RWI Consulting
RWI Consulting RWI Consulting
RWI Consulting
RWI Consulting RWI Consulting

ESG Strategy: Penyusunan Strategi, Target, Roadmap, dan Tata Kelola Keberlanjutan Perusahaan

Rate this post

RWI Consulting – ESG strategy adalah kerangka strategis yang digunakan perusahaan untuk mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam arah bisnis, proses pengambilan keputusan, manajemen risiko, operasi, investasi, pengelolaan data, dan pelaporan.

Strategi ESG tidak hanya berupa daftar program sosial atau lingkungan. ESG strategy perlu menjelaskan isu material yang dihadapi perusahaan, arah dan ambisi yang ingin dicapai, target terukur, inisiatif prioritas, tata kelola, kebutuhan sumber daya, serta mekanisme pemantauan kinerja.

Contents

ESG Strategy

ESG – Environmental, Social, and Governance

Dalam salah satu proyek penyusunan ESG roadmap untuk maskapai komersial milik negara, strategi ESG dikembangkan melalui gap analysis, benchmarking, materiality assessment, stakeholder mapping, penyelarasan aspirasi manajemen, strategi perubahan, inisiatif operasional, peluang bisnis hijau, dekarbonisasi, roadmap, kebijakan, dan capacity building.

Dokumen SharePoint lain mengenai pengelolaan data ESG pada holding sektor mineral menunjukkan bahwa ESG strategy juga perlu didukung oleh data yang konsisten, proses verifikasi, konsolidasi lintas entitas, evaluasi gap pengungkapan, dan rencana peningkatan kinerja.

Dengan demikian, ESG strategy berfungsi sebagai penghubung antara komitmen keberlanjutan dan tindakan bisnis yang dapat diterapkan, diukur, dan dipertanggungjawabkan.

Apa Itu ESG Strategy?

ESG strategy adalah rencana terstruktur yang menjelaskan bagaimana perusahaan mengelola dampak, risiko, dan peluang terkait Environmental, Social, and Governance.

Strategi ini dapat mencakup:

  • isu ESG yang paling material;
  • visi dan prinsip keberlanjutan;
  • target jangka pendek, menengah, dan panjang;
  • risiko dan peluang ESG;
  • program prioritas;
  • KPI dan indikator kinerja;
  • struktur governance;
  • data dan evidence;
  • roadmap implementasi;
  • mekanisme monitoring dan pelaporan.

ESG strategy perlu disusun berdasarkan konteks dan model bisnis perusahaan. Perusahaan transportasi, pertambangan, jasa keuangan, manufaktur, energi, dan teknologi memiliki eksposur serta prioritas ESG yang berbeda.

Dalam proyek ESG risk profiling untuk perusahaan jasa pertambangan terintegrasi, risiko ESG dikaitkan dengan aspek lingkungan, keselamatan kerja, hubungan sosial, rantai pasok, kepatuhan, reputasi, dan keberlanjutan operasi. Risiko tersebut kemudian dipetakan ke dalam kerangka Enterprise Risk Management perusahaan.

Mengapa Perusahaan Membutuhkan ESG Strategy?

Perusahaan sering memiliki berbagai program ESG, tetapi belum seluruhnya terhubung dengan strategi, risiko, target, anggaran, dan proses bisnis.

Tanpa strategi yang jelas, program sustainability dapat berjalan secara terpisah antarunit, sulit dievaluasi, dan tidak memberikan arah yang konsisten.

ESG strategy membantu perusahaan mengatasi beberapa kondisi umum:

  • inisiatif ESG belum memiliki prioritas;
  • target belum memiliki baseline;
  • program lingkungan dan sosial belum terhubung dengan strategi bisnis;
  • risiko ESG belum masuk dalam risk register;
  • KPI belum memiliki owner;
  • data tersebar di berbagai unit;
  • peran fungsi dan komite belum jelas;
  • roadmap belum memiliki timeline dan PIC;
  • pelaporan lebih dominan daripada peningkatan kinerja;
  • pemahaman internal masih berbeda antarlevel organisasi.

Dalam proyek holding industri mineral milik negara, penguatan ESG dilakukan melalui review laporan sebelumnya, gap analysis, standardisasi data, penyelarasan antarentitas, penyusunan rencana tindak lanjut, workshop teknis, dan validasi informasi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa strategi ESG tidak hanya membutuhkan arah kebijakan, tetapi juga proses implementasi dan pengelolaan data yang memadai.

Perbedaan ESG Strategy dan ESG Roadmap

ESG strategy dan ESG roadmap memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling berhubungan.

ESG strategy menjelaskan:

  • mengapa perusahaan perlu menjalankan ESG;
  • isu apa yang menjadi prioritas;
  • arah dan ambisi yang ingin dicapai;
  • risiko dan peluang yang perlu dikelola;
  • prinsip yang menjadi dasar pengambilan keputusan.

ESG roadmap menjelaskan:

  • inisiatif apa yang harus dijalankan;
  • kapan inisiatif dilaksanakan;
  • siapa yang bertanggung jawab;
  • target dan KPI yang digunakan;
  • sumber daya yang dibutuhkan;
  • bagaimana progres dipantau.

Dalam proyek maskapai milik negara, strategi dibangun melalui penyelarasan aspirasi manajemen dan penetapan fokus ESG serta dekarbonisasi. Strategi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi daftar inisiatif prioritas, timeline, rencana tahunan, roadmap kompetensi, dan kebijakan pendukung.

Komponen Utama ESG Strategy

1. ESG Vision and Principles

ESG vision menjelaskan kondisi yang ingin dicapai perusahaan dalam jangka panjang.

Visi tersebut perlu mencerminkan:

  • arah bisnis perusahaan;
  • karakteristik industri;
  • ekspektasi pemangku kepentingan;
  • risiko utama;
  • dampak lingkungan dan sosial;
  • komitmen tata kelola.

Prinsip ESG kemudian menjadi pedoman bagi perusahaan dalam menyusun kebijakan, target, program, dan keputusan investasi.

2. Current-State Assessment

Sebelum menentukan strategi, perusahaan perlu memahami kondisi eksisting.

Assessment dapat dilakukan terhadap:

  • strategi dan kebijakan;
  • program ESG;
  • struktur governance;
  • profil risiko;
  • data dan KPI;
  • laporan keberlanjutan;
  • hasil evaluasi eksternal;
  • kapabilitas SDM;
  • praktik perusahaan sejenis.

Dalam proyek maskapai komersial milik negara, current-state assessment dilakukan melalui penilaian posisi dan kinerja ESG, perbandingan terhadap standar dan praktik industri, serta identifikasi area perbaikan.

3. ESG Gap Analysis

Gap analysis digunakan untuk melihat perbedaan antara kondisi saat ini dan kondisi yang ingin dicapai.

Analisis dapat mencakup:

  • kebijakan;
  • governance;
  • target dan KPI;
  • risiko dan kontrol;
  • program kerja;
  • kualitas data;
  • evidence;
  • pengungkapan;
  • kapabilitas organisasi.

Dalam proyek holding sektor pertambangan, gap analysis digunakan untuk menilai kualitas laporan, data, pengungkapan, dan pemenuhan kriteria penilaian ESG global. Hasilnya diterjemahkan menjadi rencana tindak lanjut per anggota grup.

4. Materiality Assessment

Materiality assessment membantu perusahaan menentukan isu ESG yang paling signifikan.

Prosesnya dapat mencakup:

  • pemahaman konteks perusahaan;
  • identifikasi dampak aktual dan potensial;
  • identifikasi risiko dan peluang;
  • pelibatan stakeholder;
  • penilaian tingkat signifikansi;
  • prioritisasi topik material;
  • validasi oleh manajemen.

Dalam proyek perusahaan jasa pertambangan, proses materialitas digunakan untuk memahami konteks, mengidentifikasi dampak dan risiko, menilai signifikansi, serta menetapkan risiko ESG prioritas.

Topik material dapat mencakup emisi, energi, air, limbah, keselamatan kerja, tenaga kerja, hak asasi manusia, masyarakat, rantai pasok, etika bisnis, dan tata kelola.

5. Stakeholder Mapping

Stakeholder mapping digunakan untuk mengidentifikasi pihak yang memengaruhi atau terdampak oleh perusahaan.

Stakeholder dapat mencakup:

  • pemegang saham;
  • investor;
  • penyedia pendanaan;
  • regulator;
  • karyawan;
  • pelanggan;
  • pemasok;
  • masyarakat;
  • mitra usaha;
  • asosiasi industri.

Pemetaan perlu menjelaskan kepentingan, tingkat pengaruh, isu utama, metode engagement, dan kebutuhan komunikasi.

Stakeholder mapping menjadi salah satu output dalam proyek penyusunan ESG roadmap untuk perusahaan penerbangan milik negara.

6. ESG Risks and Opportunities

Strategi ESG perlu mengidentifikasi risiko dan peluang yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.

Risiko ESG dapat mencakup:

  • risiko fisik perubahan iklim;
  • perubahan regulasi;
  • peningkatan biaya energi;
  • gangguan rantai pasok;
  • incident keselamatan;
  • konflik dengan masyarakat;
  • pelanggaran etika;
  • kegagalan pemenuhan target;
  • penurunan reputasi;
  • hilangnya akses pendanaan.

Peluang ESG dapat mencakup:

  • efisiensi energi;
  • pengurangan biaya;
  • produk dan jasa berkelanjutan;
  • pasar baru;
  • akses pendanaan;
  • penguatan reputasi;
  • inovasi proses;
  • kemitraan strategis.

Dalam proyek perusahaan jasa pertambangan, ESG risk profiling digunakan untuk mengidentifikasi risiko operasional, kepatuhan, reputasi, dan keberlanjutan bisnis serta mengintegrasikannya dengan ERM perusahaan.

7. ESG Ambition and Strategic Priorities

ESG ambition menjelaskan tingkat perubahan yang ingin dicapai perusahaan.

Ambisi dapat ditetapkan dalam bentuk:

  • target pengurangan emisi;
  • efisiensi energi;
  • pengurangan limbah;
  • peningkatan keselamatan;
  • pengembangan SDM;
  • penguatan keberagaman;
  • peningkatan kualitas governance;
  • penguatan supply chain;
  • peningkatan kualitas data dan pelaporan.

Dalam proyek perusahaan penerbangan milik negara, fokus dan target ESG disusun berdasarkan aspirasi manajemen serta dikaitkan dengan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang.

8. ESG Targets and KPI

Strategi perlu diterjemahkan menjadi target dan KPI yang dapat diukur.

KPI dapat mencakup:

  • emisi;
  • konsumsi energi;
  • penggunaan air;
  • limbah;
  • tingkat kecelakaan;
  • pelatihan karyawan;
  • keberagaman;
  • evaluasi pemasok;
  • incident kepatuhan;
  • penyelesaian action plan.

Setiap KPI perlu memiliki:

  • definisi;
  • baseline;
  • formula;
  • satuan;
  • target;
  • periode;
  • data owner;
  • sumber data;
  • evidence;
  • mekanisme approval.

Dalam proyek pengelolaan data ESG untuk holding sektor mineral, standardisasi indikator, template, data owner, validasi, dan konsolidasi menjadi bagian penting dari proses pelaporan.

9. Decarbonization Strategy

Dekarbonisasi merupakan salah satu elemen utama strategi ESG bagi perusahaan dengan eksposur emisi yang tinggi.

Strategi dekarbonisasi dapat mencakup:

  • pemetaan sumber emisi;
  • penetapan baseline;
  • target pengurangan;
  • efisiensi energi;
  • perubahan teknologi;
  • penggunaan energi yang lebih rendah karbon;
  • optimalisasi operasional;
  • monitoring tahunan.

Dalam proyek maskapai komersial negara, strategi ESG mencakup fokus dekarbonisasi, efisiensi karbon operasional, dan rencana implementasi tahunan.

10. ESG Governance

Governance menentukan siapa yang mengambil keputusan, melaksanakan program, mengelola data, dan melakukan pengawasan.

Struktur governance dapat mencakup:

  • Dewan Komisaris;
  • Direksi;
  • komite terkait;
  • fungsi sustainability;
  • fungsi manajemen risiko;
  • corporate secretary;
  • unit operasional;
  • data owner;
  • anak perusahaan.

Tata kelola perlu menjelaskan:

  • peran dan tanggung jawab;
  • alur pelaporan;
  • mekanisme approval;
  • forum evaluasi;
  • mekanisme eskalasi;
  • frekuensi monitoring.

Dalam proyek maskapai nasional, penyusunan draft kebijakan ESG dan strategi perubahan menjadi bagian dari penguatan governance.

11. ESG Data Governance

ESG strategy membutuhkan data yang dapat ditelusuri dan diverifikasi.

Data governance dapat mencakup:

  • data dictionary;
  • template pengumpulan data;
  • pemilik data;
  • reviewer;
  • approver;
  • formula;
  • evidence;
  • periode pelaporan;
  • proses validasi;
  • konsolidasi.

Dalam proyek grup perusahaan sektor mineral, data dikumpulkan dari berbagai anggota grup, diselaraskan, divalidasi, dan dikonsolidasikan pada tingkat holding.

12. Change Management and Communication

Strategi ESG membutuhkan perubahan cara kerja dan perilaku organisasi.

Change management dapat mencakup:

  • pemetaan stakeholder internal;
  • identifikasi kebutuhan perubahan;
  • rencana komunikasi;
  • awareness;
  • pelatihan;
  • monitoring adopsi;
  • evaluasi pemahaman.

Dalam proyek perusahaan penerbangan milik negara, strategi perubahan, rencana komunikasi, materi training, dan awareness internal menjadi bagian dari implementasi ESG.

Tahapan Penyusunan ESG Strategy

CEIP® — Certified ESG Investing Professional

1. Kick-Off dan Penetapan Ruang Lingkup

Tahap awal digunakan untuk menyepakati tujuan, cakupan entitas, metodologi, timeline, stakeholder, serta output pekerjaan.

Outputnya dapat berupa:

Baca juga:

  • project charter;
  • rencana kerja;
  • timeline;
  • struktur tim;
  • RACI;
  • daftar kebutuhan data.

2. Document Review

Dokumen yang dapat direview meliputi:

  • rencana jangka panjang;
  • anggaran perusahaan;
  • kebijakan ESG;
  • risk register;
  • laporan tahunan;
  • Sustainability Report;
  • data operasional;
  • hasil audit;
  • hasil evaluasi eksternal;
  • program kerja unit.

3. Interview dan FGD

Wawancara dan FGD digunakan untuk memahami aspirasi manajemen, isu unit kerja, ekspektasi stakeholder, dan kesiapan organisasi.

Metode ini digunakan dalam proyek perusahaan penerbangan, holding sektor mineral, dan perusahaan jasa pertambangan.

4. Current-State dan Gap Analysis

Kondisi eksisting dibandingkan dengan target, standar, praktik industri, dan kebutuhan perusahaan.

5. Materiality dan Stakeholder Assessment

Perusahaan menentukan isu yang paling signifikan serta stakeholder yang perlu dilibatkan.

6. ESG Risk and Opportunity Assessment

Risiko dan peluang diidentifikasi, dinilai, dan dihubungkan dengan strategi serta ERM.

7. Penetapan Ambition, Target, dan KPI

Perusahaan menetapkan arah, target, indikator, baseline, dan periode pencapaian.

8. Penyusunan Inisiatif Strategis

Inisiatif dapat dikembangkan dalam bidang:

  • lingkungan;
  • sosial;
  • governance;
  • operasi;
  • rantai pasok;
  • data dan pelaporan;
  • capacity building.

9. Penyusunan ESG Roadmap

Inisiatif diprioritaskan dan disusun berdasarkan timeline, PIC, target, sumber daya, serta dependensi.

10. Penyusunan Governance dan Kebijakan

Struktur peran, komite, mekanisme keputusan, monitoring, dan kebijakan pendukung ditetapkan.

11. Validation and Management Approval

Strategi dan roadmap divalidasi bersama manajemen dan stakeholder terkait.

12. Implementation and Monitoring

Pelaksanaan dimonitor melalui KPI, laporan progres, forum evaluasi, dan action plan.

Output Penyusunan ESG Strategy

Output pekerjaan dapat mencakup:

  • project charter;
  • laporan current-state assessment;
  • laporan ESG gap analysis;
  • benchmark industri;
  • materiality assessment;
  • stakeholder mapping;
  • ESG risk and opportunity register;
  • ESG ambition;
  • strategic priorities;
  • target dan KPI ESG;
  • rencana dekarbonisasi;
  • ESG governance structure;
  • draft kebijakan ESG;
  • daftar inisiatif prioritas;
  • analisis kebutuhan sumber daya;
  • ESG roadmap;
  • communication plan;
  • capacity-building roadmap;
  • monitoring and evaluation framework.

Output tersebut dirangkum dari proyek ESG roadmap untuk perusahaan penerbangan milik negara, pengelolaan data ESG pada holding industri mineral, dan ESG risk profiling untuk perusahaan jasa pertambangan.

ESG Strategy untuk BUMN

Untuk BUMN, ESG strategy perlu dikaitkan dengan rencana jangka panjang, anggaran, tata kelola, manajemen risiko, KPI Direksi, program tanggung jawab sosial, dan pelaporan perusahaan.

Pada perusahaan dengan struktur holding, strategi juga perlu mengatur:

  • arah ESG tingkat grup;
  • target holding dan anak perusahaan;
  • standardisasi indikator;
  • pengelolaan data antarentitas;
  • konsolidasi kinerja;
  • mekanisme monitoring;
  • pelaporan kepada organ perusahaan.

Dalam proyek holding sektor mineral milik negara, penguatan ESG mencakup standardisasi data, konsolidasi grup, perbaikan pengungkapan, workshop teknis, verifikasi, dan peningkatan kesiapan penilaian eksternal.

ESG Strategy untuk Perusahaan Swasta

Untuk perusahaan swasta, strategi ESG dapat disesuaikan dengan karakteristik industri, kebutuhan principal, pelanggan, investor, penyedia pendanaan, dan rantai pasok.

Prioritas dapat mencakup:

  • efisiensi energi dan sumber daya;
  • keselamatan kerja;
  • pengelolaan lingkungan;
  • hubungan masyarakat;
  • supplier governance;
  • akses pendanaan;
  • reputasi;
  • license to operate;
  • integrasi risiko ESG dengan ERM.

Dalam proyek perusahaan jasa pertambangan terintegrasi, strategi pengelolaan ESG difokuskan pada identifikasi risiko lingkungan, sosial, tata kelola, kepatuhan, reputasi, dan keberlanjutan operasi.

Manfaat ESG Strategy

1. Memberikan Arah yang Jelas

Perusahaan memiliki prioritas dan target ESG yang konsisten.

2. Menghubungkan ESG dengan Strategi Bisnis

Program sustainability tidak berjalan terpisah dari tujuan dan operasi perusahaan.

3. Memperkuat Pengelolaan Risiko

Risiko ESG dapat diidentifikasi, dinilai, dimitigasi, dan dimonitor.

4. Meningkatkan Efisiensi

Perusahaan dapat menemukan peluang penghematan energi, sumber daya, dan biaya operasional.

5. Memperjelas Governance

Peran Direksi, fungsi, unit, dan data owner menjadi lebih terstruktur.

6. Meningkatkan Kualitas Data

KPI dan data memiliki definisi, sumber, owner, evidence, dan mekanisme validasi.

7. Mendukung Pelaporan

Laporan keberlanjutan dapat menunjukkan keterkaitan antara strategi, target, program, dan kinerja.

8. Memperkuat Ketahanan Bisnis

Perusahaan lebih siap menghadapi perubahan regulasi, iklim, pasar, dan ekspektasi stakeholder.

9. Membuka Peluang Pertumbuhan

Strategi ESG dapat menghasilkan peluang produk, layanan, pasar, dan pendanaan baru.

Faktor Keberhasilan ESG Strategy

1. Dukungan Direksi

Strategi membutuhkan keputusan, sumber daya, dan pengawasan dari pimpinan.

2. Terintegrasi dengan Perencanaan

ESG perlu masuk ke dalam strategi, anggaran, KPI, risiko, dan program kerja.

3. Materialitas yang Jelas

Perusahaan perlu fokus pada isu yang paling relevan dan signifikan.

4. Target yang Terukur

Setiap target perlu memiliki baseline, formula, owner, dan periode pencapaian.

5. Ownership yang Tegas

Setiap program, risiko, KPI, dan data perlu memiliki penanggung jawab.

6. Roadmap yang Implementatif

Roadmap harus menjelaskan inisiatif, timeline, sumber daya, dan dependensi.

7. Data yang Andal

Data perlu dapat ditelusuri, diverifikasi, dan dikonsolidasikan.

8. Capacity Building

Karyawan dan unit terkait perlu memahami peran dalam implementasi ESG.

9. Monitoring dan Evaluasi

Progres perlu ditinjau secara berkala dan ditindaklanjuti ketika terdapat gap.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

  • menyusun strategi hanya untuk kebutuhan laporan;
  • tidak melakukan materiality assessment;
  • menggunakan terlalu banyak prioritas;
  • menetapkan target tanpa baseline;
  • tidak mengintegrasikan ESG dengan ERM;
  • tidak menetapkan owner;
  • menyusun roadmap tanpa timeline dan sumber daya;
  • mengabaikan tata kelola data;
  • tidak melibatkan unit operasional;
  • tidak menyiapkan change management.

Peran Konsultan dalam Penyusunan ESG Strategy

Konsultan ESG membantu perusahaan menyusun strategi yang sesuai dengan konteks bisnis, profil risiko, tingkat kematangan, dan kebutuhan stakeholder.

Ruang lingkup pendampingan dapat mencakup:

  • current-state assessment;
  • gap analysis;
  • materiality assessment;
  • stakeholder mapping;
  • risk and opportunity assessment;
  • penetapan ambition dan target;
  • penyusunan KPI;
  • penyusunan inisiatif;
  • ESG governance;
  • data governance;
  • roadmap;
  • change management;
  • capacity building.

Dokumen SharePoint menunjukkan bahwa pendekatan penyusunan strategi dapat menggunakan document review, interview, questionnaire, FGD, technical meeting, benchmarking, risk assessment, validation, dan management presentation.

Pendekatan tersebut membantu memastikan ESG strategy tidak berhenti sebagai pernyataan komitmen, tetapi dapat diterjemahkan menjadi target, risiko, inisiatif, data, tata kelola, dan roadmap implementasi.

FAQ

Apa itu ESG strategy?

ESG strategy adalah rencana yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam strategi bisnis, manajemen risiko, operasi, target, KPI, dan pengambilan keputusan perusahaan.

Apa perbedaan ESG strategy dan ESG roadmap?

ESG strategy menjelaskan arah dan prioritas, sedangkan ESG roadmap menjelaskan tahapan implementasi, timeline, PIC, KPI, dan kebutuhan sumber daya.

Apa saja komponen ESG strategy?

Komponennya dapat mencakup current-state assessment, materiality, stakeholder mapping, risiko dan peluang, ambition, target, KPI, governance, data, program prioritas, dan roadmap.

Apakah ESG strategy perlu terhubung dengan ERM?

Ya. Risiko ESG perlu dimasukkan ke dalam risk register, dinilai, memiliki risk owner, mitigasi, indikator, dan mekanisme pelaporan.

Siapa yang bertanggung jawab atas ESG strategy?

Direksi bertanggung jawab atas arah dan pengawasan, sedangkan implementasi dapat melibatkan fungsi sustainability, manajemen risiko, unit operasional, corporate secretary, data owner, dan fungsi terkait.

Apa output penyusunan ESG strategy?

Outputnya dapat berupa gap analysis, materiality assessment, stakeholder mapping, risiko dan peluang ESG, ambition, target, KPI, governance, kebijakan, daftar inisiatif, dan ESG roadmap.

ESG strategy membantu perusahaan mengubah isu keberlanjutan menjadi prioritas bisnis yang terukur. Dengan strategi yang terintegrasi dengan risiko, operasi, data, tata kelola, dan perencanaan perusahaan, ESG dapat mendukung ketahanan bisnis, efisiensi, kepercayaan pemangku kepentingan, dan penciptaan nilai jangka panjang.

Baca juga:

Share

Table of ContentsToggle Table of Content

Recent Posts

Close

Integrated Risk Management

Resilience & Continuity

Stress Testing

Stress Testing

Contingency Plan

Contingency Plan

BCP – Business Continuity Plan

BCP – Business Continuity Plan

Business Continuity Management System (BCMS)

BCMS – Business Continuity Management System

Strategic & Financial Risk

Technology & Monitoring

Strategic Risk & Governance

-Empowering Agility, Resilience and Sustainability