RWI Consulting
RWI Consulting RWI Consulting
contact@rwi.co.id
RWI Consulting
RWI Consulting RWI Consulting

Konsultan ESG untuk Perusahaan: Peran, Ruang Lingkup, Manfaat, dan Cara Memilih yang Tepat

Konsultan ESG untuk Perusahaan_11zon
Rate this post

RWI Consulting – Konsultan ESG adalah pihak profesional yang membantu perusahaan memahami, mengelola, mengukur, dan meningkatkan aspek Environmental, Social, and Governance dalam kegiatan bisnis. Peran konsultan ESG semakin penting karena perusahaan tidak hanya dituntut menghasilkan kinerja keuangan, tetapi juga menunjukkan akuntabilitas terhadap lingkungan, masyarakat, tata kelola, kepatuhan, reputasi, dan keberlanjutan jangka panjang.

Dalam dokumen SharePoint RWI terkait jasa konsultansi ESG Risk Profiling, ESG diposisikan sebagai bagian dari pengelolaan risiko perusahaan. Dokumen tersebut menjelaskan bahwa perusahaan dengan eksposur ESG perlu memahami risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola secara terstruktur serta mengintegrasikannya ke dalam Enterprise Risk Management perusahaan.

Dengan demikian, konsultan ESG tidak hanya membantu perusahaan menyusun laporan keberlanjutan. Konsultan ESG juga membantu perusahaan mengidentifikasi isu material, menyusun profil risiko ESG, menilai tingkat risiko, memetakan keterkaitan ESG dengan risiko strategis dan operasional, serta menyusun rekomendasi penguatan pengelolaan ESG.

Konsultan ESG untuk Perusahaan

Konsultan-ESG-Assesment
Konsultan-ESG-Assesment

Bagi perusahaan, ESG perlu dilihat sebagai sistem manajemen, bukan sekadar narasi reputasi. Isu lingkungan, sosial, dan tata kelola dapat memengaruhi izin operasi, biaya operasional, akses pendanaan, hubungan dengan regulator, kepercayaan pelanggan, hubungan dengan masyarakat, serta keberlanjutan rantai pasok. Karena itu, perusahaan membutuhkan pendekatan ESG yang berbasis data, berbasis risiko, dan dapat ditindaklanjuti.

Mengapa Perusahaan Membutuhkan Konsultan ESG?

Perusahaan membutuhkan konsultan ESG karena isu keberlanjutan semakin terkait langsung dengan risiko bisnis. Risiko lingkungan dapat memengaruhi biaya, kepatuhan, dan izin operasi. Risiko sosial dapat memengaruhi hubungan dengan karyawan, masyarakat, pelanggan, dan pemasok. Risiko governance dapat memengaruhi integritas, transparansi, kepatuhan, dan kepercayaan pemangku kepentingan.

Dokumen SharePoint RWI menjelaskan bahwa perusahaan dituntut tidak hanya memahami isu ESG, tetapi juga mampu mengelolanya secara terstruktur dan berbasis risiko. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya tuntutan penerapan keuangan berkelanjutan, transparansi ESG, serta pengelolaan risiko sosial dan lingkungan dari regulator, principal, dan penyedia pendanaan.

Tanpa pendekatan yang terstruktur, ESG sering hanya dipahami sebagai kegiatan pelaporan atau program tanggung jawab sosial. Padahal, ESG yang kuat harus terhubung dengan strategi, risk register, proses bisnis, kebijakan, indikator, pengendalian, pelaporan, dan pengambilan keputusan manajemen.

Konsultan ESG membantu perusahaan menjawab beberapa pertanyaan penting:

  • Apa isu ESG paling material bagi bisnis perusahaan?
  • Apa risiko ESG yang paling signifikan terhadap keberlanjutan operasi?
  • Bagaimana risiko ESG dipetakan ke dalam Enterprise Risk Management?
  • Bagaimana perusahaan menyusun risk register ESG?
  • Bagaimana ESG dapat mendukung kepatuhan, reputasi, dan license to operate?
  • Bagaimana perusahaan menyusun rekomendasi dan roadmap penguatan ESG?

Pertanyaan tersebut penting karena ESG bukan isu yang berdiri sendiri. ESG perlu masuk ke dalam proses perencanaan, manajemen risiko, operasional, pengadaan, kepatuhan, audit, komunikasi pemangku kepentingan, dan pelaporan.

Ruang Lingkup Jasa Konsultan ESG

Ruang lingkup jasa konsultan ESG dapat berbeda sesuai kebutuhan perusahaan. Namun, berdasarkan dokumen SharePoint RWI tentang ESG Risk Profiling, ruang lingkup utama dapat mencakup analisis konteks ESG, identifikasi risiko ESG, penilaian risiko ESG, pemetaan ESG ke ERM, serta penyusunan rekomendasi penguatan pengelolaan ESG.

1. Analisis Konteks ESG Perusahaan

Tahap pertama dalam pekerjaan konsultan ESG adalah memahami konteks perusahaan. Konteks ini mencakup profil bisnis, proses utama, karakteristik industri, rantai nilai, kebijakan yang sudah dimiliki, isu internal dan eksternal, serta eksposur ESG yang relevan.

Dalam dokumen SharePoint RWI, salah satu ruang lingkup pekerjaan adalah melakukan analisis konteks bisnis, proses utama, dan eksposur risiko ESG dengan mempertimbangkan karakteristik sektor usaha dan portofolio layanan perusahaan. Output dari tahap ini berupa pre-analisis konteks ESG perusahaan.

Analisis konteks penting karena ESG tidak dapat disamaratakan antar perusahaan. Risiko ESG perusahaan pertambangan berbeda dengan perusahaan jasa keuangan, manufaktur, energi, kesehatan, properti, transportasi, atau teknologi. Setiap industri memiliki isu lingkungan, sosial, dan tata kelola yang berbeda.

2. Identifikasi Risiko ESG

Setelah konteks dipahami, konsultan ESG membantu perusahaan mengidentifikasi risiko Environmental, Social, and Governance yang relevan. Identifikasi ini perlu mempertimbangkan risiko operasional, risiko kepatuhan, risiko reputasi, risiko keberlanjutan bisnis, dan risiko hubungan pemangku kepentingan.

Dokumen SharePoint RWI menyebut identifikasi risiko ESG sebagai salah satu ruang lingkup utama, dengan fokus pada risiko operasional, kepatuhan, reputasi, dan keberlanjutan bisnis. Outputnya adalah dokumen risk register ESG.

Risk register ESG biasanya memuat daftar risiko, kategori ESG, penyebab, dampak, pemilik risiko, kontrol eksisting, tingkat kemungkinan, tingkat dampak, level risiko, dan rekomendasi perlakuan risiko. Risk register ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk memasukkan ESG ke dalam sistem manajemen risiko yang lebih luas.

3. ESG Risk Assessment

ESG risk assessment adalah proses penilaian risiko ESG berdasarkan likelihood dan impact. Penilaian ini membantu perusahaan mengetahui risiko ESG mana yang paling prioritas dan membutuhkan tindak lanjut lebih cepat.

Dalam dokumen SharePoint RWI, penilaian risiko ESG dilakukan untuk menilai tingkat likelihood dan dampak risiko ESG, lalu menyusun profil dan peta risiko ESG perusahaan. Outputnya adalah dokumen profil risiko ESG.

Penilaian risiko ESG perlu dilakukan secara hati-hati karena dampak ESG tidak selalu berbentuk kerugian finansial langsung. Dampaknya dapat berupa gangguan operasi, sanksi, konflik sosial, penurunan reputasi, kehilangan kepercayaan, penurunan akses pendanaan, atau meningkatnya tekanan dari pemangku kepentingan.

4. Penyusunan Profil Risiko ESG

Profil risiko ESG membantu perusahaan melihat risiko ESG prioritas secara lebih terstruktur. Profil ini dapat memuat peta risiko, daftar risiko utama, tingkat risiko, sumber risiko, dampak, dan hubungan risiko dengan proses bisnis atau sasaran perusahaan.

Dalam dokumen SharePoint RWI, profil risiko ESG diposisikan sebagai output utama dari proses identifikasi dan penilaian risiko ESG. Profil ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk memahami risiko ESG yang paling signifikan terhadap aktivitas bisnis dan keberlanjutan operasi.

Profil risiko ESG juga dapat membantu manajemen menentukan prioritas. Tidak semua isu ESG harus ditangani dalam waktu yang sama. Risiko yang paling signifikan perlu mendapatkan perhatian lebih besar, baik melalui penguatan kontrol, kebijakan, indikator, program mitigasi, maupun pelaporan.

5. Pemetaan Risiko ESG ke Enterprise Risk Management

ESG sebaiknya tidak dikelola terpisah dari Enterprise Risk Management. Konsultan ESG membantu perusahaan memetakan keterkaitan risiko ESG dengan risiko strategis dan operasional perusahaan. Dengan cara ini, ESG tidak menjadi dokumen paralel, tetapi menjadi bagian dari sistem manajemen risiko perusahaan.

Dokumen SharePoint RWI menyebut pemetaan keterkaitan risiko ESG terhadap risiko strategis dan operasional perusahaan sebagai salah satu ruang lingkup pekerjaan. Outputnya adalah dokumen pemetaan keterkaitan risiko ESG dengan ERM perusahaan.

Integrasi ESG ke ERM penting karena banyak risiko ESG memiliki dampak lintas fungsi. Misalnya, risiko lingkungan dapat memengaruhi operasional, legal, reputasi, biaya, dan kepatuhan. Risiko sosial dapat memengaruhi produktivitas, hubungan masyarakat, keamanan, dan kontinuitas bisnis. Risiko governance dapat memengaruhi audit, kepatuhan, pengambilan keputusan, dan kepercayaan investor.

6. Rekomendasi Penguatan Pengelolaan ESG

Tahap akhir yang penting adalah penyusunan rekomendasi penguatan ESG. Rekomendasi ini sebaiknya praktis, berbasis risiko, dan dapat ditindaklanjuti oleh perusahaan.

Dalam dokumen SharePoint RWI, penyusunan rekomendasi penguatan pengelolaan risiko ESG perusahaan menjadi salah satu deliverable utama.

Rekomendasi dapat mencakup penguatan kebijakan ESG, pengembangan indikator ESG, integrasi ESG ke risk register, penguatan governance ESG, penyusunan roadmap, peningkatan pelaporan, perbaikan kontrol, pelibatan pemangku kepentingan, atau penguatan sistem monitoring.

Metodologi Kerja Konsultan ESG

Metodologi kerja konsultan ESG harus sistematis agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan dokumen SharePoint RWI, metodologi ESG Risk Profiling mencakup documentary review, ESG risks identification, ESG risk assessment, correlation mapping, Focused Group Discussion, presentation and discussion, technical meeting, serta project report.

1. Documentary Review

Documentary review dilakukan untuk memahami dokumen perusahaan yang relevan dengan ESG. Dokumen yang ditelaah dapat mencakup profil perusahaan, kebijakan ESG, laporan keberlanjutan, laporan tahunan, risk register, kebijakan manajemen risiko, dokumen operasional, dokumen kepatuhan, kebijakan K3, dokumen lingkungan, dokumen hubungan masyarakat, serta dokumen tata kelola.

Tujuan documentary review adalah memperoleh pemahaman awal mengenai kondisi ESG perusahaan. Dari tahap ini, konsultan dapat mengidentifikasi gap awal, isu yang perlu didalami, dan area yang perlu divalidasi melalui wawancara atau FGD.

2. Pengumpulan Data dan Wawancara

Selain review dokumen, konsultan ESG perlu mengumpulkan data dari pemangku kepentingan internal. Dokumen SharePoint RWI menyebut pengumpulan data terkait profil bisnis, proses operasional, kebijakan ESG, serta isu internal dan eksternal yang relevan. Dokumen tersebut juga menyebut wawancara dengan key stakeholders seperti manajemen senior, karyawan, dan pemegang saham.

Wawancara membantu konsultan memahami praktik aktual yang tidak selalu terlihat dalam dokumen. Dalam ESG, praktik aktual sangat penting karena kebijakan yang tertulis belum tentu berjalan efektif di lapangan.

3. Identifikasi Risiko ESG

Identifikasi risiko ESG dilakukan dengan mengklasifikasikan risiko berdasarkan dimensi Environmental, Social, and Governance. Dalam dokumen SharePoint RWI, identifikasi risiko ESG mengacu pada ISO 31000, GRI, dan Taksonomi Hijau Indonesia Versi 2.

Contoh risiko Environmental dapat mencakup emisi, limbah, air, energi, keanekaragaman hayati, pencemaran, dan perubahan iklim. Risiko Social dapat mencakup K3, ketenagakerjaan, HAM, komunitas, pemasok, pelanggan, dan dampak sosial operasi. Risiko Governance dapat mencakup kepatuhan, etika, anti-korupsi, konflik kepentingan, transparansi, pengawasan, dan tata kelola rantai pasok.

4. Penilaian Risiko ESG

Penilaian risiko ESG dilakukan dengan menilai kemungkinan dan dampak risiko. Hasil penilaian kemudian digunakan untuk menyusun matriks dan peta risiko ESG. Dokumen SharePoint RWI menjelaskan bahwa penilaian risiko ESG dilakukan secara kualitatif untuk menyusun matriks dan peta risiko ESG.

Penilaian risiko perlu mempertimbangkan konteks bisnis, karakteristik industri, stakeholder yang terdampak, potensi sanksi, potensi gangguan operasi, dan dampak reputasi. Dengan pendekatan ini, ESG tidak hanya dilihat sebagai kepatuhan, tetapi sebagai risiko yang dapat memengaruhi nilai dan keberlanjutan perusahaan.

5. Correlation Mapping dengan ERM

Correlation mapping dilakukan untuk memetakan keterkaitan risiko ESG dengan risiko strategis dan operasional dalam kerangka ERM. Tujuannya agar risiko ESG tidak berdiri sendiri, tetapi masuk ke sistem manajemen risiko perusahaan.

Pemetaan ini dapat menunjukkan bahwa satu risiko ESG bisa terkait dengan beberapa risiko perusahaan. Misalnya, risiko keselamatan kerja dapat terkait dengan risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, dan risiko keberlanjutan bisnis. Dengan pemetaan tersebut, perusahaan dapat menyusun tindak lanjut yang lebih terintegrasi.

6. FGD dan Diskusi

FGD digunakan untuk memvalidasi hasil identifikasi, penilaian, dan pemetaan risiko ESG. Melalui FGD, perusahaan dapat menyamakan persepsi mengenai isu ESG, tingkat risiko, prioritas, dan rekomendasi.

FGD juga membantu membangun ownership. ESG tidak dapat dijalankan oleh satu unit saja. Fungsi operasional, HSE, legal, compliance, risk management, corporate secretary, procurement, HR, finance, sustainability, dan internal audit perlu terlibat sesuai perannya.

7. Pelaporan dan Rekomendasi

Tahap akhir adalah penyusunan laporan. Laporan konsultan ESG sebaiknya memuat konteks, metodologi, hasil identifikasi risiko, risk register ESG, profil risiko ESG, peta risiko, pemetaan ke ERM, serta rekomendasi penguatan.

Dokumen SharePoint RWI menyebut output pekerjaan ESG Risk Profiling berupa pre-analisis konteks ESG, dokumen risk register ESG, dokumen profil risiko ESG, dokumen pemetaan keterkaitan risiko ESG dengan ERM, dan rekomendasi penguatan pengelolaan risiko ESG.

Baca juga:

Standar dan Rujukan dalam Konsultansi ESG

Konsultan ESG perlu menggunakan rujukan yang jelas agar pekerjaan tidak hanya berbasis opini. Dalam dokumen SharePoint RWI, standar dan rujukan yang digunakan dalam ESG Risk Profiling mencakup POJK Nomor 51/POJK.03/2017, Global Reporting Initiative Standards atau GRI Standards, dan Taksonomi Hijau Indonesia Versi 2.

1. POJK 51/POJK.03/2017

POJK 51 digunakan sebagai rujukan untuk penerapan keuangan berkelanjutan, terutama bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik. Dalam konteks ESG, POJK 51 dapat membantu perusahaan memahami aspek strategi keberlanjutan, tata kelola keberlanjutan, pelibatan pemangku kepentingan, dan pelaporan keberlanjutan.

2. GRI Standards

GRI Standards digunakan sebagai salah satu rujukan untuk memahami topik material dan pengungkapan keberlanjutan. Dalam dokumen SharePoint RWI, GRI digunakan dalam proses identifikasi dampak aktual dan potensial, penilaian signifikansi dampak, serta penentuan topik material.

GRI juga membantu perusahaan mengelompokkan isu berdasarkan topik ekonomi, lingkungan, dan sosial. Untuk sektor tertentu, GRI Sector Standards dapat menjadi referensi tambahan agar isu material lebih sesuai dengan karakteristik industri.

3. Taksonomi Hijau Indonesia

Taksonomi Hijau Indonesia digunakan sebagai referensi klasifikasi aktivitas berkelanjutan. Dalam konteks ESG risk profiling, taksonomi dapat membantu perusahaan memahami keterkaitan aktivitas bisnis dengan prinsip keberlanjutan, terutama pada aspek lingkungan dan transisi menuju aktivitas yang lebih berkelanjutan.

4. ISO 31000

Meskipun artikel ini berfokus pada ESG, pendekatan risk profiling tetap perlu mengacu pada prinsip manajemen risiko. Dokumen SharePoint RWI menyebut ISO 31000 dalam konteks identifikasi dan klasifikasi risiko ESG.

ISO 31000 membantu perusahaan melihat ESG sebagai bagian dari proses manajemen risiko, mulai dari penetapan konteks, identifikasi risiko, analisis risiko, evaluasi risiko, perlakuan risiko, komunikasi, konsultasi, monitoring, dan pelaporan.

Output Jasa Konsultan ESG

Output jasa konsultan ESG perlu bersifat praktis dan dapat digunakan oleh perusahaan. Berdasarkan dokumen SharePoint RWI, output ESG Risk Profiling mencakup beberapa dokumen utama.

  • Pre-analisis konteks ESG perusahaan.
  • Dokumen risk register ESG.
  • Dokumen profil risiko ESG.
  • Dokumen pemetaan keterkaitan risiko ESG dengan ERM perusahaan.
  • Rekomendasi penguatan pengelolaan risiko ESG perusahaan.

Output tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi roadmap ESG, kebijakan ESG, dashboard ESG, indikator ESG, program mitigasi, atau bahan pelaporan keberlanjutan. Namun, fondasi utamanya tetap sama: perusahaan harus memahami risiko ESG yang material, tingkat risikonya, keterkaitannya dengan bisnis, dan rekomendasi tindak lanjutnya.

Manfaat Menggunakan Konsultan ESG

Menggunakan konsultan ESG memberikan manfaat bagi perusahaan, terutama dalam memperkuat struktur, objektivitas, dan keterhubungan ESG dengan manajemen risiko perusahaan.

1. Transparansi Risiko dan Akuntabilitas

Dokumen SharePoint RWI menyebut salah satu value creation ESG Risk Profiling adalah memberikan visibilitas atas risiko ESG utama yang berdampak pada kinerja operasional, kepatuhan, dan keberlanjutan bisnis.

Dengan risk profiling, perusahaan dapat menunjukkan risiko ESG secara lebih transparan. Manajemen dapat melihat risiko prioritas, pemilik risiko, dampak, dan rekomendasi tindak lanjut.

2. Penguatan Tata Kelola dan Manajemen Risiko

ESG risk profiling membantu perusahaan mengintegrasikan risiko sosial dan lingkungan ke dalam sistem manajemen risiko. Dokumen SharePoint RWI menyebut penguatan tata kelola dan manajemen risiko sebagai salah satu manfaat, karena proses ini mendukung identifikasi dan penilaian risiko ESG secara terstruktur.

3. Peningkatan Efektivitas Operasional

ESG tidak hanya berkaitan dengan reputasi. ESG juga dapat memengaruhi efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja, serta hubungan dengan rantai pasok. Dokumen SharePoint RWI menyebut bahwa ESG Risk Profiling dapat membantu mengidentifikasi risiko dan peluang ESG yang memengaruhi efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, dan keselamatan kerja.

4. Reputasi dan Hubungan Pemangku Kepentingan

ESG yang dikelola dengan baik dapat membantu perusahaan menjaga kepercayaan pemangku kepentingan. Dokumen SharePoint RWI menyebut bahwa ESG Risk Profiling membantu perusahaan memahami risiko ESG yang berpotensi memengaruhi kepercayaan klien, regulator, dan masyarakat sekitar.

5. Penguatan License to Operate

Bagi industri dengan eksposur lingkungan dan sosial yang tinggi, license to operate menjadi isu penting. Dokumen SharePoint RWI menyebut bahwa ESG Risk Profiling menyediakan dasar pengelolaan risiko ESG untuk menjaga keberlangsungan operasi dan hubungan jangka panjang dengan principal serta mitra usaha.

Kapan Perusahaan Membutuhkan Konsultan ESG?

Perusahaan biasanya membutuhkan konsultan ESG ketika mulai menghadapi tuntutan keberlanjutan yang lebih tinggi, baik dari regulator, investor, lender, pelanggan, principal, mitra bisnis, maupun masyarakat.

Perusahaan juga membutuhkan konsultan ESG ketika:

  • belum memiliki risk register ESG;
  • belum mengintegrasikan ESG ke dalam ERM;
  • belum memiliki peta risiko ESG;
  • ingin menyusun laporan keberlanjutan;
  • ingin menyusun ESG roadmap;
  • menghadapi tuntutan transparansi ESG dari pemangku kepentingan;
  • memiliki eksposur lingkungan dan sosial yang tinggi;
  • ingin memperkuat governance ESG;
  • ingin menghubungkan ESG dengan strategi dan risk management;
  • ingin menilai gap antara praktik saat ini dan standar ESG yang relevan.

Kebutuhan ini tidak hanya berlaku bagi perusahaan publik. Perusahaan swasta, anak perusahaan, kontraktor, pemasok, dan perusahaan yang menjadi bagian dari rantai nilai industri besar juga dapat membutuhkan ESG karena tekanan ESG sering datang dari principal, lender, pelanggan, dan mitra usaha.

Cara Memilih Konsultan ESG yang Tepat

Memilih konsultan ESG perlu dilakukan secara hati-hati. Perusahaan sebaiknya tidak hanya memilih konsultan yang mampu membuat laporan, tetapi konsultan yang dapat memahami bisnis, risiko, standar, dan kebutuhan implementasi.

Checklist memilih konsultan ESG:

  • Apakah konsultan memahami ESG sebagai bagian dari manajemen risiko?
  • Apakah konsultan mampu menyusun risk register ESG?
  • Apakah konsultan menggunakan rujukan seperti POJK 51, GRI Standards, Taksonomi Hijau, dan ISO 31000?
  • Apakah konsultan mampu melakukan ESG risk assessment?
  • Apakah konsultan dapat memetakan ESG ke ERM perusahaan?
  • Apakah konsultan dapat memfasilitasi FGD dengan stakeholder internal?
  • Apakah output yang diberikan dapat langsung digunakan untuk tindak lanjut?
  • Apakah rekomendasi yang diberikan praktis dan berbasis prioritas?
  • Apakah konsultan memahami karakteristik industri perusahaan?
  • Apakah konsultan dapat membantu perusahaan menyusun roadmap ESG?

Konsultan ESG yang baik harus mampu membantu perusahaan bergerak dari pemahaman menuju implementasi. Artinya, hasil pekerjaan tidak berhenti pada dokumen, tetapi membantu perusahaan menyusun prioritas dan tindakan yang dapat dijalankan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Pengelolaan ESG

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam pengelolaan ESG. Perusahaan perlu menghindari kesalahan ini agar ESG tidak menjadi formalitas.

  • Menganggap ESG hanya sebagai laporan keberlanjutan.
  • Tidak menghubungkan ESG dengan risk register perusahaan.
  • Tidak menilai risiko ESG berdasarkan likelihood dan impact.
  • Tidak melibatkan pemangku kepentingan internal yang relevan.
  • Tidak menggunakan standar atau rujukan yang jelas.
  • Tidak memetakan ESG ke risiko strategis dan operasional.
  • Tidak menyusun rekomendasi berbasis prioritas.
  • Tidak menindaklanjuti hasil assessment.
  • Tidak menyiapkan indikator dan monitoring ESG.
  • Tidak mengintegrasikan ESG ke dalam pengambilan keputusan manajemen.

Kesalahan tersebut dapat membuat ESG terlihat baik di dokumen, tetapi lemah dalam implementasi. ESG yang kuat harus terhubung dengan tata kelola, proses bisnis, risiko, kontrol, indikator, dan tindak lanjut.

Peran RWI sebagai Konsultan ESG

RWI Consulting membantu perusahaan dalam penguatan ESG melalui pendekatan berbasis risiko. Berdasarkan dokumen SharePoint RWI, pendekatan ESG Risk Profiling mencakup analisis konteks, identifikasi risiko ESG, penilaian risiko ESG, pemetaan keterkaitan ESG dengan ERM, serta rekomendasi penguatan pengelolaan risiko ESG.

Pendekatan ini relevan bagi perusahaan yang ingin memastikan ESG tidak hanya menjadi dokumen pelaporan, tetapi menjadi bagian dari sistem manajemen risiko dan pengambilan keputusan. Dengan pengalaman dalam manajemen risiko, risk assessment, risk profiling, Enterprise Risk Management, risk dashboard, dan risk awareness, RWI dapat membantu perusahaan memahami risiko ESG secara lebih sistematis.

RWI juga dapat membantu perusahaan menyusun output yang dapat digunakan secara praktis, seperti risk register ESG, profil risiko ESG, peta keterkaitan ESG dengan ERM, serta rekomendasi penguatan ESG. Output ini dapat menjadi dasar bagi perusahaan untuk menyusun roadmap, program mitigasi, indikator monitoring, dan penguatan tata kelola ESG.

FAQ

Apa itu konsultan ESG?

Konsultan ESG adalah pihak profesional yang membantu perusahaan mengelola aspek Environmental, Social, and Governance, termasuk identifikasi isu material, risk assessment ESG, penyusunan risk register ESG, pemetaan ke ERM, dan rekomendasi penguatan ESG.

Apa manfaat konsultan ESG bagi perusahaan?

Manfaatnya mencakup transparansi risiko ESG, penguatan tata kelola, peningkatan efektivitas operasional, penguatan reputasi, hubungan pemangku kepentingan yang lebih baik, dan penguatan license to operate.

Apa itu ESG Risk Profiling?

ESG Risk Profiling adalah proses mengidentifikasi, menilai, memetakan, dan memprioritaskan risiko Environmental, Social, and Governance agar dapat dikelola sebagai bagian dari Enterprise Risk Management perusahaan.

Apa output dari jasa konsultan ESG?

Outputnya dapat berupa pre-analisis konteks ESG, risk register ESG, profil risiko ESG, peta keterkaitan risiko ESG dengan ERM, dan rekomendasi penguatan pengelolaan ESG.

Apa standar yang digunakan dalam konsultansi ESG?

Rujukan yang dapat digunakan mencakup POJK 51/POJK.03/2017, GRI Standards, Taksonomi Hijau Indonesia, dan ISO 31000 untuk pendekatan manajemen risiko.

Kapan perusahaan perlu menggunakan konsultan ESG?

Perusahaan membutuhkan konsultan ESG ketika ingin menyusun risk register ESG, melakukan ESG risk assessment, mengintegrasikan ESG ke ERM, menyusun ESG roadmap, memperkuat pelaporan keberlanjutan, atau menjawab tuntutan regulator, lender, principal, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Konsultan ESG membantu perusahaan memahami ESG secara lebih sistematis, berbasis risiko, dan terintegrasi dengan strategi bisnis. Dengan analisis konteks, identifikasi risiko, ESG risk assessment, risk register ESG, pemetaan ke ERM, dan rekomendasi penguatan, perusahaan dapat mengelola ESG sebagai bagian dari tata kelola dan manajemen risiko yang mendukung keberlanjutan jangka panjang.

Baca juga:

Recent Posts

Close

Minimizing risks, maximizing stability.

-Empowering Agility, Resilience and Sustainability