mencampurkan dua model secara tidak sengaja.
Dalam materi internal RWI, terdapat dua rujukan yang digunakan sesuai konteks assessment.
Model Keunggulan GRC
Model ini menggunakan lima tingkat:
- Level 1 — Initial;
- Level 2 — Siloed;
- Level 3 — Managed;
- Level 4 — Transformed;
- Level 5 — Proactive.
Model ini banyak digunakan untuk melihat bagaimana komponen GRC berkembang dari kondisi parsial menuju kondisi yang terintegrasi, adaptif, dan proaktif.
GRC Capability Model
Rujukan GRC Capability Model versi 3.5 menggunakan nomenklatur lima level yang berbeda:
- Level 1 — Initial;
- Level 2 — Managed;
- Level 3 — Consistent;
- Level 4 — Measurement;
- Level 5 — Optimizing.
Keduanya sama-sama menggambarkan progression capability, tetapi nama level dan basis penilaiannya tidak identik. Karena itu, perusahaan perlu menetapkan terlebih dahulu model yang digunakan sebelum membandingkan skor maturity.
Artikel ini selanjutnya menggunakan nomenklatur Initial–Siloed–Managed–Transformed–Proactive karena model tersebut lebih langsung menggambarkan perjalanan integrasi GRC.
Level 1 — Initial

Photo by Sóc Năng Động on Pexels
Pada Level 1, komponen GRC sudah mulai terlihat tetapi masih bersifat parsial, ad hoc, atau sangat bergantung pada individu.
Karakteristik yang umum antara lain:
- governance, risk, dan compliance belum memiliki integrasi yang jelas;
- policy tersedia hanya pada area tertentu;
- process belum konsisten;
- ownership belum jelas;
- reporting dilakukan berdasarkan kebutuhan sesaat;
- data tersebar;
- keputusan bergantung pada pengalaman individu;
- monitoring belum memiliki mekanisme yang terstruktur.
Pada tahap ini, organisasi tidak selalu “tidak memiliki GRC”. Justru berbagai komponen mungkin sudah ada, tetapi belum membentuk satu sistem yang dapat direplikasi secara konsisten.
Prioritas utama pada Level 1 biasanya adalah membangun foundation: governance, role, policy, taxonomy, process, dan baseline.
Level 2 — Siloed

Photo by Erik Mclean on Pexels
Pada Level 2, komponen GRC relatif lebih lengkap tetapi masih berjalan secara terpisah.
Risk management dapat memiliki framework sendiri. Compliance memiliki register dan monitoring sendiri. Internal audit menggunakan universe dan finding sendiri. Governance memiliki policy serta committee sendiri.
Masalah utama bukan tidak adanya sistem, melainkan kurangnya penyelarasan.
Indikasi kondisi Siloed antara lain:
- fungsi telah memiliki kebijakan masing-masing;
- risk, compliance, dan audit menggunakan taxonomy berbeda;
- reporting berjalan secara terpisah;
- business unit menerima beberapa permintaan data yang mirip;
- temuan dan action plan belum terkonsolidasi;
- informasi GRC sulit dibandingkan antar fungsi;
- technology atau spreadsheet digunakan secara berbeda-beda.
Tantangan Level 2 adalah mengurangi fragmentation tanpa menghilangkan fungsi spesifik setiap lini.
Level 3 — Managed

Photo by Boys in Bristol Photography on Pexels
Pada Level 3, komponen GRC telah didukung oleh kebijakan, prosedur, dan metodologi yang lebih jelas. Proses mulai dikelola secara konsisten dan organisasi telah memiliki foundation yang lebih kuat.
Namun integrasi antar elemen masih dapat berkembang.
Karakteristik yang dapat terlihat:
- role dan responsibility lebih jelas;
- policy dan procedure telah distandardisasi;
- risk assessment dilakukan secara periodik;
- compliance monitoring mulai terstruktur;
- control memiliki owner;
- reporting memiliki jadwal dan format;
- issue dan action plan mulai dimonitor;
- management memiliki visibility yang lebih baik.
Pada Level 3, tantangan utamanya bukan lagi membangun dokumen dasar, tetapi memastikan keselarasan antara strategy, performance, risk, compliance, control, dan assurance.
Perusahaan pada tahap ini mulai membutuhkan integration mechanism yang lebih kuat, termasuk common taxonomy, reporting, workflow, serta koordinasi antar Three Lines.
Level 4 — Transformed

Photo by Tin Pranjić on Pexels
Pada Level 4, governance, risk, compliance, process, people, dan tools mulai bekerja secara lebih terintegrasi.
Kebijakan dan metodologi tidak hanya tersedia tetapi saling mendukung. Informasi digunakan secara lintas fungsi dan pembaruan dilakukan berdasarkan perubahan risiko, regulasi, strategi, serta kebutuhan bisnis.
Indikatornya dapat mencakup:
- risk terhubung dengan objective dan KPI;
- compliance obligation terhubung dengan control;
- control weakness memengaruhi risk exposure;
- audit finding terhubung dengan remediation;
- reporting lebih terintegrasi;
- management menggunakan GRC information dalam decision-making;
- technology mendukung workflow dan traceability;
- continuous review berjalan lebih konsisten.
Level Transformed menunjukkan bahwa GRC telah bergerak dari administrasi menuju management capability.
Level 5 — Proactive
Level 5 menggambarkan kondisi ketika organisasi tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi mampu mengantisipasi dan beradaptasi secara lebih proaktif.
GRC digunakan untuk mendukung strategic foresight, innovation, resilience, dan continuous improvement.
Karakteristik yang dapat muncul antara lain:
- informasi GRC digunakan untuk mendeteksi perubahan lebih awal;
- KRI dan early warning membantu management mengambil tindakan;
- analytics digunakan untuk melihat trend dan emerging risk;
- knowledge dan lesson learned digunakan untuk perbaikan;
- assurance lebih terkoordinasi;
- control dan process terus dioptimalkan;
- technology mendukung decision support;
- budaya GRC telah melekat dalam aktivitas organisasi.
Proactive bukan berarti seluruh risiko dapat diprediksi. Level ini menunjukkan capability organisasi untuk belajar, merespons, dan menyesuaikan diri lebih cepat terhadap perubahan.
Rentang Nilai Tingkat Kematangan GRC
Dalam Model Keunggulan GRC yang digunakan pada materi assessment internal RWI, rentang maturity dibagi sebagai berikut:
- ≤ 1,5: Initial;
- > 1,5 sampai 2,5: Siloed;
- > 2,5 sampai 3,5: Managed;
- > 3,5 sampai 4,5: Transformed;
- > 4,5 sampai 5,0: Proactive.
Rentang tersebut hanya relevan jika organisasi menggunakan model dan metode penilaian yang sama. Skor dari satu maturity model tidak boleh dibandingkan langsung dengan model lain yang menggunakan dimensi atau skala berbeda.
Karena itu, setiap laporan assessment perlu menjelaskan framework, criteria, scoring methodology, evidence requirement, dan periode observasi yang digunakan.
Apa Saja yang Dinilai dalam GRC Maturity?
Materi internal RWI menempatkan kondisi ideal GRC pada tiga kelompok besar: Process, People, dan Tools.
Process
Process melihat bagaimana governance, communication, learning, risk management, compliance, internal control, monitoring, dan improvement dijalankan.
Area yang dapat diperiksa mencakup transparansi informasi, pembelajaran berkelanjutan, tata kelola efektif, serta risk management yang melekat pada strategi bisnis.
People
People menilai apakah organisasi memiliki SDM yang andal, berintegritas, terus mengembangkan kompetensi, serta didukung performance dan reward mechanism yang tepat.
GRC yang matang membutuhkan role clarity dan capability, bukan hanya struktur organisasi.
Tools
Tools mencakup methodology dan sistem informasi yang mendukung pengambilan keputusan serta pengawasan terhadap deviasi dan emerging threat.
Tools tidak selalu berarti software. Pada maturity yang lebih tinggi, technology biasanya menjadi enabler untuk meningkatkan consistency, traceability, integration, monitoring, dan analytics.
Prasyarat untuk Meningkatkan Maturity GRC
Model Keunggulan GRC menempatkan beberapa prasyarat yang perlu tersedia agar organisasi dapat meningkatkan capability secara konsisten.
- Tone from the top dan dukungan pemangku kepentingan;
- pemahaman kondisi internal dan eksternal;
- penetapan prioritas risiko utama dan target kinerja;
- sasaran organisasi yang jelas.
Tanpa prasyarat tersebut, organisasi dapat memiliki banyak program GRC tetapi tidak memiliki arah yang konsisten.
Contohnya, jika risk appetite belum jelas, Lini 1 dan Lini 2 akan kesulitan menentukan exposure mana yang perlu dieskalasikan. Jika strategic objective tidak jelas, risk assessment dapat berubah menjadi exercise administratif.
Bagaimana GRC Maturity Assessment Dilakukan?
Penilaian maturitas perlu menggunakan evidence yang cukup untuk melihat design dan implementation.
Dalam pendekatan RWI, metodologi dapat mencakup:
- kaji dokumen;
- survei;
- wawancara;
- Focused Group Discussion;
- technical meeting;
- analisis data dan evidence.
Document review membantu melihat framework formal. Survei memberikan perspektif yang lebih luas. Wawancara dan FGD membantu memahami apakah process benar-benar dijalankan serta bagaimana decision dibuat dalam praktik.
Hasil seluruh metode tersebut kemudian dikombinasikan untuk membangun baseline maturity, gap, recommendation, dan roadmap.
Untuk pembahasan proses assessment yang lebih lengkap, lihat GRC Assessment dan Maturity Level.
Jangan Menilai Maturity Hanya dari Kelengkapan Dokumen
Dokumen memang penting, tetapi maturity yang tinggi tidak dapat dibuktikan hanya melalui policy.
Contohnya:
- risk appetite tersedia tetapi tidak digunakan dalam keputusan;
- KRI tersedia tetapi tidak memicu escalation;
- control matrix tersedia tetapi evidence tidak dijaga;
- compliance register lengkap tetapi issue tidak ditindaklanjuti;
- audit finding ditutup tetapi effectiveness belum diuji;
- dashboard tersedia tetapi data tidak reliable.
Assessment yang baik perlu membedakan antara design, implementation, consistency, integration, dan effectiveness.
Dengan demikian, maturity mencerminkan kualitas penerapan, bukan sekadar jumlah dokumen.
Hubungan Maturity GRC dengan Three Lines Model
Keefektifan Three Lines merupakan salah satu indikator penting dalam integrasi GRC.
Lini 1 perlu memiliki risk dan control ownership. Lini 2 perlu memberikan framework, monitoring, dan challenge. Lini 3 perlu memberikan assurance independen.
Pada maturity rendah, role tersebut sering overlap atau belum jelas. Pada maturity yang lebih tinggi, tanggung jawab lebih terdefinisi, data dapat dibagikan secara tepat, dan assurance lebih terkoordinasi.
Untuk melihat pembagian peran secara lebih spesifik, baca Three Lines Model GRC.
Hubungan Maturity GRC dengan Teknologi
Technology merupakan enabler, tetapi bukan maturity itu sendiri.
Organisasi dapat menggunakan software GRC yang canggih tetapi tetap memiliki maturity rendah jika data tidak konsisten, user tidak menggunakan sistem, policy tidak jelas, atau risk owner tidak memiliki ownership.
Sebaliknya, organisasi dapat memiliki maturity cukup baik dengan tools sederhana jika process, accountability, evidence, dan reporting telah berjalan konsisten.
Pada maturity yang lebih tinggi, technology biasanya mulai memberikan nilai melalui workflow, audit trail, KRI, Early Warning System, consolidated reporting, dan analytics.
Jika organisasi sudah siap melakukan digitalisasi, lihat Software GRC Indonesia.
Dari Hasil Maturity ke Roadmap Peningkatan GRC
Assessment sebaiknya selalu diterjemahkan menjadi action.
Struktur yang dapat digunakan adalah:
Current State → Gap → Root Cause → Recommendation → Priority → Initiative → Owner → Milestone → Target Maturity
Roadmap perlu membedakan quick wins dengan transformation jangka menengah dan panjang.
Quick wins dapat berupa role clarification, taxonomy, reporting, atau escalation. Program berikutnya dapat mencakup framework enhancement, integration, capability building, data improvement, dan technology.
Target maturity juga tidak harus langsung Level 5. Perusahaan perlu menentukan target yang realistis berdasarkan business context, regulatory exposure, risk, complexity, dan resource.
Untuk penyusunan langkah perbaikan secara bertahap, lihat Roadmap Implementasi GRC.
Kesalahan Umum dalam Membaca GRC Maturity Level
1. Menganggap Level Tertinggi Harus Menjadi Target Semua Area
Tidak seluruh capability harus berada pada maturity yang sama. Prioritas perlu mengikuti risk dan strategic importance.
2. Membandingkan Skor dari Model yang Berbeda
Nama level, criteria, dan scoring methodology dapat berbeda. Perbandingan harus menggunakan basis yang sama.
3. Menganggap Skor Tinggi Berarti Tidak Ada Gap
Maturity tinggi tetap membutuhkan continual improvement.
4. Fokus pada Evidence Formal
Kelengkapan dokumen tidak otomatis membuktikan effectiveness.
5. Tidak Menghubungkan Assessment dengan Roadmap
Assessment berakhir sebagai laporan tanpa perubahan nyata.
6. Mengejar Skor tanpa Memperbaiki Root Cause
Gap dapat kembali muncul pada periode berikutnya jika penyebab mendasar tidak diselesaikan.
Deliverables Penilaian Tingkat Kematangan GRC
Deliverables dapat disesuaikan dengan scope organisasi. Output yang umum meliputi:
- hasil GRC maturity assessment;
- score dan maturity level;
- analisis per komponen atau dimensi;
- identifikasi praktik yang sudah berjalan;
- gap analysis;
- recommendation;
- priority action;
- target maturity;
- roadmap peningkatan;
- materi sosialisasi dan knowledge transfer.
Dalam pendekatan RWI, hasil maturity assessment digunakan untuk membantu perusahaan memahami posisi aktual sekaligus menentukan langkah peningkatan yang lebih terarah.
Pendekatan RWI Consulting
RWI Consulting membantu organisasi melakukan GRC Maturity Assessment melalui review kondisi existing, evidence, interview, survei, FGD, gap analysis, recommendation, priority, dan roadmap.
Assessment dapat menggunakan model yang disepakati berdasarkan kebutuhan organisasi. Hal penting adalah menjaga consistency antara framework, criteria, scoring, evidence, dan target maturity.
Pendekatan tidak hanya mengejar score. Fokus assessment adalah memahami apakah Governance, Risk, Compliance, Process, People, dan Tools sudah bekerja sebagai capability yang mendukung tujuan organisasi.
Jika hasil assessment menunjukkan perlunya perbaikan lebih lanjut, perusahaan dapat melanjutkan ke GRC Implementation untuk menerjemahkan rekomendasi menjadi perubahan framework, process, role, reporting, control, dan technology.
FAQ Tingkat Kematangan GRC
Apa itu tingkat kematangan GRC?
Tingkat kematangan GRC adalah ukuran perkembangan capability Governance, Risk, dan Compliance dari kondisi parsial menuju kondisi yang terintegrasi, terukur, dan terus ditingkatkan.
Berapa level maturity GRC?
Banyak model menggunakan lima level, tetapi nama level dapat berbeda. Model Keunggulan GRC menggunakan Initial, Siloed, Managed, Transformed, dan Proactive.
Apa arti Level 1 Initial?
Komponen GRC sudah mulai ada tetapi masih parsial, ad hoc, dan belum terstandardisasi secara memadai.
Apa arti Level 2 Siloed?
Komponen GRC relatif lengkap tetapi berjalan secara terpisah dan belum memiliki integrasi yang cukup.
Apa arti Level 3 Managed?
Policy, procedure, dan methodology sudah lebih jelas serta process mulai dikelola secara konsisten.
Apa arti Level 4 Transformed?
Governance, risk, compliance, control, people, dan tools telah lebih terintegrasi serta digunakan dalam management process.
Apa arti Level 5 Proactive?
Organisasi memiliki capability untuk belajar, beradaptasi, mengantisipasi perubahan, dan meningkatkan GRC secara berkelanjutan.
Apakah maturity level sama dengan RMI?
Tidak selalu. GRC maturity dan Risk Maturity Index dapat menggunakan framework, dimensi, criteria, dan scoring yang berbeda. Hasilnya tidak boleh disamakan tanpa melihat model yang digunakan.
Apakah software GRC dapat meningkatkan maturity?
Software dapat membantu consistency, traceability, monitoring, dan integration, tetapi maturity tetap bergantung pada governance, process, people, data, culture, dan effectiveness.
Seberapa sering GRC maturity perlu dinilai?
Frekuensi perlu disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, perubahan regulasi, transformation agenda, risk profile, dan roadmap improvement. Assessment dapat dilakukan secara periodik untuk melihat progress dari baseline sebelumnya.
Dari Maturity Level ke Perbaikan yang Terukur
Tingkat kematangan GRC membantu organisasi mengetahui posisi saat ini, tetapi manfaat sebenarnya muncul ketika hasil tersebut digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan.
Maturity level bukan sekadar label. Ia seharusnya menjadi dasar untuk memahami gap, membangun target capability, dan menyusun roadmap yang membuat Governance, Risk, dan Compliance semakin terintegrasi serta relevan bagi pengambilan keputusan.




