RWI Consulting
RWI Consulting RWI Consulting
contact@rwi.co.id
RWI Consulting
RWI Consulting RWI Consulting

GRC Framework: Pengertian, Komponen, Manfaat, dan Cara Membangunnya di Perusahaan

GRC Operating Model_11zon
Rate this post

RWI Consulting – GRC framework adalah kerangka kerja yang digunakan perusahaan untuk mengintegrasikan Governance, Risk, and Compliance dalam satu sistem tata kelola yang terstruktur. Kerangka ini membantu perusahaan memastikan bahwa pengambilan keputusan, pengelolaan risiko, pemenuhan kepatuhan, pengendalian internal, dan pelaporan berjalan secara selaras.

Dalam dokumen SharePoint RWI terkait implementasi GRC dan tata kelola terintegrasi, GRC framework diposisikan sebagai kerangka yang mencakup governance oversight, risk and compliance reporting, serta alur pelaporan GRC kepada Direksi dan Dewan Komisaris. Kerangka ini disusun agar governance, risk management, dan compliance tidak berjalan terpisah, tetapi menjadi bagian dari sistem pengawasan dan pengambilan keputusan perusahaan.

GRC Framework

Certified Governance Risk Compliance Specialist

GRC framework penting karena banyak perusahaan sudah memiliki fungsi governance, risk management, compliance, internal audit, dan pengendalian internal, tetapi belum tentu seluruh fungsi tersebut terintegrasi. Governance mungkin sudah memiliki struktur dan komite. Risk management mungkin sudah memiliki risk register. Compliance mungkin sudah memantau kewajiban tertentu. Namun, jika proses, data, pelaporan, dan tindak lanjutnya tidak saling terhubung, manajemen sulit memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi risiko dan kepatuhan perusahaan.

Dengan GRC framework, perusahaan dapat membangun sistem yang lebih jelas mengenai siapa yang mengawasi, siapa yang menjalankan, siapa yang melaporkan, apa yang dipantau, bagaimana isu dieskalasi, dan bagaimana tindak lanjut dilakukan. Kerangka ini membantu perusahaan meningkatkan akuntabilitas, transparansi, efektivitas pengendalian, dan kualitas pengambilan keputusan.

Apa Itu GRC Framework?

GRC framework adalah struktur yang mengatur hubungan antara tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan. Framework ini menjelaskan prinsip, peran, proses, mekanisme koordinasi, alur pelaporan, indikator, serta alat yang digunakan untuk menjalankan GRC secara terintegrasi.

Governance memberikan arah, struktur, dan mekanisme pengawasan. Risk management membantu perusahaan mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan memitigasi risiko yang dapat mengganggu pencapaian tujuan. Compliance memastikan aktivitas perusahaan sesuai dengan hukum, regulasi, kebijakan internal, standar, dan komitmen organisasi.

Dokumen SharePoint RWI menjelaskan bahwa governance adalah sistem dan proses yang memastikan aktivitas organisasi dikelola secara akuntabel, transparan, dan selaras dengan tujuan strategis. Risk management diposisikan sebagai proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan mitigasi risiko yang dapat mengganggu pencapaian sasaran organisasi. Compliance memastikan pemenuhan terhadap ketentuan internal dan eksternal serta menjaga integritas pelaksanaan tata kelola dan mitigasi risiko. fileciteturn90file0

Dari definisi tersebut, GRC framework dapat dipahami sebagai penghubung antara arah strategis, risiko, kewajiban, kontrol, pelaporan, dan pengawasan. Framework ini membuat GRC tidak hanya menjadi fungsi administratif, tetapi menjadi sistem kerja yang mendukung pencapaian tujuan perusahaan.

Mengapa Perusahaan Membutuhkan GRC Framework?

Perusahaan membutuhkan GRC framework karena kompleksitas bisnis, regulasi, risiko, dan ekspektasi pemangku kepentingan terus meningkat. Tanpa kerangka yang jelas, fungsi governance, risk, dan compliance dapat berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, terjadi duplikasi aktivitas, pelaporan yang tidak konsisten, kelemahan pengawasan, dan keterlambatan dalam menindaklanjuti isu penting.

Dokumen SharePoint RWI terkait GRC Maturity menjelaskan bahwa implementasi GRC terintegrasi diperlukan untuk memastikan efektivitas pengendalian, pengelolaan risiko, pengambilan keputusan strategis, serta peningkatan kinerja perusahaan secara berkelanjutan. Dokumen tersebut juga menekankan perlunya pengukuran maturitas untuk mengetahui efektivitas implementasi GRC, mengidentifikasi gap, memperkuat kapabilitas, dan menyusun roadmap peningkatan GRC. fileciteturn88file0

GRC framework juga membantu perusahaan menjawab beberapa pertanyaan penting:

  • Bagaimana governance mengarahkan dan mengawasi risk management serta compliance?
  • Bagaimana risiko utama diprioritaskan dan dilaporkan kepada manajemen?
  • Bagaimana kewajiban kepatuhan diidentifikasi, dipantau, dan dievaluasi?
  • Bagaimana hasil risk management dan compliance digunakan dalam pengambilan keputusan?
  • Bagaimana isu, temuan, dan pelanggaran dieskalasi?
  • Bagaimana Direksi dan Dewan Komisaris memperoleh informasi GRC yang relevan?

Tanpa GRC framework, perusahaan mungkin memiliki banyak dokumen dan laporan, tetapi tidak memiliki sistem yang menyatukan informasi tersebut untuk pengawasan dan keputusan strategis.

Komponen Utama GRC Framework

Certified Governance Risk Compliance

GRC framework yang baik harus mencakup beberapa komponen utama. Komponen ini perlu disusun secara terintegrasi agar governance, risk, dan compliance dapat bekerja sebagai satu sistem.

1. Governance Framework

Governance framework adalah dasar dari GRC. Komponen ini mencakup struktur tata kelola, peran organ perusahaan, komite, kebijakan, charter, mekanisme pengawasan, delegasi kewenangan, dan alur pengambilan keputusan.

Dalam dokumen SharePoint RWI, review dan penyempurnaan governance menjadi salah satu ruang lingkup implementasi GRC. Ruang lingkup tersebut mencakup review struktur tata kelola, peran organ perusahaan, dan komite, serta evaluasi kebijakan dan pedoman GCG eksisting. fileciteturn90file0

Governance framework yang kuat memberikan arah bagi risk management dan compliance. Tanpa governance yang jelas, perusahaan sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab atas risiko, siapa yang memantau kepatuhan, dan kepada siapa isu penting harus dilaporkan.

2. Risk Management Framework

Risk management framework adalah komponen yang mengatur bagaimana perusahaan mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, memitigasi, memantau, dan melaporkan risiko. Komponen ini mencakup risk policy, risk appetite, risk taxonomy, risk assessment methodology, risk register, Key Risk Indicator, risk reporting, serta peran risk owner.

Dokumen SharePoint RWI menyebut review framework risk management eksisting sebagai salah satu ruang lingkup implementasi GRC. Outputnya berupa framework manajemen risiko yang disesuaikan dengan regulasi dan best practice. fileciteturn90file0

Dalam GRC framework, risk management berperan sebagai penghubung antara governance dan compliance. Risiko membantu perusahaan memprioritaskan area yang membutuhkan pengendalian, pengawasan, dan pemenuhan kewajiban kepatuhan.

3. Compliance Framework

Compliance framework adalah kerangka yang mengatur bagaimana perusahaan mengidentifikasi, memantau, melaporkan, dan menindaklanjuti kewajiban kepatuhan. Komponen ini mencakup kebijakan kepatuhan, struktur fungsi kepatuhan, compliance obligation, risk assessment kepatuhan, monitoring, pelaporan, eskalasi isu, tindak lanjut temuan, dan awareness.

Dalam dokumen SharePoint RWI, compliance framework mencakup kebijakan kepatuhan, struktur fungsi kepatuhan, serta integrasi dengan manajemen risiko. Dokumen tersebut juga menjelaskan bahwa compliance memastikan integritas pelaksanaan tata kelola dan mitigasi risiko dengan menghindari pelanggaran hukum maupun kebijakan internal. fileciteturn90file0

Compliance framework penting karena banyak perusahaan memiliki kewajiban kepatuhan yang tersebar di berbagai unit. Tanpa framework yang jelas, kewajiban tersebut dapat dipantau secara tidak konsisten dan sulit dilaporkan kepada manajemen.

4. Integrated GRC Framework

Integrated GRC framework adalah kerangka yang menyatukan governance, risk, dan compliance. Komponen ini menjelaskan hubungan antar fungsi, alur koordinasi, alur pelaporan, mekanisme eskalasi, serta penggunaan informasi GRC oleh Direksi dan Dewan Komisaris.

Dokumen SharePoint RWI secara eksplisit menyebut penyusunan GRC framework terintegrasi sebagai ruang lingkup pekerjaan. Kerangka tersebut meliputi governance oversight, risk and compliance reporting, serta alur pelaporan GRC kepada Direksi dan Dewan Komisaris. fileciteturn90file0

Integrated GRC framework membantu perusahaan menghindari silo. Risk management tidak hanya membuat risk register. Compliance tidak hanya membuat daftar kewajiban. Governance tidak hanya membuat struktur. Ketiganya harus terhubung dalam satu sistem pengawasan dan pengambilan keputusan.

5. GRC Reporting

GRC reporting adalah mekanisme pelaporan yang menyajikan informasi tata kelola, risiko, dan kepatuhan secara terintegrasi. Laporan GRC dapat mencakup risiko utama, status KRI, isu kepatuhan, pelanggaran, tindak lanjut temuan, efektivitas kontrol, perubahan regulasi, serta rekomendasi manajemen.

Dokumen SharePoint RWI menempatkan risk and compliance reporting serta alur pelaporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris sebagai bagian penting dari GRC framework terintegrasi. fileciteturn90file0

GRC reporting yang baik harus relevan, tepat waktu, ringkas, dan mendukung keputusan. Laporan tidak hanya berisi daftar aktivitas, tetapi harus menunjukkan isu prioritas, dampak, rekomendasi, dan status tindak lanjut.

6. GRC Roadmap

GRC roadmap adalah rencana bertahap untuk meningkatkan penerapan GRC. Roadmap disusun berdasarkan hasil assessment, gap analysis, rekomendasi, prioritas, target waktu, PIC, dan kebutuhan organisasi.

Dokumen SharePoint RWI terkait GRC Maturity menyebut roadmap peningkatan maturitas GRC sebagai salah satu output utama bersama gap analysis, rekomendasi, dan prioritas tindak lanjut. fileciteturn88file0

Roadmap membuat implementasi GRC lebih realistis. Perusahaan dapat membedakan quick wins, prioritas jangka menengah, dan penguatan jangka panjang. Tanpa roadmap, rekomendasi GRC sering sulit dieksekusi karena tidak memiliki urutan prioritas yang jelas.

Prasyarat GRC Framework yang Efektif

GRC framework tidak akan berjalan hanya karena perusahaan memiliki dokumen kebijakan. Ada beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi agar framework dapat diimplementasikan secara efektif.

Dokumen SharePoint RWI terkait GRC Maturity menyebut beberapa prasyarat untuk mencapai model keunggulan GRC, yaitu tone from the top dan dukungan semua pemangku kepentingan, pemetaan kondisi internal dan eksternal, penetapan prioritas risiko utama dan target kinerja, serta penentuan sasaran organisasi yang jelas. fileciteturn88file0

1. Tone from the Top

Dukungan Direksi, Dewan Komisaris, komite, dan manajemen senior menjadi prasyarat utama. GRC framework membutuhkan komitmen dari pimpinan agar dapat dijalankan lintas fungsi. Tanpa tone from the top, GRC dapat dianggap sebagai pekerjaan administratif unit tertentu.

2. Pemetaan Kondisi Internal dan Eksternal

Perusahaan perlu memahami kondisi internal dan eksternal sebelum menyusun framework. Kondisi internal mencakup struktur organisasi, kebijakan, proses bisnis, risk register, sistem pengendalian, dan kapasitas SDM. Kondisi eksternal mencakup regulasi, ekspektasi pemegang saham, dinamika industri, risiko emerging, dan tekanan stakeholder.

3. Prioritas Risiko Utama dan Target Kinerja

GRC framework perlu terhubung dengan risiko utama dan target kinerja. Jika framework tidak mengarah ke risiko dan target yang relevan, maka GRC hanya menjadi struktur formal tanpa kontribusi terhadap strategi.

4. Sasaran Organisasi yang Jelas

Sasaran organisasi menjadi dasar untuk menentukan arah GRC. Framework harus membantu perusahaan mencapai sasaran tersebut melalui pengawasan, pengelolaan risiko, dan kepatuhan yang lebih efektif.

Model Maturitas dalam GRC Framework

Untuk mengetahui apakah GRC framework sudah berjalan efektif, perusahaan perlu melakukan penilaian maturitas. GRC maturity assessment membantu perusahaan melihat posisi saat ini, gap, dan kebutuhan perbaikan.

Dokumen SharePoint RWI terkait GRC Maturity menggunakan lima tingkat maturitas, yaitu Initial, Siloed, Managed, Transformed, dan Proactive. Tingkat Initial menunjukkan komponen GRC masih ada secara parsial. Siloed menunjukkan komponen sudah ada tetapi masih tersebar dan belum selaras. Managed menunjukkan kebijakan, prosedur, dan metodologi sudah tersedia namun keselarasan masih minimal. Transformed menunjukkan kebijakan, prosedur, dan metodologi sudah selaras serta diperbarui sesuai tantangan. Proactive menunjukkan kemampuan inovatif dan proaktif untuk memprediksi perubahan di masa depan. fileciteturn88file0

1. Initial

Pada tingkat Initial, perusahaan biasanya memiliki beberapa elemen GRC, tetapi belum terstruktur. Kebijakan mungkin ada, tetapi belum lengkap. Risk management mungkin dilakukan secara terbatas. Compliance mungkin masih bersifat reaktif.

2. Siloed

Pada tingkat Siloed, fungsi governance, risk, dan compliance sudah ada, tetapi masih berjalan terpisah. Data, proses, dan pelaporan belum terintegrasi. Perusahaan mulai memiliki komponen GRC, tetapi belum menyatukannya dalam satu sistem.

3. Managed

Pada tingkat Managed, perusahaan sudah memiliki kebijakan, prosedur, dan metodologi. Namun, integrasi antar fungsi masih perlu diperkuat. Proses sudah lebih tertib, tetapi belum sepenuhnya adaptif dan terhubung dengan pengambilan keputusan strategis.

4. Transformed

Pada tingkat Transformed, GRC sudah menjadi bagian dari cara kerja perusahaan. Kebijakan dan metodologi selaras. Informasi risiko dan kepatuhan digunakan dalam pengambilan keputusan. Framework diperbarui sesuai perubahan bisnis dan risiko.

5. Proactive

Pada tingkat Proactive, perusahaan mampu menggunakan GRC untuk mengantisipasi perubahan. Sistem GRC tidak hanya merespons masalah, tetapi membantu memprediksi risiko, perubahan regulasi, dan kebutuhan penguatan pengendalian.

Komponen Process, People, and Tools dalam GRC Framework

GRC framework yang efektif harus memperhatikan komponen Process, People, and Tools. Dokumen SharePoint RWI terkait GRC Maturity menjelaskan bahwa kondisi ideal setiap elemen Model Keunggulan GRC tercermin dalam komponen keunggulan Process, People, and Tools. fileciteturn88file0

Baca juga:

1. Process

Process mencakup kebijakan, prosedur, alur kerja, mekanisme pelaporan, monitoring, pengendalian, dan evaluasi. Dalam dokumen SharePoint RWI, aspek Process mencakup diseminasi informasi dan komunikasi yang transparan, pembelajaran dan inovasi berkelanjutan, tata kelola efektif, serta manajemen risiko yang melekat pada strategi bisnis. fileciteturn88file0

Process yang baik membuat GRC dapat dijalankan secara konsisten. Tanpa proses, GRC bergantung pada kebiasaan individu dan sulit dipertahankan ketika terjadi perubahan organisasi.

2. People

People mencakup kompetensi, integritas, budaya, ownership, koordinasi, dan akuntabilitas. Dalam dokumen SharePoint RWI, aspek People mencakup pengembangan SDM yang handal dan berintegritas, peningkatan pengetahuan berkelanjutan, pengukuran kinerja yang efektif, serta pemberian penghargaan atas kinerja dan remunerasi yang tepat. fileciteturn88file0

People menjadi penting karena GRC dijalankan oleh banyak fungsi. Risk owner, compliance owner, control owner, internal audit, legal, finance, corporate secretary, HR, IT, dan unit operasional memiliki peran yang berbeda tetapi saling terkait.

3. Tools

Tools mencakup metodologi, template, aplikasi, dashboard, database, workflow, dan sistem pelaporan. Dalam dokumen SharePoint RWI, aspek Tools mencakup sistem informasi yang mendukung pengambilan keputusan efektif serta sistem pengawasan yang memantau deviasi atas objektif dan ancaman baru. fileciteturn88file0

Tools membantu perusahaan mengelola data GRC secara konsisten. Namun, tools tidak boleh menggantikan proses. Sistem informasi hanya efektif jika framework, proses, peran, dan data yang digunakan sudah jelas.

Tahapan Membangun GRC Framework

Membangun GRC framework perlu dilakukan secara bertahap. Tahapan berikut dapat digunakan sebagai pendekatan praktis.

1. Menentukan Tujuan GRC

Tahap pertama adalah menetapkan tujuan. Perusahaan perlu menjawab mengapa GRC framework dibangun. Apakah untuk memperkuat pengawasan? Mengintegrasikan risk management dan compliance? Memenuhi regulasi? Meningkatkan maturitas GRC? Menyusun pelaporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris?

Tujuan yang jelas membantu perusahaan menentukan ruang lingkup pekerjaan dan output yang diharapkan.

2. Melakukan Review Kondisi Eksisting

Perusahaan perlu melakukan review atas kondisi governance, risk, dan compliance yang sudah berjalan. Review ini mencakup dokumen, kebijakan, struktur, proses, sistem, laporan, dan praktik aktual.

Dokumen SharePoint RWI terkait implementasi GRC menyebut review kondisi eksisting terhadap regulasi serta gap analysis sebagai salah satu ruang lingkup utama. fileciteturn90file0

3. Melakukan Gap Analysis

Gap analysis membandingkan kondisi saat ini dengan kondisi ideal yang diharapkan. Gap dapat muncul pada struktur, kebijakan, metodologi, peran, pelaporan, compliance monitoring, risk reporting, atau integrasi antar fungsi.

Gap analysis perlu menghasilkan rekomendasi yang praktis dan berbasis prioritas. Setiap rekomendasi sebaiknya memiliki tingkat urgensi, PIC, target waktu, dan output yang jelas.

4. Menyusun Governance Framework

Governance framework perlu menjelaskan struktur, organ, komite, peran, tanggung jawab, charter, kebijakan, dan alur pengawasan. Framework ini menjadi fondasi bagi risk management dan compliance.

5. Menyusun Risk Management Framework

Risk management framework perlu menjelaskan kebijakan risiko, metodologi assessment, risk appetite, risk register, KRI, risk owner, risk reporting, dan monitoring. Framework ini membantu perusahaan mengelola risiko secara sistematis.

6. Menyusun Compliance Framework

Compliance framework perlu menjelaskan kebijakan kepatuhan, struktur fungsi, peran, identifikasi kewajiban, monitoring, reporting, awareness, tindak lanjut temuan, dan evaluasi. Dokumen SharePoint RWI menempatkan compliance framework sebagai elemen penting dalam GRC implementation. fileciteturn90file0

7. Mengintegrasikan Pelaporan GRC

Setelah governance, risk, dan compliance framework disusun, perusahaan perlu mengintegrasikan pelaporannya. Risk reporting dan compliance reporting perlu memiliki alur yang jelas, termasuk mekanisme eskalasi ke Direksi dan Dewan Komisaris.

8. Menyusun Roadmap Implementasi

Roadmap diperlukan agar implementasi GRC berjalan bertahap. Roadmap memuat rekomendasi, prioritas, target waktu, PIC, dependencies, dan output. Dokumen SharePoint RWI terkait GRC Maturity menempatkan roadmap sebagai output penting dari gap analysis dan assessment. fileciteturn88file0

9. Melakukan Sosialisasi dan Transfer Knowledge

GRC framework perlu dipahami oleh fungsi terkait. Sosialisasi, workshop, dan transfer knowledge membantu meningkatkan pemahaman, kapasitas, ownership, dan koordinasi antar fungsi. fileciteturn88file0

10. Melakukan Monitoring dan Improvement

Framework perlu dievaluasi secara berkala. Perusahaan perlu memantau efektivitas GRC, menindaklanjuti gap, memperbarui kebijakan, dan menyesuaikan framework dengan perubahan bisnis dan regulasi.

Output GRC Framework

Output GRC framework dapat berbeda sesuai kebutuhan perusahaan. Namun, beberapa output yang umum mencakup:

  • laporan review kondisi eksisting GRC;
  • gap analysis GRC;
  • governance framework;
  • risk management framework;
  • compliance framework;
  • integrated GRC framework;
  • risk and compliance reporting structure;
  • alur pelaporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris;
  • GRC roadmap;
  • materi sosialisasi dan transfer knowledge;
  • daftar prioritas tindak lanjut;
  • dashboard atau tools GRC jika dibutuhkan.

Dalam dokumen SharePoint RWI, output implementasi GRC mencakup laporan review dan gap analysis, review struktur tata kelola, evaluasi kebijakan dan pedoman GCG, framework manajemen risiko, kebijakan kepatuhan, struktur dan peran fungsi kepatuhan, serta dokumen GRC framework terintegrasi yang meliputi governance oversight, risk and compliance reporting, dan alur pelaporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris. fileciteturn90file0

Manfaat GRC Framework bagi Perusahaan

GRC framework memberikan manfaat bagi perusahaan karena membantu menyatukan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan. Manfaat utamanya meliputi:

  • membantu perusahaan memiliki struktur pengawasan yang lebih jelas;
  • meningkatkan integrasi antara governance, risk, dan compliance;
  • memperkuat pelaporan risiko dan kepatuhan kepada manajemen;
  • mengurangi silo antar fungsi pengendalian;
  • meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan;
  • membantu perusahaan memprioritaskan risiko dan kewajiban kepatuhan;
  • memperkuat akuntabilitas risk owner dan compliance owner;
  • mendukung peningkatan maturitas GRC;
  • menjadi dasar penyusunan roadmap perbaikan berkelanjutan.

Dengan framework yang tepat, perusahaan dapat memindahkan GRC dari aktivitas administratif menjadi sistem manajemen yang mendukung strategi, kinerja, pengawasan, dan keberlanjutan.

Kesalahan dalam Membangun GRC Framework

Ada beberapa kesalahan yang perlu dihindari saat membangun GRC framework.

  • Menganggap GRC framework hanya sebagai dokumen kebijakan.
  • Tidak melakukan review kondisi eksisting secara memadai.
  • Tidak melakukan gap analysis berbasis kondisi aktual.
  • Tidak membedakan peran governance, risk, dan compliance.
  • Tidak menyusun compliance framework secara jelas.
  • Tidak mengintegrasikan risk reporting dan compliance reporting.
  • Tidak memiliki alur eskalasi kepada Direksi dan Dewan Komisaris.
  • Tidak melibatkan pemangku kepentingan lintas fungsi.
  • Tidak menyusun roadmap implementasi.
  • Tidak melakukan sosialisasi dan transfer knowledge.
  • Tidak mengevaluasi framework secara berkala.

Kesalahan tersebut dapat membuat GRC framework terlihat lengkap secara dokumen, tetapi lemah dalam implementasi. Framework yang baik harus bisa dijalankan, dipantau, dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Checklist GRC Framework

Perusahaan dapat menggunakan checklist berikut untuk mengevaluasi kesiapan GRC framework.

  • Apakah perusahaan sudah memiliki governance framework yang jelas?
  • Apakah peran Direksi, Dewan Komisaris, komite, dan manajemen sudah terdefinisi?
  • Apakah risk management framework sudah terdokumentasi?
  • Apakah risk register, KRI, dan risk reporting sudah berjalan?
  • Apakah compliance framework sudah tersedia?
  • Apakah kewajiban kepatuhan sudah diidentifikasi dan dipantau?
  • Apakah risk and compliance reporting sudah terintegrasi?
  • Apakah ada alur pelaporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris?
  • Apakah ada mekanisme eskalasi isu GRC?
  • Apakah GRC memiliki roadmap perbaikan?
  • Apakah proses GRC didukung oleh people dan tools yang memadai?
  • Apakah efektivitas GRC dievaluasi secara berkala?

Checklist ini membantu perusahaan melihat apakah GRC framework sudah siap diimplementasikan atau masih memerlukan penguatan.

Peran RWI dalam Penyusunan GRC Framework

RWI Consulting membantu perusahaan dalam penyusunan dan implementasi GRC framework melalui pendekatan yang mencakup review kondisi eksisting, gap analysis, penyempurnaan governance, evaluasi risk management framework, penyusunan compliance framework, penyusunan integrated GRC framework, roadmap peningkatan, dan transfer knowledge.

Dalam dokumen SharePoint RWI, layanan implementasi GRC mencakup review kondisi eksisting terhadap regulasi, review struktur tata kelola, evaluasi kebijakan dan pedoman GCG, review framework manajemen risiko, penyusunan compliance framework, serta penyusunan GRC framework terintegrasi. fileciteturn90file0

RWI juga menggunakan pendekatan GRC maturity assessment untuk membantu perusahaan memperoleh gambaran objektif mengenai tingkat kematangan GRC, memahami gap, menyusun rekomendasi, menetapkan prioritas tindak lanjut, dan membangun roadmap peningkatan GRC. fileciteturn88file0

Dengan pendekatan ini, GRC framework tidak hanya menjadi dokumen, tetapi menjadi sistem kerja yang membantu perusahaan meningkatkan tata kelola, pengelolaan risiko, kepatuhan, pelaporan, dan pengawasan secara terintegrasi.

FAQ

Apa itu GRC framework?

GRC framework adalah kerangka kerja yang mengintegrasikan Governance, Risk, and Compliance dalam satu sistem tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, pelaporan, pengawasan, dan pengambilan keputusan.

Mengapa GRC framework penting?

GRC framework penting karena membantu perusahaan mengurangi silo antara governance, risk, dan compliance, memperkuat pengawasan, meningkatkan kualitas pelaporan, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih berbasis risiko dan kepatuhan.

Apa saja komponen GRC framework?

Komponen utamanya meliputi governance framework, risk management framework, compliance framework, integrated GRC framework, GRC reporting, roadmap, process, people, dan tools.

Bagaimana cara membangun GRC framework?

Caranya dimulai dari penetapan tujuan, review kondisi eksisting, gap analysis, penyusunan governance framework, risk management framework, compliance framework, integrasi pelaporan, penyusunan roadmap, sosialisasi, dan monitoring berkala.

Apa hubungan GRC framework dan GRC maturity?

GRC maturity digunakan untuk menilai seberapa efektif framework GRC sudah diterapkan. Hasil maturity assessment membantu perusahaan mengidentifikasi gap, menyusun rekomendasi, dan membangun roadmap peningkatan.

Apa output dari penyusunan GRC framework?

Outputnya dapat berupa laporan review GRC, gap analysis, governance framework, risk management framework, compliance framework, integrated GRC framework, risk and compliance reporting, alur pelaporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris, serta roadmap GRC.

GRC framework membantu perusahaan membangun sistem tata kelola, risiko, dan kepatuhan yang lebih terintegrasi. Dengan framework yang jelas, perusahaan dapat menyelaraskan governance, risk management, compliance, pelaporan, pengawasan, dan roadmap perbaikan dalam satu sistem kerja yang mendukung strategi dan keberlanjutan perusahaan.

Baca juga:

Share

Table of ContentsToggle Table of Content

Recent Posts

Close

Minimizing risks, maximizing stability.

-Empowering Agility, Resilience and Sustainability